Pages

Tuesday, June 30, 2015

14.TOUR de ASIA_Penang-Hatyai



MEMANJAKAN DIRI
Hari ini tanggal 12 november sudah 25 hari kami meninggalkan rumah,cuaca pagi di penang cerah sekali.
Kendaraan mulai ramai dikota yang bersih,aku agak berat meninggalkan kota yang begitu indah dan ramah pada pengunjungnya.
Mariady memberiku satu mp3 multifunction katanya ini sebagai kenang kenangan,yang ternyata musiknya memang bisa menghilangkan kejenuhan diperjalanan yang jauh,pantaslah harganya mahal yang tidak mungkin aku beli dalam perjalanan ini.
Pak Damhuri menunggu kedatangan kami di Butterwort membawa beberapa bungkusan di sepeda motornya yang ternyata bekal makanan seperti Kurma dan kopi buat kami diperjalanan.
Menuju HatYai


Satu tujuan Ke Thailan

Di ferry tadi kami bertemu 2 orang suami istri pesepeda dari Belanda Karen dan Howard yang juga menuju Thailand ,mereka bergabung dengan kami sampai dikedai kopi untuk sarapan pagi dan mereka melanjutkan berdua lewat highway katanya.
Pak Damhuri dengan gayanya yang kocak membagi beberapa makanan buat kami di jalan kami tidak boleh menolak walaupun tak cukup tempat di sepeda dan akhirnya digantung di luar pannier.
Kami dibekali semua informasi yang diperlukan sampai kontak person di Hatyai kalau dapat kesulitan dan juga doa doa yang dianjurkannya untuk dibaca..aku terharu dengan perhatiannya yang begitu besar pada kami,kami diantar sejauh 45km mengayuh kemudian berpisah di daerah gunung Jerai kedah,Mariady dan pak Damanhuri kembali ke Penang,saya,joker dan opung yosef lanjut ke utara menuju Alor setar.
gunung Jerai kedah

