Pages

Saturday, August 31, 2019

2.Dari Argopuro ke gili Ketapang


(H2) Cisentor - Rawa Embik

Aku,sikumbang dan Joker tidur di satu tenda yang cukup untuk tiga orang,namun tidur hari pertama diketinggian diatas 2000mdpl tidak begitu nyaman rasanya,mungkin tubuh ini baru adaptasi dengan rasa dingin jadi susah untuk pejamkan mata,ternyata sikumbang juga mengalami hal ang sama tapi tengah malam katanya dia makan antimo dua tablet hingga bisa tertidur,lain halnya joker aku perhatikan tidur pulas dari sore hingga subuh,sungguh ini merupakan satu kenikmatan. Pagi selesai subuh dan sarapan nasi pecel lagi kami langsung berangkat menuju dengan target puncak Argopuro dan Rengganis.

Hari ini dimulai dengan mendaki bukit melintasi padang rumput dan padang edelweiss,beberapa teman sudah jauh didepan lalu dari kejauhan aku mendengar suara sekumpulan orang sedang ngobrol. Lebih jauh kedepan dari ketinggian tebing aku melihat dataran rendah dan disitu berdiri satu tenda. Beberapa anak muda sedang ngobrol dengan sikumbang dan sakai. Kami didaulat foto bareng dengan anak anak tersebut ,komunitas yang menamakan dirinya "Pendaki bukan kaleng kaleng" dari Semarang.

Aku melewati sebuah sungai yang sudah kering sebelum kembali melintasi padang rumput dan padang edelweiss lagi. Setelah menyusuri sisi bukit akan tiba di Rawa Embik.

Trek Menuju Rawa EmbikRawa Embik

Rawa embik 2605mdpl,merupakan sebuah tempat yang cukup luas untuk berteduh, namun panas disiang hari, meski angin tetap bertiup dingin. Ada sebuah mata air kecil untuk mengisi perbekalan air. Lokasi ini cocok untuk beristirahat maupun camping.

Rawa Embik - Puncak Rengganis dan Argopuro

Selepas Rawa Embik, trek menuju ke puncak Gunung Argopuro masih tetap menyusuri padang rumput dan mendaki punggungan bukit lagi melintasi hutan yang rapat dan ada bekas bekas terbakar di bagian bawah pohon. Kadang kala kami melewati tanaman edelweiss yang tumbuh tinggi dan melewati sungai mati. Seingat aku bunga bunga adelweis tumbuh di daerah daerah sulit di jangkau seperti di tebing tebing curam menjelang puncak,tapi lain hal nya di pegunungan Argopuro ini,adelweis sangat gampang ditemukan diperjalanan,adakalanya tumbuh seperti hutan adelweis.

cuaca cukup panas tapi begitu kita istirahat beberapa menit saja badan mulai terasa dingin oleh udara pegunungan. Jalan kadang berpasir tebal dan aku yang berjalan dibelakang kawan harus pakai masker penahan debu yang berterbangan tersebut. Setelah menelusuri punggung gunung dan hutan lalu kami,melewati padang rumput savana dimana ada puncak Rengganis di kiri dan puncak Argopuro di kanan. Aku sempat memghitung jumlah savana yang banyak kami lewati sampai savana lonceng ada kira kira lebih dari sepuluh savana.Aku melihat Cilukbra,sakai,Sikumbang,walet dan parno sudah berleha leha istirahat dibawah pohon,aku dan torpedo menyusul sampai dipertigaan savana Lonceng jam 8.45wib,disini aku istirahat sambil mencek dan memplaster telapak kakiku yang lecet sejak dari kemarin.

Savana lonceng Terakhir Menuju Puncak

Istirahat 5menit saja rasa dingin mulai menusuk ke pori pori,lalu aku putuskan untuk menuju puncak Rengganis. Jalan kepuncak cukup terjal dipenuhi batu batu cadas dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Ketika mendekati puncak akan nampak beberapa bekas peninggalan seperti batu yag tersusun. Puncak Rengganis berupa batuan kapur dan berbau belerang jalannya sedikit harus hati hati karena licin oleh pasir. 

Di Puncak Rengganis ditandai dengan bendera merah putih dan dipuncak tertinggi ini bisa terlihat lautan awan, lubang kawah, bekas-bekas petilasan, hingga savana yang merupakan jalur pendakian tadi.

Para pendaki yang sudah mencapai puncak biasanya akan mengabadikan dengan foto foto yang indah ke arah bawah. Tak lebih sepuluh menit kami menikmati suasana dipuncak lalu kami kembali turun ke savana lonceng dan disavana lonceng pisang rebus yang dipersiapkan porter kami santap bersama,aku yang biasanya ngga doyan pisang rebus tapi ternyata menambah nambah karena rasanya lebih enak kalau perut sedang lapar apalagi udara dingin.

Puncak RengganisBatuan Kapur Puncak Rengganis

Beberapa kawan seperti joker sakai sudah berangkat menuju puncak Argopuro,lalu satu persatu meninggalkan savana lonceng dan mulai jalan menanjak menelusuri hutan adelweis yang rimbun kemudian hutan hutan pinus yang tinghi tinggi dibawahnya beberapa pohon tbang bekas kebakaran hutan beberapa tahun silam. Pendakian yang terjal sangat menguras tenaga,batu batu cadas besar disetiap permukaan tanah,jadi kita harus pintar pintar memilih jalan yang agak landai dan tidak longsor kalau diinjak. Untungnya didaerah cadas ini batu batunya stabil dan kokoh ditanah tidak seperti di Semeru batu batu bisa bergulir kebawah kalau diinjak.paling banyak sepuluh langkah lalu aku istirahat mengatur nafas sambil memandang ke arah bawah,terlihat indah sekali jurang dengan pohon pinusnya,suasana tenang dengan sekali sekali terdengar bunyi ayam hutan atau bunyi burung toktok. Aku menengadah Kearah atas sekali kali terlihat bayangan kawan yang kecil disela sela pinus. Sekitar 20-30 menit akhirnya aku mendengar suara kawan yang sudah duluan mencapai puncak,aku jadi bersemangat lagi dan mempercepat langkah hingga terlihat Puncaknya berupa susunan batu di sebuah tempat landai yang dikelilingi pepohonan.

Pemandangan di sekitar puncak Argopuro ini tidak bisa dinikmati dengan leluasa dan jarang bisa menikmati indahnya lautan awan disini. Kami istirahat dan sholat dzuhur berjamaah dipuncak lalu puding dengan semangka seadanya dengan potongan kecil untuk dibagi bagi. Air minumku yang hanya tinggal setengah botol terpaksa minumnya hemat hemat agar tidak kehabisan di jalan

Kami segera meninggalkan puncak Argopuro berjalan turun sekitar 15 menit lalu naik lagi najak di kaki bukit rasa jenuh mulai terasa aku berjalan pelan sambil menghela nafas dalam dan sering aku berhenti dan memandang jalan yang dilalui untuk menghilangkan ke bosanan,rasanya puncak ini tak habis habisnya. Habis satu puncak muncul puncak lain lagi.setelah kira kira 15menit sampai di Puncak Hyang atau puncak Arca yang berupa sebuah arca dan reruntuhan lain yang sudah tertutup semak-semak. Disatu sudut aku menyaksikan patung hindu yang sudah hilang kepalanya dan tangannya. Ini jelas pengrusakan yang disengaja bukan lagi karena alam.

