Pages

Saturday, November 19, 2011

HARI KE EMPAT 19 OKTOBER 2011 ARCOPODO-PUNCAK MAHAMERU



HARI KE EMPAT 19 OKTOBER 2011
ARCOPODO-PUNCAK MAHAMERU

Menapak di Mahameru
                   
Jam 01.00 pagi dan dibangunkan oleh kawan porter yang lebh duluan bangun untuk segera bersiap berangkat ke puncak.
Aku keluar dari sleeping bag dan mengambil head lamp,hand phone pengganti kamera,kupluk serta memasang sepatu dan segera keluar tenda. Terasa dingin tapi angin bertiup tidak besar jadi udaranya masih lebih nyaman dari waktu magrib tadi. Sebagian teman sudah berkumpul di luar sambil menikmati minuman panas. Aku mengambil segelas koi panas,rasnya aduhai nikmat sekali dan cukup menghangatkan tubuh di malam yang diingin itu.

Kami sangat berterimakasih pada  kawan kawan dari YAPE dan porter di tengah malam di hujan dan dingin yang menusuk tulang mereka dengan senang hati  menyediakan minuman kopi dan air jahe panas untuk team tidak salah kalau dikatakan mereka adalah pencinta alam yang sejati.
Sebelum pemberangkatan,kami berkumpul untuk berkenalan dengan para pendaki dari Semarang, briefing dari Mas  Data lalu diikuti dengan pembacaan doa pemberangkatan.

Lam 02.00 pagi,kami 19 orang mulai bergerak,dalam gelap yang disinari senterpara pendaki,satu persatu kami menuju jalan setapak,jalan langsung menanjak kiri kanan masih terlihat hutan cemara dan di kiri kanan jalur kadang kadang  ada  jurang dalam yang menganga,kami berjalan sangat hati hati,angin bertiup kencang seperti bunyi hujan lebat dirumah beratap seng kekuatannya seakan akan mendorong mendorong tubuhku,kupluk dikepala aku perpanjang sampai mentupi telinga kain penutup kepala yang ada di wind breaker aku pasang sedikit mengurangi dinginya tiupan angin malam.debu dari tebaran langkah teman didepan juga terasa memasuki pernafasan.

Rombongan seakan terpisah jadi dua rombongan,rombongan yang tertinggal dibelakang sering terdengar memanggil ”tunggu” lalu yang depan memperlambat jalannya,aku berada di rombongan depan dan kalau tidak mempertimbangkan rombongab aku lebih suka jalan  terus tanpa berhenti karena berhenti sebentar saja sudah membuat aku kedinginan.             
                         
Sejam kemudian kami sampai di daerah Cemoro tunggal,menurut cerita dulunya ada sebuah pohon cemara yang tumbuh di jalur menuju puncak Semeru di ketinggian 3.200 mdpl.. 

Daerah Cemoro tunggal                                           
Daerah Cemoro Tunggal merupakan batas vegetasi,didaerah ini aku melihat ada dua makam (in memoriam) 2 orang pendaki yang tewas yang menurut cerita porter 3 orang mahasiswa Kelik,Bambang dan Uyun seorang mahasiswi mengadakan  mengadakan pendakian,ditanjakan berpasir selepas cemoro tunggal Bambang tidak bisa meneruskan kepuncak karena  kehabisan tenaga lalu Uyun memberi minum tapi ditolak seperti orang marah ”kesurupan” dan akhirnya lemas. Kelik melanjutkan pendakian ke puncak dan Uyun kembali turun ke cemoro tunggal dengan Bambang yang makin lemas kedinginan dan sesampainya di cemoro tunggal tidak berapa lama akhirnya Bambang meninggal. Uyun panik  dan menyusul Kelik kearah puncak diperjalanan ke puncak dia menemukan Kelik meringkuk tergeletak kedinginan.................Uyun memberi pertolongan dan berusaha membawa kelik turun ke Cemoro tunggal dimana jenazah Bambang terbaring,karena shock dan kesedihan yang mendalam dengan kejadian yang beruntun dia hanya berdiam diantara jenazah temannya sampai esok harinya ada pendaki yang akan naik menemukannya dan memberi pertolongan.

 Jangan pernah menyerah                                       
Aku dengan rombongan depan mulai memasuki medan berpasir yang cukup menyulitkan pendakian karena labilnya pasir dan bebatuan yang dapat dengan mudah merosot kebawah dengan kemiringan lebih kurang 40 derajat ditambah dengan jurang yang menganga dikiri kanan yang seakan akan siap memangsa kami setiap saat.

Kemiringan lebih kurang 40 derajat
                                
Kelihatan jelas kebawah cahaya lampu batrai yang berbaris dimana teman teman berjalan satu persatu bering iringan pelan dan kadang kadang merangkak,setiap dua langkah pendakian dipasir paling paling kita beranjak satu langkah kedepan malahan bisa merosot mundur lagi. Aku harus mencari pijakan yang stabil dan keras tapi jangan menginjak batu yang labil karena bisa merontokan batu dan menimpa pendaki dibawah. Sekitar dua puluh meter didepanku beberapa orang berteriak kearah aku dibawah ”awas batu...awas batu” sewaktu batu sudah berjarak 3 meter aku menoleh keatas ternyata ada batu berdiameter sekitar 40cm berguling kearahku dan aku melompat,alhamdulillah batu tadi melewati selangkangan ku dan giliranku berteriak teriak mengingatkan  teman dibawah”batu..batuuu” dan beruntung batu bergulir keluar jalur pendakian....aku terduduk lemas membayangkan sambil ber andai andai....