Hujan gerimis masih mengguyur kami tapi kami tetap semangat mengayuh,aku dapat inbox dari prof Johari Hamid menanyakan posisi kami,lalu di daerah gunung besar jam 17sore kami jumpa beliau dengan keluarganya kemudian di jamu dengan makan Tomyam panas yang bisa  menghangatkan tubuh kami yang sedang kedinginan karena kehujanan. 
Prof Johar yang setia menunggu kami
Prof johari seorang dosen di UPM mengatakan dia termotivasi dengan perjalanan kami ini dan selalu mengikuti perkembangannya melalui FB,walaupun masih 4bulan memulai kegiatan sepeda tapi dia juga  berniat akan adakan solo turing dari London ke Istambul Turky kami dilepas oleh prof Johari hamid dengan bekal uang untuk beli minuman katanya..opung menimpali dengan logat bataknya "kalo ini bisa keliling dunia kami ini pak"
Alhamdulillah...keikhkasan beliau mudah mudahan menambah berkah sehat dan rezki inya amiiin.
Di kegelapan malam kami mengayuh sambil perhatikan kiri kanan jalan kalau ada mesjid untuk istirahat kami malam itu,perasaanku sedikit khawatir karena sudah terlalu gelap dan hujan.
Pak Eid Sidek tanya diwatchup posisi kami,beliau menganjurkan nginap di rumahnya di Jitra yang kira kira 30km lagi di posisi kami saat itu tapi karena keselamatan dan keamanan perjalanan kami akhirnya berhenti di mesjid Batu sembilan.
Jamaah dimesjid tersebut sangat ramah mempersilahkan kami tidur di suatu ruangan khusus. Pagi selesai subuh kami lanjut kayuhan kearah Alor setar,dikota berfoto di depan mesjid jamik dan tower merdeka.
Saat kami berhenti datang seorang bapak minta foto bersama,pak Musa pencinta sepeda ontel sangat ingin tahu perjalanan kami lalu beliau mengajak kami makan pagi di food court Alor setar,tidak lama kemudian datang lagi mengenalkan diri pak abd Rahman sebagai utusan pak Eid Sidek untuk jemput kami.
Pak Eid dan Pak Rahman di Jatra
Sekarang perjalanan kami di escort oleh pak Rahman hingga kota Jitra dimana pak Eid Sidek sedang menunggu kami. Di kota jitra kami sholat dan makan siang lalu mengisi departure card masuk thailand nanti. Pak eid kembali memberi informasi dan nasihat nasihat mengenai Thailan pada kami dan juga menghubungi temannya yang perlu kami hubungi sewaktu di Bangkok nanti. Kami merasa sangat terbantu sekali dengan Pak Eid saat itu dan akhirnya beliau melepas keberangkatan kami dengan membekali makanan untuk diperjalanan.
Hujan kembali mengguyur kami jalan lurus dan mulus hingga sampai di border Kayu hitam,kami basah kuyup dan dilumuri percikan lumpur menyusup diantara kendaraan besar kecil yang antri akan keluar dari Malaysia. Hujan tidak membuat kami berhenti,berpasang pasang mata yang mungkin heran dan kasian memandang kami dari kendaraan yang ada disekitar kami,antrian mobil yang panjang serta guyuran hujan yang lebat mengharuskan kami sedikit lebih nekat untuk mendahului disela antara dua kendaraan yang berlawanan arah,aku begitu perkasa rasanya saat itu dan tidak perlu dikasihani karena in sya Allah sebentar lagi kami akan sampai di perbatasan Thailand dan sungguh ini merupakan kebahagian bagi kami...sebentar lagi mimpiku terwujut itu yang ada dalam otak kami,opung yosef dan Joker terus menyelusup dalam hujan diantara antrian panjang aku ikut di belakang.
Bermacam perasaanku yang muncul saat itu,ada bahagia ada juga kekhawatiran kalau kami ditolak masuk Thailand saat itu,tapi Alhamdulillah tidak ada masaalah keluar dari imigrasi Malaysia lalu dilanjut masuk ke Imigration Thailan,joker duluan antri didepanku lalu menanyaka berapa lama izin tinggal kami di Thailand,ternyata 14hari,lalu kami mohon diberi perpanjangan menjadi sebulan karena tidak cukup bagi kami mengayuh keluar Thailan dalam 14 hari,lalu officer yang cantik dan cukup ramah itu menyuruh kami mengurusnya di kantor imigrasi di kota Hat yai.
"Plog" terdengar bunyi stempel ke pasporku lalu aku disuruh intip alat ifentifkasi elektronik,paspor ku sudah ditangan lagi...dalam hati aku berteriak Thailaaaand aku dataaang..!!kami kesenangan.
Aku mengayuh lagi dalam hujan,waktu sudah menunjukan jam 18 sore sama dengan waktu Indonesia sekarang.
Tidak berapa jauh dari border kami bertemu kota Danok,kotanya terasa ramai tak jauh beda dengan kota di Malaysia,lampu lampu toko dan kendaraan mulai nyala karena sudah mulai gelap,mata kami mulai mencari cari kalau ada masjid dekat situ,lalu aku ingat pesan Pak Eid kalau mau membeli kartu sim Thailan di kota Danok bisa di cari disuatu kedai phonsel kepunyaan seorang suku Patani yang bisa berbahas melayu yang posisinya pas dekat "u" turn melewati pasar,ternyata memamg tidak begitu sulit kami temukan.
Memasuki Thailand border
Kami masuk toko celuler yang menjual berbagai acesories phonecell,beberapa pramuwisata masih ada yang bisa berbahasa melayu walaupun kedengarannya agak lucu tapi lumayan kami bisa berkomunikasi dengan baik waktu akan membeli sim card thailan,kami dibantu oleh pelayan toko meregister kartu baru ini,kalau tidak dibantu tentu tentu akan sulit melakukan proses registrasi dalam bahasa Thailan ini,ternyata phone cellnya Opung Yosef dapat kendala sewaktu pemakaian internetnya dikarenakan brand gadget tertentu tidak mendukung untuk memakai sim card Thailand,jadi opung harus ikhlas untuk tidak memakai internet mulai hari itu. Hari sudah semakain gelap kami langsung menuju mesjid yang diberi tahu oleh pelayan toko tadi,memasuki jalan pasar beberapa pasang mata memperhatikan kami mengayuh dimalam yang cukup dingin setelah diguyur hujan tersebut,sekitar satu kilo meter kami mengayuh lalu terlihat dijalanan ada beberapa orang laki laki berpakaian gamis,spontan aku menyapa mereka dengan Assalamualaikum....kemudian menanyakan masjid terdekat kembali mereka menjawab salam kami dan menujukan masjid yang tidak berapa jauh dari situ.
Masjid ArRahman di Danok

