Pages

Sunday, December 11, 2016

Bertualang sepeda ke Talago Gunuang

Tawaran teman untuk ikut acara Bike camping yang diadakan oleh komunitas MTB Combat di desa Talago Gunuang langsung aku iyakan walaupun aku baru istirahat 2minggu setelah perjalanan sepeda yang melelahkan di Kalimantan.
Kami berangkat sembilan orang yaitu afif,eviar,sugeng,adi,herwansyah,alinur,syamri,yansril.
Tiga mobil menuju Batusangkar,sepeda gunung yang sebelumnya sudah aku service masuk kedalam mobil.
Kawan kawan yang masih muda muda dariku kelihatan begitu bersemangat,semangat ini seakan akan tertular padaku walaupun ada kekhawatiran dengan phisik ku yang sudah mulai uzur di usia 60tahun ini.

Acara bike camping ini diadakan di daearh Talago Gunuang yang terletak di Nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 
Jam 14 diudara yang agak panas lebih kurang 50 peserta berkumpul di lapangan Cindurmato Batusangkar. Panitia membawa kami menuju Nagari Saruaso.
Kami melewati daerah Saruaso jalan relatif sempit dan beraspal rusak dibeberapa tempat.
Pemandangan kanan kiri berupa hutan pinus yang lebat, hutan pinus tersebut merupakan hasil reboisasi yang dilakukan pada tahun 1970an,jalan yang agak berbukit bukit dan menanjak,udara mulai terasa dingin,akhirnya kami sampai di daearah Situs Talago Gunuang yang merupakan makam pada masa megalitikum ditandai dengan nisan – nisannya yang terbuat dari batu, bentuknya unik karena melengkung dan panjang.
Tidak berapa jauh dari situs ini kami berhenti dekat satu warung lalu para peserta merakit sepeda masing masing hujan rintik menambah dinginnya udara,aku agak malas dan kurang semangat karena cuaca ditambah mata mulai ngantuk sejak sehabis makan siang tadi.
Semua peserta siap dengan sepedanya,tidak banyak seremonial lalu setelah berdoa kami dilepas menuju arah timur melalui jalan desa yang berbatu batu kemudian masuk ke hutan pinus daerah Marina,hujan yang masih turun rintik rintik membuat jalan setapak dihutan pinus itu sangat licin untuk dilalui sepeda. Kabut menyelimuti beberapa tempat dilembah pinus yang kami lalui dan tiupan angin menurunkan suhu tubuh yang sudah keletihan mengayuh .
Disatu tanjakan aku berhenti untuk istirahat tapi hanya sanggup lima menit karena tidak tahan kedinginan.
Hembusan angin kearah pohon pinus menimbulkan bunyi yang sangat  sensasional dan unik di alam terbuka ini,aku terus mengayuh sendiri sementara beberapa pesepeda sudah jauh didepanku,disatu puncak aku melihat tempat terbuka dan disitu membentang lembah dan sungai Ombilin kemudian ditengah savana terlihat pondok kayu dan beberapa tenda warna warni yang sangat kontras dengan kehijauan lembah,seorang peserta yang dari tadi membayangiku dari belakang sekarang ikut berhenti di sampingku dari dia aku dapat info bahwa tenda tenda yang ada dilembah itu adalah tempat finish kita nanti iru lab dia Talago gunung.
Aku diingatkan oleh peserta lokal diturunan terakhir ini agar lebih berhati hati karena lebih terjal dan sulit dituruni.
Aku sudah tidak sabar untuk turun kelembah itu,sepeda kembali kutunggangi di turunan yang cukup terjal itu,aku berhati hati menuruni jalan yang licin terasa ban belakangku slip beberapa kali lalu rem kulepas pelan kemudian sepeda stabil lagi menurun kemudian beberapa meter didepan ban depanku masuk jalur bekas roda yang amat lucin dan ban belakang slip melintir kekanan depan aku jatuh ikut meluncur sekitar dua meter dengan sepeda kemudian berhenti di rumpun pohon pinus,Aku duduk terperangah dipinggir jalan,tubuh berlepotan lumpur,tidak berapa lama datang beberapa peserta melewatiku dengan