Puncak - Taman Hidup

Dari puncak Hyang Gunung Argopuro kami melanjutkan perjalanan dengan terus berjalan turun menelusuri bukit yang curam dan berbelok-belok. Disatu pertigaan kami ragu untuk memilih jalur kiri atau jalur kanan,pertama akU ikut jalur kanan dengan Sikumbang tapi begitu aku baru akan mulai turun sakai memberi tahu bahwa jalan ke taman hidup lewat jalur kiri. Turunan curam dan berkerikil dan pasir jadi amat berbahaya kalau terpeleset bisa fatal jatuh kejurang. Pada kondisi dimana jalan licin berpasir dan tidak ada pegangan maka aku jalan ngesot agar tidak terpeleset lalu memegang akar akar kayu sebisanya untuk menahan tubuh. Disini tongkat sangat manfaat penahan dan keseimbangan tubuh,sayangnya aku ngga bawa tongkat. Beberapa kali aku merosot turun namun Alhamdulillah masih bisa mengontrol dijalur. Badan sudah penuh debu,mulut aku tutup sehingga terhindar dari debu.

Sampai di bawah,kami menemukan alur sungai yang tidak berair lalu kami kembali naik menyusuri punggungan bukit,didaerah ini hujan turun rintik rintik dan kabut menutupi hutan dan saat itu aku merasakan dinginnya didalam awan,kini jarak pandang terbatas aku tetap jalan karena masih bisa melihat jalan dan arah. Sayup sayup aku mendengar suara obrolan dan makin dekat terlihat kawan kawan sakai dan sikumbang sedang istirahat dan ngobrol dengan porter yang lebih dulu sampai di cemoro limo ini. Mereka duduk menghadap api unggun sambil memanaskan tubuh,aku ikut duduk disitu untuk memanaskan tubuh dari terjangan udara dingin pegunungan. Nasi yang di bawa dari cisentor pagi tadi kami buka,nasi yang terbatas janya dua bungkus kami bagi rata hanya dapat sesuap perorang,guide kami sudah salah nitip ke porter sehingga mereka makan juga dari jatah yang ada itu. Perjalanan dilanjutkan kearah kanan,beberapa orang sudah duluan

Di sepanjang perjalanan menyusuri punggungan bukit trek cukup terjal dan perlu hati-hati. Aku bayangkan jika hari gelap, jalur yang dilalui bisa saja keliru karena banyaknya tempat terbuka yang menyerupai jalur pendakian. Kadang di persimpangan ada tanda dimana jalur yang benar untuk melanjutkan perjalanan. Dengan perasaan sedikit khawatir akan datangnya malam aku mempercepat langkah,cilukbra yang berusaha untuk tetap bersamaku merasa kewalahan mengikuti cara jalanku yang makin kencang seperti dikejar setan katanya. Aku mengatakan pada cilukbra bahwa aku khawatir kemalaman sedangkan senter aku tidak berfungsi. Cilukbra meyakinkan aku bahwa dia punya dua senter jadi tidak perlu khawatir katanya. Aku melihat kekiri disela sela pohon besar terlihat hamparan putih berkabut,aku yakin itulah danau yang akan kita tuju,hatiku langsung berbunga bunga karena sebentar lagi sampai tujuan dan istirahat. Tapi sudah lebih satu jam masih belum sampai juga. Pemandangan yang terlihat seperti danau tadi hilang,apakah ini ilusi karena kecapean?aku bertanya tanya dalam hati. Jalanku sudah mulaipelan dan gontai karena capek dan kaki yang lecet. Sekarang vegetarinya berobah menjadi pohon pohon besar dan berlumut,tetesan air dari dedaunan pohon mengenai tubuhku,terasa agak gelap karena cahaya matahari terhalang pohon pohon besar yang rimbun. Suasana sunyi sekali kali terdengar suara ayam hutan. Daerah ini dinamakan hutan lumut,mungkin karena pohonnya yang besar besar tersebut banyak yang berlumut,sehingga warna hijau mendominasi didaerah ini. Aku coba menikmati kesunyian hutan lumut ini sambil berdoa agar segera sampai. Cilukbra masih tetap berjalan dibelakangku.

Aku dengar teriakan seseorang oon..ooon...panjang,aku hanya diam ini satu pertanda salah satu teman beritahu keberadaannya,mungkin dia sudah sampai di taman hidup,ternyata dugaanku tidak meleset,aku melihat kekiri dan disitu ada hamparan danau,aku yakinkan lagi sambil mengusap mata ternyata benar itu adalah danau dan kekanan sedikit terlihat tenda tenda yang sudah terpasang di tanah kosong dibawah pohon pohon besar. Para porter sampai duluan dan memasang tenda dan memasak ir panas untuk kami.

Taman hidup merupakan salah satu danau indah di pegunungan Argopuro ini, airnya bersumber dari hutan hutan sekitanya dan dari bawah,berlumpur dan luas dengan pemandangan indah. Sumber air disini sepertinya tidak bisa langsung diminum karena terlihat masih hijau waktu dimasukan ke botol plastic.

Belakangan aku minta tolong disaringkan air danau ini untuk persiapan jalan ke Bremi esok hari.

Rasanya aku ingin nyebur dan berenang didanau ini untuk bersih bersih badan,namun urung karena ada larangan berenang disitu

Aku duduk di Sebuah dermaga dengan pondok kayu kecil dipinggir danau,sepatu yang penuh pasir dan tanah ku buka lalu kaki yang sudah penuh tanah dan debu aku cuci sampai tangan dan muka,hanya itu cara yang bisa dilakukan untuk bersihkan badan. Dinginnya air danau bagaikan air dingin dari frezeer. Buru buru aku kembali ke camp ground yang berjarak 100meter dari danau lalu masuk tenda ganti pakaian. Joker dan dua orang guide sampai di tenda waktu magrib. Malamnya kami memasak makan malam dan masak air untuk ngopi,tapi belum sempat air mendidih gas kompor kami habis. 

Malam ini kami menikmati suasana damai dan dinginnya pinggir danau. Gelap sekali kearah danau,tidak ada penerangan selain di tenda kami.

Sehabis sholat isya aku masuk tenda dan menikmati suara nyanyian jangkrik diluar dan sekali sekali terdengar suara kawan dari tenda lain yang ngobrol.

Aku terbangun subuh oleh suara suara satwa di hutan dan dari tenda sebelah panggilan kawan mengajak sholat subuh. Terasa dingin sekali angin dari luar tenda,Pelan sambil menjaga agar tidak kram aku bangun dan perdi ke pinggir danau untuk ambil uduk. Pemandangan danau yang berpadu dengan kabut cukup membuat ingin beristirahat lama-lama di Danau taman hidup ini. 

(H3) Taman Hidup - Bremi

Selesai sholat dan sarapan pagi jam 7 kami mulai jalan menuju Bremi. Aku berjalan dengan jago jago tua Joker,Torpedo dan Cilukbra,yang muda muda duluan didepan kami.

Dari Taman hidup harus berjalan kembali ke jalur yang sudah dilewati namun kali ini menuju ke jalur pendakian via Bremi.

Banyak sekali persimpangan di treck ini,jadi harus waspada jika bertemu persimpangan yang akan membawa kembali ke jalur pendakian via Baderan tadi. Perhatikan petunjuk jalur pendakian via Bremi yang sudah dipasang di persimpangan.

Kadang kadang ada persimpangan tapi kali ini pilihan jalan yang pendek dan curam atau jalan sedikit melambung namun datar. Aku lebih memilih jalan datar walau agak panjang terlihat juga jalan ini untuk jalan sepda motor. 