Masuk halaman mesjid kami bertemu banyak jamaah sudah selesai sholat magrib,beberapa jamaah menanyaku dalam bahasa Melayu,begitu kami jawab kami dari Indonesia dengan mengendarai sepeda mereka sangat senang dan persilahkan kami untuk sholat dan istirahat di mesjid tersebut,tadinya aku agak khawatir dengan kesediaan mereka menerima kami sebagai muslim Indonesia,menurut informasi yang aku dapat sebelumnya ada beberapa masjid yang ditembak oleh orang tak dikenal kemudian pemerintah Thailand melarang ada tamu asing menginap di masjid hal ini mungkin dikarenakan Thailand selatan ini masih panas dengan pergolakan muslim petaninya,tapi hal yang aku khawatirkan tidak terbukti,malahan aku sangat terkesan dengan keramahan mereka pada kami saat itu.
Penduduk Disekitar mesjid umumnya muslim dari Patani,mereka sangat mengenal Indonesia karena seringnya para pendakwah indonesia ketempat mereka khususnya dari jemaah Tablig,aku sering disangka dari jemaah tablig mungkin karena janggut sunah yang panjang..ini salah satu manfaat janggutku hehehee..
Alhamdulillah perut ku yang diare sejak dari Batu Sembilan kedah sudah normal lagi,Selesai makan pagi di warung muslim dekat mesjid Fathur Islami kami melanjut perjalanan menuju Hat yai,di kota Sadao kami disiram hujan rintik rintik lalu berhenti sebentar didekat custom,bacaan semua tulisan Thailan kayak cacing"pusing aku" kata opung.
Sadao

Memasuki kota  Hat yai arus lalu lintas mulai padat tak ubahnya seperti kota besar di Indonesia,kami mencari posisi imigrasi di google map dan ternyata cukup sulit dan nyasar beberapa kali.
Sepeda kami yang sarat muatan menjadi tanda bahwa kami adalah turis pesepeda yang sepertrinya sudah tidak asing bagi penduduk setempat. 
Kuil Budha menjelang Hat yai

Udara panas yang menyengat menambah tantangan serta tulisan Thailand yang tidak dimengerti serta sulitnya menemukan seseorang untuk bertanya karena jarang orang local yang bisa berbahasa inggris,akhirnya kami memakai bahasa itik dan ayam,angguk angguk saja,secara kebetulan ada yang mengerti sedikit bahasa Inggris dan menunjukan kantor Imigrasi yang tidak jauh dari tempat kami bertanya saat itu.
Imigrasi thailan memberi tahu bahwa bisa menambah izin tinggal kami hingga satu bulan dan membayar 1900bht kira kira sama dengan Rp 700ribu,mengingat biaya tinggi kami ambil putusan tidak perpanjang tapi naik train ke Bangkok.
Kami buru buru mengayuh sepeda pergi ke station train di Hat yai,Joker menanyakan informasi ke loket dan kami berdua menunggu barang dan sepeda di pelataran stasion , tidak berapa lama joker memberi tahu bahwa ada keberangkatan Kereta ke Bangkok pada jam 16.30 sore itu,tanpa pikir panjang kami langsung beli tiket karena masih punya waktu 30 menit,harga tiket berikut sepeda 885bth,dengan fasilitas di ruang ac dan kursi bisa jadi tempat tidur. 
Station KA Hatyai
Sepeda kami dorong kearah kargo dengan perasaan sedikit khawatir untuk loading sepeda ke train nanti karena beban sepeda dan waktu yang pendek akan jadi problem,tapi ternyata kekhawatiran tersebut hilang setelah kami kerjasama mengangkatnya ke gerbong khusus barang,sekarang kami sudah tenang di train bisa sedikit santai dan baca serta respon fb. Para penumpang lain terlihat juga sibuk dengan kegiatan masing masing semuanya kelihatan teratur dan tidak ribut,mereka tidak terlalu perhatikan kami tapi ketika kami berbicara bahasa Indonesia mereka baru melirik ingin tahu siapa kami.
RUANGAN YANG NYAMAN