konsentrasi penuh diturunan yang cukup gila itu. Hanya paha kiriku yang lembam mungkin terbentur stang sepeda waktu meluncur jatuh tadi,tapi Alhamdulillah tidak mengganggu dan masih bisa berdiri,Aku lebih banyak menuntun  sepeda karena jalan yang dilalui sudah mirip tebing dan mustahil untuk dijalani sepeda,beberapa panitia membantu peserta menurunkan sepeda di titik rawan ini dan peserta merayap dan merangkak dijalan yang licin dan miring,beberapa saat kemudian terlihat dibawah sungai ombilin dengan airnya yang jernih. Beberapa pesepeda menceburkan diri kesungai sambil mencuci sepeda,tawa dan teriakan bahagia bercampur dengan bunyi aliran sungai,aku istirahat dipinggir anak sungai kecil sambil membersihkan lumpur yang lengket bagaikan kue donat roda,warna sepeda sudah tertutup oleh lumpur. Hujan mulai reda dan matahari bersinar lagi aku dengan beberapa orang terus melanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda ke arah lokasi camping,sepeda tidak bisa dinaiki karena jalan menelusuri pematang sawah seukuran 80cm,kemudian naik menanjak ke lapangan terbuka yang ditumbuhi rumput tidak satupun pohon terlihat,hanya ada satu satunya pondok yang dipakai untuk berteduh oleh pengembala pengembala kerbau di daerah tersebut,disekitar pondok dipasangi 10 tenda sedang dan satu tenda jumbo.
Aku sampai di lokasi camping dan disalami panitia dan beberapa peserta  yang lebih dahulu sampai. Dari puncak savana aku pandang kearah Sungai Ombilin dan bukit pohon pinus yang kami lewati tadi sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan tidak kalah dengan daerah swiss ataupun new zealand,ini lah Talago Gunung bagaikan kepingan Firdaus yang terdampar ke Bumi...Subhanallah.
Di alam terbuka ini aku berjumpa dengan kawan kawan pesepeda seluruh Indonesia,Afbot ketua panitia event ini menyalamiku,kami sering komunikasi melalui FB tapi baru kali ini bertemu muka.
Malam yang terlihat cerah dan indah dibawah sinar bulan kami berkumpul untuk ramah tamah dengan para peserta,makan malam selesai sarapan malam di bawah tenda kami mengobrol dengan teman teman dari beberapa daerah termasuk satu peserta Thomas dari German  yang sewaktu melewati Pekanbaru menyempatkan diri nginap di rumbai warmshower. Disini kami pecinta Alam merasakan kebersamaan sebagai mahluk Allah semua status dunia kami tanggalkan,kami datang dan diam disini sebagai mahluk Allah yang mencintai,menikmati dan mensyukuri ciptaanNya yang Maha agung.
Kopi panas dan bermacam cemilan seperti ikan bakar dan ayam bakar dengan sausnya sangat memanjakan selera kami.sungguh luar biasa panitianya yang membajiri kami dengan santapan santapan.
Jam 24 kami bubar dan menuju tenda masing masing untuk istirahat.
Subuh aku terbangun oleh suara kawan kawan yang duluan bangun.
Pagi ini sebelum meninggalkan tempat camping Talago Gunung,kami melakukan sweeping atau pembersihan terhadap sampah organic yang menumpuk di daerah camping dan sekitar,Alhamdulillah dalam 15menit semuanya bersih dari sampah. Aku berpesan pada diriku sendiri dan teman lain agar tetap menjaga kelestarian dan kebersihan daerah Talago Gunuang sehingga keindahan alam ini bisa kita wariskan pada anak cucu kita..amiin.
Hari ini kami kembali bersepeda dari Marina menelusuri bukit bukit pinus hingga 3 jam tembus di empang atau waduk yang aku lupa namanya. Dari daerah ini kami rombongan dari Pekanbaru pamitan untuk pulang dan rombongan lain akan melakukan sepeda menembus bukit pinus sampai ke pinggir danau Singkarak. Sampai jumpa lagi sahabatku semua yang baik hatinya,semoga tetap sehat dan di ridhoi Allah..amiiin.