Jalan awal yang menanjak, akan disuguhi jalur trek berupa tanah padat yang terus menurun hingga ke hutan pohon damar mungkin kepunyaan perusahaan perhitani. Jika sampai di hutan pohon damar yang tersusun rapi ini, maka kita melewati kebun penduduk yang panjang,didaerah ini aku mulai bertemu dengan penduduk atau petani yang sedang berladang tomat dan cabe. Para petani tomat memgeluh dengan turunnya harga pasaran tomat. Yang jauh dibawah harga produksi sehingga mereka tidak mau membawa panen tomat tersebut ke pasar karena akan rugi menurut mereka. Ada diantara kami yang disuruh ambil saja tomat gratis itu

Disuatu shelter kayu kami cilukbra,Torpedo dan ari dan dua orang porter stirahat,nenas yang masih ada kami buka untuk dimakan. Lanjutkan jalan beberapa kilometer kami masuk hutan produksi yaitu kayu Balsa sejenis kayu untuk buat kertas. Masih di perkebunan Balsa kami melihat perkampungan,aku dan lainnya jadi bersemangat dan memper cepat jalan. Jam 11.30 kami sampai di taman Bermi eco park yang ada bendungan airnya. Beberapa kawan sudah selesai mandi,sekarang giliran kami untuk mandi. Hanya baju atas yang aku buka lalu aku langsung nyemplung ke air,airnya terasa dingin sekali kontras dengan udara luar yang agak panas. Badan terasa segar karena sudah mandi kami ngumpul di warung pak Usman di Bermi dan masing masing pesan nasi pecel dan gudeg dll.

Jam 13:59 kami meninggalkan Bermi menuju Probolinggo dengan mencarter mini bus suzuki carry.

Sore jam 15.45 Kami sampai di Probolinggo dirumah bapak yang akan membawa kami wisata ke pulau ketapang esok hari,Alhamdulillah kami dapat tumpangan gratis disini.. JOKER yg ada keperluan langsung menuju Surabaya.

(H4) Rabu 28 Agust 2019*

Jam 06:00 kami menuju pelabuhan utk nyebrang ke Gili Ketapang,ada empat orang muda yang gabung dengan kami. Cuaca cerah kami memasuki dermaga yang sepanjang dermaganya terlihat kapal kapal kayu ukuran 20ton.

Petugas kapal mempersilahkan kami naik dengan logat maduranya lalu kami semua naik kekapal,carrier semua dibawa ikut. Semua duduk di deck atas sehingga bisa menikmati pemandangan ke laut lepas,angin laut meniup kami dari depan dikejauhan kearah daratan jawa terlihat pegunungan yang saya belum tahu namanya. 

30mnt pelayaran akhirnya kami sampai di pulau Ketapang. Pantainya pasir putih dan bersih,sepertinya hanya rombongan kami saja pengunjungnya waktu itu. Kami istirahat di satu resort dan jalan keliling pulau melihat para nelayan sedang beraktivitas lalu kami persiapan untuk snorkling. Masing masing dipinjamkan masker untuk snorkling berikut live jacket. Kami semua ikut snorkling kecuali sakai. Sudah tidak ada karang karang dan tumbuhan laut yang hidup jadi tidak begitu menarik lagi didasarnya,tapi acara foto foto di dasar laut cukup menghibur kami waktu itu.

Selesai acara snorkling kami kembali ke darat mencicipi makan siang dengan ikan bakar segar dengan kecap pedasnya. Tradisi dari RH3 memberi nama pada anggota barunya kami lakukan pada virgin pak Muchdi dan mendapatkan nama bagus yaitu Savana Lonceng berasal dari nama daerah di argopuro yang pernah kami singgahi,nama tersebut disingkat "Salon"

Jam 10:30 kami meninggalkan gili Ketapang menuju pelabuhan probolinggo lalu dilanjutkan ke Surabaya mengantar PEMBOKER, SALON, WALET, dan SK ke bandara Juanda. 

Sholat di masjid bandara. Lanjut ke hotel Sahid Gubeng,hotel yang cukup ternama tapi sayangnya pelayanannya kurang bagus,kami minta handuk baru di kasih setelah ditelpon berulang ulang dan dua jam kemudian baru diberikan...huuh.

Dinner di RM Sederhana dekat hotel,menu desa dengan rasa lumayan eunak.Jalan2 ke Surabaya mall...


*Kamis 29 Agust 2019*

Pagi ini kami dijemput sahabat Torpedo yang domisili di Surabaya. Sarapan sate klopo yang baru kali ini aku coba,sate kacang dan ditaburi dengan parutan klopo atau kelapa rasanya pas sekali untuk lidahku. Waktu yang tersisa kami gunakan untuk visit jemb Suramadu,jembatan yang cukup panjang  dan tidak begitu ramai kendaraan sehingga kami bisa menikmati pemandangan laut dari jembatan di selat madura ini. 

Kami lanjut ke Kali Gentèng untuk beli oleh2 khas surabaya,dimasing masing toko umumnya menjual ikan bandeng yang sudah di presto aku membeli nya dua porong seharga Rp40ribu/pc.

Killing time menjelang ke bandara para tetua gunungers mengunjungi monumen Kapal selam Pasopati.Kembali ke hotel, sholat, check out, lunch di resto Sederhana, dan ke bandara. HERNIA, PARANORMAL, SAKAI PUTIH, NIS, TORPEDO ke Pku, dan CILUK BRA ke Jkt.

_XPDC Argopuro adjorned.._

Sampai jumpa di xpdc selanjutnya.

You are never too old for the new dreams...


1.Rahasia gunung Argopuro

1.Bismillah
Pertanyaan demi pertanyaan mengenai perjalanan begitu menggugahku untuk lebih dalam memahami dan menguak rahasia semesta raya ini.  Konon, setiap manusia ditakdirkan menjadi pengembara dalam hidupnya yang tak pernah berhenti pada satu titik perhentian.
Gunung Argapura menggelitikku untuk mendaki dan lebih mengenalnya meskipun hanya memiliki ketinggian sekitar 3.088 mdpl, namun jalur pendakiannya cukup panjang. Tak heran jika disebut trek pendakian terpanjang di Pulau Jawa yaitu sekitar 63 Km.
Gunung ini berada dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo, dengan puncak Rengganis ada di wilayah Kabupaten Jember. Di kawasan Puncak Rengganis konon menurut cerita masyarakat sekitar bermukim Dewi Rengganis, adik dari Nyi Roro Kidul.
Ikuti perjalanan ku.
24 Agus 2019 (H1)
Bandara juanda ke Basecamp Baderan.
Setelah menempuh penerbangan dari pekanbaru selama 2jam akhirnya Jam 09 pagi kami sampai di bandara Juanda Surabaya.

Aku dan tiga teman lainnya dari Pekanbaru,Parno, Sakai dan Hernia berjalan santai keluar terminal sambil mendorong trolly berisi carrier yang akan kami bawa dalam xpdc ini.
Bandara Juanda yang rapi dan bersih dipadati pengunjung,udara terasa sedikit panas mungkin karena aku baru turun dari pesawat yang cukup dingin.
Kami bergabung lagi dengan rombongan dari jakarta,Eka, Muchdi, sikumbang,cilukbra dan pak Muchdi kemudian satu orang pendaki wanita yaitu Wallet yang datang dari solo.
Jam 12 siang rombongan yang berjumlah 12 orang menuju basecamp pendakian yaitu desa Baderan kecamatan sumbermalang kabupaten Situbondo. Mobil hiace yang cukup nyaman membawa kami melewati kota situbondo,Besuki kemudian masuk ke barat melewati desa desa kecil di gugusan pegunungan.