”awas batu...awas batu”
                              
Jam 04.30 wib cuaca mulai agak terang,aku berhenti disuatu batu yang cukup besar disitu ada Torpedo yang akan sholat subuh aku bergabung untuk sholat jamaah dan whuduk dengan tayamum.
Sholat subuh dikemiringan
Selesai sholat kami segera jalan lagi karena tidak tahan dingin untuk duduk berlama lama.
Fajar mulai menyingsing dan head lamp sudah tidak diperlukan lagi,dikejauhan didepan telihat ada yang melambai dan meneriakan ”ayo sedikit lagiiii” suara itu menambah semangatku aku merangkak,berjalan,merosot dan berjalan lagi,rasanya teagaku betul betul terkuras,di suatu dataran yang lebih luas banyak batu batu nya aku sudah tidak melihat pendakian lagi,aku berjalan pelan lemas dan melihat kibaran bendera merah putih, tentu ini yang disebut puncak Mahameru. 


Merah putih di puncak Mahameru              

Teman teman yang sudah duluan sampai bersalaman dan meneriakan”selamat datang di Mahameru” suasananya  sangat emosional dan haru dengan keberadaan kami saat itu.pendaki yang terakhir mencapai puncak adalah Basketcase (57tahun)dengan semangat tetap berusaha naik walaupun harus merangkak dan ditarik oleh Mas Data sampai puncak,air mata bahagia dan tanda sukur tak dapat dibendungnya sewaktu disalami. 


Terlihat di GPS ketinggian 3676MDPL,angin bertiup menderu deru dingin sekali kemungkinan suhu diantara 5 sampai dengan 0degC,cuaca cerah sedikit berawan,aku berjalan mengelilingi sekitar puncak seakan akan kita berada diatas awan dan terlihat gunung Bromo dan hamparan hutan serta padang pasir yang tidak begitu jelas terlihat mata. Pada posisi agak ke tengah ada monument in momeriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis dan beberapa monument para korban pendaki lainnya. 


Monument Soe Hok Gie

Kami makan beberapa potong biskuit dan minum dengan air mineral yang terbatas selesai berfoto foto dan menikmati kebesaran Allah dari ketingian Mahameru maka jam 06.45 wib kami berkumpul melingkar dan diketahui dua orang diantara team kami Mak Itam dan Mas Yudi tidak melanjutkan kepuncak ,setelah membaca doa sukur kami turun menuju Acopodo lagi.

Sewaktu turun melalui pasir tebal terasa seperti main prosotan waktu kecil dulu dan bagi yang muda dan dengkulnya masih bagus bisa sambil lari lari kecil dan sekali sekali terperosok yang tidak membahayakan. Menurun membuat nyeri dengkulku dan beberapa pasir masuk kedalam sepatu,dua kali aku berenti membuka sepatu untuk mengeluarkan pasir yang mengganjal,akhirnya sampai di cemoro tunggal dan sewaktu berhenti disini aku ketahui Basketcase peserta tertua dari team kami sedikit luka pada paha belakang akibat terperosok ke cadas.

                                         Kembali turun ke Arcopodo
Jam08.00 aku sampai Arcopodo lagi,beberapa teman langsung melanjutkan ke Kalimati begitu juga aku setelah mengambil ransel langsng berangkat,penurunan menjadi kesulitan pada dengkulku yang terasa nyeri,jam 09.00 aku mencapai kalimati .

Selesai istirahat dan makan  di Kalimati kami melanjutkan perjalanan ke ranu Kumbolo dan Ranu Pani,dalam perjalanan pulang ke Ranu kumbolo jari kaki kananku terasa kram aku istirahat sebentar lalu melanjutka perjalanan sendirian sampai ke Ranukumbolo jam 12.00wib.

Di Ranu Kumbolo sudah ada teman teman yang duluan sampai,selesai sholat dzuhur perjalanan dilanjutkan ke Ranu pani,terasa beban dipunggung terasa makin berat pada hal isinya sudah berkurang dan jarak pulang terasa makin jauh hal ini sering aku rasakan pengaruh ketidak sabaran untuk segera sampai di tujuan,dalam hati ku bisikan sabar ..sabar dan nikmati perjalanan yang tak kan pernah terulang seperti ini...trik untuk menghindari ke bosanan.

Jam 17.50wib aku sudah sampai di Ranu Pani Alahamdulillah........mobil hard top sudah stand by untuk membawa kami pulang ke Malang....Sampai ketemu lagi....Salam...

HARI KE TIGA 18 OKTOBER 2011 RANU PANI-KALIMATI-ARCOPODO


Hari ke tiga 18 Oktober 2011 
Ranu kumbolo-Kali mati-Arcopodo

                                        
Kebiasaanku buang air kecil pada tengah malam sungguh berat dilakukan di udara sedingin ini,Aku terbangun untuk buang air kecil,kubuka kantong tidur terasa udara dingin seakan menusuk tulang,terlihat jam masih menunjukan jam03.00pagi. aku keluar tenda pelan-pelan berusaha supaya teman kiri kanan tidak terganggu.Udara luar yang sangat dingin sungguh tidak nyaman,aku menggigil kedinginan,selesai buang hajat buru buru kembali masuk tenda seperti umang umang masuk sarang,tutup tenda yang tidak tertutup rapat membuat udara dingin luar berembus seperti udara frezer kedalam tenda kami,teman lain terbangun dan tidak tidur sampai subuh jam 04.30wib.

Diluar terdengar lantunan azan dari Basketcase,tidak seperti azan biasa ,suaranya terputus putus menahan getaran kedinginan rahangnya,aku hargai tekadnya untuk azan di udara yang dingin tersebut.

Satu persatu kami keluar tenda dan menuju danau untuk ambil udhuk lalu bergabung dengan jamaah untuk sholat subuh di udara terbuka,ketenangan alam menambah ke khusukan dan kedekatanku pada Allah  Pencipta.