Tuesday, November 22, 2016

25.Tour de Borneo_Batu kajang to Balikpapan

Jeruji roda belakangku yang putus sungguh sangat mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kekhawatiranku untuk melanjutkan perjalanan akhirnya aku putuskan untuk loading sepeda hingga ke kota Kandangan,dikota ini sepedaku dibongkar disatu bengkel yang berada di pasar kota kandang untuk pemasangan jeruji baru,mekaniknya yang jarang menerima sepeda jenis sepeda multiple gear ini agak kesulitan menangani sepedaku karena Tools nya yang kurang kengkap "biasanya reparasi Becak pak"kata montirnya. Berkat kegigihannya,roda belakangku akhirnya selesai penambahan jerujinya walaupun setelannya masih tidak senter alias baling,aku putuskan untuk melanjutkan bersepeda dengan kondisi seadanya ke Barabai yang berjarak 30km lagi,sepeda terasa terseok seok tidak stabil jalannya,aku dayung sambil terus berdoa agar jangan sampai ada halangan lagi dalam perjalanan ke Barabai ini.

Sahabat kami di Barabai Iren B-Cex sudah menunggu dan menjemput kami di batas kota Barabai. Sepedaku dicek lagi yang ternyata stelan jari jarinya tidak bagus lalu di stel lagi disebuah bengkel yang sewaktu dibayar dia menolak dengan alasan bahwa dia juga sama sama pesepeda katanya. Alhamdulillah ketemu mekanik yang baik hati. Hari sudah jam 15 sore dan tawaran Budi B-Cex untuk menginap dirumahnya langsung kami terima.

Kami menginap di rumah keluarga Budi yang cukup uniq yaitu lima orang bersaudara mempunyai hoby sepeda dan sering ikut even sepeda memakai nama Bcex yang anggotanya terdiri dari Lima bersaudara tersebut.

Pagi 12 November setelah pamitan pada keluarga Budi yang baik hati ini,kami memacu sepeda lagi menuju Balikpapan dengan target sampai di gunung Halat,jalan yang agak datar kami libas dengan speed rata rata 26km/jam,kawan kawan yang mengantar kami merasa speed kami kencang sekali dengan membawa beban pannier,kami menyadari itu tapi hal ini adalah karena kami memanfaatkan jalan rata untuk mempersingkat waktu   yang mungkin akan lebih lama diwaktu di Gunung Halat yang mempunyai pendakian yang terjal nanti. Satu satu kota kami lewati,Balangan, Tabalong dan Kami sampai di kota Tanjung jam 11.

Tanpa istirahat kami melanjutkan hingga jalan dari Kota Tanjung mulai menanjak panjang disini tenaga kami mulai terkuras hingga makan siang disebuah warung sebelum desa Hulu.

Kami sampai di desa Namun jam 16 sore,pencapaian kami sudah 110km dan kami memutuskan untuk menginap di losmen tanpa nama yang ada dipinggir jalan itu dengan harga rp175 ribu semalam,lumayan bisa istirahat walaupun sempat listriknya padam dan tidur tanpa kipas angin diudara yang agak panas.

Pagi selesai subuh di desa Namun Kalbar kami mulai kayuhan kearah Kaltim,udara yang masih segar dan jalanan yang masih sepi kesempatan untuk memacu sepeda lebih kencang,kontur jalan yang terjal agak menguras tenaga akan tetapi permukaannya yang umumnya mulus agak membantu kami untuk tidak ragu meluncur kencang guna mendapatkan ayunan dorongan di tanjakan,sesampai dipuncak terlihat lagi tanjakan berikutnya persis seperti medan perjalanan sewaktu kami melewati Kalbar kalteng.

Jam 10 kami sampai di Gunung Halat perbatasan Kalsel dengan Kaltim. Sekitar daerah perbatasan banyak ditemui warung warung penjual makanan dan minuman,aku memesan air minum hangat untuk pelepas dahaga lalu Auful memberi tahu aku untuk melihat satu pohon di perbatasan yang cukup uniq tapi nama pohonnya aku tidak tahu,pada satu pohon tersebut ada dua ukuran daun yaitu dahannya yang kearah kalsel daunnya besar besar dan yang menghadap ke kaltim daunnya kecil kecil.tidak ada perkampungan diperbatasan ini tetapi hanya warung warung kopi tempat para pengendara kendaraan istirahat melepas lelah.

