Pages

Sunday, July 12, 2015

EAGLE PEAK_Mount Diablo

Mt Diablo 2360ft

Summit attack to eagle peak ...
Bahagian kedua xpdc kami sekeluarga kali ini trecking menuju Eagle peak dg elevasi 2360ft salah satu puncak dari pegunungan Mt Diablo di Bay area California.
Kami start jam 10.30 pagi dari Juniper Campground suatu puncak yang sangat indah untuk menandang kearah sisi barat pegunungan.
Didaerah itu juga dikerimbunan pohon Querecus agrifolia atau coast live oak yang seperti conopi,berdiri tenda tenda camping pengunjung dikapling kaplingan yang sudah dibagi dan dinomori.
Untuk yang ingin camping disini harus booking dulu via internet. Fasilitasnya bagus dan lengkap,ada meja taman tungku,kran air bersih dan toilet,namun kami tidak ada rencana camping disitu saat ini.
Tiupan angin bagaikan tiupan udara frezer,kami harus segera bergerak karena tidak mau kaku kedinginan, udara yang cerah,padang dan lembah yang hijau yang a






da kalanya ditumbuhi bunga bunga liar  berwarna kuning dan pink mungkin ini yang disebut California wild rose sangat enak di pandang,Nina serta anak cucu walaupun pemula mereka sangat bersemangat. aku jalan dibelakang dg Nina dan Firly,reihan yang di gwndong Bayu suluan beberapa mil didepan kami.
Jalan tanah yang ditaburi kerikil sering membuat kami terpeleset.
Dragon back

Memasuki daerah Deer flat rd jalan mulai agak sulit karena penurunan dan pendakiannya yang agak terjal ditambah lagi kerikil yang ditabur membuat kami sering terpleset. Sepanjang jalan ditumbuhi pohon pinus yang besar besar dan buahnya pun besar besar seperti buah durian saja bentuknya. Beberapa batu yang aku lihat agak bagus kadang kadang berkilau kena sinar matahari aku ambil dan amati seperti ahli batu akik,kalau suka aku ambil lalu masuk Backpack..aku kena virus akik mungkin ya..haha.
Setiap persimpangan selalu diberi petunjuk atau nama jalan dan arah apa yang bisa kita capai kesitu,sangat indormatif sekali,berbeda sekali dengan treck gunung kita di indonesia yang jarang sekali diberi tanda seperti itu,sehingga berbahaya sekali bagi pendaki baru tanpa guide.
Memasuki Meridian Ridge rd terlihat ngarai ngarai dan slope yang curam dan di kejauhan diseberang lembah kami melihat puncak  eagle peak,kami berbelok ke kiri dan memasuki jalan setapak yang kiri kanan nya dirimbuni oak yang kadang kadang menutupi sampai kepala,beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki yang baru turun dari eagle peak,ada juga yang kelihatannya mereka itu sambil berlari marathon.
Disatu puncak Meridian ridge kami menyaksikan seekor elang meliuk liuk diatas kami dan jauh disana nampak eagle trail yang menurun terjal ke lembah dan menghubungkan secara gradual menanjak ke puncak cadas Eagle Peak yang berdiri kokoh menunggu kedatangan kami,di beberapa bagian trail atau jalan terlihat ada beberapa orang bergerak kearah puncaknya. Nina sempat ciut melihat jauh dan terjalnya jalan yang masih akan ditempuh dan sempat berpikiran akan berhenti dan menunggu saja disitu tapi karena kawatir sendirian akhirnya berusaha untuk tetap melanjutkan. Stick di kedua tangan membantu Nina untuk menjaga keseimbangan,aku agak khawatir juga dengan jurang menganga kiri kanan yang siap menunggu kami apabila terpeleset atau salah langkah waktu itu,aku berusaha menenangkan agar tidak panik,adrenalin dan keringat dingin meningkat waktu itu,akhirnya keadaan kritis itu dengan pelan dan pasti kami lewati.
Di kaki cadas sayup sayup terdengar teriakan dan lambaian Raihan dipuncak eagle peak...omaaa..Inyiaaak..
Nina makin bersemangat untuk segera mencapai puncak dan beberapa pendaki yang baru turun memberi jalan pada kami yang mungkin kasihan karena terlihat sepuh dan rapuh...jam 14.30 sore setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di puncak eagle atau Eagle Peak. Kami bersalaman bahagia menyambut keberhasilan menundukan rasa takut dan membangkitkan semangat tidak mudah menyerah...selesai makan bekal yang ada dan berfoto foto kami kembali pulang melalui jalan yang sama,kali ini beban punggungku diganti dengan raihan cucuku,tidak banyak kesulitan waktu pulang mungkin karena sudah mengenal medannya,akhirnya kami sampai di Juniper campground jam 18.00 sore. Alhamdulillah,hari ini Allah sudah ajarkan kami melalui alam bagaimana harus bersabar dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan...sampai jumpa 
Salam sehat
Katik

Friday, July 10, 2015

Gowes Berkeley to Martinez



Sudah sebulan lebih di San Fransisco belum sekalipun gowes,pada hal jalan jalan kotanya semua di lengkapi dengan bike lane yang membangkitkan hasrat untuk kayuhan sepuas puasnya....
Sebetulnya,kalupun kita tidak punya sepeda pribadi maka tempat tempat rekreasi seperti golden gate bridge,union square dan China town menyediakan rental sepeda jam jaman atau seharian penuh, tapi harga rentalnya perjam rata rata us$15/jam atau Rp195,000 per jam,rental satu jam terlalu singkat ngga bisa kemana mana,enaknya 5 jam baru bisa jalan sekitar objek wisata di golden gate bridge,tapi mengeluarkan uang untuk rental bike hampir satu juta sungguh aku belum tega...... katro kayak aku ke Amrik setiap melihat harga otaknya otomatis mengkonversi ke rupiah..jangan ditiru ya...wkwkkk.
Kayaknya lebih bagus beli sepeda dari pada rental.
Hari ini Selasa 17.march 2015 bertepatan dengan hari st Petric day aku akan meminang si hitam manis yang aku temukan di web site craigslist yaitu "WorkCycles Secret Service Mens Bike" ...wuuiih namanya kreen dan murah meriah.
Sekitar jam 14 waktu San fransisco aku menuju rumah penjual sepeda di daerah Murray st Berkeley. Tidak begitu sulit menemukan tempat tersebut yang lokasinya agak sepi. Beberapa mobil diparkir dipinggir jalan tapi orangnya tidak satu pun terlihat di jalan aku agak ragu juga  mengetuk pintunya terbayang film film criminal didaerah Bronx yang menjual narkoba. Lama aku cari cari letak bell tapi tidak ketemu yang ada hanya keyboard kunci electronic. Selagi mikir akan menelpon,tiba tiba pintu terbuka lalu muncul seorang muda kulit putih tinggi kurus berjambang lebat persis Archimedes..
Hi man..dengan gaya selatannya menyapa ku..lalu mempersilahkan aku masuk ruang kerjanya untuk memperlihatkan sepeda yang akan di jualnya,ruangan kerjanya seperti dipenuhi harta karun dengan koleksi sepeda sepeda kuno keluaran eropah,dengan mecerocos dia mengenalkan beberapa sepeda import yang di rekondisinya,ada satu sepeda yang tinggi sekali ternyata sepeda tersebut dibuatkan untuk seorang pemain basket NBA yang tubuhnya setinggi 190cm.
Aku menuju sepeda jenis commuter made in Holland satu tahun pakai, tapi masih mulus dan terawat,aku minta izin dan mencoba kendarai di jalan ternyata masih bagus,inner gear hub serta dinamo hub  ditambah sadle brook dan pannier gratis makin menambah ketertarikanku dengan sepeda tersebut. Kemudian aku membayar dengan harga yang sudah disepakati. Aku lihat jam sudah menunjukan jam 15 sore,aku harus segera pulang karena khawatir kemalaman dijalan.
Ini adalah hari pertamaku turing di USA,dengan sedikit grogi aku melihat jalan yang harus ditempuh di google map kemudian langsung meluncur dengan tujuan Martinez yang berjarak 25mil atau lebih kurang 45km,kalau estimasi google map jarak tersebut bisa sitempuh dalam 2jam 40menit dengan catatan tanpa nyasar.
Keluar dari murray str masuk jalan russel str kemudian aku jadi bingung juga mengikuti rute google map yang rasanya tidak sesuai dengan posisi saat itu.
Mobil dan kendaraan lain dipersimpangan jalan selalu mendahulukan pesepeda dan pejalan kaki,pernah satu kali aku berhenti dipinggir dekat penyeberangan pejalan kaki sewaktu memastikan posisi di google map yang terpasang di handle bar,beberapa mobil berhenti dan sopirnya memberi aba aba mempersilahkan aku menyeberang,tapi kemudian aku balas dengan lambaian menyuruhnya lewat,barulah mobil itu berani jalan, ditempat keramaian lainpun perlakuan drivernya santun seperti itu,belakangan aku ketahui tidak mendahulukan pejalan kaki adalah satu pelanggaran dan bisa di tilang...!
Sepanjang Spurce str jalan nya agak menanjak aku mendorong sepeda sampai kira kira 500meter lalu lanjutkan mendayung lagi,jalannya yang mulus mulai menurun kiri kanan rumah rumah yang asri dan mewah,sekali sekali berpapasan pesepeda road bike yang meluncur laju,mobil sudah jarang muncul mungkin ini daerah perumahan.
Sepanjang wildcat canon road kita sisuguhi pemandangan pohon pinus besar mungkin ini sejenis red wood,cahaya matahari terhambat oleh rimbunnya pohon ponon dipinggir jalan,udara mulai terasa dingin,lalu disatu posisi puncak aku berhenti istirahat untuk memakai baju dingin. Keringat yang tadi terserap baju sekarang menjadi begitu dingin ditubuh.
Aku melanjutkan kayuhan hingga melewati San Pablo Dam Road dan sebelah kiri ada lembah yang ditengahnya danau atau San Pablo Reservoir,indah sekali danau ini dilihat dari atas dengan pancaran cahaya matahari sore yang merah tembaga ditambah hijau lembah yang menyejukan mata.
Sinar mentari sore dari arah danau sedikit menghangatkan tubuh,dulu aku kurang menghargai cahaya matahari tapi sekarang di negri empat musim ini aku lebih menghargai dan mensyukuri cahaya mentari...Alhamdulillah.
Dekat camino pablo tiba tiba hp sebagai penunjuk jalan batraynya lowbat,lalu aku pasang powér bank agar google map sebagai penunjuk jalan tetap nyala. Aku sangat kawatir google map menghilang karena aku sangat buta arah yang dituju,untuk menghindari kehilangan arah aku tidak berani mengutak atik hp sekalipun untuk berfoto atau melihat miss call yang ada.
Dari camino pablo aku masuk kiri ke jalan Bear creek rd dan menyelusuri kaki bukit Briones regional park yang berliku dan menanjak. jalan sepi dari kendaraan dan dikiri kanan jalan banyak di jumpai range tempat pemeliharaan kuda dan kadang terlihat orang sedang menunggang kuda,persis seperti film cowboy zaman dulu suasananya,aku ingat pak Indra di Indonesia yang hobi kuda memintaku mendatangi horse stables seperti itu kemudian menceritakan pengalaman itu,tapi saat ini belum bisa karena aku berpacu dengan waktu yang hampir malam,mudah mudahan ada waktu khusus untuk itu.
Aku sampai dipertigaan Alhamra valley rd lalu belok kiri,disini sepeda harus aku dorong karena tanjakannya tinggi dan panjang,udara dingin menyebabkan kaki terasa kram,aku berhenti sesaat lalu lanjut jalan pelan pelan.
Diujung Alhamra valley ketemu John Muir Nasional park disini,aku berusaha mengingat daerah ini dan perasaanku mulai tentram karena aku sudah paham dan mengetahui daerah ini,ternyata aku sudah memasuki kota Martinez. Sepanjang jalannya banyak ditumbuhi pohon cherry blasom yang sedang bersemi dengan bunganya yang memutih bagai kapas dan sebagian gugur ke jalan sehingga berbentuk salju yang memutih.
Hari sudah menunjukan jam 19 malam yaitu waktu menjelang sholat magrib,jalan kota sudah kelihatan banyak mobil,sebelum gelap aku percepat kayuhan hingga sampai di rumah jam 19.30 malam.
Seisi rumah menyambutku dengan suprise,Nina,Bayu,Firly dan Raihan dari tadi mengkhawatirkan aku yang tidak bisa dihubungi dengan telpon,akhirnya mereka mencoba mencari dengan mobil tapi tidak ketemu. Dirumah aku cerita rute yang aku lalui ternyata rute yang aku ambil sudah di reroute ditengah jalan oleh google map ke jalan yang lebih jauh dan nanjak,ini disebabkan salah masuk pertigaan lalu secara otomatis google menyesuaikan,tapi
Alhamdulillah rutenya jadi bagus ada view danau dan valley,pengalaman pertama turing di Usa sangat mengesankan...
Salam sehat dari kami sekeluarga di Martinez
Katik..
Tween Peak

Mimpiku ke USA

Sekadar untuk menambah bahan bacaan di milis ini,dengan catatan sederhana aku ingin berbagi pengalaman mengurus visa USA yang konon kabarnya lebih sulit dari pengambilan visa ke negara lain.
Seminggu istirahat dirumah betul betul terasa nikmatnya berkumpul dengan anak cucu,Keila 4 tahun cucuku yang tertua kelihatan makin lincah dan gesit begitu juga Addin 2 tahun dulu waktu aku tinggal dua setengah bulan yang lalu masih kelihatan imut imut sekarang sudah bisa berlari dengan tangkas mengejarku kian kemari dalam permainan petak umpet dan kejar kejaran. Dalam hati aku menginginkan disamping menjadi anak anak yang sholeh dan sholeha juga menjadi anak anak yang tangkas dan pemberani,aku yakin itu adalah impian semua kakek kakek seperti aku.
Kalau sudah bermain dengan cucu aku merasa kembali segar dan pegal pegalku selama petualangan sepedaku dua setengah bulan kembali pulih.

