Pages

Tuesday, March 27, 2018

8.Trans celebes cycling xpdc_Terjebak Longsor di desa Bronko.

Terjebak Longsor di desa Bronko.
Inalillahi wa inailahi rojiun,....
Inilah ucapan untuk mengawali
Pagi ini jam 09.00 wita,saat ini kami (om Bam Bang Trave,om Widodo Abdul dan om Syaifull Syaifull) akan melewati desa Blonco,kec Sinonsayang,amurang Minahasa selatan,terjadi tanah longsor banjir Bandang dari bukit Blonko,penduduk setempat panik berlarian di jalan raya kearah selatan searah kedatangan kami dari desa Boyong. Terlihat mereka membawa barang yang bisa diselamatkan. Sepeda kami tempatkan di zona yang dirasa aman lalu aku berusaha mencari sumber longsor dan berpapasan dengan masyarakat yang terlihat panik,menangis,berteriak memanggil keluarganya,timbunan tanah campur lumpur terlihat menutupi beberapa unit rumah dan jalan aspal trans Sulawesi yang menghubungkan sulut dengan Gorontalo,menurut penduduk setempat longsor sudah dimulai sejak malam disusul pagi sewaktu kami lewat.


Saya belum dapatkan info apakah ada korban atau tidak,petugas kepolisian sudah ada yang datang untuk evakuasi masarakat ketempat aman,sampai saat berita ini saya buat belum terlihat team evakuasi atau pembersihan jalan utama ke Manado yang terputus akibat tanah longsor ini,sehingga sepanjang jalan dipenuhi kendaraan yang terjebak tidak bisa lewat,dari sumber lain mengatakan jalan akan dibersihkan menunggu tanah stabil dulu tapi entah berapa lama harus menunggu. Aku mencari alternatif naik perahu melewati laut ke ujung jalan arah manado tapi tukang perahu juga enggan membawa kami karena gelombang laut tinggi sangat berbahaya. Insya Allah kami akan tunggu disini dengan masyarakat setempat,mohon doanya...salam dari Minahasa selatan.
Saat ini sudah jam 15 sore ,hampir 5 jam kami menunggu tapi kelihatannya banjir bandang di desa bloanko kec sinonsayang tidak mungkin bisa berakhir hari ini karena hujan masih berlangsung terus dan pembukaan jalan yang tertimbun tidak mungkin bisa dilakukan.
Posisi kami saat ini berada diantara bukit dan Pantai,jalan raya dipenuhi kendaraan dan penumpang ditambah penduduk lokal yang terlihat kebingungan dan ketakutan,aku juga merasakan perasaan galau itu terbayang seandainya longsor juga terjadi dibukit dekat tempat kami sekarang tidak ada tempat untuk berlindung ataupun melarikan diri.

