Pages

Saturday, July 4, 2015

15.TOUR de ASIA_Berburu mesjid Indonesia di Bangkok

Ini adalah hari ke 29 perjalan kami tour de Asia dan Thailand adalah negara ke tiga yang kami kunjungi,aku sudah merasa perjalanan yang kami rancang untuk 3 bulan perjalanan mungkin bisa molor karena kadang kadang di suatu kota kami merasa perlu bertahan beberapa hari untuk pemulihan stamina dan silaturahim sesama sahabat terutama seperti di Malaysia dulu,kami mencoba untuk minta bantuan rekomendasi KBRI kuala lumpur untuk ambil visa Cina menunggu sampai tiga hari namun gagal pula.
Jangka waktu Free visa di Thailand kami dikasih hanya untuk waktu 14hari dan 2hari sudah terpakai sampai Bangkok,di Bangkok kami akan tinggal selama tiga hari karena kami menunggu KBRI buka hari senin lalu coba minta bantuan konsul untuk urusan visa ke China,mudah mudahan berhasil kalau tidak berhasil mungkin rute perjalanan kami akan berobah dari Laos ke vietnam Hanoi-Saigon,Kamboja dan masuk lagi ke Thailand. Kami masih penasaran dan kadang menyesali biro jasa/travel agent pekanbaru yang tidak serius dan gagal mengurus visa china kami sampai sebulan lebih akibatnya rencana yang sudah dirancang setahun sebelumnya jadi kurang sesuai seperti yang kami inginkan,mudah mudahan ini jadi pebelajaran dan jangan terlalu percaya pada travel agent atau biro jasa. Yaaah sudahlah semoga ketentuan Allah ini menjadi yang terbaik buat kami....amiiin.
Sejak dari Hat yai sampai kami naik train ke Bangkok selalu di monitor oleh pak eid sidek dari Kedah,beliau menghubungkan kami dengan Khaleez seorang peturing Malaysia yang sedang melakukan perjalanan ke China dan saat ini sedang berada di Bangkok.
Khaleez berapa kali menanyakan posisi kami sewaktu di train dan akhirnya kami sampai di stasiun train hua lamphong Bangkok jam 12 siang,kami berbagi tugas menurunkan sepeda dari gerbong yang terpisah didepan,aku menurunkan dari atas gerbong dibantu petugas sementara itu joker dan opung sitor menyambut dibawah,lumayan berat menurunkan sepeda dengan beban panier yang total 45kg,kalau tidak hati hati bisa terbanting dan ronrok sepeda kami.
Untungnya di stasion train Bangkok ini ngga ada porter porter yang maksa untuk beri bantuan yang buntut buntutnya minta upah yang tidak wajar seperti kebanyakan di terminal terminal kita di Indonesia,kami merasa cukup aman disini.
Keluar dari peron seorang anak muda berperawakan timur tengah melambai kami "pak Tasman.." dia menyodorkan tangan bersalaman,lalu aku tanya "siapa ya..?" Dia menjawab "saya Khaleez dari Malaysia pak" aku merasa lega ada yang aku kenal di negri yang baru ku injak ini setidak tidaknya aku bisa berkomunikasi lagi dengan normal dan tidak sekedar angguk angguk ayam dengan itik saja seperti di train tadi hehe..
Khaleez menunjukan restoran halal di gedung peron. Suasana peron kelihatan ramai tapi tertip ada kursi kursi tunggu yang masih banyak yang kosong.
Joker mencoba searching mesjid di google map,ternyata ada Mesjid Indonesia yang jaraknya sekitar 3km dari station train,kami putuskan untuk pergi ke mesjid Indonesia karena kami yakin disitu akan banyak informasi yang kami butuhkan.
Khaleez bergabung dengan kami gowes menuju mesjid indonesia di daerah soi polo,dengan bantuan google map dan kami menelusuri keramaian jalan di bangkok,suasananya sama seperti di prapatan senen Jakarta,bedanya dibangkok ngga ada angkot angkot yang main srobot,rasanya mereka masih menghargai pesepeda, jalan untuk sepeda juga lebih banyak ditemukan di Bangkok, disuatu sudut shelter pinggir jalan utama aku melihat sepeda yang tersusun dan ban depannya terkunci dengan box pakai koin,ternyata sepeda disitu bisa untuk rental dengan jam jaman,buka kunci dengan masukan koin,lalu kita bisa bawa sepeda tersebut kerute rute tertentu yang ada di peta,kemudian apabila selesai kita bisa kembalikan ke station terdekat dan tidak perlu ketempat semula,ide yang cemerlang untuk memasyarakatkan sepeda sebagai kendaraan anti polusi dan menghindari kemacetan.
Joker berusaha memastikan posisi mesjid yang dituju dan selagi melihat lihat arah ada seseorang perhatikan kami,lalu kami dekati dan menanyakan keberadaan mesjid Indonesia.
Ternyata kita bertanya ke orang yang tepat karena pak Ahmad adalah imam mesjid Indinesia.
Hanya 10menit setelah memasuki jalan kecil 3meter kami sampai di mesjid tersebut,aku merasa terharu dan bangga melihat ditengah negri yang mayoritas budha ini berdiri sebuah masjid dengan nama Indonesia dan didepan atas mesjid berkibar bendera merah pitih digandeng bendera Thailan.
Beberapa jamaah datang menyalami dan ucapkan sala pada kami,mereka bertanya "Indonesia?" Aku jawab "iya" aku berharap ada yang bisa berbahasa indonesia,tapi ternyata umumnya mereka bisa mengucapkan beberapa patah kata indonesia saja,dan pak imam bisa sedikit bahasa inggris juga agak kesulitan akhirnya memanggil seorang ibu tua berkerudung mempersilahkan kami untuk tidur di mesjid dan menunjukan fasilitas yang bisa digunakan,cukup jelas berkomunikasinya dia menerangkan bahwa mesjid itu wakaf dari kakeknya almarhum Hj Salae yang orang indonesia menetap di daerah itu sejak 100tahun yang lalu,kemudian dizaman pak harto mesjid itu di bantu pembangunannya oleh kbri bangkok dan diberi nama mesjid indonesia.
jamaah kebanyakan datang dari daerah yang agak jauh karena jamaah disitu hanya sekitar 12 keluarga dan umumnya anak anak yang sudah berkeluarga pindah ke tempat lain maka tinggallah jamaah disitu orang orang tua saja. Penduduk lainnya disekitar itu umumnya penganut Budha. Sore sebelum magrib kami jalan sambil orientasi didaerah sekitar.
Malam sehabis isya jemaah mengantarkan nasi untuk kami bertiga. Sepeda kami titip dirumah pak imam dan mudah mudahan kami bisa tidur nyenyak di masjid malam ini.(foto bisa di lihat di fb)

No comments:

Post a Comment