Tawaran yang menarik dari Bayu putra kami yang tinggal di California USA agar kami berkunjung,kembali mengusiku untuk pergi lagi meninggalkan rumah sekadar untuk memenuhi mimpi kami melihat dan menyaksikan langsung USA,apalagi saat aku membayangkan nanti bisa turing sepeda di USA ini tentu sangat menarik sekali dan ingin segera aku wujudkan.
Hari ini aku dan Nina istriku berencana untuk mengurus visa usa ke Jakarta.
Urusan visa usa ini sangat menarik perhatianku karena dari informasi untuk mendapatkannya agak sulit dan lama menunggu persetujuan nya,malah ada yang ditolak tanpa ada alasan yang jelas dari kedubes Usa,tapi konon kabar yang dibisikan karena ada simbol simbol islam seperti pakai jilbab,berjenggot dan nama islam yang melekat pada orang tersebut kemungkinan visa nya selalu ditolak atau gagal,...dikarenakan rumor inilah aku semakin ingin membuktikannya Semua kriteria ini ada pada kami dan tidak akan pernah kami tanggalkan walaupun itu akan menggagalkan harapan kami,jadi hal inilah yang membuat aku makin tertarik untuk membuktikannya dan mendapatkan pengalaman dari situ,sukses atau gagal mendapatkan nya tidak jadi masaalah.
Semua persyaratan administrasi sudah dikirim via internet dan jadwal interview hari senin pagi jam 7.
Pagi jam 05.30 sehabis subuh kami meluncur dengan taksi yang sudah dipesan malamnya untuk berjaga jaga jangan gagal karena susah dapat taksi dipagi hari dan ditambah kemacetan ditempat kami di jatiwaringin.
Aku agak risih memakai pakai kemeja dan celana rapi yang sudah lama ditinggal dan berganti ke tshirt dan celana selutut untuk sepeda sejak pensiun 2 tahun yang lalu. Tepat jam 07 pagi kami sampai di kedubes usa di Jl.Merdeka selatan,aku lihat didepan pintu masuk sudah antri orang sepanjang lebih kurang 20 orang,ternyata banyak yang lebih duluan dari kami. Aku buru buru turun dari taxi dan dengan jalan super cepat kami masuk ke antrian paling belakang berikut disususul pengunjung lain dibelakang kami.
Petugas keamanan meminta paspor dan print conformasi interview,lalu memastikan jam interview yang disepakati,satu orang muda disuruh keluar dari antrian dan berbincang dengan petugas sepertinya dia batal karena salah jadwal.
Dalam antrian didalam pembatas tali yang terpasang,aku melirik kesemua sudut pagar ada 3 polisi pengaman berwajah angker lengkap dengan senjata otomatis dan rompi anti pelurunya berdiri di beberapa sudut ,perasaanku seperti menonton film perang badai gurun waktu itu,Nina istriku mencoba memotret kesana kemari untuk mengisi waktunya kadang kadang aku jadi modelnya..hehe..muka cuek aja karena aku pikir ini penting buat dokumentasi,tapi tiba tiba security mendatangi kami dan mengatakan "buk dilarang berfoto disini" nah lhooo...aku kaget kayak ketahuan nyontek oleh guru pengawas ujian,...lalu dengan spontan aku menjawab "aku ngga lihat ada larangan berfoto disini pak" dan petugas tadi mengatakan "ia pak ini daerah terlarang" sambil tersipu Nina menyimpan Hp nya ke dalam tas tapi petugas meminta supaya mengeluarkan hp lagi dan foto yang baru saja diambil supaya dihapus,dalam hati aku berkata..sakral sekali daerah ini ngga boleh di foto.
Antrian yang berjumlah 21 orang dibagi menjadi tiga kelompok masing kelompok menjadi 7 orang
Kami masuk perkelompok 3,baru masuk gerbang pertama security megeledah seluruh badan pakai metal detector oleh petugas yang bermuka dingin,koq susah senyum ya..? Apakah securitinya harus bermuka seram begitu ya..?apa lagi waktu interview nanti tentu orangnya lebih seram lagi...aah masa bodo ,yang penting ngga menerkamku saja hehehe..., kita diminta untuk masuk ke dalam gedung, dipindai dulu alias di x-ray. Nah di bagian pemeriksaan ini, barang-barang bawaan kita harus dipindai semua, barang-barang elektronik dititipkan ke petugas, dan segala jenis makanan dan minuman tidak boleh di bawa ke dalam dan tidak boleh dititipkan ke petugas. Cuma ada dua pilihan, kalau tidak dimakan habis, ya dibuang.
semua barang elektronik seperti hand phone hingga ke masalah powerbank, headset dan cable cable dan sejenisnya ini sangat tegas harus ditinggalkan.. Kalau tas kita dipindai dan terdeteksi adanya barang elektronik yang berada di dalamnya, langsung petugas meminta kita mengeluarkan barang tersebut dan tasnya dipindai ulang. Begitu terus sampai tas kita dinyatakan steril oleh petugas. Tas boleh dibawa masuk ke dalam dengan barang elektronik semuanya dititipkan di pos keamanan dan diberi tanda terimanya. Selanjutnya pemohon pindah dari pemindaian ke tempat antri loket pemeriksaan kelengkapan dokumen. Di sini petugasnya orang Indonesia, embak-embak agak jaim (jaga image) susah senyum juga, padahal masih pagi. Salah arah ngasih paspor pun sudah dapat kuliah pagi dari si mbak, masih pagi itu seharusnya sebar senyum genit dan ramah. Tapi enggak apa-apa, mungkin pusing juga karena ada applicant yang datanya kurang lengkap di formulir. Sudah beres kita dikasih nomor grup untuk pindai sidik jari dan wawancara.
Dari sini, saya masuk ke tempat tunggu yang ada TV-nya saat itu ada acara pengenalan warga warga muslim Amerika yang berprestasi seperti ada senator muslim kulit hitam (lupa namanya) dan pengusaha muslim yang sukses juga ada informasia cara mengambil peluang kerja di Usa.
Semua informasi ini positif sekali memberi tahu bahwa amerika sangat menjunjung kesetaraan dan kesamaan hak serta membuka peluang kerja untuk memasukinya.Allahualam bisawab..
Abis itu ada pengumuman  nomor antrian grup 1 sampai 10 dipersilahkan masuk ke ruang wawancara. Di sini musti antri lagi nunggu nomor antrian grup dipanggil. Kemudian grup 7 saya dipanggil ke loket 1 untuk dipindai sidik jari, di seberang kaca loket terlihat tante Amerika yang gaul abis dan didampingi diluar loket oleh seorang petugas kedutaan yang membantu proses pemindaian. Aku disapa si tante "Good morning" aku dengar tidak begitu jelas diam saja ,kemudian dia ulangi lagi sampai tiga kali lalu petugas pendamping memberi tahuku bahwa petugas didalam memberi salam,aku mendengar kurang jelas melalui microphon yang ada,begitu aku diberi tahu,buru buru membalasnya "good morning" kemudian dengan lugu aku katakan " sorry mam,I am nervous facing you" sambil cekikan dia mengatakan oow really...? (Dalam hati,ngga marah dia,pengertian juga si tante nih)
Selesai dengan sidik jari, kita diminta menunggu lagi, sampai dipanggil untuk wawancara,selagi menunggu ada dua orang ibu dan ponakan yang sedang menunggu wawancara,kami sempat ngobrol dengan mereka dan tukaran nomor telpon. Ternyata ibu tadi sudah perpanjangan visa ke dua kali untuk melihat anaknya yang bekerja di Texas dan diceritakan waktu visa pertama itu dia sampai empat kali pengajuan baru bisa dapat approval,dan yang sekarang ini dia juga masih deg degan dan ponakannya baru kali itu untuk berkunjung ke usa. Dia memberi tahu nina sebetulnya dia sehari hari pakai jilbab tapi karena wawancara ini dia dan ponakannya buka jilba sampai selesai wawancara.
Nina tanya aku,..aku jawab tegas biarlah tidak dapat apa apa dari pada harus buka aurat.
Tidak terlalu lama menunggu,akhirnya nomor grup saya dipanggil ke loket 12 dan diwawancara sama tante bule yang murah senyum . Sebelum saya,sudah ada 2 orang yang terlebih dahulu diwawancara. Yang pertama untuk bisnis ke US bahasa inggris nya lancar betul kayak air mancur dan di-approve dapat surat putih, anak muda ini sudah perpanjangan visa ke Amrik dan gak ada masalah. Yang kedua adalah Ibu dan bapak dengan logat sunda saya sempat nguping pembicaraannya mau ke Amrik untuk mengunjungi anaknya yang sedang kuliah, wawancara gak ada masalah, visanya disetujui,kemudian di loket sebelah ada ibu muda ditanya dalam bahasa inggris mengapa ke Amerika dan dia menjawab mengunjungi adik,kemudian ditanya petugas lagi"kamu disana dengan account siapa" di jawabnya "dengan accunt adiknya" agak lama menunggu lalu petugas bule tadi mengembalikan paspor dengan kartu merah pada ibu tadi,yang aku dengar "please complete your document" ibu muda tadi berbalik dengan muka murung,aku bisa merasakan kekecewaannya.
Tiba giliran saya dan Nina. Untuk dua wawancara sebelumnya,petugas mama bule yang murah senyum berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pas giliran saya,mama bule pakai bahasa Inggris juga. Berikut cuplikannya:
Mama bule
MB: Hi, good morning!
Aku : Good Morning!! (senyum agak ditarik,biar ngga kelihatan grogi)
MB: How are you?
Aku: I’m fine! Thanks! And how are you (jawabannya complete kayak diajarkan instruktorku dulu..hihi)
MB: I am Okay, thanks (jawabnya sama..hehe)
So,is she Nina ?(Sambil nunjuk bini gwe)
Aku: Yes,she is Nina my wife and also applied for the visa today. Do we have to interview together?
MB: Yes, no problem. So what do you want to do in  US? (Berarti tadi dia ngerti..hehe)
Aku: For holiday and visit my son in San fransisco California.
MB: hmm...so..your son stay in San faransisco?
For what..?
Aku: yes,he stay and works for IT company in San fransisco Mom,...and I am sorry I don't know exactly the company name,maybe IT mobile company.
MB: okay,good,no problem.
Do you have grandchild?
Aku: yes,I have 3 grandchildren,
two person in pekanbaru and one person in Martinez (duh..jawabannya panjang amat)
BM:woow..you are lucky,
How long will stay in usa.
Aku: I don't know mom,maybe more than one month
BM: hmm..one month not enough in Usa (sambil senyum ramah)..anyhow well come to usa.(sambil menyodorkan kertas putih yang belum aku mengerti)
Aku: ooh..thank you mom.
(Dapat visa ngga nih ya..?)
So,when I can get my paspor?
MB: in three days,we will send it to your addess.
Aku:okay mom,thanks for your time.
MB:Okay,see you
Aku jalan tinggalkan ruangan yang masih dipenuhi pengunjung,diluar aku tanya dan pastikan ke petugas indonesia biar agak nyantai,apakah artinya kertas putih ini lalu dengan singkat dia menerangkan kalau yang putih artinya visa disetujui dan dalam tiga hari akan dikirim ke alamat,kalau kuning artinya pending,document sedang diverifikasi dan kalau merah visa ditolak dan pasport dikembalikan.
Alhamdulillah dapat pengalaman baru....surat tanah ,rekening koran,Pbb ,npwp yang aku persiapkan tidak diperluka dan tidak pernah dicheck oleh mbak bule...hehehe
Ternyata cerita yang serba sulit mendapatkan visa usa itu terhindar dariku tanpa harus mengorbankan keyakinan kami.
Sorenya ibu dan ponakan yang tadi ngobrol dengan Nina menelpon dan menanyakan apakah  visanya di approved,lalu kami jawab baru dikasih kertas putih dan dia mengatakan paspor ponakannya dikembalikan dengan kertas merah artinya ditolak dan dia sendiri dapat kertas putih.
Tiga hari kemudian kami dapat telpon dari fedex pekanbaru bahwa ada kiriman amplop,kami pergi mengambil ke kantor fedex di jalan sudirman dan langsung buka Amplop ternyata janji kedutaan us benar dalam tiga hari kami sudah terima paspor dan approval visa usa untuk 5 tahun..
Alhamdulallah
Salam sehat buat bapak ibu HPC semua nya
Wassalam
Katik