tidak ada tempat untuk berlindung
Kami mengambil keputusan untuk kembali ke daerah aman dengan menumpang bus bus yang terjebak dan akan kembali ke Gorontalo atau cari jalan alternatif ke Manado.
Sopir bus Harvest yang dari tadi nongkrong akhirnya menyerah dan mereka akan pulang mencari jalan alternatif ke Manado,dengan bus ini akhirnya kami diizinkan menumpang keluar ke daerah aman,kami sudah tidak peduli mau dibawa kemana yang penting cari daerah aman dulu.
Sepeda dan barang sudah kami loading di bus lalu kami cari makan siang warung muslim dan istirahat serta sholat di masjid Almuhajirin yang berjarak 500meter dengan bus.
Hujan masih terus mengucur ,kami berteduh di rumah warga tiba tiba terlihat bus harvest yang kami tumpangi jalan balik kearah selatan,kami berempat sempat kaget lalu berhamburan dalam hujan lebat mengejar bus seperti atlit sprinter 100meter,sambil berteriak memanggil bus,orang ramai diwarung ketawa geli dan keheranan melihat kami lari terbirit birit,akhirnya setelah 300meter bus berhenti,kami naik bus dengan badan basah kuyup seperti ayam kehujanan,sambil ngos ngosan mengatur nafas saya tanya sama supir bus rencana mau kemana dia menjawab sambil becanda "kita akan kembali ke Palu om" katanya...aduuh masih sempat becanda dia,Palu kan di sulawesi tengah,..??aaah sudahlah,aku sudah ngga peduli kemanapun dibawa yang penting keluar dari daerah rawan longsor tersebut.
Dibandingkan menunggu yang tak jelas lebih baik berangkat dan kita masih punya harapan dan tujuan saat ini. Om syaiful mencoba buka gps memastikan posisi kita ternyata posisi mengarah ke selatan dan sebelum kota Baroko dan di desa Nanasi  belok kiri menuju kota Mobagu dan menelusuri jalan yang ujungnya sampai di danau Moat danau kecil dan jalan yang jarang dilewati kendaraan, ranting ranting pohon yang rendah sering tertabrak badan kendaraan yang menimbulkan bunyi pletaak..pletuuk..sopir bus agak kewalahan menelusuri jalan kecil yang belum dikenalnya di malam yang gelap tanpa penduduk,perasaan agak tegang juga dengan kodisi jalan yang kecil dan berlobang lobang ini,aku coba perhatikan di google map nama jalan nya trans kota mobagu-dan akhirnya setelah 8jam perjalanan kami keluar dekat benteng Portugis Amurang dan tembus ke jalan trans sulawesi kabupaten Amurang yang posisinya sudah melewati tempat bencana longsor Blonco. Bus mulai berjalan normal tenang di pagi yang dingin itu....
Aku lihat om Bambang,om widodo terkulai layu tidur mengikuti goyangan bus di bangku paling belakang dan didepannya berjejer sepeda kami,kami terlalu lelah untuk mengamankan sepeda agar tidak lecet,dan ternyata sewaktu sampai di Manado beberapa bagian dari frame sepeda ada yang lecet.
Aku duduk di kursi kedua dari belakang disebelahku om syaifull yang tertidur pulas,begitu juga mataku mulai terpejam diayun lembut bus dijalan yang mulus hingga kernet bus membangunkan ku bahwa kita sudah sampai di kota Manado,aku lihat jam menunjukan jam 00.30 tengah malam dan hujan masih turun deras,tidak banyak terlihat orang disitu hanya beberapa angkot dan sopirnya menunggu dengan penawaran jasa angkutannya,dari papan nama di warung menunjukan bahwa kita berada di terminal bus Malalayang dua Manado.
Sepeda dan barang yang tempatnya berserakan di bus kami kumpulkan di lantai terminal yang basah dan becek oleh genangan hujan lalu memasang semua perlengkapan barang barang di sepeda,ada beberapa sopir angkutan yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke penginapan,tapi dengan halus kami tolak karena kami mengatakan akan pergi ke masjid.
Tengah malam yang sepi masih diliputi hujan rintik rintik sepeda kami bergulir lagi menuju ke masjid Asmaul Husna di kecamatan Malalayang yang tidak jauh dari terminal bus,tidak ada marbot atau penjaga masjid waktu itu tapi Alhamdulillah pagar masjid tidak di kunci jadi kami masuk saja dan sholat serta istirahat di teras masjid. Subhanallah terasa lega setelah badan di keringkan dan melakukan sholat magrib dan isya yang di jamak takhir. Selesai subuh kami dapat pesan singkat om Herri parera dari komunitas sepeda Manado bahwa beliau menjemput kami hingga akhirnya bertemu di sebuah warung nasi briani di jalan RW Mongonsidi kearah Pineleng. Selesai sarapan kami lanjut  ziarah ke makan Tuanku Imam Bonjol di sebuah desa Lota.