 Udara makin panas,jalan dibahagian kalimantan timur ini sungguh parah sekali,sebagian dalam perbaikan dan dicor dan ada juga yang masih terbengkalai compang camping,tanjakan yang tinggi tinggi di tambah lobang lobang besar dan batu batu kerikil berserakan dijalanan sehingga debu yang beterbangan sangat mengganggu pernapasanku,dalam kondisi tersebut kami tidak mungkin untuk memacu sepeda ditanjakan,beberapa kali aku harus dorong sepeda ditanjakan tersebut,mendorong sepeda di terik udara panas ditambah debu yang mengganggu pernafasan sungguh memerlukan kesabaran dan extra tenaga agar berhasil sampai ke puncak,aku berusaha menikmati pengalaman yang istimewa ini dan menyadari bahwa daerah ini benar benar suatu ujian kesabaran ku. Kadang kadang timbul rasa bosanku lalu aku berhenti dan duduk diam beberapa saat lalu bangkit lagi buru buru khawatir kemalaman di daerah tidak berpenghuni.

Beberapa ruas jalan dekat Muara komam ada penyemenan jalan sampai Batu Kajang, di kota ini mulai terasa aspal yang lumayan bagus,kami memasuki kota Batu kajang dengan rasa syukur yang amat sangat kami memutuskan untuk bermalam dikota ini,mataku tak henti hentinya mencari warung yang menjual es campur,entah kenapa aku rindu sekali minum es campur saat itu,tapi sepanjang jalan tidak kutemui akhirnya karena tidak tahan haus aku berhenti di kaki lima disitu ada penjual buah dingin,aku berenti disitu beberapa pasang mata memandang aku yang sudah kering dan kumal kena debu jalanan,aku lahap beberapa potong semangka dan pepaya terasa nyaman sekali dikerongkongan. 

Kami sholat dzuhur di masjid raya Batu kajang selesai sholat aku perhatikan sepertinya mendung diarah utara,kami pertimbangkan kalau perjalanan diteruskan kami akan kehujanan dijalan yang tidak ada perkampungannya,lalu kami memutuskan untuk istirahat di desa batu kajang saja.

Hujan deras turun mulai dari jam 16 sore itu sampai malam,kami mempertimbangkan untuk naik bus sampai penajam karena hujan tidak kunjung berhenti dan tentu jalannya akan sulit dilalaui karena berlumpur dan tidak aman untuk bersepeda, akhirnya kami tidak jadi tidur dikota tersebut dan kami menaiki bus malam jam 2pagi hingga sampai di Penajam subuh.

13 November 16 genap sebulan perjalanan kami,keluarga sudah menunggu di Balikpapan.

Kami turun bus di pelabuhan feri Penajam,aku lihat ban belakang sepedaku kempes total,di jembatan menuju feri yang masih sepi aku berhenti lalu mengganti ban dalam sepeda dengan yang baru lalu sepeda kembali kami kayuh menuju pelabuhan kelotok atau kapal kayu tradisional,disini kami menyebrang dengan kapal kayu menuju dermaga kampung baru Balikpapan.

Kesan pertamaku memasuki kota ini adalah bersih,tidak terlihat tumpukan sampah sebagaimana kota kota di Indonesia,lebih mirip kota kota di Malaysia,kendaraanpun rada tertip dan tidak ada yang serobot sana serobot sini,aku acungkan jempol untuk ketertiban berkendaraan ataupun kebersihannya di Balikpapan ini.

Sepeda kami menuju ke arah kantor Chevron di Pasir Ridge, Jalan Attaka Besar, Telaga Sari, Balikpapan Kota,kami bertiga memasuki tanjakan yang lumayan tinggi lalu berbelok ke kiri disitu terlihat papan nama PT.Chevron Pacific Indonesia dimana aku pernah bergabung selama 30tahun di perusahaan ini sayangnya sampai pensiun belum pernah berkunjung ke kantor Balikpapan ini,maka saat pensiun ini baru bisa berkunjung.

Tidak banyak pegawai terlihat karena hari itu adalah hari libur Minggu,kami lanjutkan menuju hotel Mega lestari disitu sudah menunggu keluargaku dan keluarga Awful. 

Ini lah akhir dari petualangan kami selama 30hari menjelajahi belantara Kalimantan total jarak tempuh sejauh 2640km,ini melebihi perkiraan kami sebelumnya yaitu 2335km. Perjalanan ini sudah menurunkan berat badanku dari 70kg menjadi 64kg kemudian menghancurkan 2 sendal jepit yang selalu lengket dikaki selama gowes dan 1ban luar sobek/berlobang,5ban dalam pada bocor semua,satu kali patah jeruji sepeda dan belong,satu kali jatuh dari sepeda karena ban bocor di daerah Palangkaraya Alhamdulillah tidak cidera hanya memar dipaha. Menyaksikan langsung fatal exident jalan raya Di daearah batas kota Rantau Kalsel dan jalan raya Loksado Kalsel. 