Dalam perjalanan aku sangat menikmati Keindahan alam pegunungan serta desa desa kecil yang kami lewati,hingga tak terasa jam 19.00 sore kami sampai di desa Barderan. Ari seorang Guide yang akan memandu kami sudah menyongsong kedatangan rombongan ini. Dalam kegelapan malam dan suhu dingin pegunungan kami turun dari bus lalu menuju basecamp ukuran 6x6meter yang terletak di pinggir jalan yang menanjak.
Ada beberapa rumah penduduk disekitarnya terlihat dengan penerangan listrik yang temaram,dan tidak aku lihat penduduk diluar waktu itu.
Ari Guide memberi tahuku bahwa tidak jauh kearah atas tanjakan ada Surau lalu kami coba berjalan kearah tanjakan jalan dengan beberapa kawan yang akan sholat. Dari satu surau kecil kami mendengar lantunan ayat ayat suci Alquran dari anak anak desa. Dua orang guru mengaji laki laki separuh baya menyimak bacaan muridnya  bergiliran. Sungguh suasana ini mengingatkanku kehidupan masa kecil didesaku dulu,namun sejak adanya media telivisi keluarga keluarga mengabaikan tradisi mengaji sehabis magrib itu. Malam ini kami yang laki laki tidur di posko dengan menggelar matras dan dua orang pendaki putri Walet dan Ayu dapat tumpangan di rumah petugas perhutani.
Agak sulit mataku terpejam,sewaktu hampir tertidur bantal tiupku meletup bocor setelah itu sulit tidur,tengah malam suhu udara melorot dingin dan sleeping bag terpaksa aku keluarkan,terasa sedikit nyaman hingga dibangunkan azan subuh berkumandang lalu buru buru ke surau.

25 agus Ahad, (H2)
Basecamp Baderan ke Cisentor  camping ground 9 jam.

Guide mengumpulkan kartu identitas kami untuk petugas perhutani lalu sedikit briefing dan berdoa maka Jam 6.30 pagi 12 orang pendaki diantaranya ada dua wanita diantar naik motor sampai portal Rimba sejauh 4.2km.
Aku duduk dibelakang pengemudi dengan ransel kecil dipunggung dan dua matras ditangan,mas Ahmad 25thn sang pengemudi ojek mengempit ransel 60literku dengan kakinya. jalan tanah yang rusak,hampir sepanjang jalan ada alur alur aliran air sedalam hampir 30cm,sehingga jalan motor harus selalu mengikuti alur ini atau sepeda motor bisa jatuh. Rasanya jalan ini tidak layak untuk pakai sepeda motor tapi hal ini tetap dilakukan untuk menyingkat waktu ke pintu rimba.
Motor melaju meraung menembus kesunyian hutan pegunungan Argopuro,masing ojek lari kencang ingin mendahului untuk mengelakan semburan debu dari kendaraan didepan.
Debu beterbangan memaksa aku sekali kali menahan nafas.
Perasaanku yang tadinya tenang sekarang nyaliku terasa ciut melihat tanjakan yang terjal,pengemudi menggeber gas yang dalam agar motor mampu naik tanjakan sekaligus mampu mengendalikan motor dijalur yang berlobang lobang.
Aku bertanya pada Ahmad apakah aku perlu turun ditanjakan ini,dengan santai Ahmad menjawan dengan logat maduranya "nang tenang saja pak,biasa ini pak". Diturunan sepeda motornya kembali laju meliuk dijalur tanah berdebu tersebut. Dikejauhan aku melihat satu tanjakan menjulang,aku cari akal agar bisa turun dari sepeda motor lalu beritahu Ahmad agar Aku turun dulu mau ambil video dan dia naik duluan keatas. Perasaanku lega bisa turun di tanjakan "gila"tersebut,Ahmad melesat keatas meliuk kiri kanan tanpa penumpang,aku menyusul jalan kaki pelan terengah engah. Apabila ada ojek Yang akan berpapasan dari arah berlawanan kami mencari tempat lapang.

Setelah keluar masuk jalan sempit selebar 0.8 meter yang pas untuk satu motor kami sampai di Pintu Rimba/Makadam jam 8.30 pagi. Perasaanku terasa lega bisa lolos dari ancaman jatuh dimotor atau lutut tersrempet tebing pinggir jalan namun dari Hernia aku ketahui dia sempat jatuh dari motor dan Alhamdulillah tidak ada yang cidera.
Mulai dari pintu masuk ini sepeda motor tidak diizinkan masuk kehutan dan Kami mulai murni berjalan kaki sini.
Dari Pintu masuk/Makadam kami berjalan kaki menuju Mata Air I/ KM 4,2 (2jam)
Jalan sedikit licin dan ilalang menjulang tinggi. Pada perjalanan aku perhatikan banyak tumbuhan gatal dan berduri. 
Pos Mata Air 1 kita bisa camping menampung 3-5 tenda. Di sini juga terdapat sumber air tapi kami tetap lanjutkan perjalanan.