Monday, July 6, 2015

29.TOUR de ASIA_Berakhir di Cambodia

Jalanilah bumi ini dan engkau akan melihat kebesaran Nya......go where ever make you happy.

Amiiin..terimakasih bapak bapak yang sudah berikan doanya dan dukungan pada kami,semoga Allah membalas segala kebaikan ini amiin.
Jam 8 Malam ini kami sampai di kota phnompen setelah kayuhan sejauh 105km dari kota Tani dan ini adalah hari terakhir perjalan turing Tour de asia minus China kami.
Suatu kebahagian bagi saya kalau bapak ibu HPC bisa terhibur dan ikut merasakan pahit getirnya safari sepeda ini dan mudah mudahan ada sesuatu manfaat dan pelajaran yang bisa kita ambil khususnya saya pribadi,dimana sabar dan berdoa serta tidak putus asa adalah sikap yang cocok dalam menghadapi permasalahan dan cobaan yang beberapa kali kami alami. 
Masih terang diingatan kami setiap sore sebelum datangnya gelap kami selalu dihantui pertanyaan dan kekhawatiran dimana kita harus camping dan tidur dengan aman kemudian apa yang akan terjadi selanjutnya.....karena kami harus camping untuk ngirit dana yang terbatas juga untuk merasakan kebesaran Allah dengan hidup yang survive di alam bebas itulah pilihan kami.

Alhamdulillah berkat kesabaran serta doa keluarga dan doa bapak bapak yang mengikuti perjalanan kami,Allah berikan solusi yang baik setiap kami menemui kesulitan.
Khususnya sewaktu perjalanan terberat dibelantara vientiane dan Luangprabang serta menyeberang border laos vietnam dimana tidak ada desa dan warung untuk sekedar berteduh dan makan...tapi ini semua bisa kami lalui dan kami yakin dan percaya ini terjadi bukanlah karena kehebatan kami tapi semua ini adalah pertolongan Allah pada kami mahluknya yang lemah,semoga ini menambah ke imanan saya dan kita semua...amiin.
In sha Allah besok kami akan ke KBRI di Phnompen ini dan selanjutnya menunggu keberangkatan pulang ke pekanbaru dan joker akan pulang ke Jakarta pada tanggal 25 Desember.
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya dan Sampai jumpa lagi di lapangan PCR pekanbaru😀😀😀
Salam sehat buat semuanya dan mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.
Katik dan Joker