Dalam sebulan juga pernah mengalami sakit diare satu hari lalu batuk tanpa pilek di akhir perjalanan didaerah Muara Koman yang penuh debu. Dan yang tak kalah penting persahabatan dan silaturahim kami di semua tempat yang dikunjungi di  Malaysia ataupun di Indonesia makin bertambah. 

Terakhir saya Tasman Jen"Mak Katik" dan Sahabatku Syaiful Highlinder "Awful" mendoakan semoga semua kita khususnya yang mengikuti perjalanan kami ini di limpahi dengan segala keberkahan dan kesehatan oleh Allah...amiiin.

Sampai jumpa in sya Allah di mimpi kami berikutnya "silk road" in Central Asia. 

Salam hormat.

Tasman jen

Sunday, November 20, 2016

24.Tour de Borneo_menelusuri sungai Amandit

10 November 16
Bangun pagi aku, Jely Kelbulan dan Syaifull Highlander mempersiapkan diri untuk mencoba Balanting Paring atau Bamboo Rafting Menyusuri "Amazon kalimantan" atau sungai Amandit dengan rakit bamboo. Sepeda dan pannier sudah kami kirim dengan mobil pickup untuk diantar ke tempat finish rafting nanti.
Kami ditemani joki yang sudah berpengalaman mengarungi sungai dan rasanya cukup aman.
Selain akan merasakan sensasi riam jeram sungai Amandit, kita juga bisa menyimak aktifitas suku Dayak Meratus yang akan kita temui dibagian tengah dari perjalanan arung sungai ini.
Rute pendek bamboo rafting sekitar 3 jam, satu rakit bamboo yang terdiri dari 15 batang ikatan bambu berukuran 4" dan panjang 10meter bisa membawa kami 3 orang beserta seorang joki. Rakit bambu tersebut biasanya sampai ditujuan langsung di buka tali tali ikatannya lalu bambu bambu tersebut dijual ditempat finishnya atau juga dibawa kembali ke tempat asalnya menggunakan pickup.
Pertama menginjakan kaki dirakit,bambu bambunya sedikit terbenam dan kaki menyentuh air sungai yang amat dingin.
Rakit bergerak dimulai dengan dorongan tongkat joki kedasar sungai lalu pelan pelan mengikuti aliran sungai,terlihat jelas dasar sungai yang berbatuan kadang kadang terlihat ikan ikan melintas agak dipinggir tebing,ingin rasanya aku menyelam dan menangkap ikan ikan tersebut.
Hutan lebat dan bambu bambu sepanjang sungai dan bunyi binatang hutan serta gemercik suara aliran air sungai adalah sensasi yang sangat menyejukan perasaan.
Dibeberapa tempat dipinggir sungai kadang ada rumah suku dayak serta dipinggir sungai didepan rumahnya sering ada rakit rakit bambo,sepertinya rakit rakit bambo ini adalah kendaraan utama mereka untuk membawa hasil pertanian mereka kepasar terdekat.
Setelaah Aku memastikan pada joki disungai ini tidak ada buaya lalu dengan tidak sabar merasakan sejuknya air sungai Amandit kami langsung mencebur ke air bening tersebut.Rakit ditambat dipinggir sungai sementara kami mandi diair jernih tersebut.
Joki kami bercerita adatnya dayak Maratus setiap penganten baru akan diarak pakai rakit bambo dari dekat rumahnya sampai ke kampung terdekat,dan sekarang pemerintah sudah menjadikan even tersebut menjadi even tahunan untuk wisatawan.
Jam 10 kami sampai di pantai Ulin desa Lumpangi tempat finishnya dan disitu sudah menunggu sepeda kami untuk melanjutkan perjalanan ke desa Barabai kira kira 40km dari desa Lumpangi. Kami membayar Rp 250ribu kepada Joki yang hebat tersebut. Perjalanan yang sangat mengesankan yang sangat saya recomendasikan pada para pelancong.

