Pages

Sunday, January 13, 2013

HARI KE 11,PENDAKIAN GUNUNG DEMPO3159 MDPL.. Kami merayap didinding tebing mengandalkan pegangan pada akar akar kayu



Akhirnya Jumat yang di tunggu tunggu untuk pendakian gunung Dempo datang juga,pagi itu cuaca cerah dan dingin pegunungan terasa sangat menyenangkan,terlihat gunung Dempo dengan jelas tanpa ditutupi awan berdiri anggun, pepohonannya yang rimbun serta puncaknya yang kokoh menyimpan rahasia yang mengundang kami untuk mendatanginya.

“Dialah yang membentangkan bumi dan menciptakan gunung-gunung dan sungai-sungai disana. Dia menjadikan semua jenis buah-buahan, masing-masing berpasangan. Dia pulalah yang menutupkan malam pada siang. Sungguh, dalam semua itu terdapat ayat-ayat kebesaranNya bagi kaum yang mau berpikir” (Al Quran Surat ar Ra’ad: 3)
Gunung Dempo adalah gunung api dengan jenis gunung stratovolcano. Terletak di Kota Pagar Alam, Propinsi Sumatera Selatan. Gunung Dempo mempunyai ketinggian sekitar 3159 mdpl (meter di atas permukaan laut) dan memiliki dua puncak. Puncak dempo (3159 mdpl) dengan keadaan yang tertutup oleh vegetasi perdu dan semak dan puncak api/merapi dengan keadaan terbuka dengan kawah yang terisi air pada bagian dasarnya.

Warna kuning baju seragam para pendaki mendominasi warna pagi itu,terlihat dibeberapa tempat mereka berkumpul untuk berfoto,canda ceria melambangkan persahabatan tanpa ada jurang pemisah baik itu jabatan atau beda usia adalah ciri dari komunitas ini,tua muda berbaur bercerita yang ringan ringan dan bebas dari  beban pikiran serta rutinitas kerja yang formal selama ini.Dua team tua dan muda bergabung menjadi satu yaitu Team Sepatu atau sekelompok pendaki tua dan Sempakmu atau sekelompok pendaki muda
TEAM SEPATU DAN SEMPAKMU


Yang unik adalah pertemuan pendaki gunung dari para pensiunan Caltex atau Chevron dikenal dengan Gununger “Sepatu” atau sekelompok pendaki tua yang terdiri dari kiri ke kanan ,Dumshit,Basket case,Elephant shit,Not in stock,Simple,Joker,Torpedo dan Ci luk Bra.
GATHERING FOR NEW SPIRIT IN DEMPO


Yang paling tua berusia 64tahun “Joker” sang Hash father seorang inspirator kami yang penuh semangat tak pernah menyerah disetiap petualangan,
Aku merasa muda lagi kalau sudah bergabung dengan para sepuh bersemangat muda tersebut  “Tubuh kami boleh rapuh  tapi semangat tak boleh padam”,Alahamdulillah saat ini kami semua diberi nikmat sehat.
Ini adalah pendakian gunungku yang ke 12 dan memunyai kesan yang lebih bagiku karena untuk perginya aku bersepeda sejauh 800km,diusiaku yang 56tahun aku sangat bersukur diberi kesehatan dan kesempatan untuk meraih mimpi yang sudah lama ku pendam.
Sebuah mobil truck mitsubisi yang biasa membawa barang hasil pertanian sudah stand by untuk membawa kami ke titik pendakian,satu persatu carrier kami naikan dan ditumuk dibagian depan kemudian kami menaiki truck tersebut dengan bergelayutan dari belakang,kami berdiri bersusun paku,pas sekali muatannya,aku berdiri dipagar truk samping kanan sementara yang berdiri ditengah saling berpegangan supaya tidak jatuh.
YANG PENTING NYAMPE

LEBIH NYAMAN NAIK TRUCK

Jam 07.00wib truck yang berisi lebih kurang 40pendaki mulai bergerak menuju titik pendakian kami di Kampung 4.
Truck merayap dan meraung pendakian  jalan aspal yang compang camping dengan batu batu berserakan cukup besar membuat tubuh kami terombang ambing ke kiri kanan,tanganku mencengkram kuat ke atas dinding truck,sekali sekali terdengar teriakan uuup….mungkin kaget…..aku membayangkan apabila truck miring sedikit lagi tentu akan berlanjut tumbang ke jurang dan berguling di kebun teh,tapi itulah enaknya suatu XPDC dengan adanya tantangan tersebut aku lebih dekat dengan Allah maha pengasih dan maha pelindung.
Makin ke atas gunung terasa udara makin dingin,aku menikmati pemandangan kearah bawah gunung dan setiap moment dari perjalanan sangat mengesankan.
Lebih kurang tiga per empat jam setelah naik truck kami sampai di Kampung 4 disini adalah tempat terakhir perumahan buruh perkebunan PTP di perkampungan ini kami turun truck dan menurunkan semua carrier dan perbekalan.
MENUJU KE KAMPUNG 4