Mata Air I – Mata Air II (2jam)
Perjalanan selanjutnya agak santai dan mudah. Kita akan berjalan menyusuri punggung bukit naik dan turun dengan dikelilingi vegetasi rumput ilalang.
Matahari mulai menyengat kulit namun semua ini terbayar dengan kecerahan udara dan langit membiru.
Awan putih menutupi beberapa bagian kaki bukit,aku menghirup udara segar pegunungan yang selalu menggodaku untuk datang.
Kami berjalan beriringan dengan semangat seperti serdadu yang siap tempur.
Suasana yang berbeda dengan gunung lain saya rasakan saat mendekati Pos Mata Air 2. Kanan kiri adalah jurang dengan pepohonan yang rindang namun tidak terlalu lebat. Mataku mulai tidak fokus dengan jalur, melihat ke kanan dan ke kiri sampai kaki terantuk-antuk rerumputan.
Rombongan mulai terpecah menjadi beberapa kelompok,Sakai, Sikumbang,Parno,walet dan Torpedo melaju didepan sementara aku Cilukbra di tengah dan joker,Pemboker,Ayu dan Salon berada di rombongan belakangan.
Ari dan yuda guide kami berjalan mengapit rombongan dari depan dan belakang. Beberapa padang savana sudah terlewati
Langkah kaki kami mulai mengecil menapak jalan jalan kecil selebar 30cm dan berlekuk kedalam sehingga kadang bisa membuat kaki tertekuk sewaktu menapakannya.
Pos Mata Air II ini kita juga bisa menjumpai sumber air
Mata Air II – Cikasur (1jam)
Perjalanan menuju Cikasur adalah perjalanan yang akan sangat menyenangkan. Kita akan berjalan melewati savana yang luas.
Harapanku saat itu ingin melihat burung merak atau macan kumbang. Mataku awas melihat ke hutan kalau beruntung bisa melihat hewan tersebut dialam liar,namun yang aku temukan hanya rontokan bulu bulu burung yang aku kurang pasti jenisnya. Sekali kali aku dengar bunyi merak merak di hutan. Beberapa saat aku melihat jurang yang dibawahnya  dialiri air sungai yang jernih dan diseberang jurang sana ada savana yang luas dan terlihat dikejauhan kawanku yang sedang berjalan di savana. Salon yang berjalan ber-iringan denganku turun kejurang sungai mengambil air minum,ada keinginanku untuk turun juga mengambil air minum tapi rasa capek dan panas yang menyengat aku urungkan niat tersebut dan aku lanjut mengikuti jalan datar menuju savana. Ini lah savana Cikasur yang luas.
Di padang rumput ini ada bangunan yang sudah runtuh dan konon kabarnya dulu disini lapangan terbang yang sudah tidak beroperasi lagi, dan dibangun sejak tahun 1940 oleh AJM Ledeboer sebagai kegiatan pembudidayaan rusa yang di datangkan dari luar negeri,cerita lainnya untuk pembangunan lapangan terbang ini dilakukan oleh penduduk lokal lalu mereka dibunuh agar lapangan terbang tersebut bisa dirahasiakan penjajah belanda.
Kami istirahat dibawah pohon besar yang rindang ditengah savana ini,selesai makan siang dan sholat dzuhur,kami melanjutkan perjalan menuju Cisentor.
Cikasur - Cisentor
Ditengah  savana Cikasur ada petunjuk jalan  ke arah kanan menuju Cisentor. Trek tidak terlalu menanjak dan hanya melintasi bukit dengan savana yang rapat sebelum masuk ke dalam hutan yang tidak terlalu rapat. Kemudian kami  mendaki dua bukit yang banyak terdapat pohon pinus bekas kebakaran terlihat menghitam dibagian bawahnya namun tetap hidup.
Aku berjalan bertiga beriringan dengan Torpedo dan Parno,diperjalanan terlihat beberapa monyet yang memperhatikan kami dan bunyi ayam hutan terdengar dikejauhan.
Disuatu lereng bukit yang penuh belukar,parno terkena jelatang atau di jawa timur menyebut tumbuhan Jiancuk,apabila kena kulit akan terasa perih sekali.
Setelah sampai di puncak bukit, aku menyusuri lereng gunung di sisi jurang yang sangat dalam. Sampai di ujung bukit, harus menuruni tebing yang curam dan licin,akhirnya sampai di sungai yang jernih,lebih Keatas sedikit ada shelter dari kayu. Akhirnya sampai cisentor 2050 mdpl jam 15.35  dengan waktu tempuh 9jam.
Cisentor tempat yang cocok untuk mendirikan tenda karena ada sumber air dan tempat bermalam yang teduh. Terdapat juga shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat maupun bermalam sebelum melanjutkan pendakian Gunung Argopuro selanjutnya. Kami mendirikan lima tenda dekat shelter dan logistik ditempatkan di shelter sekalian tempat memasak. Sebelum magrib aku buru buru mandi disungai,mandi "pisang goreng" rasanya lebih afdol karena tempat nya tersembunyi. Begitu masuk air Subhanallah.... terasa seperti mandi dengan air es,aku buru buru pakai sabun dan berendam lagi,terasa agak hangat kalau berendam tapi begitu keluar dinginnya bukan main apalagi ditiup angin makin menggigil badan ini.
Magrib terasa makin dingin tapi kami tetap sholat jemaah di luar tenda,sambil menunggu makan malam ,Torpedo memberikan tausiah pendek. Makan malam kami ngumpul dishelter dan disuguhi sup Rawon tak lupa kerupuk palembang dan cemilan menjelang tidur pisang goreng. Satu persatu kawan kawan masuk tenda karena tidak tahan rasa dingin malam. (bersambung)

Sunday, December 23, 2018

9.Jelajah eropa "Ottoman empire"