28.TOUR de ASIA_Phnompen kota hantu

Ternyata malam tadi dan sepanjang jalan dalam perjalanan ke  kota  Phnompen kami banyak menelusuri jalan perkampungan muslim Khampong Cham,Kandal dan Kampong Tuol dari suatu suku bangsa Champa yang besar pada abad ke 11 dan juga mempunyai hubungan baik dan kekerabatan dengan kerajaan sri wijaya Palembang dan Majapahit di Jawa,tetapi sekarang mereka kehilangan tanah airnya dan hilang dari peta dunia  yang dulu berada di daerah vietnam tengah dg kota ibu kota nya Indrapura atau sekarang Vient sampai selatan setelah di invasi berkali kali oleh bangsa vietnam dari utara dan bangsa khmer dari barat yaitu di abad ke 1656 masehi.
Penduduk dan raja yang dulu hindu dan sudah memeluk islam di habisi besar besaran dan ada juga yang di jadikan pekerja paksa atau budak,beberapa yang sempat melarikan diri  terpencar ke beberapa negri seperti ke pesisir Melaka,Indonesia,Thailan dan Cambodia
Yang di kamboja ini mereka berbaur dengan muslim dari Jawa dan bangsa khmer dan dalam pembauran ini mereka dikenal dengan Moslem Khmer.
Mereka banyak ber profesi sebagai pedagang,petani atau nelayan,karena perbauran tersebut rasanya saya seperti di kampung halaman sendiri,cara bercocok tanam sawah ladang yang sama dengan di indonesia dan hewan peliharaan sapi dan kerbau sama seperti di sumatra,tidak pernah aku temukan ternak babi mulai border di Ha tien sampai di kamphong Cham ini.
Beberapa orang tua yang sempat ku jumpai dan sapa dengan bahasa melayu mereka sedikit bisa mengerti,aku makin tertarik dan ingin tahu tentang hubungan bangsa Cham ini dengan orang Melayu atau Minang kabau,dalam hati aku berjanji untuk mengunjungi saudara kita tersebut lagi di phnompen nanti.
Tiupan angin memperberat kayuhan kami hingga jam 3 sore suasana kota sudah mulai terasa dengan banyaknya arus kendaraan,jam 6 sore kami memasuki kota dan hari sudah mulai gelap kami berhenti dan berusaha melihat google map mencari guesthouse murah di jalan 111 sebagai mana yang direkomendasikan oleh Juliant seorang pesepeda germany yang ketemu kami di perjalanan dekat Kandal,tiba tiba seorang pemuda menghampiri kami dan sepertinya ingin tahu kesulitan kami,dia menyapa dengan bahasa inggris yang lumayan fasih dan bisa dimengerti,dia berusaha menunjukan arah tapi karena gelapnya malam agak sulit bagi kami memahaminya dan dengan ramahnya dia mengajak kami untuk mengikuti sepeda motornya dari belakang.
Tepat pada penunjukan spedo meterku di angka105km kami menemukan guesthouse Revouth di 111strt.
Seninn 22 Desember, hari pertama di phnompen kami pergi ke KBRI Phnompen di jalan Oknha nhek tioulong.
Kunjungan kami ke KBRI Phnompen disambut oleh Pak Ikhwan beserta staf lainnya dan Kebetulan hari itu adalah hari ibu atau Mother Day,jadi ibu ibu juga sedang mengadakan ceremonial mother day dan juga ada yang menjemput anak anaknya yang selesai belajar sekolah. Kelihatan akrab sekali masyarakat kita di kbri waktu itu terasa kita seperti berada di Indonesia,anak anak dan ibu ibu begitu surprise mengetahui kami bersepeda ke Phnompen itu,mereka serius sekali mendengar pengalaman petualangan kami ke 7 negara.
Maka jadilah kami waktu itu seperti penyamun di sarang perawan..eeh kebalik ya...wkwkkk ...
Siangnya sewaktu mau pulang ibu Markus mengundang kami makan siang di restorannya.
Kami diantar pak Ikhwan ke restoran yang berlokasi di jl 35str Toul Tampuong,aku terkesima dan bangga juga sebagai orang Indonesia melihat tampilannya yang elegant serta nama nya yang unik yaitu "Restoran Sumatra" Pengunjung umumnya dari kantor kantor kedutaan yang dekat disitu kemudian turis asing.
Saya dan joker disuruh pilih menu dan terlihat cukup banyak menu makanan Indonesia maupun eropah.
Aku makin kagum melihat banyaknya pengunjung waktu itu ditambah a
Lagi dengan sosok pak Markus yang bercerita pengalamamnya meniti sukses seperti sekarang,dengan tekad dan keyakinan.
5 tahun yang lalu beliau datang ke Phnompen dan mulai membuka warung kecil di daerah yang baru saja dilanda konflik perang saudara itu. Dengan keyakinan dan keuletan beliau dibantu istri sekarang sudah berdiri restoran Sumatra yang identik dengan masakan Indonesianya. Aku bertanya pada Pak Markus "kenapa di namakan restoran Sumatra",pak Markus Dwinanta yang berasal dari daerah gunung kidul itu mengatakan warga Kamboja sangat familiar dengan pulau sumatra karena ada satu lagu lokal yang sangat populer waktu itu yang berjudul "selamat tinggal Sumatra" bercerita tentang seorang pemuda Kamboja yang mencintai gadis Sumatra,dari situlah ide untuk nama restoran yang cukup populer di kota Phnompen kamboja. Setelah makan siang disitu dalam hati saya berkata ini lah yang hilang selama dua bulan ini dan sekarang aku sudah menemukannya lagi oleh karena itu sangat salah saya kalau tidak memberi tahu sahabat bahwa makan di situ sangat maknyuuuus...
Kelangkaan masyarakat muslim dan hubungannya dengan dengan kekejaman polpot semasa berkuasa membuat keinginanku makin besar agar bisa bertemu dengan komunitas muslim Champa.
Aku mencari lokasi masjid di Phnompen ini melalui google search tapi tidak temui,akhir kami pergi ke 
Museum Genosida Tuol Sleng.
Untuk masuk ke meseum,kita harus membeli ticket masuk seharga 12000rial atau us$ 3.
Meseum yang dulunya gedung sekolah dirobah oleh rezim polpot menjadi camp penjara bagi lawan lawan politiknya. Di saat rezim polpot semua sekolah dihapuskan dan kaum terpelajar,dokter,insinyur,guru,akuntan dan seluruh profesional  dipenjarakan,kerja paksa dan yang memeluk agama nasibnya juga sama yaitu dibantai atau kerja paksa di ladang ladang desa. Anak anak di pisah dari orang tuanya dan di pelihara di barak khusus,sedangkan ibu dan bapaknya juga di pisah dan disuruh bekerja ke sawah.
Kota kota dikosongkan dan penduduknya di pindah ke desa untuk mengerjakan sawah ladang. Phnompen saat itu menjadi seperti kota hantu.
Pimpinan Khmer Merah Pol Pot memang benar-benar kejam,tidak berperi kemanusiaan. Pria bernama asli Saloth Sar ini selama menjabat sebagai Perdana Menteri Kamboja (1976-1979) telah membunuh jutaan rakyat tak berdosa, konon jumlahnya sampai sepertiga warga Kamboja. Membunuhnya tidak menggunakan senjata api, karena akan boros peluru, tetapi agar ngirit dengan cara menyiksa, sehingga korban mengalami penderitaan tak terperikan.
Gambaran kekejaman Pol Pot dan para pengikutnya bisa disaksikan di Genozide Museum atau Museum Genosida di Toul Sleng Prison Phnom Phen, Ibukota Kamboja. Waktu itu Pol Pot memang memerintahkan untuk membunuh dengan cara menyiksa para musuhnya, orang yang dianggap musuh atau yang tidak sejalan dengan doktrinnya. Mulai dari anak-anak, bahkan bayi masih merah sampai orangtua renta.
Sejumlah alat penyiksaan juga dipajang di sana.
Ada sekitar 15.000 orang yang pernah ditahan di Tuol Sleng. Dari jumlah itu, tak lebih dari sepuluh orang yang selamat lainnya dibantai secara keji.
Tempat yang diberi nama kota Penjara 21 ini berupa bangunan bertingkat tiga dengan model huruf ‘U’ yang awalnya merupakan lembaga pendidikan, sehingga bangunannya berupa lokal-lokal seperti kelas. Namun bangunan tampak kumuh dengan cat tembok yang sudah sangat usang.
Di tiap-tiap pintu masuk kamar terdapat gambar dan penjelasan dalam Bahasa Khmer. Tulisan tersebut meminta para pengunjung untuk tenang, tidak tertawa, dan bergurau guna menghormati arwah para tahanan yang pernah ditahan, disiksa dan dibantai di tempat itu.
Meski seperti kelas, jangan anda bayangkan di dalamnya ada meja-meja tempat belajar. Di bangunan sisi kiri, di tiap lokal terdapat tempat tidur besi. Di dekatnya ada besi, atau apa saja yang dijadikan alat untuk menyiksa orang. Di salah satu dindingnya terdapat foto besar manusia yang sedang terkapar setelah disiksa. Meski gambar tidak tajam, dan masih hitam putih, namun cukup menggambarkan kondisi korban.
Kami terus ke ruang-ruang bagian tengah antara lain berisi foto-foto para tahanan. Mereka di foto sesaat usai dibantai saat proses interogasi. Dipajang juga foto istri salah seorang bekas menteri rezim Khmer Merah yang oleh Pol Pot dianggap telah mengkhianati dirinya. Di pangkuannya tampak bayi merah. Di belakang kepala perempuan itu sudah terpasang sebuah bor.
Gambaran kekejaman Pol Pot juga direkonstruksikan Vann Nath dalam lukisan yang di pajang di gedung sayap kanan. Van Nath yang pernah ditahan merekonstruksikan kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang dia lihat atau direkonstruksi berdasarkan apa yang dia dengar dari jeritan suara ibu-ibu, anak-anak dan bayi saat disiksa. Salah satu gambar memperlihatkan seorang ibu yang merayap di lantai dan meratap-ratap kepada penjaga agar bayinya yang direnggut darinya dikembalikan. Sedang sang penjaga sambil tertawa tidak menghiraukan.
Lukisan lainnya menjelaskan nasib sang bayi. Dalam lukisan digambarkan bayi itu oleh penjaga dilempar ke atas dan saat tubuh bayi itu melayang turun disambut pisau bayonet. Di bawahnya juga tampak tumpukan mayat di pinggir kolam. Ada juga lukisan yang menggambarkan bayi itu dipegang kakinya, diputar-putar dan kemudian dihempaskan kepalanya ke pohon atau tembok.
Ada juga gambar yang menunjukkan seorang tahanan direndam dalam bak kayu dengan kedua tangan terikat dan posisi kepala di bawah. Kemudian, ke dalam bak air dialirkan listrik. Pasti tahanan tersebut kesakitan.
Itu hanya sebagian dari cara Pol Pot menyiksa orang.
Tahanan dari Tuol sleng 21 ini biasanya sekali seminggu dibawa dengan truck dengan diberi tahu bahwa segera akan di bebaskan dan dipertemukan dengan keluarganya kemudian dia disuruh naik truk dengan mata tertutup lalu dibawa ke killing field,sampai di killing field semua disuruh turun truck lalu terjadilah pembantaian dengan cara kepalanya di pentung atau ada yang ditusuk bayonet demi mengirit peluru untuk peredam jeritan musik di loud speaker di bunyikan keras keras.
Perutku terasa mual membayangkannya dan hingga pulang ke guesthouse perasaan ku masih belum nyaman seperti menonton film Dracula.
Rabu 24 Desember ini adalah hari terakhir kami di phnompen karena besok kami akan pulang ke Indonesia,pak Rojali seorang Muslim Cham yang yang kemarin bertemu sewaktu kami sedang kebinggungan mencari jalan pulang hari ini menawarkan akan membawa kami ke perkampungan Cham di jalan no.5 Km9 menuju border Thailand.
Kami yang tanpa helm boncengan bertiga  di sepeda motor tua,joker duduk di tengah dan aku dipaling belakang,pantatku sedikit agak keluar dari jok dan kaki kadang kadang tergantung karena tidak ada pijakan,hal semacam ini terlihat biasa di jalan raya Phnompen,sepeda motor honda keluaran 1984 dengan raungan mesin tuannya meluncur di jalan dengan terseok seok diantara kendaraan lain,udara pagi yang masih segar kami berhenti sebentar di depan King palace dipinggir sungai tongle sap ,jejeran bendera bangsa dunia menambah keindahannya,aku memandang merah putih yang berkibar diantara bendera lain,aku bangga dengan kibarannya yang anggun,perasaan kita akan berbeda melihat merah putih di negri sendiri dibandingkan merah putih di negri asing aku merasakan kerinduan tanah air saat itu.
Kami melanjutkan perjalanan ke kampung muslim di daerah jalan 5 dan km 9 arah border vietnam Thailand,arus kendaraan mulai padat kami terus menelusuri pi gngir sungai sekali sekali terlihat wanita yang berjilbab juga laki laki pakai sarong atau gamis,dan akhirnya berhenti disuatu masjid Nur Ihsan.
Aku masuk ke pekarangan mesjid dan bertemu dengan warga yang tinggal disamping mesjid tersebut dan salah satunya pak Bukhori 38 tahun,Bukhori pernah tinggal di penang Malaysia selama 6 tahun   mengikuti pamannya sebagai pengungsian diwaktu khmer merah berkuasa.
Ibu bapaknya selamat sampai sekarang tapi bebeberapa kerabat dan saudaranya terbunuh.
Kami juga sempat bertemu tetangga pak Bukhari yaitu mas Mulyono  seorang indonesia asal Jogja yang sudah kawin dengan gadis muslim champa dan sudah menetap selama 2 tahun di Phnompen.
Mulyono pernah tinggal di penang Malaysia dan disitu dia bertemu Istrinya yang berasal dari Kamboja hingga kawin dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Phnompen sebagai tukang Las.
Azan dzuhur kami meninggalkan keluarga Bukhari dan Mulyono untuk sholat di Surau dekat rumah pak Rozali.
Suasana menjelang sholat dzuhur persis seperti di pedesaan Indobesia atau Malaysia,warga berpakaian laki lagi berpakaian gamis dan beberapa ibu ibu datang ke surau dengan mukenah,ternyata hari itu ada warga yang meninggal dan akan di sholatkan di surau,sewaktu memasuki surau aku di beri amplop berisi uang 1000rial kamboja,agak kaget juga maksudnya untuk apa amplop tersebut lalu aku tanya pada pak Rozali dan ternyata itu adalah kebiasaan ahli waris untuk membagikan uang sedekah pada jamaah kalau ada saudaranya yang meninggal dan uang itu bisa kita gunakan atau disedekahkan lagi tapi waktu itu aku memasukan lagi amplop tersebut ke kotak amal yang ada di surau.
Selesai sholat zuhur,jamaah duduk menunggu beberapa saat menunggu jemaah dari mesjid lain yang akan ikut mesholatkan jenazah.
Saat menunggu tersebut mereka menyapa dan ramai beri salam pada kami lalu pak Rozali memberi tahu identitas kami pada beberapa jamaah,terlihat mereka makin senang sekali dan berusaha menyalami kami walaupun tidak bisa bercerita banyak.
Pulang sholat jenazah kami langsung kerumah pak Rozali diseberang jalan,dirumah ibu Rozali sudah persiapkan makan siang dengan ayam goreng dan sayur Tom yam untuk kami..Alhamdulillah kami tidak usah repot repot lagi mencari makan halal siang itu.
Kami pamitan pada keluarga pak Rozali dan langsung diantar lagi menuju gueshouse untuk ambil sepeda guna di Package untuk dibawa pulang ke Pekanbaru besok pagi.namun ini bukanlah perjalananku yang terakhir karena in sha Allah masih banyak lagi mimpi yang perlu di wujudkan.
Note:foto foto ada di fb TASMAN JEN