Ruangan berpendingin dan nyaman ditambah ayunan lembut kereta menbuat mata ini sayu ingin segera tidur,jam 20 terlihat petugas merobah kursi jadi tempat tidur,kami disuruh tidur diatas,koq ngga boleh dibawah ya..?ternyata nomor nomor untuk tidur di bawah sudah duluan di booking dan kami tinggal sisa tempat tidur diatas..wah begitulah hasil dari bahasa tarzan sehingga informasi tidak bisa kami secara utuh,tapi itu tidak jadi masaalah karena diatas juga enak tidurnya,pagi subuh aku terjaga penumpang lain masih tidur,semilir semilir aku mencium bau amis,aku coba mencarinya dengan mencium kesana kesini dan ternyata waktu aku cium bajuku sendiri itu lah sumbernya...pantas saja baju gowes keringatan dan basah kena hujan dibawa tidur menjadi bau ikan asin...aku menuju kamar mandi yang cukup bersih dan bagus lalu mandi sepuas puasnya.
Pagi ini tanggal 15 november setelah ngopi di train kami sampai di kota Bangkok,mudah mudahan menurunkan sepeda nanti ngga ada masaalah,sampai ketemu di jalan jalan di Bangkok ya...hehehee..
(Foto kami bisa dilihat di FB)





Sunday, June 28, 2015

13.TOUR de ASIA_kerajaan Gangga negara di Beruas

Menuju Pulau Penang

Jemaah masjid yang terdiri dari beberapa macam suku yaitu jawa,Banjar dan Bawean membuat kami terasa dinegri sendiri.di desa Baruas ini juga ada peninggalan sejarah yaitu batu bersurat dari kerajaan Gangga negara.
Sekotak nasi lemak Sarapan pagi sehabis subuh diantar oleh pak Dimas,beliau sangat perhatian pada kami,sewaktu kami diminta paspor oleh petugas masjid beliau mengatakan pada kami apabila nanti tidak diizinkan nginap di masjid beliu akan bawa kami ke rumahnya. 



Warga di warung depan masjid
Malamnya kami makan diwarung melayu yang ada persisi di samping masjid,warung sederhana yang terbuat dari kayu sangat nyaman untuk ngobrol malam itu,beberapa penduduk lokal dan pemilik warung dengan ramah menjadi teman ngobrol kami,Pak Husin jenggot warga lokal yang religius bercerita banyak tentang arti kehidupan kemudian penunggu warung tidak sabar menanyakan pengalamam pengalaman kami selama berkelana,tidak terasa hari sudah jam 10 malam dan kami pamit untuk istirahat karena besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan. Ruangan masijid dibagian belakang yang dilapisi karpet empuk kemudian dibeberapa sisi ada kipas angin yang bisa kami hidupkan apabila kepanasan tapi aku dan Opung tidak begitu suka dengan kipas hanya Joker yang selalu tidur pakai kipas,jadi kami sering tidur terpisah atau berjauhan.
Keesokan paginya sebelum jemaah subuh berdatangan kami sudah bangun dan berbenah. Selesai sholat subuh pak Dimas yang dari kemarin paling memperhatikan kami kali ini kembali membawa sarapan nasi lemak untuk kami dan sebagai sebagai kenangan dia memberikan power bank pada joker yang saat itu memang membutuhkannya. Selesai sarapan pagi perjalanan kami lanjutkan lagi ke desa Terong kontur,masih belum terlihat aktivitas penduduk jalannya mirip jalan pekanbaru Sumbar yang penuh dengan hutan dan kebon sawit,jalannya sepi tidak banyak kendaraan yang lewat hanya sekali sekali kami 
berselisih dengan beberapa kendaraan pribadi. Dibeberapa tempat pinggir jalan di kebon sawit banyak dijumpai kuil kuil hindu orang Tamil,mirip Bali kalau diperhatikan.Dibatu pecah daerah Terong kami pergi ke sebuah sungai yang menurut penduduk sangat bagus dan alami,kami mengayuh sepeda ke jalan desa yang agak kecil kiri kanan hutan desa yang kadang kadang ada pondok tinggal,kira kira 3km perjalanan kami bertemu sungai yang tidak begitu besar tapi sangat jernih dan deras arusnya,kami berhenti dipinggir sungai yang pinggirannya agak landai,suasananya sepi dan tidak ada rumah penduduk,tidak berapa jauh dari tempat kami berhenti ada satu keluarga yang juga mandi mandi di sungai yang amat jernih ini.