Selesai sholat subuh,aku rebus air untuk membuat kopi,sayangnya tidak bisa membuat supermie karena air kami tinggal masing masing setengah botol untuk persiapan di jalan  nanti,aku berharp temukan sumber air atau ada perkampungan ntuk kami beli atau minta air nanti..
Jam 8 pagi tanggal 30 oktober sepeda kami mulai bergulir dan langsung menanjak di perbukitan Balkan ini kemudian kami sampai di puncak tanjakan di daerah Gutsal,disini kami temukan sumber air minum penduduk yang mengalir terus dan botol botol minum kami isi penuh lagi. Kami melewati daerah pertanian yang agak luas tapi umumnya tanaman nya tidak ada kemungkinan sudah dipanen karena mau masuk musim dingin. Pernah juga aku melihat ladang ladang yang terbakar mungkin daerah ini sudah lama tidak hujan. Suatu kali desa Borovet aku bertemu kereta kuda dengan dua orang penumpang dan kusir sepertinya suami istri petani,lalu aku memotret mereka dan mereka berhenti lalu minta uang sambil beri isyarat seperti  jari menghitung uang lalu memberi tahu juga bahwa kudanya belum makan,aku kasih mereka 2lev,tapi mereka minta tambah lagi ke Joker seperti memaksa,aku datangi mereka lalu aku katakan No...keras mereka diam lalu kami buru buru berangkat. Jalan yang mulus dan rata ditambah matahari yang cerah kami lebih semangat mengayuhnya,mobil mobil truck yang besar terasa agak mengerikan karena sedotan anginnya.
Di perjalan 40km sebelum Plovdiv kami bertemu dengan Taku san seorang pesepeda Tokio Jepang yang sedang menuju Sofia dari arah Istambul,kami berhenti dan ngobrol berbagi pengalaman dengan dia yang sudah berkelana selama setahun lebih di berbagai negara.Kami sampai di Plovdiv pada jam 17 sore setelah menempuh perjalanan sejauh 107km. Di kota Plovdiv kami mencari hotel murah melalui google map,selagi buka aplikasi lalu datang seorang nenek melongok longok kami sedang lihat internet,aku sa pa ibu tersebut sambil bertanya dimana ada hotel yang murah didaerah ini,lalu dengan sigap dia ajak kami sejauh 1km menunjukan hotel Nicolas,setalah itu sang nenek langsung oergi tinggalkan kami.
Kami masuk hotel dengan rate €luv35 semalam,Alhamdulillah disini kami bisa sedikit memanjakan badan dan berkomunikasi internet serta men-charge semua electronic.
Sampai ketemu perjalanan esok hari..
salam dari Plovdiv...
Rabu 31 oktober.
Tidur di hotel pakai penghangat ruangan dan kasur empuk dengan selimut tebal tapi semua ini bukan jaminan mata ku langsung tertidur nyenyak. Semua pakaian kotor aku cuci pakai shampo lalu aku jemur di pemanas ruangan agar besok pagi bisa kering. Semua catatan hari ini aku tulis hingga aku ketiduran sampai alarm berbunyi tanda subuh.
Kami siap untuk berangkat dan sewaktu joker akan membayar hotel terjadi sedikit ketegangan mengenai currency pembayaran yang menurut kami seharga 35 Luv tapi ternyata menurut receptionist currencynya euro.35 uero atau sama dengan 70luv.
Kami jadi kaget mendengarnya,Memang saat kami check in kami tanya harga petugas mengatakan 35 dan waktu itu kami beranggapan sudah pasti dalam currency Luv tau uang lokal,sayangnya waktu itu kami tidak minta invoice,jadi aku coba telpon pak Aqsa di kbri Sofia minta arahannya. Beliau mencek hotel tersebut melalui internet ternyata memang harga kamarnya 70luv atau sama dengan 35 uero. Kami harus berbesar hati membayar senilai 35uero karena ini adalah ketidak telitian kami minta invoice untuk memastikan sebelum menginap. Satu pembelajaran yang cukup berharga bagi kami yang jarang masuk hotel selama di Eropa. Sepertinya kami lebih nyaman camping dari pada kecelakaan seperti diatas.
Makan pagi kami beli kebab di restoran sebelah,kebab yang besar bisa untuk  dua kali makan pagi dan siang.
Jam 9.30 kami meninggalkan kota Plovdiv dan menuju kearah selatan melewati kota kota kecil Askovo,Porfermay dll. Dibeberapa daerah kami melihat disepanjang jalan ada pedagang buah buahan dan sayuran. Aku beli empat biji apple seharga luv1.50. Jalan umumnya datar dan udaranya cukup panas yaitu 18c. Di sebuah desa Sadovo aku istirahat dan berencana beli kopi pakai koin di mesin. Selagi aku mengamati mesin mencari caranya,tiba tiba datang ibu penunggu toko setengah baya dengan tato dipangkal lengannya lalu menanyakan dalam bahasa inggris"apakah kamu mau kopi?" aku jawab "iya dan berapa harganya?" Lalu ibu tersebut mengatakan "no problem,saya akan buatkan untukmu" Alhamdulillah tuhan menuntunku kesini rupanya untuk memberi aku kopi gratis,lalu hp aku keluarkan untuk melihat google map kembali ibu tadi mengatakan "disini ada wifi kalau kamu mau" masyaAllah...rejeki lagi,ini yang aku cari karena pulsa internetku sudah nol tidak berfungsi lagi sejak dari sofia dulu.
Tidak lama kemudian joker datang dan ibu tadi menghampiri joker menanyakan "mau dibuatkan kopi juga" joker menanyakan "harga kopi berapa?" ibu tadi kembali menyatakan "No problem" kemudian kami ngopi dan berinternet ria disitu hampir setengah jam,terakhir joker melihat lihat ketokonya lalu membeli bibit bawang panjang satu kotak,tak lama kemudian ibu tadi mendatangi kami lalu mengasih kami satu saset bibit cabe besar merah katanya ini hadiah untuk kami nanti ditanam di indonesia. Akhirnya kami pamitan dengan malaikat penolong bertato tersebut.
Siang di daerah Parvomay setelah berjalan sejauh 60km diudara cukup panas hingga persediaan air minumku mulai menipis tinggal setengah botol,aku berhenti di suatu rumah warung tapi tak terlihat penghuninya aku coba menyapa penghuninya"good morning" sampai dua kali lalu datang nenek nenek berbahasa lokal yang tidak aku mengerti,aku menunjukan botol air sambil mengatakan "i need drink water" si nenek dengan senang hati mengambil botol air yang akan diisikannya,sambil ngomong lokal dia mengembalikan botol air yang sudah diisi kemudian aku ucapkan terimakasi dan permisi tapi dia menahanku,sambil menyuruh aku menunggu dia masuk dapur dan sewaktu keluar dia membawa telor ayam yang sudah direbus dan masih hangat kemudian diberikan ketanganku,sambil ngomong mengangkat kedua tangannya seperti orang bersepeda,aku menebak dia mengatakan kamu makan telor ini agar kuat bersepeda.aku mengatakan aku akan ke Turkey dia sepertinya mengerti sambil memelototkan mata kekagumannya karena aku sedang berjalan jauh. Hari ini rasanya penuh dengan pengalaman suka dan duka. Aku kayuh sepeda secepatnya karena joker sudah terlalu jauh meninggalkanku,akhirnya di daerah Klokotnitsa sekitar 82km lagi menjelang border kami berhenti untuk mencari air minum,terlihat disekitar hanya ada satu perkantoran lalu kami datangi untuk minta air,didaerah Bulgaria sama juga seperti eropah barat yaitu air kran boleh diminum. Kami disambut suka cita oleh pekerja yang ada disitu setelah air dibotol kami dipenuhkan lalu mereka minta foto bersama..kali ini kami jadi celebrities..hehe. Setelah beberapa pertanyaan standard yaitu menanyakan asal kami dari mana  mau kemana dan sudah berapa lama dijalan lalu mereka menanyakan nginap dimana dan kami jawab mau cari tempat camping,lalu mereka menawarkan kalau mau boleh camping dekat sungai kecil itu kami amati tempatnya cukup bagus,aman dan dekat sungai kecil. Kami lamgsung pasang tenda ditempat yang menjanjikan ini. Salam sampai besok pagi.
Kamis 1november 2018
Sehabis sarapan dan bereskan semua peralatan camping kami pamitan pada penjaga bengkel tempat kami camping. Jam 08pagi udara cerah dan tidak terlalu dingin,sepedakami kayuh lagi kearah selatan yaitu ke kota Kapitan Andrevo,jalan relatif datar dan ada kalanya sedikit mendaki,beberapa kilometer sebelum masuk daerah Harmanli jalan kurang mulus karena tonjolan tonjolan kerikil namun beraspal.
Di Podkrepa ada sebuah tanjakan aku lihat beberapa mobil militer sedang parkir,aku berhenti juga disitu lalu bertanya apakah ada masyaallah? Komandannya yang terlihat berbintang satu mengatakan,kami sedang kumpul disini untu berangkat latihan. Masuk kota Harmanli kami mampir ke toko makanan dipinggir jalan dan menanyakan daging yang adaternyata semua terdiri dari babi. Alu hanya bisa beli fanta disitu dan nongkrong lama karena ada free wifi nya.  Jam 17sore pada posisi 9km sebelum masuk kota endrovo kami cari tempat camping dan ditemukan di samping kebun petani namun tidak satupun orang disekitar itu daerah dekat bypass dan pertanian yaitu Generalovo.
Jumat 02 november 2018.
Udara Turkie mulai terasa tidak terlalu dingin sebagaimana sebelumnya di balkan,tidur di camping tadi malam teras hangat. Selesai masak air panas untuk kopi dan sereal jam 08 pagi kami berkemas dan berangkat menuju Kapikulle perbatasan Bulgaria Turkie. Kami telusuri jalan pertanian searah dengan highway sebelah kiri,dua km berikutnya kami masuk ke Highway Kapitan andreevo,tadinya aku agak sangsi masuk highway ini tapi terlihat di Google map tidak ada jalan lain menuju border. Sepeda kami pacu sejauh 3.5km terlihat speed sampai 50kph sebentar sebentar terdengar desingan mobil mendahului kami,dua km menjelang border terlihat parkiran deretan mobil treiller disepanjang kiri jalan,kami terus bergerak melewati mobil mobil parkir yang sedang menunggu checking imigrasi di border Bulgaria,kadang kala kami masuk diantara sela sela antrian mobil yang panjang sekali,kami jadi tontonan para supir yang antri diantara mereka ada yang acungkan jempol dan ada yang bertanya dari mana sambil jalan aku jawab "Indonesia" mereka jawanb "Good"
Sampai di check point immigrasi Bulgaria kami ikut antrian penumpang Bus,sambil menuntun Sepeda yang mengibarkan merah putih dibelakangnya,moment yang mengharukan bagiku merah putih tetap berkibar sampai saat ini Allah mengabulkan mimpiku bersepda dari Berlin ke Turkie. Tiba tiba lamunanku buyar,aku dan Joker  yang berdiri paling belakang antrian dipanggil petugas immigrasi bulgaria,naah...ada apa ini,??Alhamdulillah petugas immigrasi yang cantik dan ramah itu mendahulukan kami sambil menanya "dari mana" aku jawab "dari Indonesia" matanya terbelalak kaget,sambil mencap pasport kami berdua. Masuk zona netral kami foto foto dulu lalu terus ke check in immigrasi Turkie dan antri di mobil biasa,kembali erlihat muka yang ramah dari petugas immigrasi Turkie,sambil mereka  berucap..Alhamdulillah from Indonesia.. Welcome  to Turkie Brother..!!.
Assalamualaikum Turkie,Negara para pejuang Muslim,sebelum melanjutkan perjalanan ke Istambul kami sholat jumat dulu di border Kapikulle.