27.TOUR de ASIA_Good morning Hanoi



Minggu 14 Dedember,
Pagi di desa Nha hang 40km sebelum Hanoi,tepung quacker dan susu bubuk yang di tinggalkan opung yosef kami campur dengan air panas dan susu serta sesendok gula pasir maka jadilah makan pagi kami seperti bubur bayi,makanan ini akan lebih baik bagi kami karena susahnya mencari makanan halal diwarung sepagi ini.
Baju ku yang terpasang tiga lapis rasanya masih belum cukup hangat menangkal dingin dipagi itu tapi karena malas mengambil baju dengan membongkar bag lagi aku langsung berangkat saja mengusung sepeda bergulir lagi di jalan raya yang berdebu dan compang camping berkerikil didaerah itu.
Shifter untuk gear depanku yang putus menjadikan sepedaku hanya pada posisi paling rendah saja akibatnya kayuhanku hanya sekali sekali saja karena terlalu ringan,akibatnya joker jauh meninggalkanku. Tadi aku sudah check di google map didaerah sebelum pusat kota ada bike shop yang mungkin  bisa mengganti cable shifterku.
Disuatu pertigaan xuan Mai kami belok kanan menuju pusat kota Hanoi,suasana kota mulai terasa,mobil serta sepeda motor makin ramai. Tiba tiba di sebelah kiriku terlihat satu ruko yang menjual sepeda,joker yang sudah bersamaku berhenti di ruko tersebut lalu minta tolong untuk mengganti cable shifter sepedaku. Tak sampai setengah jam sepedaku sudah  normal lagi,lalu kami melanjutkan ke arah mesjid An Noor dekat  pusat kota Hanoi.
Aku agak kagok dengan perobahan karakter pengemudi kota Hanoi yang keras di sela sela arus lalu lintas yang rapat dan laju tersebut.
Disetiap trafic light sepertinya disitu aku harus uji nyali karena lampu hijau bukan berarti aman buat kita tapi masih ada saja bergerombol sepeda motor atau mobil yang memaksakan masuk keseberang jalan, akibatnya kendaraan melintang lintang dan klakson yang melengking tinggi menambah kesemrawutan di banyak persimpangan. Beban sepedaku yang sarat membuat sepedaku kadang kadang meliuk kiri dan kanan tapi mereka seolah tak peduli dan tanpa ampun mebunyikan klakson panjang yang melengking di pangkal telingaku. Dalam hati aku berkata aku harus gesit,lincah dan sedikit nekat atau aku harus merayap seperti kura kura yang pemalu.
Aku dan joker saling merapat terus supaya tidak terpisah yang bisa menimbulkan kesulitan untuk bertemu lagi.
Beberapa kali kami buka google map untuk melihat posisi dikeramaian kota dan kadang kadang ada yang melihat dan
seperti berusaha memberi  informasi tapi sayang keterbatasan bahasa membuat kami seperti orang tuna rungu ditengah keramaian,kalau sudah ramai seperti itu kami lebih baik segera berangkat dari pada konyol jadi tontonan orang.
Jam 15 sore akhirnya kami menemukan masjid Hanoi An Noor di daerah Manh Duong di sekitar situ banyak pertokoan.
Kami menanyakan Imam masjid untuk menumpang malam itu tapi beliau memberi tahu  bahwa mesjid dilarang menerima tamu untuk bermalam,kami sangat memakluminya  lalu malam itu kami mencari hotel didaerah tersebut dan akhirnya didapat hotel Saigon seharga us$20, Khaleez yang berpisah dengan kami sejak dari Nam can perbatasan Laos Vietnam mengontek kami dan bertemu di masjid An Noor.
Senin 15 Desember
Pagi jam 8.30 kami check out dari hotel dan menuju Indonesia Ambassy di jalan Ngo quyen no.50 Hanoi,di jalan kami kehilangan arah lalu bertanya pada seseorang yang lewat dan kebetulan ibu ibu tersebut sudah pernah kerja di KBRI dan dia menunjukan arahnya ,tidak begitu susah kami menemukannya kedutaan Indonesia tersebut.
Di Kbri kami di sambut oleh beberapa staff KBRI pak Budi,pak Susilo dan Pak Dedi dari atase pertahanan juga beberapa Mahasiswa Indonesia di Hanoi.
Siangnya kami bertiga saya,joker dan Kharleez mengunjungi beberapa objek wisata di kota yaitu Moseleum Ho Chi Min dan meseum serta danau dengan patung Ly tekto di tengah kota Ho Chi Min.
Jam 4 sore kami kembali ke Kantor KBRI dan pak Budi memberi tahu kami bahwa tiket kami untuk ke Ho Chi Min city sudah di belikan untuk besok jam 13 siang. Sore itu kami diantar ke hotel Orchid oleh pak Budi.
Kali ini Khaleez yang akan melanjutkan kayuhan ke Cina esok hari ikut nginap dan bergabung dengan kami di hotel.
Selasa 16 Desember
Sehabis subuh buka internet dan ngobrol bertiga sampai jam 7.30 lalu kami berjalan menuju  KBRI di jalan melewati danau disitu banyak ditemui orang tua muda berolah raga jogging dan senam.
Kami ambil sepeda dan barang,sewaktu akan berangkat ke stasion kereta lalu datang seorang ibu ibu memberikan satu tas berisi bekal untuk kami,lalu kami menolak karena beban sudah penuh namun ibu Ami yang berasal dari sunda tersebut memaksa kami untuk menerimanya,akhirnya kami menerimanya dan nanti setelah antar sepeda ke cargo kereta api kami akan kembali lagi mengambil pemberian tersebut.
Kami ditemani pak  Budi menuju Gahanoi atau stasion kereta api dan mengurus sampai selesai sepeda dan barang kami masuk cargo dan tetakhir beliau membawa kami sarapan pagi di restoran Abc.
Sewaktu berpisah kami tak menyangka pak Budi membekali kami dengan uang bekal yang begitu banyak mungkin bisa untuk makan kami dua minggu..! Alhamdulillah.
Kharlezz kali ini juga pamitan dan berpisah dengan kami untuk melanjutkan kayuhan akhirnya ke Kun ming china yang lebih kurang dalam 10hari.
Aku merasa terharu dengan perpisahan ini,aku bisa berdoa semoga Allah melindunginya dalam mencapai mimpi mimpinya.
Aku kembali berjalan berdua Joker ke KBRI untuk mengambil bungkusan pemberian ibu Ami,sesampai di kbri kami memeriksa isinya,Subhanallah ternyata isinya bukan saja kue kue dan makan siang kami berdua tapi disitu juga ada dua amplop berisikan uang us dollar yang lebih dari cukup untuk kami makan selama 10 hari...Subhanallah siapa ibu tadi,kami belum mengetahui siapa beliau dan menanyakan Pak Budi tapi pak Budi tidak begitu kenal beliau..sampai sekarang kami masih belum mengetahui siapa ibu Ami yang misterius tersebut..hanya Allah yang lebih tahu dan siapapun beliau kami mendoakan semoga diberi kesehatan dan rezki yang barokah amiin.
Jam 12.30 kami sudah dipanggil untuk masuk gerbong no.8 dengan tempat duduk soft chair dan air condition. Kalau kita lihat klasifikasi tempat di kereta api vietnam ini ada tiga yaotu,1.sleeper 2.soft chair,3.wood chair.
Rupanya pak Budi membelikan kami tempat yang sangat nyaman seharga 881dong.
jam 13 tepat kereta berangkat aku pandang keluar ke jalan raya Hanoi,pikiran ku melayang ke masa dua hari yang singkat tapi sungguh banyak hal hal yang tak terduga dan bisa aku jadikan pembelajaran arti hidup yang sesungguhnya.
17 Desember
Pagi jam 01 aku diberi tahu Pramugari train mengenai barang begasi kami bisa diambil jam 07 pagi sedangkan kita akan sampai di Ho cho min city jam 02.30 sebentar lagi,aku hanya manggut saja karena ditanyakan alasannya juga percuma karena kendala bahasa  bisa bertele tele pikirku.
Dari sekian banyak penumpang dari Hanoi hanya tinggal kami berdua joker yang sampai destinasi Ho cho min city,penumpang lainnya naik turun silih berganti. Seperti biasa setiap sampai disatu kota propinsi,loud speaker akan mengumumkan kota berada dan sejarah singkatnya dalam bahasa inggris.
Aku mendengar kota Saigon dan semua penumpang sibuk mengambil barang tentengannya. Jam masih 02.30 pagi aku ikut penumpang lain berjalan keluar gerbong,di tangga turun seorang officer Train mencegat kami dan menunjukan arah yang berlawanan dengan penumpang lain,dia bilang "your bike" aku mengikuti arahannya kearah gerbong belakang dan disitu sudah menunggu petugas yang akan mengeluarkan sepeda kami..Alhamdulillah ngga perlu menunggu sampai jam 7 kiranya.
Semua pannier kami pasang lagi kesepeda dan kami menuntun sepeda di peron yang sudah tidak kelihatan satu orangpun saat itu.
Sampai di luar stasion aku lihat ada satu coffi shop yang buka dan ada be berapa pengunjung yang kelihatannya satu train denganku,kami parkir sepeda disitu lalu pesan kopi vietnam untuk menunggu hari siang sebelum menuju ke KJRI.
Udara sudah tidak sedingin di Hanoi atau di train yang ac nya bisa membuat kepalaku berdenyut denyut,baju dan jacket yang terpasang 4 lapis muali aku copoti jadi satu lapis.
Satu persatu toko mulai buka dan aku pergi ke mini market cyrcle K untuk minta free wifi lalu  kami isi waktu dengan berkirim berita ke rumah dan kawan kawan FB yang sudah hampir 3hari terputus komunikasi.
Hari sudah terang sekitar jam 08.00 kami mulai mengayuh menuju KJRI di jalan quyen hui,be erapa kali bertanya akhirnya kami diantar salah seorang penduduk ke Kjri.
Kami disambut oleh pak franky,ibu sisca dan Ibu Desi Nurmala Dewi sebagai vice consul
di konsulat RI Ho Chi Min City,ibu Dewi adalah urang awak bukittinggi juga tinggal di tengah sawah dan sekolah di SMA3 bukittinggi tamat tahun 1993,....hebatnya lagi suaminya david seangkatan dia di sma3 pernah juga bekerja di Caltex Minas tempatku dulu....tapi sekarang david sudah pindah perusahaan ke chinooc.
Pembicaraan makin akrab karena "lapeh taragak awak jo rang kampuang katanya,coba ketemu dubes pak Buyuang di Hanoi itu juga urang padang katanya...wkwkwkk..dimana mana ada urang awak..bisa buka restoran padang juga awak di Saigon yo ni....hehe
Begitulah akrapnya pertemuan kami waktu itu. Staf kjri mengantar memberi kami fasilitas penginapan satu malam di hotel Thành daerah Bui Vien.
Siang ini kami gunakan kesempatan mengunjungi war meseum.
Mengunjungi war museum di Ho chi min city membuat kerongkonganku kelu dan air mataku berlinang menyaksikan foto foto sejarah kejamnya neraka perang vietnam.
Bapak disuruh menyaksikan pembantaian keluarganya,anak memohon jangan membunuh bapaknya yang amat dikasihi...
Astagfirullah...jauhkan neraka itu dan mari kita lupakan dan jauhi perang,hilangkanlah segala dendam dan kebencian dari hati kita.
Dunia ini yang hanya sementara...
Aku terkesan dengan seorang wanita yang tabah dan kuat,wanita veteran vietnam army Ms.Huynh Thi Kiew lahir 1951 tertangkap us army dan masuk penjara dengan menerima penyiksaan hingga cacat setelah kemerdekaan 1975 dengan tubuhnya yang cacat serta penyakit yang masih dideritanya dia gunakan sisa hidupnya untuk keliling vietnam dengan bersepeda
Dia mengatakan "saya ingin melawan penyakit ini dan hidup beberapa tahun lagi untuk sesuatu yang belum sempat saya kerjakan dan mengelilingi vietnam serta menghormati paman Ho. Pada 9 june 2012 dia wafat dan sepedanya yang sudah keliling Vietnam didedikasikan untuk war meseum si Saigon.
Makanan halal restoran Taj Mahal di pham ngu lao distric jadi langganan kami hanya saja harga nya 80000dong sekali makan yang kalau dirupiahkan 50.000rupiah,(1dong =0.6rupiah).
19 desember 2014
Hari ini adalah Jumat yang suci dan bertepatan 2 bulan sudah kami keluar
Rumah sebagai Musyafir ke 7 pelosok negeri di Indo cina.
Walau gagal ke china karena tidak keluar visa tapi kami tetap mensukuri semua yang Allah takdirkan pada kami. Hari jumat di Saigon city kami gunakan untuk hunting mesjid mesjid di Ho chi min atau Saigon city,muslim di Saigon berjumlah kira kira 8000orang,kami menemukan dua mesjid yaitu masjid Musulman di Dong Du Ben nghè yang cukup besar dibangun oleh seorang saudagar muslim India dan satu lagi masjid Al Rahman di daerah  45 Nam ky khoi dibangun tahun 1885 oleh seorang Indonesia dan Malaysia dan kami masih ketemu cucunya yaitu pak Abdullah yang keturunan Aceh,sekarang beliau beliau sebatang kara karena kedua orang tua sudah meninggal dan tidak punya saudara sedarah tetapi dia cukup bahagia dengan saudara saudara seimannya yang ada di Saigon.
Di sekitar masjid Indonesia Al Rahman ada pemukiman Muslim disitu banyak ditemukan makanan Halal yang harganya lumayan murah,dan di depan masjid Musulman juga ada makanan halal cuma harganya agak tinggi mungkin karena tempatnya yang bagus.
Sering aku alami di vietnam kalau kita order satu menu yang kita perkirakan untuk satu orang ternyata porsi nya bisa untuk dua atau tiga orang.
Pulang dari mesjid kami menyusuri sungai mekong dan akhirnya istirahat di travel agent yang akan membawa kami ke Ha tien di per atasan Vietnam Kamboja.
Kami naik sleeper bus sampai Hatien supaya tidak terlambat tiba di phnompen sebelum tanggal 25 desember.
Kami sempat stres karena bus tidak mau menjemput seperti yang dijanjikan,akhirnya kami naik transit bus dan berputar putar di kota saigon malam hari itu untuk menemukan terminal bus. Akhirnya sampai di terminal luar kota dan menunggu satu jam baru datang bus yang cukup besar dan mewah dengan memakai tempat tidur,lumayan bisa tidur pulas selama diperjalanan.
Bus sampai di Binh San jam 06 pagi dan kami langsung gowes ke arah border Vietnam Kamboja.
Tidak begitu susah keluar dan masuk imigrasi vietnam dan cambodia,ternyata lancar saja tidak seperti yang di informasikan travel agent bahwa kemungkinan nanti akan dipungut uang (pajak..?)untuk membawa sepeda kami ini,ternyata tidak terjadi,mungkin itu terjadi hanya di border yang dekat dengan Saigon city seperti Cua kaw.
kota Ha Tien adalah perbatasan yang juga mempunyai Casino hatien Vegas namanya cuma pagi itu masih kelihatan sepi.
Kami berhenti di warung sederhana dan menukar uang dong yang masih tersisa dengan Rial kamboja dan ngopi disitu.
Seorang laki laki muda kamboja menyapa kami dengan bahasa inggris yang lumayan bisa dimengerti, nama nya Hep Tun berdarah kamboja dan warga itali baru satu tahun kembali dan hidup dinegrinya lagi setelah berimigrasi selama 30tahun ke Itali akibat konflik kmer dimasa lalu.
Di itali dia juga merasa kurang betah sejak ada diskriminasi dan sentimen masaalah produk cina yang berimbas pada perlakuan tidak adil pada warga cina disana katanya,tapi di kamboja juga dia merasa sulit untuk usaha karena perekonomian yang belum stabil.
Kami mendayung santai jalan datar dan bagus tidak berdebu seperti Vietnam tapi angin cukup kuat meniup dari depan.
Setelah kayuhan sejauh 60km kami istirahat di satu guesthouse lewat dari desa Tani dan sekitar 100km lagi ke kota Phnompen.
In sha Allah besok kami akan lanjutkan mudah mudahan bisa sampai sore di kota Phnompen.
Note:foto bisa di lihat di FB saya