SAMPAI DI KAMPUNG 4

BERAWAL DISINI DAN NAIK KE KANAN

Pada ketinggian 1613mdpl di kampung 4 ini tiupan angin terasa makin dingin dan disini kami akan mulai perjalanan beberapa porter akan membantu kami membawa logistic dan alat alat camping dan ada juga pendaki yang memakai porter pribadi.
Aku  sendiri dari awal tidak ada rencana memakai porter pribadi karena rasanya carrier yang aku bawa tidak terlalu berat hanya 7kg dan belakangan ternyata itu membawa manfaat  karena perlengkapan pakaian kering bisa aku pakai pengganti pakaian yang basah sewaktu di puncak tetapi ada beberapa kawan yang memakai porter ternyata porternya tersebut tidak sanggup sampai keatas sehingga pakaian penganti dan logistic pribadinya tidak bisa digunakan.
Sebelum memulai pendakian kami berkumpul untuk memanjatkan doa keselamatan dan dihindarkan dari marabahaya serta diberi kesabaran dan kekuatan dalam setiap rintangan.



Jam 09.15 wib kami mulai berjalan menelusuri kebon teh beriring iringan,jalan tanah tidak rata ditengahnya ada alur jalan air ketika hujan,kami harus hati hati menapaknya karena salah menapak bisa terpeleset karena licin,nafas mulai terengah engah dan cepat pertanda oxygen yang mulai menipis di ketinggian.
Matahari mulai menyengat tapi tiupan anginnya tetap dingin,kira kira 1jam perjalanan kami sampai di pintu rimba.
Pintu rimba adalah batas vegetasi antara perkebunan teh dengan hutan.semak dan vegetasi mulai berubah lebih rimbun dan hijau,keringat mulai membasahi tubuh,aku istirahat disatu dataran terasa pergelangan kaki kananku nyeri lagi tapi masih bersukur tidak terlalu mengganggu.
Jalan dari pintu rimba ke pos satu agak landai serta semak dan bamboo mendominasi sepanjang jalan,suara siamang yang bersahut sahutan mengiringi perjalanan,aku jalan lebih berhati hati lagi karena kaki yang makin nyeri serta jalan licin serta berlekuk yang pernah menyebabkan kakiku terpeleset dan terpuruk ke tengah parit becek tersebut,aku bangkit lagi dan bersukur tidak ada yang cidera.
ISTIRAHAT DI POS 1

Sekitar jam 10.20 wib aku dan beberapa orang teman memasuki pos1,hujan mulai turun beberapa orang pendaki berhenti untuk memasang mantel hujan,tapi aku tetap melanjutkan perjalanan tanpa mantel hujan karena kebiasaanku selama ini setiap pendakian tidak pernah membawa mantel hujan karena menambah berat beban,sedangkan pakaian yang basah nanti akan kering sendiri di badan,yang perlu kita harus tetap jalan sehingga panas tubuh tetap terjaga dan tidak kedinginan,prinsip itulah yang aku terapkan selama ini dan ternyata effektif juga.
Jalan dari pos satu ke pos dua di penuhi pohon pohon besar ada beberapa orang kawan yang berlindung dari guyuran hujan yang semakin besar di satu pohon yang agak condong dan membentuk seperti shelter mereka duduk diakar pohon tersebut dan menggelar nasi bungkus untuk makan siang.
FOTO
Pos dua sudah terlewati waktu  menunjukan jam 12.00,aku tetap berjalan supaya tubuh tidak kedinginan dalam hujan lebat tersebut dan berharap sebentar lagi hujan berhenti atau paling lambat jam 13.00 kalau hujan tidak teduh aku akan istirahat saja untuk makan siang,ternyata sudah jam 12.45 hujan masih belum reda,tenagaku mulai terkuras dan aku putuskan untuk istirahat dan makan di tengah hujan  tersebut.
Pada satu pohon tumbang dengan kerimbunan pohon lainnya aku berteduh seadanya dan duduk mengeluarkan nasi bungkus yang sudah dipersiapkan waktu dibawah tadi.
Nasi yang dari pagi sudah dingin sedingin hidung kucing bercampur dengan tetesan hujan dan tetesan air dari topiku aku lahap sampai butir butir terakhir,rasanya lumayan hambar karena bercampur kuah hujan tapi kupaksakan supaya habis,yang penting carbohidrat dan kalori bertambah untuk menghangatkan tubuh.
Tidak lebih dari sepuluh menit istirahat makan tubuhku mulai menggigil kedinginan lalu aku lanjutkan perjalanan yang mulai menanjak tebing tebing yang terjal dengan kemiringan 90derjat,kami merayap didinding tebing mengandalkan pegangan pada akar akar kayu,aku menggapai akar pohon yang cukup kuat menahan tubuhku,tanganku agak kaku kedinginan,sekali sekali aku berhenti meniup telapak tangan agar hangat,biasanya aku selalu bawa sarung tangan khusus untuk setiap pendakian tapi kali ini aku lupa.
FOTO
  