Makam Tuanku Imam Bonjol
Desa ─╣ota  saat ini adalah sebuah desa kecil di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Tak jauh dari Kota Manado. Jarak tempuhnya hanya sekitar 9 km jalan cukup datar sedikit ada rolling terasa enak untuk bersepeda pagi itu,di samping jembatan,belok kiri ada sebuah gapura bertuliskan ‘Gerbang Menuju Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol’. Kami masuk ke jalan kecil beraspal dan menanjak,dipinggir jalan ada beberapa rumah penduduk.
Semakin ke dalam, Lota terkesan tenang, asri dan sejuk. Tak heran terdapat beberapa biara Katolik di sini. Tempatnya memang cocok bagi para pencari keheningan,tapi tentu berbeda dengan perasaan Tuanku Imam bonjol disaat diasingkan oleh penjajah ke situ dan di pisahkan dengan sahabatnya kedaerah asing tidak berpenghuni pada tahun 1854 silam. Setelah lebih kurang 3km menajak kami sampai di sebuah lokasi di sebelah kanan kami ada masjid Imam Bonjol dan di seberang Mesjid Imam Bonjol, kamboja merah muda tumbuh subur menjadi bingkai penghias tugu informasi makam Sang Pahlawan Nasional.
Pelataran parkir lengang dan sepi. Angin semilir menghembuskan samar aroma mawar hutan bercampur Kamboja. Taman di muka makam itu asri, sederhana namun rapi. Bunga bunga yang menghiasi jalan ke makam terlihat begitu anggun menghiasi makam sang pejuang.
Kompleks depan makam berada di area pemukimam warga, dibatasi dinding yang tidak terlalu tinggi. Sementara area makam ke belakang adalah sepetak tanah yang dipenuhi pohon rindang dan rumpun bambu, terus menurun hingga ke tepian sungai berair deras.
Atap Bagonjong mengingatkanku akan kampung halaman menjadi penanda yang khas dari Rumah Adat Minangkabau di belakang taman.
Menapaki tangga kira-kira 25 pijakan, bangunan bercat putih dengan tujuh pintu berteralis berdiri
senyap. Di dalamnya bersemayam Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin dalam pusara berkeramik putih.  Makam bernuansa Islam ini dipagari rantai berkeliling setinggi setengah meter. Terdapat kaligrafi ayat Alquran di bagian tengah makam.
Dinding ruangan bernuansa putih berkeramik dari lantai hingga dinding. Terdapat relief Tuanku Imam Bonjol mengacungkan tangannya di atas seekor kuda putih. Keberanian melawan penjajah tercermin dari kepalan tangan dan sorot matanya.
Secara jasmani, perjuangan Tuanku Imam Bonjol berakhir di Lotta. Tetapi, seperti terlihat dari relief di dinding keramik, ada bara perjuangan di hati dan pikirannya.

Tuanku Imam Bonjol berakhir di Lotta
Aku coba tafakur dan mengenang perjuangan dan pengorbanan beliau yang begitu mulia,terasa sendu dikerongkonganku betapa berat beban mental yang harus dipikulnya saat itu,sebagai rasa hormatku aku panjatkan doa semoga beliau di tempatkan di alam sana bersama orang orang sholeh yang dimuliakan Allah..amiiin
Tidak jauh dari komplek makam kira kira 600meter turun menuju sungai Malalayang kiri kanan ditumbuhi pohon bambu.
Ada satu batu alam sebesar 1x2meter yang permukaannya datar dahulunya terletak  persis di pinggir sungai tapi sekarang sudah di pagar dengan bangunan sebagai mushala,konon dibatu itu adalah tempat sang Imam menunaikan sholat,saya agak kaget juga karena dibatu itu dirumahkan dan disatu sudut ada dupa entah apa maksudnya dupa itu,mudah mudahan jangan terjadi praktek kesyirikan disitu.
Masuk waktu dzuhur kami sholat di masjid Imam Bonjol kemudian kami meninggalkan komplek makam menuju kota dan menginap di rumah om Heri parera.
Manado Tugu titik nol,berakhir disini
Besok tanggal 13 Februari 2018 adalah hari ke  28 perjalanan sepeda xpdc kami di pulau Sulawesi,dimulai dari Makasar ujung selatan sulawesi sampai ujung utara sulawesi yaitu Manado sampai disini kami ingin beristirahat dulu setelah menempuh perjalanan sejauh lebih kurang 2000km dengan segala suka dan duka. Pencapaian ini bukanlah karena kehebatan kami tapi semua ini semata mata atas karunia dan izin Allah.
Pesan moral dari perjalanan ini "untuk mencapai tujuan percaya pada diri sendiri tetaplah bersemangat dan berdoa".
Terimakasih pada para pembaca yang telah sudi mengikuti dan memberikan doa pada kami selama di perjalanan dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya..