26.TOUR de ASIA_Border Nam can menuju Hanoi

8 Desember
Sore jam 17.30 tanpa opung yosef yang harus pulang ke pekanbaru karena ada urusan yang  penting.
Kami bertiga,saya,joker dan khalezz bertolak menuju border Nam cam memakai bus malam.
Rasanya tersiksa aku di bis tersebut karena walaupun fasilitas tempatnya buat tidur tapi karena bertingkat rasanya tidak nyaman sekali,mau kencing mobil non stop sopirnya saja 4 orang jadi aplusan tanpa istirahat,waktu menaikan penumpang aku buru buru turun dan sopir bilang ngga boleh...eeeh aku bilang "lo mau gwe kencing disini" sambil nunjuk lantai...dia ketawa sambil bilang heè..ples ples..langsung aku dan joker (maaf) kencing dipinggir jalan...penumpang lain juga berhamburan turun karena sudah diperbolehkan turun kasian turis dimain mainin sopir...
Ongkos satu orang dari Luang prabang ke Nam Can di perbatasan Vietnam 300ribu Kip kira kira 400ribu rupiah,rasanya berat buat kami mengeluarkan uang sebanyak itu tapi karena mengingat waktu yang kami schedulkan untuk pulang pada 25 desember terlalu mepet maka pada treck trek tertentu kami naik kendaraan umum sedangkan untuk rencana ke Beijing terpaksa batal karena tidak dapat visa china dan sebagai penggantinya kami akan masuk ke Kamboja baru setelah itu naik pesawat pulang ke Pekanbaru.
09 Desember
Desa Nam can perbatasan laos Vietnam terasa dingin sekali jam 10.30 siang itu,barang barang kami sudah terpasang kembali kesepeda dan pasport kami masukan ke petugas imigrasi laos,kemudian ke imigrasi Vietnam Alhamdulillah semua lancar. Khalezz mulai mengeluhkan badannya yang terasa kurang sehat dan demam,melihat kondisinya yang kurang fit itu kami menganjurkan dia untuk langsung saja dengan bis ke Hanoi,akhirnya dia menerima maka khalez pun pergi berangkat lagi dengan bus tadi meninggalkan kami berdua di border.
Di Nam can joker beli sim card vietnam tanpa bisa mencoba karena tidak ada signal.
Kami belum makan pagi karena tak ada warung namun kami tetap mengawali kayuhan dari Nam can, kita disuguhi tanjakan panjang hingga 15km lalu turun sampai di kota M fen. Beda dengan Laos vietnam dimana orangnya lebih agresif.
Sim card joker di coba dan ternyata kartu nya tidak berlaku..wah baru saja masuk border udah ketipu kena Hanoi scam100ribu dong, kami beli sim card lagi.
Makan siang di Mfen mie pakai telor 80ribuKip waduh ketipu lagi nih habis ngga nanya harga dulu sih...repot nanya nanya ngga ada yang ngerti kata joker.
Jalan menurun dan menyusuri sungai sampai di Huo bin hari sudah mulai gelap kami coba telusuri kota untuk lihat kemungkinan tempat camping yang aman,tapi tidak ketemu,akhirnya kami pergi ambil uang di di atm terlebih dulu.
Seorang ibu ibu menanyakan kami di jalan "mau kemana dan aku jawab "cari tempat camping lalu dia bilang "kalau dikota susah dapat tempat camping",lalu dia menawarkan tempat gueshouse murah,ternyata cocok dan kami bermalam di Huai bin dan nginap di guest house seharga 180000kip semalam. Sempat terjadi kesalah pahaman sewaktu paspor kami di ambil untuk pelaporan ke polisi kemudian akan dikembalikan jam 8 besok pagi,aku menolak karena jam 7pagi besok kami sudah berangkat,akhirmya dia menyetujui pengembalian jam 7. Tapi tidak lama kami dikamar ada seseora mengantar paspor kami ternyata yang di maksut waktu pengembalian jam 7 malam itu juga.
10 Desember
Pagi jam 06.40 Kami mengayuh lagi dari kota sampai luar kota jalannya menurun dan hari mulai dingin sekali,dari pinggiran jalan penduduk memanggil kami "Hello sir" begitu kita jawab "Hello dia langsung teriak kesenangan.
Sampai saat ini belum ada orang bisa kami ajak  gobrol sejak 2hari ini.
Kami berhenti di sebuah warung makan sebelum kota con chuong ternyata tidak ada nasi lalu kami menunjuk mie dan telor untuk direbus.
Kami memasuki kota Con Chuang yang cukup besar siang itu tapi tidak berhenti karena tidak begitu menarik,lalu lanjut terus hingga sampai di pertigaan jalan raya Ho chi min dan belok kiri menuju utara. Hari mulai masuk magrib kami mulai melirik tempat camping karena tak ingin lagi kehilangan kesempatan mendapatkan tempat camping yang enak dan aman.
Setelah kayuhan dari desa huoi Bin sejauh 107km kearah timur menyusuri sungai song lam kami mencari tempat istirahat malam itu dan kelihatan sebuah warung lalu minta izin untuk numpang camping di emperan tapi ditolak,..hmm dapat pelajaran baru bagaimana harus bersabar...kami pergi kayuhan beberapa jauh lagi dan ketemu ibu dan anak yang bisa berbahasa inggris,dia menyapa kami dan menawarkan apa yang bisa dibantunya,kami menanyakan apakah bisa numpang camping di pinggir sungai tersebut? Dia menjawab boleh saja.
Tanpa menunggu hari gelap kami langung mendirikan tenda dipinggiran sungai song lam tersebut. Tak lama kemudian satu persatu penduduk datang menonton kami lama kelamaan datang silih berganti,mereka umumnya ramah walau susah  berkomunikasi,terakhir datang dua orang polisi vietnam,aku pikir dia juga mau beramah tamah sambil menyodorkan tangan tapi dengan muka dingin... "identity card"katanya.
Dalam hatiku "waduh tentara vietcong nih"..ngga banyak ngomong aku perlihatkan pasport,lalu dicatat catat semua,kemudian pasport diserahkan lagi,sukur sudah aman dalam hatiku. ..eeh ternyata belum waktu kuajak foto dia menolak,kemudian memanggil penerjemah Phuang yang kami kenal tadi,dan menanyakan"kenapa tidur disini?" Aku jawab "aku suka disini tempat yang indah" dibilang lagi berapa lama nginap disini?aku jawab"satu malam saja dan besok pagi berangkat" dia bilang lagi "ngga boleh camping di Vietnam" dan penduduk yang bersimpati menunjukan mata uang untuk berikan pada petugas..joker jawab..no..no.. aku mulai nyanyi dengan joker "kenapa di Nam Can boleh disetiap negara yang aku datangi aku selalu camping dan tidak ada masaalah,aku tahu vietnam sahabat kami sama  asean country jadi kita sudah tidak ada batas lagi borderless dan kita musti pererat persaudaraan tersebut dan kami  kesini adalah untuk kampanye global asean 2015 sambil menunjuk 5 bendera asean yang mejeng dibelakang sepedaku...kemudian how do you think should my ambasador to call you(iih...sok tau gwe) akhirnya opas manggut manggut sambil bilang okeh..okeh...pleees.
Gangguan belum berakhir rupanya malam malam gini mobil isi pasir,waduuh bising aku diam kayak umang umang dalam cangkangnya sampai berakhir jam 21.20 tadi mereka pergi...Alhamdulillah
11 Desember
Anh Song di tepian sungai song lam,pagi sekali selagi sebagian warga masih berleha leha kami sudah berangkat meninggalkan sungai dan di jalan melewati rumah keluarga Phuang Nguyen kami di stop lalu di ajak mampir,katanya orang tuanya pingin ketemu. Keluarga nya senang sekali kami mau singgah,lalu ibunya tergopoh gopoh membuatkan teh hangat dan mie instan buat kami.
Bapak phuang adalah seorang veteran vietnam dia mengatakan mengagumi Indonesia karena bangsa pejuang dan pemberani untuk  merdeka,saya jadi bangga sekali mendengar ucapan itu dari seorang asing yang juga seorang pejuang untuk kemerdekaan bangsanya,sebagai kenang kenangan aku berikan baju batik yang rencananya akan aku pakai setiap pertemuan dengan duta besar tapi hal itu sulit dilakukan karena dalam pengembaraan ini sudah tidak terpikirkan kerapian lagi.
Menyelusuri jalan Ho chi min yang selebar 12meter berdebu dan lagi sangat sulit untuk papasan dengan mobil mobil truck antar negara memotong kami,ngeri rasanya mau kesenggol saja.
Udara makin keutara makin dingin di jalan kami bertemu taman bunga matahari "Th milk sunflower field" selagi memasuki taman tersebut lalu kami dikerubuti beberapa turis yang minta foto bersama,aku dan joker tiba tiba jadi super star dadakan..hehe..aku digilir satu persatu oleh turis untuk berfoto.
Hari sudah mulai gelap lalu seorang yang bersimpati pada kami Mr Lè Thang warga hanoi yang tadi berfoto foto dengan kami membantu mencarikan guesthouse  murah di Nghia lam. Akhirnya nginap di penginapan Nha Nghi Quynh Anh dengan tarif 170ribu Dong semalam lengkap dengan air panas dan free wifi.
Jumat 12 Desember
Di Nghia Lam,
Pagi ini perasaan lebih segar walaupun Joker sedikit flue namun kami mengayuh denang fresh ,mungkin karena di guest house tidurnya lebih pulas dan mandi bisa puas.
Medan yang kami lalui hari ini sedikit agak berbukit dan menanjak dan suhu udara makin ke utara makin dingin menyebabkan aku harus memakai masker yang menutup muka dan telinga untuk menjaga panas tubuh.
Di daerah Kien tho kami berhenti disebuah warung yang menjual makanan dan furniture. Ternyata disitu tidak ada jual nasi lalu kami minta Mie instan dan telor rebus saja,untuk memberi tahu kita mau makan nasi bukan main sulitnya dan akhirnya aku minta bantuan Phuang menjelaskannya melalui telpon
Jarang sekali aku papasan dengan turis pesepeda hanya satu kali bertemu dengan pesepeda Germany Thomas dengan istri yang sudah bepergian hampir satu tahun.
Setiap memasuki kota aku perhatikan pelajar pelajar pergi dan pulang naik sepeda mereka selalu menyapa "hello" dan kami juga haru menjawab lagi "hello" kalau tidak di jawab mereka akan makin keras panggil Hello...
Hampir jam 16.40 setelah kayuhan sejauh 80km akhirnya kami masuk dan istirahat di sebuah guethouse di Minh son.
Sabtu 13 Desember
Pagi ini di Minh son dingin sekali,joker dari kemarin ingusan dan aku bangun pagi juga ingusan dan rada rada pusing goyang kayak vertigo tapi mudah mudahan ini hanya karena perobahan cuaca saja. Aktivitas tambahan buatku pagi ini tambal ban,untung bocornya di hotel kalau di jalan repot juga. Setengah jam selesai tambal ban dan ternyata bocornya masih di posisi yang lama waktu bocor di bangkok dulu.
Kayuahan kali ini aku memakai baju double tambah jacket dan kupluk dikepala serta bagian muka hidung telinga juga ditutup supaya tidak kedinginan,jadilah kami seperti ninja kedinginan.
Jalan yang kami tempuh tidak begitu berat hanya saja kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca,sepanjang jalan dipenuhi hutan serta sawah perkebunan,makin jauh keutara kami mengayuh makin banyak desa desanya,jalan Ho chi min yang membentang dari selatan ke utara sangat efective sekali sebagai urat nadi menghubungkan jalan jalan desa yang ada di vietnam,makin keutara kontur jalannya makin datar. Sulit menemukan warung makan didaerah utara ini,akhirnya kembali minta dibikinkan mie rebus dan telor di sebuah warung kecil.
Kami memasuki daerah Tach lam sekali sekali kami menelusuri kaki kaki bukit cadas yang kelihatan menjulang dari kejauhan lalu diikuti jembatan yang panjang menelusuri panjangnya sungai Song buoi,kelihatan indah sekali dengan panorama yang lepas ke bagian timur dan di barat kami pegunungan cadas hingga kami sampai di desa Lac son dan seterusnya kiri kanan kami sawah dan perkebunan tebu.
Disuatu tanjakan di daerah Xom Chom terasa shifter gear depanku todak berfungsi atau tetap berada di gear kecilnya dan tidak mau dirobah,aku agak risau juga mengetahui ini,karena ada kemungkinan slingnya putus atau copot,karena hari sudah mulai sore kami meneruskan perjalanan dengan memakai gear kecil terus yang capeknya bukan main karena terlalu ringan dan pelan.
Akhirnya jam 17 sore setelah kayuhan sejauh 105km hari sudah mulai gelap sedangkan Hanoi masih 50km lagi ke utara dan kami putuskan untuk berhenti di desa Nha Hang dan menginap di guesthouse  Ngox my dengan harga 130dong semalam.
Besok in sha Allah kami bisa sampai di Kota Hanoi karena jaraknya dari tempat kami sekarang hanya tinggal 3jam kayuhan,dengan begitu berarti kami sudah mengayuh selama 5 hari dari Nam can sampai ke desa Ngha hang.
Note:
Foto foto bisa di lihat di FB tasman jen