8.Jelajah eropa "the capital european culture "




Bismillah


26 Oktober 2018.Kami sampai di Sofia hari jumat masuk kota langsung menuju masjid Turkey,sholatnya sama seperti di indonesia. 
Karena di sofia juga dari aliran sunni bertemu beberapa saudara seiman rasanya membesarkan hati setelah beberapa lama di eropa jarang bertemu masjid dan umat muslim. 
Ibu dubes astari Rasyid kebetulan saat itu sedang pulang ke indonesia jadi kami brtemu dengan wakil dubes saja.,seandainya bertemu dubes tentu ceritanya akan panjang lagi karena beliau adalah istri presiden direktur pt.cpi tempat kami bekerja dulu. Kami berencana dua hari di sofia untuk istirahat dan jalan jalan ke kota dan ke Plovdiv.

27 Oktober 2018

Sepeda kami parkir dulu di KBRI Sofia dan kita akan blusukan jalan kaki di kota Sofia. Kota Sofia berumur lebih dari 5000 tahun,Sofia menjadi kota tertua kedua di Eropa setelah Plovdiv. 
Awalnya Kota Sofia bernama Serdika. Nama ini merupakan pemberian  dari Suku Thracian pada 800 tahun sebelum Masehi. 
Nama Sofia baru dipakai pada abad ke-14. Beberapa gedung-gedung tua berumur ratusan tahun masih kokoh berdiri. Pusat kota Sofia masih ramah bagi pejalan kaki. Destinasi wisata utamanya letaknya relatif berdekatan. Jika memilih penginapan di jantung kota, kita bisa jalan kaki ke mana-mana.

Ibu kota Bulgaria berada di kaki Pegunungan Vitosha. Di hari cerah, kita bisa menyaksikan gunung ini menjulang gagah di kejauhan. 
Pegunungan tersebut juga menjadi destinasi wisata ski di musim dingin. Ibu kota negeri ini terlihat elagan dan kosmopolitan. Istirahat kami hari pertama di Sofia kami gunakan untuk explore kota Sofia,Kebetulan hari Sabtu libur jadi kami bisa ditemani pak endi zulham Tobing dari KBRI sofia kami naik bus satu kali kemudian jalan menuju pusat kota. Jam 10 pagi udara masih terasa dingin matahari sedikit menghangatkan tubuh.

Untuk berkeliling Kota Sofia sembari melihat situasi kota kami bergabung dengan Free Sofia Tour yang disediakan oleh pemerintah setempat lengkap dengan fasilitas tour guide gratis. 
Kami sampai di bulevard "Knyaginya Maria Luiza, Sofia central market hall,disebelah utara berdiri masjid Banya Bashi yang dibangun pada abad ke 15 sewaktu Turkie Ottoman berkuasa dan arah barat berdiri Sinagog tempat ibadah Jahudi dan di bawah bagian selatan terdapat situs kota peninggalan yunani kuno. 
Di Svetka betka Beberapa kelompok turis dengan satu orang tour guide terlihat mendengar keterangan dari masing masing Tour guide tentang kota kuno,kami bergabung dengan salah satu kelompok dan ikut mendengar keterangan tentang situs kota yunani kuno tersebut dan sewaktu penggalaian bagian dari terowongan kereta metronya ditemukan juga puing puing kota kuno seakan akan kota sofia ini berada diatas puing kota kuno tersebut.


Kemudian tour guide mengajak rombongannya kearah masjid Banya Bashi peninggalan Turkie Ottoman dan sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Muslim di Sofia,di belakang masjid terdapat Hammam yaitu tempat permandian air panas para bangsawan Turkie zaman dulu tapi sekarang fungsinya sudah berobah jadi museum tapi didepan bangunannya masih ada kran air panas bumi tempat cuci tangan,aku sempat merasakan panas air tersebut yang cukup panas untuk mandi di udara sedingin saat itu. 
Kami berlima indonesia ikut menjejalah jalur khusus pedestrian berama rombongan dan tour guide di Jalan Vitosha. Sebuah shopping street yang sangat ramai. Bahkan pada hari- hari biasa, ia selalu sibuk oleh para pejalan kaki. Baik warga lokal mau pun turis.

Pedestrian Jalan Vitosha sangat lebar, sekitar 20 meter. Di kedua sisinya berdiri toko-toko berbentuk mirip ruko berlantai lima namun berdekorasi klasik. Lantai dasar dimanfaatkan sebagai tempat usaha seperti toko, kantor atau rumah makan. Lantai atasnya berfungsi sebagai apartemen. Di depan toko berderet pepohonan rindang. Sekali kali ada pemusik jalanan sedang asyik memetik gitar sembari menyanyi daerah kadang mirip irama timur tengah ditelingaku. Pada jam makan, banyak orang memenuhi bangku-bangku kafe atau rumah makan yang tertata di pinggir pedestrian.



Di pusat kota, saya menemukan toko-toko unik. Toko atau tempat usaha yang sebagian menempati ruang bawah tanah. Ada toko kelontong, penjual rokok, pengrajin sepatu, tukang kunci, dan sebagainya. Ada jendela kecil tempat penjual di dalamnya dan pembeli bertransaksi. Karena letak jendela tersebut relatif rendah, orang harus jongkok saat bertransaksi. Toko semacam ini disebut sebagai klekshop atau toko jongkok. Salah satu contoh arsitektur komunisme di Sofia adalah Gedung Partai yang berada di Neza visimost square, tidak jauh dari Patung St Sofia. Berhadapan dengan Istana Kepresi denan. Berdiri sejak 1954, bangunan gagah ini dulunya menjadi pusat kegiatan Partai Komunis. Secara keseluruhan, ia berbentuk seperti huruf V. Bagian depan gedung memiliki pilar-pilar tinggi dan menara.

Sofia memiliki taman-taman kota yang apik dan rapi. Cocok untuk tempat refreshing warga kota mau pun turis, kami sempat mampir ke Taman Zaimov yang berseberangan dengan halte bus bandara berada di pinggir taman ini.Nama taman ini berasal dari nama Jenderal Vladimir Zaimov. Di sini orang bisa mendapatkan wifi keliling taman dibanding berselancar di dunia maya. Sebuah taman berhias patung-patung dan aneka karya seni pahat. Bangku-bangku tamannya banyak. Ada fasilitas fitness, tempat main skate board Dan lainnya. Di salah satu ujung taman, saya melihat salah satu monumen. Relief di dindingnya menggambarkan serdadu perang. Tamannya bersih. Meski tak luput dari penggemar grafiti.

Katedral Aleksandr Nevski ,Agama Kristen Ortodoks dianut sebagian besar warga Bulgaria. Di Sofia tentunya tak susah kita temukan gereja mereka. Gereja yang kubahnya mirip masjid. Di ujung jalan Vitosha, kami langsung melihat katedral megah Sveta Nedelya. Hanya berpuluh meter dari situ, berdiri Gereja Sveta Petka. Katedral terbesar di Bulgaria, yang juga merupakan salah satu gereja ortodoks terbesar di dunia adalah Katedral Aleksandr Nevski (Chram-pametnik Aleksandr Nevski). Letak gereja ini di Aleksandr Nevski Square, pusat Kota Sofia.Didaerah ini rombongan yang ikut tour guide bubar dan beberapa orang memberikan tip sukarela pada tour guide yang ramah tersebut.