Setelah melewati tebing dinding lemari, medan yang dilalui semakin terjal. Terkadang saya dan rekan-rekan sampai merangkak untuk melewati suatu rintangan agar tidak terpleset ke jurang. Banyak pohon yang tumbang, yang terkadang menghalangi jalur pendakian.
Kiri kanan ada akar akar kayu yang menonjol yang cukup kuat kami pegang untuk bergantungan supaya badan terangkat keatas,terasa jari kaki kanan ku ada gejala akan kram dan jari tangan juga terasa mau kram hal ini mungkin terlalu dingin.aku berusaha tidak salah langkah supaya tidak memicu kram yang berlebihan dijari kaki dan meniup jari tanganku supaya agak hangat dari udara mulut,didalam sepatu aku merasa ada sesuatu yang menggelitik seperti pacet tapi tidak kupedulikan karena capek dan malas membuka sepatu,biarlah dia lepas sendiri setelah kenyang.
Aku lihat dibelakang ada Basket case yang menyusul ternyata dia juga sudah makan siang,sejak itu kami jalan beriiringan terus.
Kami mulai memasuki daerah cadas dengan tanaman semak belukar, dan perdu khas ketinggian 2500-an ke atas.
Hujan sudah mulai reda,dua orang porter melewati ku yang berjalan lebih pelan,jalan yang dilewati berbatuan cadas dan curam,disuatu tikungan aku melihat seorang porter sedang mengadakan ritual bersih bersih rumput di suatu tanah yang ada batu nisannya mirip kuburan,pada bagian pohon terdekat ada tulisan kalau tidak salah bunyinya “kalau tidak bisa jadi pohon di puncak jangan menginjakan kaki di disemak bawah” yang maknanya aku sendiri juga tidak paham,dari porter aku dapat informasi bahwa kuburan tersebut adalah kuburan salah satu pendaki yang meninggal waktu pendakian.
Beberapa menelusuri tanjakan cadas akhirnya sekitar jam 16.30wib kami sampai di puncak Dempo dengan ketinggian 3159mdpl,aku sujud sukur,Alahamdulillah diumurku yang sudah lanjut ini Tuhan masih memberi kesempatan untukku bisa mencapai puncak Dempo atau gunung yang ke 12 yang pernah aku daki,sejenak aku tertunduk haru atas nikmat sehat yang diberikan Allah pada kami.
PUNCAK DEMPO
Puas berfoto foto dipuncak kedinginan mulai menyerang dan buru buru aku menuju ke pelataran sekitar 100meter turun kebawah,jalan menuju pelataran camping menurun dan licin,di padang pelataran yang cukup luas terletak antara dua puncak Dempo dan Merapi,satu aliran sungai kecil yang jernih kami lewati kita merasa seperti dibawah gunung pada hal kita berada 3050mdpl.
Jam 17.10wib kami sampai di camping ground terlihat dua puncak Dempo dan Merapi menjulang dihadapan kami.
Merapi dengan ketinggian 100meter dari tempat kita camping terlihat tandus dengan bebatuan pasir di beberapa bagian ada semak semak tanaman gunung.
Disekitar camping ground ada aliran air yang cukup untuk kebutuhan mandi dan memasak para pendaki.
Kami melihat beberapa tenda pendaki berdiri sekitar itu dan diantaranya ada dua tenda dari team kami,aku segera mengganti pakaian yang sudah basah dibadan dengan yang kering dan memakai wind breaker supaya tidak terlalu dingin kemudian melaksanaka sholat zuhur dan ashar.
Pakaian basah aku gantung di pohon yang ada disekitar tenda tapi percuma juga karena tidak bisa kering sampai pagi
FOTO 