Menikmati sejuknya air Sungai Terong
Pemandangan disini mengingatkan aku pada desaku di pelosok Bukittinggi,sungai berbatu dialiri air yang amat jernih ini terasa sangat menyejukan kembali tubuh kami yang baru saja didera teriknya panas mentari disepanjang jalan tadi. 
Puas mandi kami segera memacu sepeda lagi kearah Nipah. Mas Mariadi mardiah dari pulau Penang yang sedari tadi selalu memonitor keberadaan kami belum sempat aku beritakan,jam 18 sore sebelum magrib kami sampai di Nipah tebal dan nginap di masjid kali ini aku diperlaku seperti seorang jamaah tablik,beberapa kali sudah aku merasakan kehangatan sambutan saudara seiman ini,mereka memberikan tempat kami menginap di masjid dan menunjukan fasilitas yang bisa kami gunakan. 


merasakan kehangatan persaudaraan
Beberapa sms dan misscall dari kawan kawan dari penang belum aku buka,waktu dibuka sepertinya kami sedang di tunggu tunggu di pelabuhan Ferry Butterworth. Malam di Nipah kembali kami didatangi seorang teman Bung Hafiz dunia pesona,dosen dari Nipah,sahabat baru kami yang juga menunggu nunggu kedatangan kami tanpa berharap apa apa hanya ingin memberi semangat dan mendengar sepotong cerita dari perjalanan kami,sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami saat itu.
Pagi berikutnya sehabais sholat subuh kami melanjutkan perjaanan kearah Penang,30km menjelang Butter worth kami di susul dengan sepeda oleh Mariadi Mardiah dari penang,beliau melambai kan tangannya selagi kami asyik mendayung dari jalan arah yang berlawanan. Wak Mariadi yang asal Medan yang hanya aku kenal melalui Facebook itu itu menemui kami dan memperkenalkan diri nya,dengan ramah beliau mengawal kami diperjalanan,dari obrolan diperjalanan beliau meceritakan bahwa dia sudah menetap di Pulau Penang tersebut selama 20 tahun dan berprofesi sebagai Welder di suatu pabrik pipa.
Kehidupan nya yang sudah mapan di Malaysia tidaklah membuat dia untuk tinggal lebih lama di Malaysia karena beliau berencana untuk hidup dan membangun bisnis berkebun sawit di Riau Indonesia.
10km menjelang Butterworth kami dapat rintangan yaitu roda belakang sepeda joker baling lalu kami mencari tempat berhenti di suatu restoran India dan Wak Mariadi mencoba menelpon dan minta bantuan temannya untuk perbaikan.
Ganti velg

Tidak berapa lama teman wak Mariadi yang juga pesepeda itu datang dan membawa satu velg sepeda yang bagus kemudian velg belakang joker yang baling tadi diganti untuk diperbaiki,sementara  itu kami bisa melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal 10km lagi ke dermaga ferry di butterworth. Dekat pintu masuk dermaga ferry ada cendol ketan dingin kami mampir kesitu untuk mendinginkan kerongkongan yang kering diudara yang cukup panas itu. 
orangnya sangat humoris
 Jalan menuju dermaga tidaklah terlalu ramai,disatu perempatan terlihat seseorang menunggu dan melambai kami dialah pak Damanhuri yang bersepeda dan berperawakan keras dengan rambut sebahunya diperkenalkan oleh wak Mariadi pada kami,setelah berapa lama kami kenal ternyata orangnya sangat humoris enak untuk diajak ngobrol dan sangat santai.
Sebetulnya Butterworth terhubung dengan jembatan tapi sayangnya sepeda tidak boleh lewat jembatan tersebut akhirnya kami naik ferry dengan 5 sepeda,aku sampai tidak tahu berapa harga ticket ferry karena semua diurus oleh Wak Mariadi yang tidak mau kami ganti pembayarannya.
15menit sampai di pulau penang,aku terkesima melihat daerah yang bagus bersih,rapih dan penduduknya yang ramah,terkesan ini adalah kota warisan dunia dengan bangunan bangunan kuno zaman colonial yang terawat dengan baik. 
Kami menelusuri kota dengan suka cita lalu Wak Mariadi membawa kami ke pusat bisnis,disuatu kedai buah buahan kami berhenti,ternyata itu adalah tempat usaha dan rumah pak Bakar Noordin sang maestro pesepeda road to London 18000km.
sang maestro ditengah kami
Alhamdulillah,suatu kehormatan dijamu dan bisa berbincang dan berguru dengan sang maestro abang Bakar Noordin,orangnya sederhana dan sangat enak untuk teman bicara apalagi kalau pembicaraan soal sepeda.
Pesannya yang tetap kami ingat "tetaplah sabar dan berzikir dalam situasi apapun karena dengan ini akan sangat menolong",disamping rendah hati dan suka berbagi pengalaman,satu lagi yang menarik dari beliau adalah pesannya pada keluarganya yaitu "supaya membantu pesepeda jarak jauh atau bikepacker siapapun orangnya yang ditemui,berilah bantuan pada mereka walaupun segelas air minum",hal ini beliau pesankan karena dia merasakan bagaimana indahnya berbagi buat seorang pengelana".