25.TOUR de ASIA_Luang Parabang kota warisan Dunia



Tiga hari istirahat di kota Luang Prabang yang berpenduduk sekitar 50.000 jiwa, kota kecil yang tenang dengan nuansa Buddha yang kental di berbagai sudutnya. Sejarahnya yang panjang telah membuat kota ini ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Berjalan-jalan di Luang Prabang, kita pasti akan teringat dengan suasana di Jogja atau ubud Bali yang Tenang, lambat, dengan aktivitas warga sehari-hari yang tampak sederhana.wajah teduh warga dan sapaan salam "Sabaydi" membuat kita merasa betah.Suasananya begitu tradisional dengan banyak bangunan kuil tua dan biksu-biksu berkain jingga. Kami mencoba explore negri ini dalam 3 hari.
Yang paling uniq ialah upacara Tak bat.
Menurut kepercayaan Buddha Theravada, para biksu tidak diperkenankan bertani dan memasak makanan sendiri. Satu-satunya cara menunjang kelangsungan hidupnya adalah dengan mengumpulkan sumbangan dari umat berupa makanan atau terkadang uang. Para biksu makan sekali sehari lewat pemberian itu, lalu hanya minum air sampai keesokan pagi.
Sebagian besar penduduk negara-negara Indocina seperti Thailand dan Laos merupakan penganut aliran Buddha Theravada. Jadi ritual Tak Bat ini tak hanya bisa dijumpai di Luang Prabang, tapi juga di kota-kota lainnya di Indocina seperti Bangkok dan Chiang Mai. Namun Tak Bat di Luang Prabang terlihat lebih hidup dan spektakuler karena kota kecil ini memiliki banyak biara dengan ratusan biksu yang setiap pagi melakukan upacara tersebut.
Keunikan ini pula yang mengundang wisatawan dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Luang prabang. Tak pelak lagi, ritual Tak Bat sekarang menjadi atraksi wisata yang masuk dalam daftar wajib lihat bagi pelancong, bahkan turut dijual oleh agen wisata.
Pagi jam setengah enam kami sudah menuju pasar pagi yang terletak di pusat kota luang prabang atau di pasar pagi, kerumunan turis sudah terlihat di beberapa sudut jalan Luang Prabang.turis china cukup mendominasi waktu itu, turis bule juga cukup banyak, namun mereka hanya membentuk kelompok kecil-kecil sehingga tak terlalu mencolok,sedangkan kami mungkin tidak dianggap turis karena bentuk kami yang sama dengan warga local. Aku sendiri saat itu ikut duduk dengan warga local yang sedang memberikan sedekah
Di sudut lainnya, pedagang lokal menawarkan dagangannya dengan agresif. Mereka merayu semua turis yang lewat supaya membeli nasi ketan dan buah-buahan untuk diberikan pada biksu. Perlengkapan ritual Tak Bat seperti alas duduk dan selendang tradisional Laos tak lupa pula turut disewakan. Ritual tak Bat sudah menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.
Aksi jual beli ini sebenarnya bertentangan dengan aturan ritual Tak Bat. Umat harusnya memasak sendiri makanan yang akan diberikan pada biksu, bukan membeli jadi dari pedagang jalanan. Tetapi para turis rupanya ingin terlibat langsung dalam upacara keagamaan itu, mereka tak puas hanya menonton.
Turis-turis tak hanya menonton, mereka juga ingin terlibat dalam ritual Tak Bat. Sekitar pukul 6 pagi, sudah mulai terlihat iring-iringan panjang para biksu yang berjalan dengan sikap meditasi, yaitu tidak berbicara dan melakukan kontak mata. Biksu senior berjalan paling depan, lalu diikuti biksu yang lebih muda di belakangnya. Semuanya harus membawa mangkuk yang nantinya akan terisi dengan makanan pemberian umat.
Iring-iringan biksu ini akan berjalan di depan orang-orang yang sudah menyiapkan sumbangan untuk mereka. Lalu tanpa berbicara sepatah kata pun, umat memasukkan sejumput makanan ke dalam mangkuk dan dilakukan terus-menerus sampai makanan yang mereka siapkan habis.
Selesai acara tak bat tersebut kami langsung menuju Kuangsi water fall yang berjarak 20km dari pusat kota Luangprabang,jalannya yang naik turun juga cukup memeras keringat kami hingga sampai diobjek wisata tersebut disitu kita akan menyaksikan penangkaran beruang jenis Hitam dan himalayan bear puas nonron beruang kami menuju air terjun yang bertingkat tingkat dan mandi beberapa saat di kolamnya yang sangat dingin itu.
Acara sore hari kami isi dengan mengunjungi puncak bukit pho si di pinggir sungai disini kita bisa menyaksikan sut set dan melihat kota Luangprabang yang begitu indah dan excotik,untuk masuk keaini kita harus merogoh kocek 20ribu kip.
Malam kami manfaatkan mengunjungi nitemarket,disini dijual berbagai jenis sovenir dari Luangprabang,bagi ibu ibu yang suka belanja disinilah tempatnya.
Disuatu sudut pasar ada warung yang sangat sederhana dengan menjual makanan vegetarian10.000kip ini sudah menjadi langganan kami selama di Luangprabang. Selesai makan kami menuju panggung festifal film asean yang segera akan memutar film indonesia "i am a Mollucan.
Tidak lama kami kembali pulang ke gues house untuk persiapan besok pagi keberangkatan ke border China Nam can.
Note: foto2 silahkan dilihat di fb.

24.TOUR de ASIA_Clasic Route Vangvieng ke Louang prabang



Selasa 02 desember,
Kota Vangvieng pagi ini diguyur hujan,mudah mudahan ini membawa berkah karena sudah hampir satu bulan sejak dari Malaysia kami belum dapat hujan.
Jam 07.00 jalanan sudah mulai  ramai dengan lalu lintas terutama para pelajar yang umumnya pergi sekolah berkendaraan sepeda.
Kami meluncur di jalan yang masih basah terguyur hujan kearah utara dengan target hari ini adalah kota Kasi sejauh 60km dari vangvieng,baru sampai dibatas kota kami disuguhi pemandangan pegunungan dan disebelah kiri sungai Nam song yang jernih mengalir dibebatuan,suara alirannya menjadi musik alam yang menyejukan hati,kendaraan antar kota mulai terasa ramai khususnya truck truck besar yang melintas  antar negara dan bahkan sampai ke China dan Vietnam,tetapi mereka sangat menghargai para pesepeda,mungkin mereka sudah terbiasa melihat para pesepeda asing dan jarak jauh seperti kami.
Hilang pemandangan sungai berganti dengan sawah dikiri kanan kita,terlihat para petani Laos yang sedang panen padi yang tidak beda jauh dengan cara petani kita yaitu menyabit dan ada juga yang sedang menyankul sawahnya dengan menggunakan mesin bajak yang kadang kadang terlihat dijalanan berfungsi juga sebagai alat angkut keluarga.


Petani yang melihat kami bersepeda sering melambaikan tangannya kearah kami dan meneriakan "Sabaydee",hal semacam ini menambah kecintaanku pada penduduk negri yang sederhana tapi amat ramah pada pendatang.
Udara yang agak menyengat sedikit terlupakan dengan keindahan alam pedesaan serta sapaan ramah penduduknya,hingga tak terasa Kami sampai di daerah Bantiang lalu berhenti untuk istirahat dan makan siang. Kembali disini adanya nasi ketan dan lauknya telor dadar lagi karena itu lah yang terbaik dan di jamin halal waktu itu. Selesai istirahat siang kami melanjutkan kayuhan,dihadapan sudah menunggu tanjakan panjang sejauh 60km,inilah awal masuk pegunungan Laos yang terasa berlapis lapis dan tidak habis habisnya kami daki dan turuni,pegunungan spectaculer tersebut adalah terusan dari pegununga Himalaya di asia tengah,aku mencoba mengatur irama kayuhan agar tidak terputus,dan disetiap belokan tajam biasanya akan ada jalan datar yang bisa interval kayuhan sebagaimana pengalaman jalan antara pekanbaru dan Bukittinggi tapi dugaan ini salah belokan itu akan disambut lagi dengan tanjakan yang panjang lebih kurang 30km dengan kemiringan 15 derjat.
Sampai di daerah Ban Song savat disini kita menemukan pasar dari binatang binatang buruan yang sudah mati seperti monyet,landak,ular,kelelawar,macan kumbang,beruang serta aneka burung,biawak dan lain lain,dari informasi yang didapat binatang binatang tersebut di konsumsi sebagai obat,pasar pinggir jalan yang terletak antara tebing dan lembah itu tidak begitu ramai hanya beberapa turis dan kendaraan pribadi yang berhenti untuk istirahat dan melihat lihat di pasar tersebut. aku turun dari sepeda dan menuntun sepeda sambil melihat lihat dagangan sepanjang jalan itu,sikap pedagang dan penduduk sepertinya sudah terbiasa atau tidak asing lagi melihat turis bersepeda seperti kami mereka ramah menyapa kami "Sabaydee,please come".

suara uwa uwa dan satwa liar dari lembah terdengar jelas ke pasar tersebut,keadaan yang alami ini membuatku semakain betah berlama lama.Udara terasa semakain dingin,tetesan air dari daun daun pohon yang tumbuh di tebing kadang kadang bembasahi tubuhku,jalan agak becek dengan genangan air dari hujan serta aliran liar air dari tebing membuat kakiku berkubang dan kelihatan dekil.


Dari daerah ini kemudian kami meluncur turun sejauh 10km yang membuat tangan jadi kesemutan juga menekan rem,aku agak khawatir menekan rem terlalu lama bisa mengakibatkan canvas rem habis,aku mencoba lepas rem beberapa saat lalu tekan rem lagi karena agak bosan pernah suatu kali aku biarkan sepeda meluncur tanpa direm dengan kecepatan 45km/jam tiba tiba didepan ada lobang tidak berapa besar,lalu aku rem dan mengelak,akibatnya ban belakangku slip dan hilang keseimbangan,darah ku berdesir adrenalinku jadi naik,Alhamdulillah,Allah masih menyelamatkanku dari kecelakaan,rem aku lepas dan sepeda kembali stabil,aku berhenti sejenak dipinggir jalan dan terduduk lemas membayangkan kejadian tadi.
Sampai di kota Kasi,aku lihat kotanya hanya kota kecil dan pasarnya masih tradisional seperti pekan pekan pinggir jalan di indonesia.
Sebetulnya target kayuhan kami hari itu hanya sampai di Kasi dengan pertimbangan apabila lebih jauh kita akan kemalaman dan akan terperangkap di tengah belantara pegunungan tanpa penduduk,atau kami harus melanjutkan ke Kiuwkacham dengan menambah kayuhan 80km lagi dan ini adalah tidak mungkin sanggup kami lakukan. Tetapi karena hari masih jam 15.00 waktu di kasi kami memutuskan untuk menambah kayuhan sampai jam 17.00. Keluar dari kota Kasi kembali tanjakan tanpa henti sejauh 20km stamina kami betul betul terkuras hingga sekitar jam 17.30. Tidak berapa lama sampai di desa Keokuang dengan ketinggian 880mdpl kami berhenti di halaman penduduk yang aku perkirakan cocok untuk menumpang bermalam dengan tenda di halaman rumahnya.