Thursday, March 8, 2018

7.Trans celebes cycling xpdc_kesuku Bajo

5februari,sehabis subuh kami diantar pakai mobil oleh pak Syamsul bahri sekeluarga menuju desa Toboli,jalan yang sudah pernah kami lewati dengan sepeda ini memang terlihat terlalu gila untuk dilewati dengan bersepeda,tapi beda kalau kita sudah diatas sepeda,kita tidak pernah untuk mundur atau menyerah,itulah ajaibnya spirit bersepeda yang aku rasakan. Dalam dua jam kami sampai di pertigaan Toboli. Pak Alan kepala dinas parawisata dan beberapa pejabat kantor bupati Parigi yang dari pagi menunggu mempersiapkan makan pagi untuk rombongan kami lalu secara simbolis penyerahan certificat of equator crossing dari Wakil bupati Parigi moutong yang diwakili bapak Alan. Jam 09 kami dilepas oleh tuan rumah dan komunitas sepeda Parigi Moutong untuk melanjutkan perjalanan kearah utara. Udara panas sepanjang sangat menyengat ke kulit,angin dari pantai Tomini disebelah kanan kami bisa sedikit menghilangkan siksa panas khatulistiwa,aku merasa kurang semangat hari ini mungkin karena termanjakan 2hari istirahat di palu menjadikan kami jadi loyo,aku utarakan hal ini pada kawan kawan ternyata mereka merasakan mental yang sama,baru 48km perjalanan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di masjid Alhuda dusun Pinotu desa Siaga. Diseberang masjid ada pantai dengan beberapa rumah penduduk,aku mendekat ke pantai tersebut,terlihat bersih dengan air pantai yang jernih,aku coba menanyakan pada warga yang ada apakah boleh camping disitu,ternyata kami diizinkan,lalu sebelum magrib kami mendirikan tenda berjarak sekitar 2meter dari pinggir air pantai. Beberapa warga ikut berkumpul dan ngobrol dengan kami dekat tenda. Udara agak panas,tenda yang aku pasang hanya bagian dalamnya saja seperti kelambu,ini supaya tidak terlalu panas. Terlihat bulan purnama besar sekali diatas horizon menerangi laut yang bagai kaca dibawahnya.
Teluk Tomini bagaikan Mutiara di khatulistiwa,sebuah kawasan indah di Sulawesi Tengah yang posisi geografisnya dilintasi garis khatulistiwa. Dalam pembagian keanekaragaman hayati, kawasan ini berada di zona Wallacea, yang dalam sejarahnya merupakan kawasan terpisah dari Benua Asia maupun Australia.

Rembulan tersenyum dibalik awan tipis berbagi kebahagiaan untuk sesamanya.
Perahu bayangan siluet berlayar tenang bagaikan ninja tak bersuara.
Aku rebahkan tubuh ini memandang ke laut lepas.
Semilir angin laut menyejukan mukaku yang legam terbakar mentari.
Bibir ombak pantai mengalun bergantian mereka bercanda ingin menyapaku.
Aku hanya diam memandang opera sang maha pencipta.
Ingin rasanya aku berbagi kebahagiaan saat ini namun kata kata tidak cukup untuk mengungkap keindahan ciptaan Nya.

Ikan ikan kecil bekejar kejaran di dasar pantai,mereka menikmati indahnya malam yang diterangi rembulan.

Subhanallah..mereka semua bergerak,mereka semua berzikir dengan caranya...  :
Bibir pantai mulai menjauh dariku dan diriku ini semakin kecil..kecil...dan lenyap

"Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar- Rahmaan: 13).