Subuh di Ranu kumbolo                      
Fajar kemerahan dari atas bukit mulai kelihatan dan sayup sayup terdengar kicau burung dikejauhan ,aku coba cari sumber suara tapi tidak kelihatan mungkin ada belibis yang hinggap dekat danau sebagaimana cerita dari pendaki sumeru di tahun 70,tapi satu pun tidak kelihatan.

Ranu Kumbolo salah satu keindahan alam yang terdapat di lereng gunung Semeru, berada diketinggian 2.400 mdpl ini menyimpan banyak sekali eksotisme. Selain keindahan alamnya,Ranukumbolo juga menyimpan banyak sekali mitos.



Ranu yang berarti danau dan kumbolo berarti berkumpul, danau untuk tempat berkumpul. Hal ini bisa dilihat bahwa di Ranu Kumbolo dijadikan tempat berkumpulnya para pendaki untuk beristirahat atau bermalam sebelum melanjutkan pendakian ke puncak gunung Semeru atauMahameru.


Bukit yang mengelilingi danau ditumbuhi oleh cemara tapi sayangnya sebagaian besar terbakar sehingga bukan lagi kehijauan yang kita lihat tapi berobah dengan warna abu abu bekas kebakaran.satwa nya juga susah ditemukan,mungkin perlu puluhan tahun hutan tersebut bisa hijau lagi.Hanya ikan di danau yang masih ada  sehingga banyak pemancing yang menyalurkan hobinya disini.salah satunya aku bertemu dengan salah seorang pemancing yang berasal dari Jogja mereka jauh jauh datang ke Ranu Kumbolo untu mendapatkan suasana  memancing yang berbeda dari biasanya.

Tidak jauh dari daerah camping kami ada tiga makam yang konon ceritanya adalah pendaki yamg tewas sewaktu ke Semeru dan salah satu diantaranya meninggal 2 tahun yang lalu sewaktu pendakian gabungan beberapa club pencinta alam memperingati kematian Soe hok gie ke puncak Mahameru.

Indahnya suasana pagi itu kami nikmati sambil ngobrol duduk duduk menghadap ke danau ditemani kopi hangat roti,biscuit serta nasi panas dan lauk sarden dan mie rebus. Tidak terasa  jam sudah menunjukan pukul 07.30wib.

Minum pagi di danau

Bersiap siap ke Arcopodo                                  
Setengah jam kami gunakan untuk mengumpulkan semua perlengkapan pribadi dan semua tenda sudah dibongkar untuk dibawa ke Arcopodo dan jam 08.00wib setelah briefing dari Mas Data segai guide,kami melanjutkan perjalanan menuju Kali mati dan Arcopodo..

Perjalanan dimulai di bagian barat dengan pendakian yang cukup tinggi menjulang yang dikenal dengan nama pendakian Cinta
Bukit ini merupakan bagian dari rute pendakian ke arah puncak, kemiringan tidak kurang dari 45 derajat dan merupakan rute tanjakan yang landai tapi panjang. Ada yang menarik di sini, ternyata tanjakan tersebut memiliki julukan yaitu Tanjakan Cinta.

Julukan tersebut lantaran ada mitos yang beredar di kalangan pendaki. Menurut beberapa sumber mitos ini lahir dari kisah tragedi dua sejoli yang sudah bertunangan saat mendaki tanjakan tersebut. 

Konon, waktu itu, si cowok melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara calon istrinya kepayahan naik tanjakan itu, cowok tadi cuma melihat dari atas sambil foto-foto. Naas, pendaki cewek ini tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas.



"Barang siapa yang bisa terus berjalan tanpa berhenti hingga di atas bukit dan tanpa menoleh ke belakang, jika sedang jatuh cinta akan berakhir bahagia, itulah mitos tanjakan cinta," tutur guide kami.
Tanjakan cinta
                                           
Cerita tersebut cukup alasan bagi Simanto untuk hati hati menjaga LU pasangannya,kasian takut kuwalat katanya.........................................
Butuh tenaga ekstra untuk melewati tanjakan ini tanpa berhenti apalagi sambil mengangkat berat beban yang kita bawa,aku melangkah pendek pendek dan pelan menuju tanjakan dan nafas mulai tersengal sengal.terlihat sebagian teman sudah sampai di akhir tanjakan.

Setelah sampai di ujung tanjakan cinta,ransel dipunggung kuturunkan dan duduk menghadap ke danau,rasa lelah kita serasa hilang karena melihat indahnya Ranu Kumbolo yang membisu diselimuti kabut dari kejauhan.

Dari puncak tanjakan cinta

                                      
Perjalanan dilanjutkan dan tidak berapa jauh dari puncak tanjakan cinta,terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru yang menjulang dengan angkuhnya.Ada dua pilihan jalur di oro oro ombo ini,satu menelusuri tebing dengan dataran tinggi dan satu jalur lagi turun ke lembah dan kedua jalur ini akan bertemu di satu titik.Aku berjalan di jalur atas dan bertemu pendaki asing yang baru saja turun dari Semeru.



Indahnya Oro oro ombo
                                                  
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara yang sudah habis terbakar sebagian tempat apinya masih menyala jadi kami harus berhati hati mencari jalan yang aman tanpa api. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.Aku bayangkan alangkah indahnya kalau sebelum kebakaran dulu tentu lebih hijau dan tentu bisa  kita jumpai burung dan kijang.

Cemoro kandang riwayatmu dulu
                                     
Dari oro oro ombo ke Cemoro Kandang jalannya  relatif datar dan terasa enak dijalani karena udaranya sejuk dan matahari tanpa terhalang oleh hutan menambah kehangatan tubuhku,aku tetap waspada supaya tidak salah langkah masuk bara api bekas kebakaran
Setelah tiga jam perjalanan dari Ranu pani kami sampai di Jambangan yaitu sebuah dataran yang penuh ditumbuhi bunga Adelweis,sayangnya tanam Adelweis ini sebagiannya di lalap api.