23.Tour de Borneo_Air terjun Haratai

9November 16
Hari ke dua di Amandit kami mencarter ojek rp 100ribu per orang untuk mengunjungi Air terjun Haratai yang terletak masih didaerah kecamatan Loksado. Kami menyewa ojek yang sudah berpengalaman ke puncak bukit Haratai tersebut karena daerah ini cukup tinggi dan jauh dan tidak mungkin ditempuh dalam sehari berjalan kaki.
Sampai diujung desa Lok sado sepeda motor tersebut mulai memasuki jalan jalan setapak desa yang licin dan berbatuan,kadang kadang kami berpapasan dengan penduduk desa suku Dayak Haratai yang membawa hasil hutannya ke desa terdekat,dari informasi yang aku dapat mereka sudah ada yang menganut agama islam atau Nasrani dan juga masih ada yang beragama Kaharingan.
Kami sampai di puncak Haratai dan diantara dua lembah mengucur air terjun yang begitu indah sehingga tanaman tanaman sekelilingnya terlihat subur menghijau dan di bawah ada telaga penampungan air terjun tersebut,kabut pagi ditambah kabut air yang dipancarkan air terjun menambah sejuknya udara di puncak Haratai. Didekat air terjun ada pondok pondok dari bambu dan aku lihat disitu juga ada tumpukan api unggun yang sudah mati,tentu beberapa pencinta alam suka camping di puncak ini. Kami pulang menyempatkan diri juga melihat pemandian air panas di desa Tanuhi,sayang waktu kami datang kolamnya yang dikelola pemda kalsel itu sedang dibersihkan. Di desa Tanuhi ini kita bisa membuat gelang Dayak Meratus yang terbuat dari bahan rumput yang kuat tahan bertahun tahun,gelang langsung dipakaikan ke tangan dan tidak bisa dibuka kecuali diputus.

22.Tour de Borneo_Banjarmasin to Rantau

Senin 7 November 2016.
Jam 7 pagi kami menelusuri kota Banjarmasin keluar dari jalan beruntung jaya lalu masuk jalan Jend A Yani,jalan sudah mulai ramai oleh kendaraan yang,beberapa teman komunitas menelpon kami minta maaf tidak bisa melepas dan kami memaklumi karena kesibukan mereka bekerja di hari pertama minggu itu. Target kami hari ini adalah daerah Rantau yang berjarak kira kira 110km dari kota Banjarmasin.
Sekitar jam 12 kami berhenti di daerah Matraman untuk sholat zuhur lalu makan di warung jawa dekat masjid,tiba tiba ujan lebat turun,kami tunda keberangkatan sampai hujan reda. Hujan mulai reda tapi masih rintik rintik dan kami memulai lagi  meneruskan kayuhan sepeda,jalan yang umumnya datar dan tidak ada tanjakan bisa mempercepat kami sampai di  Rantau jam 16 sore di pintu gerbang bundaran kota Rantau sudah menunggu Teman komunitas sepeda Rantau oca Nirmalawati yang dari pagi memantau keberadaan kami,malam ini kami putuskan untuk mengunap di penginapan tanpa nama dengan tarif Rp 175 ribu semalam.
Selasa 8 November 16 dengan dilepas oleh beberapa komunitas sepeda Rantau lalu kami melanjutkan perjalanan ke Lok sado.
Lok sado adalah taman nasional
Di sebuah kecamatan kecil di kaki Pegunungan Meratus menawarkan begitu banyak pesona keindahan alam bagi para pencinta traveling,kita mengikuti bamboo rafting dan melihat objek wisata lainnya seperti air terjun Haratai. rancana ini adalah muncul tiba tiba sewaktu ke unikannya diceritakan oleh teman teman di Banjarmasin.
Kami mengayuh sepeda sampai desa  Kandangan sejauh 25km lalu berbelok kearah Lok Sado sejauh 35 km,tapi kondisi jalan menanjak arah lok sado ini cukup menguras tenaga kami,sebelum kami sampai di penginapan Amandit terasa sepedaku meliuk liuk, sewaktu di check jari jari belakang sepeda putus satu batang,di suatu tanjakan.
Sepedaku pelan merayap kepuncak jalan,dibelakangku ada mobil truck mengikuti.
Tiba tiba aku dengar benturan keras lalu meluncur dibelakangku sepeda motor yang rebah dan pengendaranya yang jumpalitan lalu  berhenti pas di belakang roda sepedaku.
Darahku rasa terhenti menyaksikannya,korban terbaring berdarah di lengan sambil meringis kesakitan,aku parkir sepeda dipinggir jalan,tak lama kemudian datang mobil pick up yang berikan bantuan dan membawa korban ke Rumahsakit di Kandangan.
Disebuah turunan aku lihat sebelah kanan jalan ada spanduk bertuliskan graha wisata Amandit dan Amandit river lodge,kami berhenti disitu dan putuskan untuk menginap di penginapan dipinggir lembah dan ditepi sungai Amandit yang jernih itu.
aku lihat speedo meter baru menunjukan 58km tapi capek di tanjakan dan strees kondisi jalan yang berbahaya tersebut rasanya aku menempuh perjalanan yang ratusan kilometer sehari itu.
Sore yang masih terang aku sempatkan mandi mandi di sungai yang jernih hingga kelihatan sampai kedasar sungainya yang setinggi dada tersebut. Auful juga tidak menyia nyiakan kesempatan dengan kameranya mencari objec yang menarik dipinggir sungai dengan sinar tembaga matahari di sore itu.