Udara dingin sekali hujan rintik rintik mulai turun,kami mulai gelisah karena sudah jam 18.00wib porter yang membawa tenda dan logistic masih belum muncul.
Aku,Basket dan Jigong menumpang sementara pada salah satu tenda keunyaan Hernia,yang bersangkutan saat itu belum datang,dan apabila nanti Hernia datang kami akan keluar dan berencana akan kembali turun gunung malam itu juga karean hal demikian akan lebih baik dari pada mati kedinginan diluar berhujan hujan tanpa tenda.
Dalam tenda sudah ada 3 orang,kemudian dari luar datang Toredo, Dumshit yang sudah menggigil kedinginan diudara luar disusul satu orang lagi GPS yang sudah tidak tahan dan mulai pusing diluar,tidak berapa lama datang Hernia dan jumlah dalam tenda jadi 6 orang,Hernia memaklumi keadaan saat itu sehingga rela diisi 6 orang  pada hal kapasitas nya hanya 4 orang,kami hanya bisa duduk meringkuk karena sempit,walaupun begitu udaranya cukup hangat dibandingkan diluar.
Beberapa orang kawan terpaksa bertahan dengan baju yang masih basah karena  tidak mempunyai baju pengganti yang kering disebabkan porter yang membawa carriernya tidak kunjung datang,tapi sukurlah masih ada diantara teman yang membawa carrier sendiri dan mempunyai baju kering yang lebih untuk dipinjamkan pada kawan yang sudah mulai frustasi karena tidak tahan kedinginan.
Bertujuh aku,Basket,Torpedo,Jigong,Dumshit,Hernia dan GPS sholat jamak magrib dan isha di dalam tenda karena diluar tenda hujan dan kami beruduk secara tayamum.
Jam 20.00 aku merasa lapar,nasi bungkus yang dibekali dari pagi sudah terasa basi dan logistic kami yang dibawa porter juga belum datang,Jigong menawariku biscuit,setelah makan beberapa potong biscuit tersebut terasa agak lega.
Setiap langkah diluar kami amati dengan harapan kedatangan porter membawa perlengkapan tenda dan logistic yang betul betul kami butuhkan waktu itu,tapi ternyata mereka tak pernah muncul.
Dari beberap porter yang sudah datang di camp aku mengetahui bahwa Guide yang bernama Ferry tidak jadi ikut dengan alasan kurang enak badan,menurutku alasan ini  adalah dibuat buat dan tidak bertanggung jawab,sehingga acara yang sudah dirancang berbulan bulan menjadi kenangan yang kurang baik.
Ini adalah pengalaman pertama ku dengan guide yang tidak punya tangung jawab moral dan berdedikasi .
Beberapa orang mulai terdengar dengkurnya walaupun duduk dan berbaring saling meringkuk,aku berusaha duduk tenang agar kawan yang sedang tertidur tidak terbangun karena pahaku sedang dipakai sebagai bantal oleh jigong dan kakiku terletak diatas kaki Torpedo yang sedang mengorok,tidak berapa lama kakiku terasa kram dengan berat hati aku merobah letak kaki agar tidak kram,semua terbangun dan diam lagi kemudian yang lain juga teriak kram karena kakinya terhimit badan yang lain,dan Torpedo terbangun karena tenda yang dipakai meneteskan air ke kepalanya,Jigong sebentar sebentar tiduran dan bangun lagi lalu dia mengeluh ngga bisa tidur karena dibawah terpal tempat tidurnya ada batu sebesar tinju mengganjal punggung,lalu dia berusaha keluar membuang batu tersebut,begitulah masing masing menyibukan diri untuk mencari posisi yang nyaman sampai pagi.
Kira kira jam 12 malam dari luar kawan mengabarkan bahwa ada anak anak mapala Unsri meminjamkan kita 2 tenda, lalu Hernia dan GPS pindah ke tenda tersebut dan kami tinggal berlima sekarang,hal ini lumayan agak lega karena kaki tidak berhimpit himpitan lagi.
Aku berusaha untuk tidur tapi tidak bisa nyenyak karena tepat di badanku ada tetesan air bocor juga dari tenda dan kakiku sering kram karena dingin dan tertekuk.
Buang air kecil yang dari sore kutahan karena takut dengan udara luar yang dingin sudah tidak komprom lagi,jam 01 malam aku keluar tenda untuk buang air kecil,hujan dan angin bertiup sangat dingin rasanya seperti masuk ruang frezer  lalu buru buru aku masuk tenda lagi untuk berlindung.
Berkali kali aku melihat jam ditangan supaya subuh cepat datang yang tentu akan lebih nyaman dari saat ini,sepanjang malam itu aku banyak merenung bahwa dalam kondisi seperti ini aku tidak boleh mengeluh karena keluhan akan menambah rasa sakit,aku memandang ini adalah pilihan dan merupakan suatu proses pengajaran untuk merobah ketidak nyamanan menjadi kebiasaan dengan cara sabar dan tegar dalam menghadapi alam...
SAMBUNG HARI KE12 TURUN GUNUNG...


No comments:

Post a Comment

Post a Comment