Mejeng di Kebon adelweis dan Mahameru                          

Kami istirahat di bawah pohon di Jambangan sambil memandang ke puncak mahameru,kelihatan kemiringan menjelang puncak Mahameru lebih kurang 40derajat.               

Jam 1130wib kami sampai di Kalimati,terlihat rombongan pertama terdiri dari porter sudah lebih dahulu sampai dan mengeluarkan peralatan memasak untuk persiapan makan siang.

Mencari Kehangatan Mentari Kalimati
                                   
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, kami menemui beberapa pendaki asing  mendirikan tenda untuk beristirahat ,sewaktu mengobrol kami ketahui mereka pendaki pendaki dari Singapore,sebagian dari mereka tidak naik ke Puncak Mahameru dan ada juga yang tetap ditenda menunggu.

Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.ditengah padang ada bangunan dari batu yang sudah rusak disana sini,ruangan ini tidak beratap tapi dindingnya cukup bagus untuk menahan angin sehingga terasa lebih hangat dibanding diluar.porter kami memasak disalah satu ruangan tersebut dan aku menggelar matras disitu untuk mendapatkan kehangatan dan istirahat pemulihan tenaga semaximalnya.

Kami tidak memasang tenda di kalimati karena rencananya akan melanjutkan pendakian sampai Arcopodo sebelum magrib.Selesai sholat Dzuhur kami makan siang,terasa lahap sekali karena makan diudara dingin menambah selera makan.

makan di Kalimati                                             

Jam 14.00wib kami melajutkan pendakia ke Arcopodo,beberapa orang porter berangkat lebih dulu agar mereka bisa mendirikan tenda sebelum kedatangan kami.Sewaktu akan berangkat kami didatangi pendaki dari Singapore yang mengatakan ada seorang darimereka yang turun dari puncak jam 08.00 pagi tadi sampai sekarang jam 14.00 belum muncul ,mereka sangat khawatir terjadi kecelakaan atau hilang arah/salah jalan untuk itu minta tolong pada kami kalau ketemu tolong beri bantuan yang diperlukannya
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke Timur berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan sedikit dan menuruni padang rumput Kalimati,kelihatan seperti jalur sungai (kali) tapi kering,mungkin dari sini asal nama Kalimati..?

Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, merupakan  wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir. Yang berjarak 1 jam dari Kalimati dan melewati hutan cemara yang sangat curam dan lebih bagus vegitasinya dibandingkan di Ranu kumbolo dan oro oro ombo
Tanah yang mudah longsor dan berdebu,sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak debu beterbangan hal ini kurang aku perhitungkan sehingga lupa membawa masker dan kaca mata.Aku berusaha membuat jarak yang agak jauh dari orang depan agar tidak terlalu banyak kena semburan debu.

Dengkulku mulai terasa nyeri,aku memperlambat dan mengecilkan langkah,agar tidak terlalu nyeri,satu satu teman melewati ku akhirnya aku diposisi paling belakang bersama Ekak sebagai swiper dan mak itam,setiap kurang lebih 100meter pendakian kami istirahat sekitar 5 menit,terlalu lama istirahat juga kurang bagus terhadap suhu tubuh yang cepat kedinginan.angin dingin bertiup seperti suara air terjun,yang terbayang dibenak waktu itu seandainya turun hujan lebat tentu aliran air dari puncak akan mendorong kami kebawah atau setidak tidaknya kami tidak bisa untuk berjalan maju karena licin berlumpur apalagi tidak banyak akar akar kayu untuk berpegangan seperti gunung Merapi.Singgalang atau Rinjani.

Disatu tempat kami bertemu dengan guide yang mencari pendaki Singapura yang yang hilang dan dia mengatakan bahwa pendaki Singapura yang hilang tersebut sudah ditemukan karena nyasar ke arah timur tidak berapa jauh dari jalur yang sebenarnya.

Lebih kurang jam17.00wib kami sampai disatu dataran dimana para teman lainnya sudah kelihatan menurunkan beban ranselnya dan para orte juga melihat lihat tempat untuk pemasangan tenda.dari suatu batan pohon cemara kulihat ada plat nama bertulisan ”Arcopodo 2900MDPL.”

                                       

”Arcopodo 2900MDPL.”                                   
Empat unit tenda sudah berdiri dan kami memilih untuk masuk tenda diudara yang sedingin itu diikuti hujan yang tiba tiba turun,aku sudah tidak memikrkan ambil makan keluar tenda apalagi untuk nongkrong diluar. Salah seorang mengumandangkan azan dari tenda lain,tapi karena rasa dingin disertai hujan kami lebih memilih untuk sholat magrib didalam tenda masing masing.dan mengambil uduk dengan tayamum.
Mendirikan tenda di Arcopodo                                       
 Aku mendengar porter memberi tahu bahwa makan sudah tersedia di tendanya dan kami dipersilahkan untuk mengambilnya sendiri sendiri,aku memilih tidak makan karena takut kena hypotermia. Long pant berbaik hati dan memberanikan diri untuk ambil makanan di luar tenda untuk kami 4 orang. Dengan suara gemetaran kedinginan  Longpant sudah myelusup masuk tenda dengan membawa sepiring nasi dicampur Mie,kami makan satu piring berempat didalam satu tenda,paranormal mengingatkan rendang abon ku yang masih tersisa untuk segera dikeluarkan,rasanya ngga usah ditanya tapi yang penting perut terisi agar besok pagi bertenaga untuk pendakian ke puncak.

