Pages

Wednesday, January 9, 2013

HARI KE 4: MUAROBUNGO-BANGKO,Roller coster…..!!!



Tadi malam basket case alias "pak mister" ngorok duluan,katanya tadi agak mual tapi satu bungkus ramas ukuran tambuah ciek habis juga sama pak mister...hehehe kami diizinkan tidur di mesjid nurulsa'adah ini sungguh sangat istimewa karena ada acara yasinan serta makan makan dan begitu mereka tahu kami datang dari pekanbaru dengan sepeda,kami diperhatikan seperti mahluk yang baru turun dari planet lain dan diwawancarai oleh jemaah "nyari apa pak,apa ngga takut dijalan dll" interaksi kami dengan jamaah menjadi makin menarik sewaktu basketcase mengambil tabletnya untuk foto foto dan langsung memperlihatkan hasilnya kejamaah dan mereka komentar "ondee a namonyo ko pak" umumnya penduduk didesa tanah periuk adalah petani karet dan sangat lugu dan baik hatinya,hanya pak Lukman penjaga mesjid yang pensiunan guru SD dan mengabdikan dirinya menjadi penjaga mesjid,dialah yang mengelola mesjid yang kelihatan bersih dan nyaman tersebut tanpa digaji.
JEMAAH MESJID NURRUL SAADAH DI DESA TANAH PERIUK JAMBI


Jam 04.15 wib Sebelum masuk waktu subuh kami sudah bangun dan merapikan barang barang serta sleeping bag tidak lama pak Lukman muncul dengan istrinya,lalu menyapu dan mengembangkan karpet untuk sholat subuh yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Basketcase kembali mengumandangkan azan subuh,sebelum pulang kerumah jamaah mengucapakan selamat jalan pada kami.
Carrier yang seperti peLana kuda kembali ku letakan di begasi beLakang sepeda ,basket sibuk menelpon ke rumah.
Tepat jam 07 kami mulai melanjutkan perjalanan,udara sangat cerah secerahnya perasaan kami saat itu,lalu lintas masih belum kelihatan,kirikanan terlihat penduduk sudah mulai beraktifitas,kami berenti disebuah warung "ibu Sina" yang menjual nasi uduk dan memesan 2porsi nasi uduk serta the hangat,seorang pengunjung warung yang berasal dari padang menceritakan bahwa didaerah Tanah Sepenggal ini banyak dari suku minang dengan usaha dagang dan bahasa sehari hari juga bahasa minang yang sekali kali ada melayunya.
Kami mulai dayung pelan dari salah satu rumah aku mendengar lagu minang yang dinyanyikan Nuskan syarif yang diantara baitnya begini "nan bak pasan mande,usah takuik nak di obak gadang..."
Nyanyi lama yang membuatku makin tegar..dan menghilangkan segala rasa takut dari rintangan yang mungkin akan kutemui nanti.
Rumah rumah yang bagus sudah kelihatan dipinggir jalan dan pal menunjukan 10km lagi Muaro bungo.
Pada satu ketinggian kami melaju turun dan sekilas disebelah kiri aku melihat sebuah batu dengan tulisan Selamat datang di Muara bungo.
Kami mampir di Mesjid raya Al Mubarak di Muarabungo untuk istirahat dan foto foto dan basketcase sibuk perbaiki Anroidnya yang ngga dapat dapat sinyal.
MEJENG DI MUARA BUNGO



Mulai Masuk kota Muarabungo kami jalan lurus saja sampai kearah Jalan Bangko.
Jalanan banyak dilewati bus dan truck besar yang sepertinya antar propinsi kadang bunyi truck mendesing dari belakang dan kami berusaha tetap seimbang di pinggir jalan,kalau agak membahayakan aku turun ke bahu jalan.
Jalan lintas Sumatra lurus dan bergelombang gelombang mulai dari muarobungo sampai Bangko Lurus saja kalau tanjakan yang tinggi seakan akan ujungnya menuju kelangit,kalau dari jauh kita lihat ada gelombang maka diwaktu turunnya pindah ke gear yang paling besar dan dayung sedikit maka sepeda melesat kencang dan saatnya kita bisa berdiri di pedal sehingga pegal pegal pantat bisa berkurang,kemudian pada tanjakan kita dayung cukup ringan hal semacam ini serasa naik roller coster.
Disatu turunan aku pernah tertabrak burung terbang,awalnya tidak tahu tiba tiba ada benda mengenai dada,aku kaget tapi untung stang terkendali sepintas terlihat seekor burung terpelantig kesamping kiri.
Setelah 56km dari Muaro bungo di desa Pelipi kami istirahat makan siang.Stamina rasanya sudah mulai menurun, jari kaki kiri sering terasa mau kram dan pantat sudah kebas sekali 30km untuk mencapai Bangko aku merasa berat sekali.jam 16.30 kami masuk Bangko,kami berhenti di gerbang kota dan cek pesan pendek dari kawan kawan mapala Bangko mengatakan sedang menunggu kami di poskonya,sesampai diposko mapala kami disambut beberapa kawan yang pernah sama sama mendaki gunung Masurai di Jambi dulu,mereka sangat senang menerima kami dan terasa ikhlasnya persahabatan sesama pencinta alam,tiada jurang pemisah diantara kami walupun berbeda umur berbeda suku berbeda strata sosial ekonomi,semuanya menjadi sahabat alami,Ikhlas tanpa pamrih.

SAHABAT MAPALA BANGKO

Kami ditawarkan menginap di posko Mapala Bangko tapi kami menolaknya karena ingin istirahat yang penh ke hotel,akhirnya kami diantar ke hotel yang tidak berapa jauh dari situ,sebelum istirahat kami dikunjungi oleh Abdillah seorang pesepeda Bangko yang ingin ngobrol dan tertarik dengan perjalanan kami,dia mendengar kedatangan kami dari salah seorang kawan Mapala Bangko yang bertemu kami sore tadi,jam 21.00 kami minta izin untuk istirahat dengan harapan besok 100km ke Sorolangun akan lebih fit.
Perjalanan Hari ke 3 Muarobungo-Bangko ini adalah 107km.kecepatan terendah 8kmh dan max 49kmh,minum air 6x900ml dan 2x600ml pocari.
Informasi kerawanan perjalanan di daerah Rumpit,akan terbukti pada kami besok....?


1 comment:

  1. Luar biasa perjalanan bapak.. Sempat singgah di Desa Kami, Tanah Periuk. Pak Lukman itu paman saya pak, saudara ibu. Orang yang duduk nomor 2 dari kanan itu Bapak saya. Dulu waktu bapak kesana. Beliau masih imam. sekarang sudah ganti kepengurusan pegawai sara'

    ReplyDelete