Sebelum masuk kompleks katedral, kami bertemu taman penuh patung. Di sekitarnya banyak warga lokal membuka lapak barang bekas. Barang dagangan mereka pajang di atas meja-meja. Sebagian pedagang itu mendirikan tenda. Pasar loak kecil ini buka setiap hari. Jika jeli dan pandai menawar, orang bisa mendapatkan barang antik di sini. Banyak diantaranya dijual barang barang pernik pernik peninggalan komunis uni soviet dan peninggalan Nazi jerman yang bagi kita orang indonesia masih terasa trauma dan alergi melihat lambang palu arit tersebut. Katedral Alexander Nevsky merupakan salah satu destinasi utama Sofia. Baik bagi para penganut Kristiani, serta para turis. Ia dibangun pada 1882 -1924. Rumah ibadah ini terlihat sangat jangkung.

Kubah-kubah utamanya berwarna keemasan. Bagian atap lainnya berwarna biru sedangkan dindingnya dari batu berwarna terang. Lukisan- lukisan ikon bisa kita lihat di atas pintu-pintu. Sementara dinding koridor depannya berhiaskan fresko. Suasana temaram dan mistis terasa menyapa ketika kita memasukinya hal ini mengingatkanku pada film horor pangeran Dracula. Semua gereja ortodoks yang kami singgahi selama di Bulgaria, memasang tanda larangan memotret atau mengambil video di bagian dalamnya. Terdapat rungan kecil penjual lilin bagi mereka yang hendak berdoa. Pintu kedua membawa kami menuju bagian inti gereja. Dinding dan bagian dalam kubah tertutup aneka lukisan dinding. Kisah-kisah dari Injil. Seperti banyak gereja ortodoks lainnya, katedral ini memiliki pahatan dan ukiran dari batu marmer dan kayu yang memiliki motif tertentu.

Capek jalan seharian kami mencicipi kopi Bulgaria di sebuah cafe di daerah vitosa yang jadi pusat keramaian malam dengan aneka street performance,rasa pegal berjalan seharian rasanya sudah impas dengan pengalaman baru yang didapatkan...Subhanallah

28 Oktober 2018

Kami berjalan di Sekitar Kota Tua Plovdiv bersama sahabatku dari KBRI Sofia bapak Acha Anshari Acha,bapak Endy Zulham Tobing bapak Fadi. Sepanjang Pedestrian Street jalan pejalan kaki utama Knyaz Aleksander I atau Aleksander Batenberg Street berjalan sejauh 1 km dari utara ke selatan, melewati pusat kota tidak secara teknis “kota tua” tetapi dekat dengan itu. Rasanya aku betah berjalan-jalan di sepanjang jalan ini selama berjam-jam. Jalan khas eropa kuno ditutupi susunan batu gunung hitam dengan ukuran yang sama dan mengkilat rapat serta terlihat kokoh walaupun kalau dilewati mobil terasa bergetar,terbayang bunyi derap kereta kuda benhur,bersama prajurit berkudanya sedang menuju amfiteater. Ada banyak toko yang menjual semuanya, mulai dari sepatu bot hingga botol anggur, dan ada juga beberapa kafe besar dengan meja yang tumpah ke jalan.

Sebagian besar bangunan di sepanjang Knyaz Aleksander dibangun pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20 dan sementara banyak contoh terbaik arsitektur telah diubah menjadi pusat perbelanjaan, mereka masih cantik dari luar,warna bangunan didominasi warna coklat.Plovdiv adalah kota tertua ke-6 di dunia dan merupakan kota terbesar kedua di Bulgaria setelah Sofia. Kota ini awalnya merupakan pemukiman Neolitik dari Thracian kembali 4.000 SM dan telah diduduki sejak saat itu, menjadikannya kota tertua yang dihuni terus menerus di seluruh Eropa.


Sejarah yang luar biasa kaya ini telah memberi Plovdiv salah satu kota tua yang paling menawan di Eropa Timur. Batu-batu besar menghantam jalanan, membuat foto-foto yang menakjubkan,termasuk foto kami dengan spanduk promosi kami "visit for your next journey Riau Indonesia" semua mata memandang kearah kami dan ada juga turis asing yang mengabadikannya,hingga petugas memberi tahu kami bahwa waktunya sudah habis.

Bagian-bagian dari tembok kuno masih dapat ditemukan di daerah-daerah tertentu di kota dan ada amfiteater Romawi yang spektakuler yang memerintahkan tebing yang menghadap ke lingkungan Kapana dan bagian kota yang lebih modern.

Beberapa tempat menarik selain yang saya cantumkan di atas termasuk Museum Etnografi, Gerbang Timur ke kota, dan Asimetris House hanya saja kami tidak cukup waktu untuk kesitu.

Sholat dzuhur kami mampir ke masjid jamik Turkie yang berada dekat amfiteater yang dibuat pada waktu kesultanan Ottoman menguasai Bulgaria.



Bismillah.

29 Oktober 2018.Satu hal yang tidak aku sukai dalam satu pengembaraan adalah perpisahan dengan orang orang yang telah banyak berbuat baik untukku,tapi bagaimanapun juga perjalanan ini harus berlanjut,pada hari ini aku hanya bisa berdoa semoga saudara saudaraku di Sofia Bulgaria khususnya KBRI senantiasa dilimpahi BerkahNya dan semoga Allah pertemukan kita lagi dalam RahmatNya...aamiin.

Waktu visa schangen kami yang hanya tinggal 8hari lagi harus bisa kami gunakan untuk keluar dari negri Balkan Bulgaria sebelum tanggal 5November,jarak dari Sofia ke perbatasan Turkie di Kapikule sejauh 325km. 

Kontur jalan Sofia ke Kapikule melewati pegunungan Balkan dan melalui lembah mawar akan memperlambat kami.

Keluar dari kota sofia kami masuk ke route timur,dua puluh km pertama jalan masih datar dan kami juga bisa menikmati keindahan danau Iskar dan lebih keselatan lagi mulai terasa tanjakan demi tanjakan sudah tidak ada lagi perkampungan yang kami temui. 
Matahari terlihat cerah namun dibawah pohon pohon hutan yang kami lewati terasa sekali dinginnya,topi kupluk penutup kepala dan telinga penangkar dingin tak pernah tanggal dari kepalaku,disetiap lembah yang kami lewati terdapat kampung kampung yang hanya terdiri dari beberapa rumah yang terlihat usang dan jarang terlihat orang dijalanan ini menjadikan aku ingat film dr chivago di tahun 80an yang bercerita peperangan di Balkan dengan shooting panorama khas balkan. Jam 16.30 sore kami masih berada di lembah yang tidak ada perkampungan apalagi penduduknya.


Aku yang berada didepan joker sekitar 500meter berusaha mencari spot yang aman dan nyaman untuk camping dan tidur malam itu. Kami masuk ke jalan menanjak arah sutet dengan jarak kira kira 100meter dari jalan raya disitu agak tersembunyi dan tidak banyak angin lalu kami pasang tenda. 

Suhu Udara mulai terasa dingin 8c,roti kebab yang dibekali tadi pagi jadi makanan malam kami. Tidak ada intrnet dan tidak ada bunyi kendaraan,sunyi sepi,hanya bunyi jangkrik dan sekali kali terdengar bunyi listrik sutet yang berdesir diatas tenda kami. Udara yang dingin membuat aku buru buru masuk kekantong tidur,hingga terbangun oleh kicau burung sebelum subuh jam 06.00 pagi.