Berlindung di tenda
                                           
Diluar angin masih menderu deru,kami semua masih didalam tenda masing masing,pengisi waktu menjelang tidur kami ngobrol ringan antar tenda masing masing.Sayup di seberang tenda kami aku mendengar suara yang beberapa pendaki yang baru datang dari Kalimat,dari pembicaraan aku dengar mereka sekelompok Mahasiswa dari Semarang yang berencana untuk naik ke puncak juga malam ini,dan mereka akan mendirikan tenda juga dekat tenda kami,aku dengar kawan kiri kanan sudah mulai mendengkur namun aku masih saja belum bisa tidur,dalam hati aku berkata biarlah aku nikmati saja malam ini dengan bunyi dan nyanyian alam di pegungungan yang entah kapan lagi bisa kutemui....aku cek semua perlengkapan untuk summit attack nanti camera yang rencananya akan dibawa ternyata battary sudak low dan alternatifnya aku bawa hand phone saja biar nanti dipuncak bisa berfoto walaupun hasilnya nanti kurang bagus,head lamp aku check dan masih bagus,semua perlengkapan tersebut aku kumpul jadi satu supaya tidak kerepotan mencari cari nanti....akhirnya aku ngga dengar apa apa...tidur mungkin ya...? (sambung besok yah)

Saturday, November 12, 2011

RANU PANI MENUJU RANU KUMBOLO


Ranupani ke Ranu kumbolo



Jam sudah menunjukan pukul 14.00wib,mulai dari Jalur awal yang kita lalui landai dan datar, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan semak dan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m,aku ikuti saja tanda ini,sementara suara teman didepan sudah tidak terdengar lagi ini pertanda mereka sudah makin jauh didepan.

Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman


Jalan terowongan kayu  
Terus ku ayun langkah agak lebar dan sedikt hati hati karena salah menapak kaki bisa kepleset,dinginnya udara mengimbangi panasnya tubuh.
Kiri kanan jalan menjelang pos satu ditumbuhi seperti bunga aster yang berbunga kuning dan putih dan lalar lalar beterbangan sepanjang jalan ,biasanya lalar hidup di tempat kotor tapi kali ini aku lihat berkeliaran sepanjang jalan, mungkin bunga aster disukai lalar juga….aku tetap melangkah sambil terengah-engah dan menebak nebak mengenai hubungan kehidupan lalar dan bunga aster…..ouup satu ekor lalar salah masuk ke mulutku….uuuhuuk..uhuuuk aku berusaha batuk tapi lalar sial tersebut ngga bisa keluar,dan tetap nyangkut di tenggorokan,aku mengupat sendiri…lalar geblek ngga bisa bedain mulutku dengan bunga aster,aku berenti sejenak dan minum agar lalar geblek tadi masuk ke perut dengan tenang….

Aku lanjutkan perjalanan dengan agak santai,sambil menikmati desir angin yang lembut dan menyejukan hati sekali sekali diselingi kicauan burung,perasaan lapar mulai hilang mungkin karena nikmatnya pemandangan kearah lembah atau karena perutku sudah terisi lalar….?? He..hehe..
Aku berharap ada seseorang dari arah berlawanan yang bisa kutanyakan apakah jalur yang kujalani sekarang sudah betul,tapi sampi saat itu belum ada yang muncul.dibelakang sepertinya ada orang ikut dengan mendengar bunyi gemersik semak yang diinjak,aku yakinkan dengan berhenti sebentar dan ditungu ngga ada yang muncul..aku yakin suara tadi berasal dari gesekan daunan yang ditiup angin saja..aku meyakinkan diri supaya tidak berpikir yang aneh aneh…
Dari arah bukit seberang sayup sayup terdengar suara orang yang sedang ngobrol tapi aku tidak bisa melihat karena tertutup rimbunan tanaman,jalur jelas kelihatan karena dibagian jalan tidak ditumbuhi pohon yang tinggi.
Sambil jalan Aku pegang camera video untuk mengabadikan keindahan suasananya,tiba tiba aku salah injak batu bulat yang menyebabkan aku terhuyung dan rebah kearah semak…bangun lagi dan menyimpan kamera yang tergantung dileherku.

Didepan mulai terdengar suara orang makin lama makin dekat,aku percepat langkah dan disuatu terowongan beratap semak dan kayu tumbang terlihat beberapa orang sedang duduk duduk mereka adalah bagian team kami dan aku ikut istirahat disitu.

BERBAGI AIR MINUM
Jam menunjukan pukul 15.00wib,Perjalanan dilanjutkan sampai di Pos satu,disitu sedang berkumpul team yang komplit.Aku orang terakhir yang sampai di pos satu.

Hal pertama kutanya pada rombongan adalah minta jatah makanan yang belum sempat aku terima,porter yang membawa logistik memberiku 1 potong arem-arem,beberapa potong biscuit dan satu botol air mineral,kita harus bisa mengatur air minum karena jumlah yang dibawa terbatas sedangkan sepanjang jalan menjelang Ranu kumbolo tidak akan menemukan sumber air..


Rombongan pertama sampai, melanjutkan perjalanannya dan aku pun bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan karena udara terlalu dingin untuk berlama lama disini..

Kembali aku melanjutkan perjalanan pada urutan ketiga dibelakang,paling belakang adalah Mas Yudi dan Ekak  yang akan jadi swiper dibelakang.
Jalanan mulai naik turun bukit dan jurang,vegetasinya sudah sangat berkurang disbanding sebelum pos satu tadi.aku melihat asap yang masih mengepul dari kebakaran hutan yang baru saja padam,sejam perjalanan kami sampai di pos dua tapi kami tidak menemui rombongan pertama lagi disitu hanya ada Mas Data yang ingin memastikan kondisi kami kemudian menyusul rombongan pertama.