21.Tour de Borneo_Pasar terapung Lok Baintan

5 November 2016.
Selesai sholat subuh kami langsung persiapkan sepeda untuk menuju pasar terapung Lok Baintan,sungai Martapura di kabupaten Banjar. Pasar terapung di lok Baintan ini masih natural atau bukan hasil rekayasa pemerintah untuk wisata seperti halnya di pasar terapung di Sirin di kota Banjarmasin. Kita bisa naik perahu kira kira setengah jam dari Banjarmasin ke Lok Baintan atau lewat jalan darat yang agak jauh dan sulit ditempuh,tapi tidak ada salahnya kami mencoba ke situ bersepeda melalui jalan tradisional.
Kawan kawan pesepeda Banjarmasin menelpon kami untuk segera berangkat agar kami sempat kepasar tradisional tersebut sebelum turup jam 9pagi.
Jam 6pagi kami sudah meluncur dengan sepeda tanpa pannier dari jl.Raya beruntung menuju Lok Baintan sejauh lebih kurang 20km.
Jalan aspal berakhir setelah 10menit perjalanan lalu diganti dengan jalan tanah berkerikil dan berbatu batu pecah/runcing sebesar tinju,sepeda bergetar getar sewaktu roda menggelinding diatas batu batu tersebut,masuk dan keluar desa dengan kecepatan 10km per jam cukup kencang bagiku saat itu.lebih kurang 1 jam bersepeda dijalan berbatu selebar 2meter,kami sampai di desa Lok Baintan kabupaten Banjar .
Kiri kanan jalan bangunan rumah penduduk yang sederhana umumnya dari kayu dan kelihatan lingkungannya bersih,penduduknya umumnya muslim dan ramah menyapa.
Kami menuju sebuah barak atau rumah penduduk yang terletak persis menjorok ke sungai Martapura.
Teman kami dari Banjarmasin mencarter satu perahu untuk kami berperahu ketengah pasar terapung yang sedang ramai tersebut.
Di sungai yang lebar itu terlihat perahu perahu dengan pedagang pedagangnya yang semuanya perempuan yang berjilbab.
Di dalam perahu terlihat  hasil hasil ladang mereka seperti pisang,ubi,timun,jeruk,sayur,ayam dan juga ada perahu yang hanya menjual kulkner seperti kopi dan teh panas lalu ada juga kue kue basah,serta nasi kebuli dll.
Aku pesan teh hangat dan beberapa potong kue untuk pengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Perahu mereka hilir mudik menyelusup diruang antara perahu perahu yang ada sehingga saling bergeser satu sama lain, itu adalah suatu hal yang biasa tidak ada kemarahan dan tidak terdengar suara suara keras seperti pasar tradisional di daratan umumnya,suasananya khas sekali dengan bahasa banjar pinggiran yang tidak aku mengerti,mencari pembeli sambil menawarkan dagangannya kepada pengunjung yang juga diatas perahu. Kalau ada transaksi perahu mereka didempetkan lalu setelah transaksi perahu mereka bergeser lagi kearah lain. Ada juga transaksi yang dilakukan dengan Barter atau mempertukarkan barang dagangannya yang mereka sebut Bapanduk. Lebih kurang kami satu jam diatas perahu akhirnya kami ingin pulang kembali ke dermaga tempat naik perahu tadi,lumayan jauhnya pasar itu hanyut mengikuti arus air sungai Martapura dan menurut pak Ismail tukang perahu kami,pasar akan berakhir nanti di daerah sungai Madang lain sekitar jam 10 pagi.
Jam 10 kami pulang ke kota Banjarmasin melalui kabupaten Barito kuala dengan jalan jalan desanya yang cocok untuk sepeda montai bike,barang barangku yang diletakan di handle bar bag pada bergetar getar semua dan satu flash light copot kepalanya berantakan.
Kami sampai dikota dan mampir di kuliner khas daerah yaitu Ketupat Kandangan dengan cara makannya yang uniq yaitu dengan memakai tangan dan tidak pakai sendok walaupun ada kuah santannya yang menggenang.
Beberapa saat kami di warung tersebut menyusul datang teman kami yang dulu ketemu di Palangkaraya Jelly Kalbulan yang sedang turing keliling Indonesia,kami berencana meneruskan perjalanan senin nanti ke Balikpapan dengan gowes bersama.
Kawan kawan dari banjarmasin satu persatu pamitan dan ucapkan selamat jalan pada kami kalau tidak ketemu.jam 12 kami kembali ke penginapan di jalan Raya Beruntung jaya,Alhamdulillah capek sudah terobati dengan pengalaman baru yang ditemui...sampai jumpa..😍😀