Melihat kami berhenti beberapa penduduk langsung mengerumuni kami,lalu aku bertanya dengan memberi bahasa isarat ke salah seorang dengan menunjukan foto tendaku yang lama dan menunjuk tempat kosong yang ada atapnya sambil menyebut "sleep"Alhamdulillah dia mengerti sambil menganggukan kepala tanda setuju.Tempat tersebut bersebelahan dengan pembibitan jamur dan bau pupuknya agak menyengat namun tempat tersebut rasanya leih nyaman karena ada atapnya yang sedikit melindungi kami dari hujan dan dinginnya malam.


Kami langsung kembangkan tenda penduduk sekitar terutama tua muda berduyun duyun menonton kami,rasanya kami seperti baru turun dilangit dan perlu di tonton. Malam itu tidak ada mandi buat kami karena daerah ini adalah daerah sulit air,disitu ada satu kran yang airnya sangat kecil terletak di pinggir jalan jadi penduduk biasanya mandi antri dipinggir jalan itu dengan memakai sarung basah menutup tubuh,aku mencoba ikut antri mandi hitung hitung buat pengalaman pikirku...tapi aku lihat koq antrinya cuma ibu ibu saja,setelah kutanya sebisanya dalam bahasa inggrisnya yang terbatas mengatakan hanya ibu ibu yang mandi disitu dan bapak bapak jarang mandi...aku terbelalak mendengarnya dan langsung mundur diri untuk antri ikut mandi.
Tidak ada warung disitu
Maka kami memasak air untuk membuat kopi dan mie instant untuk ganjal perut yang amat lapar di daerah dingin itu. Aku melihat smart phone ternyata tidak ada signal sedikitpun dan kami betul betul putus hubungan dengan dunia luar waktu itu dan perasaanku masuk ke era tahun 60dulu. Jarak tempuh 85km hari ini betul betul menguras tenaga,kami memutuskan untuk istirahat secepatnya.
Aku melihat sekelompok penduduk berkumpul mengelilingi meja dan kucoba melongok kesitu ternyata ada judi dengan permainan dadu yang main dari yang tua sampai yang muda, malam itu ada dua hiburan buat penduduk selain judi juga nonton kami. Dan ada juga kelompok orang tua lainnya yang sedang kumpul dengan minuman Laobeer nya,aku perhatikan dulu ada pesta perkawinan juga di hidangkan bir yang diminum oleh laki laki maupun ibu ibu.
Penduduk yang menonton kami mulai bubar dan tinggal kami dalam tenda di desa yang gelap gulita tanpa penerangan hanya ada pancaran lampu dari sela sela dinding pondok penduduk. Ada juga kekhawatiranku di jahati oleh penduduk yang tadi minum bir,maka sebelum tidur aku amankan semua barang barang berharga masuk tenda.
Sekali sekali aku mendengar deru mobil yang lewat dijalan setelah itu sunyi lagi. opung yang tidur di hamouck yang digantung antara dua tiang rumah penduduk sudah mulai tertidur begitu juga joker dan Kharlez kawan Malaysia kami seperjalanan.
Aku masuk ke sleeping bag untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya Udara luar hingga tertidur sampai subuh.
Subuh aku terbangun dan mencari toilet untuk buang air kecil tapi tidak tahu mau kemana saking gelapnya,akhirnya karena ngga tahan hajat itu kulepas dekat jalan...eeeh rupa nya tidak jauh dari situ juga ada beberapa penduduk yang buang hajat...pertanyaan tanyaan yang belum terjawab sampai kami berangkat dimana gerangan toiletnya ya...? Joker terpaksa batal ritualnya pagi itu hingga menemukan tempat yang tepat dan aman..hehehee.
Rabu 03desember.
Dari Kaokuang berangkat jam 07 langsung menghadapi tanjakan tajam tak henti hentinya hingga kecepatan rata rata hanya berkisar 6 atau 7km/jam namun pemandangan pegunungan yang begitu indah rasanya aku begitu beruntung bisa menikmatinya waktu itu ,lepas dari tanjakan kepegunungan yang satu lalu bonus menurun dan dihadapan menghadang lagi tanjakan berikutnya hingga dari satu gunung ke beberapa gunung lainnya. Di beberapa tempat kita akan melintasi beberapa desa dengan rumah rumah tradisionalnya yang terbuat dari kayu atau bambu sangat sederhana,anak anak yang bermain di halaman rumah selalu meneriakan "sabaydee"setiap kami lewat.
Kami sampai di suatu puncak pass di Phookoon dengan ketinggian 1350mdpl di situ ada sebuah cafe yang dilengkapi toilet yang sangat unik yaitu wc terbuka ke bagian arah jurang menghadap alam bebas hingga kita bisa buang air besar sambil nonton alam pegunungan yang indah.


Juga ada fasilitas lain seperti taman tempat melihat dari ketinggiannya ke sekeliling hamparan pegunungan Laos,kita akan melihat jalan yang berliku liku dari kejauhan dan juga kelihatan jalan yang sudah kita tempuh ataupun yang akan ditempuh. 


Dari puncak Phookoon ini kita akan menurun ke pasar di Samyek Phookoon,disini saya,joker dan kharlez makan siang,dan opung Sitor dari pagi sudah duluan sampai siang ini belum jumpa
Kami melihat mendung di ufuk lalu kita coba putuskan cari penginapan untuk istirahat malam itu di Phookoon,sayangnya kondisi Guesthouse yang ada kurang nyaman dan lagi harganya 60ribu Kip adalah diluar ukuran kantong kami
Akhirnya kami lanjutkan kayuhan kearah Kiukacham dengan menelusuri tanjakan panjang,di jalan beberapa kali bertemu dengan be erapa peturing dari amerika,spanyol dan afrika selatan dan Thailan,saat itu kami berhenti untuk saling tukar informasi dan berfoto.


Saat 10km menjelang di Sen donmong kami meluncur turun sejauh lebih kurang 10km hingga tangan ku kesemutan karena mengerem.
Aku lihat saat itu sudah jam 16.30 sore,aku melihat opung parkir di sebuah warung lalu aku bergabung dan tak lama muncul Joker dan kami sudah bertiga lagi tapi Kharless sudah keburu duluan untuk berhenti di kiukacham.
Pada yang punya warung kami minta izin nginap dan mereka mengizinkan kami,kembali tenda kami gelar di dalam ruang kosong warung tersebut,kali ini kami bisa mandi sepuas puasnya disebuah sungai yang amat jernih di pinggir lembah hijau dan depannya persawahan di desa Xiengngeun pada ketinggian 930mdpl.
Total kayuhan kami hari ini hanya 53km namun ini sungguh medan yang berat selama turing kami.
Kamis 04 desember
Pagi subuh di warung Xiengngeun tempat kami nginap sudah didatangi bus yang datang dari luar kota pemilik warung dengan sigap menggelar beberapa dagangannya,dan kami juga sibuk melipat semua peralatan tidur dan camping.
Aku lihat pemilik warung mr. Ong Duongmaleut memakai seragam militer tentara Laos ,opung bertanya apakah dia Laos Army/tentara dia mengangguk,kami suprise melihatnya karena selama ini dia adalah penduduk sipil biasa dengan segala keramahannya,dulu aku membayangkan tentara
Komunis bermuka dingin dan sangar tapi sejak hari itu gambaran itu mulai hilang.
Sewaktu akan berangkat keluarga itu membekali kami dengan satu bungkus nasi ketan dan satu sisir pisang,pemberian sederhana tapi melambangkan kasih sayang yang ikhlas sesama manusia..
Dayungan pertama langsung tanjakan dengan kemiringan sekitar 10derjat,merayap tanjakan dengan lambat 7km/jam sejauh 7km sampai di desa
Kiewmailo mendaki dan di jalan kami papasan banyak peturing jarak jauh,sudah jadi kebiasaan peturing ketemu dijalan saling berhenti dan tukar informasi,umumnya kami bertemu peturing dari eropah seperti Jerman,switzerland,french,belanda,spanyol,peru,afrika selatan,umumnya mereka baru keluar dari china dan menuju selatan sampai Australia via Indonesia,mereka sangat senang bisa mendengar informasi tentang Indonesia dari kami.
Disuatu perkampungan Bang nammok aku melihat rumah adat yang agak beda dari rumah lainnya yang pernah kutemui,atapnya dari jerami yang tersusun rapi dan dijepit dengan kayu pada bubungannya dan ukurannya relatif rendah kelihatan unik,aku berhenti di situ dan mengambil foto,belakangan aku ketahui itu adalah suku Mong yang suka tinggal di pegunungan.
Tidak jauh dari situ aku melihat seorang laki muda memeriksa gigi seorang ibu yang duduk di kursi didepan rumah kayunya yang sangat sederhana.
Aku berhenti disitu ,menarik karena selama ini aku bertanya tanya dalam hati kemana penduduk yang terpencil jauh ini berobat koq tidak pernah ada rumah sakit atau puskesmas seperti di Indonesia,dan berhenti disitu sambil ucapkan salam "sabaydi" mereka membalas lagi dengan ramah,diantara penduduk disitu ada yang bisa menerangkan bahwa disitu ada pemeriksaan dokter gigi yang datang ke desa desa sesuai jadwal tertentu.
Setelah mengayuh 28km selama 3jam akhirnya kami sampai di kota Kiewkacham.
Dari kiewkacham jalan menurun tajam sejauh 16km sampai namming bridge,tanganku sampai kesemutan menekan rem saking lamanya,aku kurang berani melepas rem dalam kondisi penurunan yang tajam yang dihiasi jurang menganga di kanan siap menerkam kita. Pinggir jalan yang berpasir mengharuskan kita untuk jalan sedikit ketengah karena takut slip,tapi untunglah saat itu entah kenapa jarang ditemui mobil lewat.
Dari Namming mulai menanjak lagi sejauh 15km dan berakhir di desa kiewmaknow  siangun, setelah itu jalan datar sejauh15km kami bisa sedikit lega dengan kayuhan yang ringan kemudian mulai nanjak lagi.
Di pinggir jalan aku melihat pal batu 40km lagi ke Louang prabang,disuatu tanjakan  naik sedikit diatas desa kiewmaknow aku melihat ada sumber air atau sumur umum lalu kami berhenti disitu dan sepakat untuk camping saja malam itu diarea tersebut sampai besok pagi,karena kalau kami lanjutkan khawatir kemalaman dan tidak ada desa lagi setelah itu untuk bermalam sedangkan jarak yang harus ditempuh ke Louang prabang masih tinggal 40km lagi.
Sore itu kembali kami jadi tontonan penduduk yang akan mandi dan mengambil air dari sumur tersebut.
Turun sampai pakkhan bridge.
Jumat,05 Desember
Pagi subuh penduduk sudah berdatangan lagi ke sumur tersebut dan kamipun sudah siap siap untuk berangkat lagi
Dari kiewmaknow menurun sampai phonsa at,udara yang dingin membuat tanganku kesemutan menahan rem sejau lebih kurang 20km,sekali sekali aku berhenti untuk mengembalikan konsentrasi,akhir dari turunan kami bertemu desa ban kiewnak dan disini kami ngumpul berempat lagi untuk minum kopi pagi bareng penduduk. Stock majanan yang masih ada aku bagi bagikan pada anak anak yang sedang menonton kami.
Dari ban kiewnak kita mengayuh agak datar sejauh 10km menelusuri tepian sungai Mekong dan akhirnya memasuki gerbang kota dengan tulisan "Welcome to the world heritage town of Luang Prabang"
Kami menelusuri kota di pinggiran delta mekong sambil mencari guesthouse yang murah meriah,beberapa guesthouse di daerah Kitsalad road harganya agak tinggi yaitu berkisar 100ribu s/d 150ribu Kip semalam dan akhirnya kami sampai di daerah backpacker yaitu jalan Sisoupan road dekat sungai Nam khan sebuah guesthouse bernama Chitlatda fasilitas double bad,bathroom&hotshower dan free interner wifi dengan harga 50ribu kip semalam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan "clasic route" yang diidam idamkan setiap peturing sepeda di seluruh dunia yaitu route Vientien ke  Louangprabang dalam waktu 6 hari dengan jarak tempuh 430km dengan segala suka dan dukanya.
kami berempat Tasman jen,Tri joko waskito,yosef Situmorang plus partner baru kami dari Malaysia Khalez jaffar akan istirahat di Louangprabang 2hari untuk mengembalikan kondisi tubuh sebelum melanjutkan ke Hanoi Vietnam.
Note: foto foto menarik perjalanan bisa dilihat di FB kami.