 Pos 2 dengan mas data
                  
Lebih kurang sepuluh menit kami istirahat dan menurunkan beban ransel dipunggung sudah cukup untuk mengumpulkan tenaga guna melanjutkan perjalanan,aku,yudi,Ekak dan Paranormal dan kentut busuk berjalan di pinggiran jurang yang habis termakan api,kira kira 50 menit perjalanan, jalan satu satunya menuju Ranu Kumbolo tertutup oleh kebakaran yang sedang berkob,kami mundur agak menjauh karena khawatir terkurung api.
Kami berusaha untuk mengurangi kebakaran dengan memukul-mukul semak yang terbakar,tapi hal itu tidak ada artinya dibandingkan besarnya luas yang terbakar,kami mundur dan memutuskan untuk menunggu api dan asap reda sehingga kami bisa lewat.

Video pemadama api
Lebih kurang 30 menit menunggu maka api mulai padam tetapi aspnya masih mengepul,aku mencoba menerobos asap tapi sia sia karena dada dan mata terasa pedih aku kembali kedaerah aman api.

Menunggu kebakaran                                      
Setelah agak lama dan asap mulai menipis aku mengajak teman tema untuk menerobos,Ekak sang pimpinan YAPE mempersiapkan Tali agar kami bisa berjalan beriringan sehingga idak tersesat didalam asap yang bisa berakibat fatal.

Menerobos sisa kebakaran                                                      
Mulut dan hidung kami tutupi agar asap yang terisap tidak menyakitkan pernapasan kami,mata kami buka sekecil mungin,kami harus lebih waspada karena jurang yang masih panas siap menunggu kami kalau sempat terpleset....Alahamdulilah kami lolos kesebrang dengan perasaa lega,kami langsung melanjutkan perjalanan karena jam sudah menunjukan pukul 16.30 sore.
Gersang pasca kebakaran                                   
Sepanjang jalan setelah pos dua akau melihar hutan yang sudah gundul karena kebakaran,sungguh memprihatinkan satwa satwa pada hilang entah kemana,dari porter aku ketahui bahwa hal semacam ini hampir tiap tahun terjadi di hutan Sumeru,aku membayangkan 20 tahun kedepan kalau tidak ada penanggulangan tentu kaki sumeru jadi lautan pasir seperti di Gunung Bromo juga.

Dari puncak bukit kami melihat kekiri bawah disitu Ranu kumbolo terbentang dengan anggunnya,aku berteriak kesenangan.....kami mengambil beberapa jepretan kearah Danau.
RANU KUMBOLO                              
Puas ber foto foto,hati hati kami menuruni tebing ke Ranu (danau) Kumbolo,dikejauhan aku melihat kawan kawan sudah mendirikan tenda di pinggir danau sebelah ke barat.kami susuri pinggiran danau dan naik lagi ketebing barat yang cukup melelahkan akhirnya jam 17.50wib kami sampai di titik perkemahan Ranu kumbolo di ketinggian 2400mdpl.

selamat datang di Ranu kumbolo                  
Kami saling ucapkan selamat karena sudah berhasil sampai di Ranu Kumbolo yang selama ini hanya ada dalam bayangan saja.
Hal pertama yang kulakukan adalah mencari batu yang dirasa nyaman untuk tempat duduk,kuturunkan ransel yang hampir 4 jam menggayuti punggung dan membuka sepatu agar lebih nyaman,aku duduk istirahat memandang ke danau dengan menyeruput secangkir capucino hangat yang sudah dipersiapkan teman teman porter serta beberapa potong biscuit sekadar pengganjal perut...kebahagian seperti ini tidak bisa digambarkan dengan kata kata.....dari mulutku terucap...Maha suci engkau  ya Allah....

Sore di Ranu Kumbolo .
                                        
Matahari mulai hilang dibarat aku tersentak dan buru buru ambil udhuk  untuk Sholat magrib berjamaah dipinggir danau.
Dalam sholat aku merasa dingin sekali sampai menggigil apalagi air udhuk masih lengket dikulit lalu ditiup oleh angin..duuuh kayak di dalam kulkas.....


 Saat Sholat magrib di Ranu kumbolo            
Makan..makan..panggilan pada kawan kawan yang sembunyi dari kedinginan didalam tenda.kami berkumpul dekat unggun dan tungku masak untuk ambil makan malam dengan lauk sarden serta sayur mie rebus yang dimasak khas Gunungers,kalau dibawa kekota mungkin diketawain orang tapi kalau di alam bebas ini adalah makanan yang terlezat menurut kami..(karena ngga ada pembanding hehehe),mungkin kalau disuruh buat menu seperti tadi rasanya pasti beda lagi....

Cuaca malam di ranu sangat cerah walau tiupan anginnya seperti menusuk tulang sebagian teman yang kuat duduk diluar mengelilingi api unggun dan ngoblol kian kemari...aku sendiri hanya sebentar sanggup diluar dan akhirnya kembali ketenda untuk menghangatkan tubuh.

Aku satu tenda dengan Kentut busuk dan Paranormal,posisi bertiga mengakibatkan kami sulit bergerak,aku segera masuk dalam sleeping bag agar lebih hangat dan berusaha memejamkan mata agar segera tertidur,tapi ada batu seukuran setengah bola tenis dibawah matrasku yang agak menonjol yang membuat mata sulit untuk segera tidur,aku melapisi tonjolan tersebut dengan handuk supaya tidak terlalu menusuk punggungsedikit agak nyaman,ngorok kawan kiri kanan terdengar sampai akhirnya  aku terlelap sampai subuh memanggil...bersambung besok pagi ya.....

SELAMAT PAGI RANU KUMBOLO

Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.