Sunday, November 6, 2016

20.Tour de Borneo_Mantaren to Banjarmasin

Dari desa Mantaren Pulang Pisau ke Banjarmasin 110km,fajar di desa mantaren sudah menerangi desa pada jam 5pagi itu,kami mengayuh sepeda meninggalkan masjid Mifatul Jannah diudara sejuk dan sedikit berkabut,belum terlihat ada warung yang buka,setelah 10km perjalanan terlihat sebuah warung yang buka,disitu kami ngopi dan makam mie rebus.
Perjalanan kali ini cukup datar dan tidak ada tanjakan,hanya panas yang sangat menyengat kulit,didesa Basarang kami istirahat dan sholat jumat.
Kami melewati suatu desa yaitu Basarang jaya yang bercorak Bali dan dipinggir jalan ada beberapa Pura Bali yang kami lihat.
Memasuki Bundaran Kuala kapuas disitu kita lihat monumen bercorak tradisional suku Dayak,hampir sekeliling bundaran ada monumentnya.
Aku perhatikan spedo meter rasanya koq ngga nambah nambah,lalu aku tidak mau melihat ke angka meteran itu lagi,rasa bosan karena ngga sampai sampai juga di batas propinsi membuat aku agak ngantuk,akhirnya kami melihat sebuah anjungan yang amat sederhana sebagai batas propinsi Kalteng dan kalsel,terlihat di palbatu masih 25km lagi ke BJM atau Banjarmasin,batas propinsi yang paling sederhana yang pernah ku lihat. Dikejauhan aku melihat jembatan Barito warna kuning terlihat kokoh menjulang,aku kayuh sepeda  penuh semangat mendaki jembatan ini,jembatan selebar 10meter dengan trotoar pejalan kaki setinggi kira kira 90cm dikiri kanan jalan cukup indah untuk melihat ke bawah sungai Barito,beberapa kapal kecil dan perahu terlihat dipermukaan dan dikejauhan dipinggir sungai terlihat rumah rumah penduduk,aku ingin berhenti sejenak diatas jembatan tersebut tapi aku urungkan mengingat akan mengganggu trafic yang cukup padat waktu itu,akhirnya kami berhenti untuk istirahat diujung jembatan arah ke kota Banjarmasin yang cukup terlindung oleh pohon pohonan.
Lima menit duduk istirahat,tiba tiba serombongan pesepeda muncul dari arah Banjarmasin,mereka menyapa kami ramah,"om syaiful dan om Tasman dari pekanbaru ya,maaf om kami agak terlambat menjemputnya" aku baru ingat sebelumnya Auful sudah berkomunikasi dengan pak Oding dari komunitas sepeda Banjarmasin ini. Aku sangat kagum dengan pengorbanan kawan kawan ini menjemput kami jauh jauh sampai ke batas kota. Aku lihat jam sudah pukul 15wib sore berarti tambah kan satu jam menjadi jam 16wit,kami dikonvoi oleh rombongan sekitar 8orang menuju kota,lalu sebelum ke hotel makan soto banjar yang terkenal itu di bawah jembatan dipinggir sungai Barito,indah sekali pemandangannya ,kemudian kami diantar ke sebuah penginapan Hocky di jalan Raga Beruntung Jaya untuk istirahat dan mencuci semua pakaian yang sudah pada kotor. Sampai ketemu besok di floating Market..😍