Pantai batu Feringgi Penang
Malam pertama di pulau penang kami minta pada wak Mariady supaya diantar ke tempat camping di pantai batu ferringgi miami,lebih kurang 20km kami menyusuri pinggir bukit karang disebelah kiri dan pantai batu Feringgi disebelah kanan. Pemandangan pantai yang indah membuat kami tidak peduli dengan tanjakan yang cukup tinggi saat itu,kecelakaan kecil terjadi saat joker yang sedang bersepeda dibelakang kami terjatuh saat bus yang cukup panjang memepet nya ke pinggir jalan,tapi alhamdulillah tidak ada yang rusak atau luka,hal ini diceritakan joker setelah kami berkumpul.

Pantai Batu Feringgi

Di suatu pantai pasir putih mengarah ke Samudra Hindia kami mengembangkan tenda lalu tiba tiba turun hujan,akibatnya kami tidak bisa kemana mana dan hanya bisa berkurung ditenda. Teman wak Mariadi yang tadi memperbaiki sepeda Joker sekarang datang lagi untuk memasang velg sepeda yang sudah diperbaikinya dan makan malam kami juga dibawakan oleh wak Mariadi,mereka kembali kerumahnya setelah memenuhi semua kebutuhan kami sore itu,luar biasa  pengorbanan sahabat sahabat yang baru kami kenal itu.
Malam ini aku tidur di hotel bintang tujuh dengan alunan oĆ²mbak laut diselingi deru angin laut menghembus cemara pantai,tetesan hujan rintik rintik membuat aku semakin kokoh untuk tidak keluar dari sarangku,biarlah para jangkrik dan pengunjung karaoke di hotel sebelah saja yang keluar karena mereka sama sama bernyanyi aku tidak bisa bernyanyi tapi Aku sangat bisa menikmati simponimu ya Rob....aku masih bisa mendengar suara suara langkah menginjak pasir diluar,ada yang bertanya tanya siapa kami,tapi aku dan joker dan opung diam saja karena sudah ke capean,hingga akhirnya aku tak tahu apa apa sampai subuh.
Pagi pagi jam 7 mariady sudah datang menemui kami di pantai dan hari ini kami libur kayuhan dan akan jogging ke bukit bendera penang hill,track ke bukit bendera sangat terjal.


Menuju Bukit Bendera
 Terjal juga medannya tapi jalannya mulus sejauh 5km ke puncak dengan ketinggian 800mdpl,aku berjalan santai dengan joker serta mariady,istri dan anak balitanya sedangkan opung yosef sudah jauh didepan semangat sekali dia.
Mariady dan istri kelihatan energik sekali,tiap minggu dia berlatih  ke bukit ini berdua untuk persiapan physic keliling indonesia yang direncanakannya tahun 2015 nanti. Beberapa orang jogging ke ke puncak ada juga yang bersepeda ke puncak aku bisa rasakan beratnya mengayuh kepuncak seterjal itu.
Semakin ke puncak udara makin terasa dingin,disatu belokan 
di km4 kami istirahat unruk makan siang  dengan nasi yang sudah dipersiapkan Mariady,opung sudah jauh dan tidak kelihatan didepan.
Beberapa saat selesai makan ada mobil petugas yang dikenal Mariady sedang menuju ke atas,kami gunakan kesempatan itu menumpang kepuncak,disitu memang tidak ada angkutan umum. Dijalan ketemu opung yosef yang terengah engah tapi tidak mau naik tumpangan,idealis si opung...hehehee.

Dipuncak bendera kami mencicipi es campur yang rasa nya cukup istimewa kemudian berfoto foto di tempat kumpulan gembok gembok pengunjung,



unik sekali disini ribuan gembok bertuliskan nama dan alamat dipasang dipagar,konon katanya dipercaya untuk melanggengkan perkawinan dan persahabatan,aku coba tanya harga satu gembok dilapak sekitar situ agar bisa menyematkan gembok disitu tapi ternyata lumayan Rm35 sekitar Rp1.2juta...
Malam kedua di penang kami disediakan motel friendship di Penang oleh teman teman PMC (penang montain bike cycling) dan beberapa orang mengunjungi kami untuk beramah tamah lalu diakhiri penyerahan kenang kenangan dari kami dan sebaliknya dari PMC yang diwakili pak Bakar noordin.



Attachments