Thursday, November 10, 2011

HARI KE DUA 17 OKTOBER 2011,MALANG/SAWOJAJAR MENUJU TUMPANG,RANU PANI



Semeru,nampak Puncak Mahameru yang kerucut ideal. Garis merah adalah rute pendakian, yang diawali dari desa Ranu Pani, lalu Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan, Kalimati, Arcopodo, Cemoro Tunggal, dan terakhir puncak Mahameru. Panjang jalur pendakian ini sekitar 17-18 kilometer.

Gunung Semeru dipercayai sebagaian penduduk sebagai gunung suci dan kediaman para Dewa, Sumeru gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 Mdpl (puncak Mahameru). 
Dari beberap literature diketahui pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. 

Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan. 


 foto gunung Sumeru 3.676 Mdpl                    
Aku terbangun dengan suara kawan kawan yang bersiap siap untuk sholat Subuh  dan sedikit kaget dengan keberadaanku saat itu jam menunjukan 04.20wib udara tidak begitu dingin,segera aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk ambil udhuk dan ikut sholat subuh berjamaah dengan kawan kawan.

Suasana sehabis sholat sangat akrab dan menyenangkan karena baru bertemu dengan beberapa kawan yang masih tidur ketika kami sampai malam tadi.Auful dan Anton dari Samarinda,Anak Ayam,Mas Yudi dan yudi kecil dari Jakarta serta Sakai putih,Simanto dan Lenggok Uni dari Duri yang duluan 1hari dari kami berangkatnya .

Aku segera recheck perlengkapan yang akan dibawa dan yang akan ditinggal dan setelah ditimbang ransel yang akan ku bawa seberat 3.5kg,beban yang sedang untuk perjalanan ke gunung.

Jam 06.00wib team berkumpul untuk dapat briefing dari guide Mas PraData seorang activis/penasehat club YEPE yaitu club pencinta alam yang cukup dikenal di Malang.
Kami di pandu oleh Mas Data dan 8 orang porter yang ikut mendukung XPDC ini,kami diberitahu tempat tempat yang akan disinggahi berikut perkiraan waktu yang pencapaiannya.

Jam 07.30wib 3 mobil  angkot yang akan membawa kami ke Desa Tumpang sudah dimuat dengan barang barang bawaan dan juga logistic selama XPDC nanti.

Didepan angkot yang akan membawa kami desa Tumpang
                  
Udara pagi itu sangat cerah,kami berkumpul di luar rumah dan mas Data memperkenalkan masng masing porter yang akan ikut dalam expdc ini,lalu ditutupdengan pembacaan doa oleh Mas Data.

“Ya Allah bentuklah kami menjadi manusia yang berani,berani untuk sadar akan kelemahannya,berani hadapi diri sendiri manakala takut,bentuklah kami menjadi manusia yang teguh,teguh dalam kekalahan,tapi jujur,rendah hati serta berbudi halus dalam kemenanga.Bentuklah kami jadi manusia yang cita citanya tak pernah padam dan sanggup mewujudkan dalam tindakan.Berilah kami keinsyafan bahwa mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan.

Ya Allah pimpinlah kami diatas jalan yang sukardan keras dan tumbuh dalam desakan dan tantangan agar kami dapat berdiri kokoh ditengah badai kehidupan maupun petualangan.Pimpinlah kami untuk memenangkan haridepan dan tak lupa untuk belajar dari masa lampau.Beri kami perasaan jenaka agar dapat bersungguh sungguh dengan hati riang.Berikan kami kerendahan hati dan selalu ingat Engkau sebagai sumber kesederhanaan dan keagungan yang asli,sumber kearifan dan kekuatan yang asli.Dengan demikian kami team pendaki Gunung dan penjelajah alam dapat memberanikan diri untuk berbisik perlahan hidup kami tidaklah sia sia”

Briefing dan doa sebelum berangkat                  

Setelah acara foto foto,maka jam 08.10wib 3 Mobil mobil angkot sarat dengan penumpang didalamnya serta diatas atap dijejal dengan muatan carrier para pendaki meluncur menuju desa Tumpang,jalan menuju Tumpang lancar leih kurang jam 08.50wib kami sudah sampai di desa terminal Tumpang,sebetulnya terminal ini hanya tempat inapan beberpa unit mobil Toyota land cruiser double gardan yang akan membawa kami ke desa Ranu pani.

Muatan dari angkot Suzuki carry di pindah ke 3 unit Mobil Toyota Land cruiser,dua diantaranya tidak beratap dan satu beratap,melihat mobil yang seadanya,kotor,plat nomor nyaris tidak terlihat,dalam hati aku berkata petualangan baru akan dimulai.

Porter kami cukup cekatan memuat barang dan jam 09.15 tiga mobil land cruiser meluncur Ranu pani.


Kebahagian dengan keterbatasan
                          
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.

Kami sedikit menemui kendala untuk perizinan karena beberapa document belum ada copy pertinggalnya sehingga satu mobil harus kembali ke arah Sawo jajar untuk menari foto copy,akhirnya jam 10.00 wib kami baru bisa berangkat menuju Ranu pani.

Aku tepuk tepuk kursi depan yang dilapisi debu dengan harapan debu yang ada dikursi tidak terlalu mengotori celanaku,kami didepan bertiga dengan sopir dan dibangku belakang ada empat orang,sepertinya posisi ini adalah yang ternyaman dan terbersih menurut kami,semua menikmati kondisi ini dan canda kami makin kreatif…Toyota hardtop yang ku tumpangi menggambarkan kesederhanaannya,kotor dan kelihatan gagah dan tak pernah menyerah seberat apapun medan yang ditempuhnya ,dibawah kursi ada jerigen plastic berisi bensin dan aroma bensin menjadi pewangi kami dalam perjalanan.

melapor di pos Gubukklakah                              
Perjalanan menuju Ranu Pani sangat jelek sekali dan memang kalau mobil dengan single gardan sulit untuk menerobosnya,sekali-sekali mobil masuk lobang yang agak dalam dan terdengaran deru mobil yang berusaha keluar lobang di kuti badan kami yang juga ikut miring kiri dan kanan yang cukup ekstrim,kelihatan penumpang pada diam dan sekali sekali bersuara uuuugh…,yang mungkin mempunyai arti selamat deh gue…!! jalan sebelum desa Ranu Pani sempit.berdebu dan sebagian ada jurang dan hutan.

Beberapa kali mobil kami papasan dengan mobil lain dan salah satu harus berhenti supaya bisa lewat,beberapa mobil dengan berpenumpang orang orang yang baru turun gunung yang bisa diketahui dari tubuhnya yang penuh debu dan bergelantungan diatas dan pinggir mobil tak obahnya seperti para Mujahidin Afganistan dari medan tempur…mereka menyapa kami sambil berteriak halooo….hati hati rek…



Sapa dan senyum Sahabatku

Lebih kurang dua jam perjalanan yang cukup menegangkan,kami berhenti disuatu bukit,dingin udara pegunungan sudah terasa, sekeliling kelihatan lembah dan bukit dan beberapa bagian lereng bukit  kelihatan ladang penduduk  yang diliputi kabut awan. Sopir memeriksa sumber datangnya aroma bensin yang akhirnya diketahui dari slang bensin yang ada di tempat dudukku.


 Istirahat di bukit sambil menunggu perbaikan mobil

Sebelum memasuki desa Ranu Pani ada persimpangan kekiri untk menuju Gunung Bromo,beberapa jauh dari persimpangan disebelah kiri kita melihat pemandangan yang begitu eksotik yaitu dataran rendah dan berpasir ke Gunung Bromo,kelihatan dari atas jalan yang seperti dilukis dan ada dua kendaraan yang menuju kearah kaki Bromo



Foto kearah kaki bromo dengan lautan pasir.

Dari atas pebukitan kami melihat kebawah terlihat desa Ranupani seakan akan kami memasuki lembah kemudian terlihat beberpa rumah yang cukup modern.beberapa rmah sudah ada parabolanya. Majoritas penghuni Ranupani adalah suku Tengger,mereka adalah petani petani kentang,wortel,tomat dan lain-lain.Mereka sangat setia, tangguh dan ramah ramah sayangnya kami kesulitan untuk berkomunikasi karena mereka memakai bahasa tengger dan hanya sedikit sedit bahasa Indonesia.

Kami sampai di danau Pani atau Ranu Pani,terlihat permukaannya danau penuh ditutupi oleh enceng gondok,konon menurut porter kami yang berasal dari situ mengatakan bahwa enceng gondok tersebut terlalu cepat untuk berkembang sehingga paling lama satu bulan setelah dibersihkan maka permukaan danau akan tertutupi oleh enceng gondok lagi.tidak jauh dari danau kami berhenti sejenak disatu rumah yang kebetulan porter kami akan mengambil logistic di rumah tersebut,aku ikut masuk kerumah dan uniknya rumah tersebut dibagian depan atau ruang tamu selalu ada dapurnya,jadi kalau kita bertamu berarti kita harus duduk didapur,mungkin hal ini disebabkan suhu Yang dingin sehingga dapur lebih pantas untuk bertamu dari pada ruang lain .

Ruang tamu Suku Tengger                                       

Akhirnya jam 13.10 wib kami rombongan terakhir memasuki desa Ranupani dan kami berkumpul di Posko pendakian pada ketinggian 2400mdpl.Kabut tebal mulai turun dan dinginnya udara mengharuskan aku untuk memakai wind breaker supaya lebih hangat,barang diturunkan dari mobil dan kami pergi untuk sholat ke Mushola yang ada,rasanya berat sekali untuk berudhuk dengan air seolah olah dari kulkas dinginnya. 



 Benahi perlengkapan dan sholat di Ranupani.                 

Diposko ketemu beberapa pendaki asing yang baru turun gunung,muka dan baju mereka juga kelihatan penuh debu,debu vulkanik berwarna hitam ada dimana mana konon menurut penduduk hujan sudah beberapa minggu tidak turun..
Selesai sholat zuhur dan ashar yang ku jamak,aku diingatkan supaya bersiap siap untuk mulai perjalanan ke Ranu kumbolo,kami berkumpul dan menghitung jumlah team,lalu mulai berjalan kaki dengan carrier dipunggungku seberat 7kg.



Tundukan hati dan Berdoa sebelum pemberangkatan dari Ranupani
Perut mulai terasa untuk diisi sayangnya sewakt pembagian nasi brum dan aqua aku masih sholat dan porter yang membawa logistic juga sudah jalan duluan maka terpaksa perut kujejal dengan air dan permen saja untuk sementara ini,tapi koq rasanya makin lemas aku ya…

Aku makin ketinggalan sendiri dibelakang,aku mulai memasuki pintu hutan sendirian ,perut terasa lapar,waktu tempuh ke Ranu kumbolo lebih kurang empat atau lima jam,kalau jalan lebih cepat kemungkinan bisa empat jam….tapi kuat ngga ya…….? Tunggu yah ntar disambung…..

Sekeliling api,mau jalan kemana..?
  • Yang ku perlukan adalah kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya agar Allah berikan segala pembelajaran untukku,
  • dan yang kuinginkan mata yang menatap keindahan ciptaan Nya agar kesombonganku sirna karena Nya,
  • dan yang kuperlukan hati yang keras tak pernah menyerah agar qalbu ini selalu berzikir berharap kasih dan PerlindunganNya.....Subhanallah