Sekitar jam tiga pagi disaat terlena dalam mimpi terasa angin kencang sekali bertiup dan benggoyangkan tendaku,butiran butiran hujan menerpa kedalam tenda yang tanpa kain atap dan membasahi tubuhku,aku keluarkan barang barang dalam tenda lalu pindah menuju ke masjid,kawan lainnya tetap ditempat karena tendanya sudah aman terpasang atap luar.
Pindah ke masjid hujan masih tetap berlanjut tapi mataku sudah tidak bisa tidur sampai subuh datang.
Pagi ini sebelum berangkat kami dijamu dengan kopi panas oleh ustad Said Bafaqih imam masjid.
6febebruari pagi hujan masih turun rintik rintik roda sepeda bergulir memercikan genangan genangan air dijalan aspal Pinotu.
Dari kejauhan di jalan raya Trans Sulawesi didaerah Tinomba kecamatan Parigi moutong terlihat tugu Khatulistiwa seakan menghadang jalan raya,disini kami berhenti untuk istirahat sholat dan befoto foto di tugu tersebut.uniknya didaerah ini telor mentah bisa berdiri. Kami sholat di masjid yang disumbangkan oleh pak Tri sutrisno wakil presiden zaman orba,sayangnya masjid tidak terawat dengan baik sehingga terlihat kotor. Siang selagi hujan masih turun kami meneruskan perjalanan hingga desa Tinomba dan nginap di masjid yang cukup bagus kalau kawan kawan mengatakan masjid bintang lima karena fasilitas mandi dan kipas angin dan lantai yang keramik yang bersih,ini versi penilaian ala peturing budgeting..hehe.
7 february kami lanjutkan menuju Moutong,
Sebelum Desa ongka jalan relatif datar dan sepi,tanjakan mulai terasa 27km menjelang desa kayu Jati,dari kayu jati kami istirahat di balebale dan makan pisang segar sambil memandang sangarnya puncak  Santigi (berasal dari kata Sangat tinggi) yang harus dilewati,lebih kurang 4km menanjak rasa seperti satu hari perjalanan,rasa capek terbayar setelah memandang kebawah ke arah Desa Bolano lambunu,jalan mulai datar hingga kami sampai di desa Moutong.
Jam 5 sore kami berhenti dan  kami numpang nginap di Masjid Pertamina Moutong.
8 februari sepeda kami kayuh lagi ke utara hingga 100km dan sampai di desa Lemito,di pinggir jalan trans sulawesi kami melihat sebuah masjid jamik disitulah kami numpang nginap,masjid yang bagus dan terawat,menurut informasi masjid ini dirawat dengan hasil kelapa salah seorang jamaah yang sudah neninggal,sungguh luar biasa harta yang ditinggal manfaat untuk umat,semoga Allah membalas dengan segala keberkahannya..amiin.
Malamnya kami berempat di jamu makan oleh seorang jamaah pak Syamsu rizal seorang petani jagung,kami sangat bersukur karena didaerah itu tidak ada warung makan, kalau tidak dijamu tentu kami tidak bisa makan malam itu,inilah cara Allah memberikan rezki pada kami.
9february jam 7 pagi dari Lemito kami berangkat menuju Merisa,jalan trans sulawesi sepi  dari kendaraan udara cerah dengan cahaya merah tembaga matahiri pagi menambah semangat untuk mendayung sepeda,jarang terlihat rumah penduduk,masuk perbatasan desa sejoli (sulteng)terlihat gapura besar sebagai batas propinsi sulteng dengan sultra,desa pertama di gorontalo yaitu Molosipat. Sepanjang jalan dan perbukitan terlihat tanaman kelapa,suatu kali kami mampir ke tempat petani sedang membelah kelapa untuk jadi kopra,lalu kami menanyakan untuk membeli air kelapanya,diluar dugaan petani tersebut mengatakan airnya gratis sampai berapapun,karena selama ini airnya hanya dibuang hingga membuat becek dan menggenang di halaman rumahnya.
Jam 8.10 siang kami sampai di pertigaan Desa Torosiaje,kami mendayung sepeda lagi sekitar 1km kedalamnya dipinggir laut terdapat dermaga kecil ke desa,).
Objek wisata yang unik dan jarang diketahui wisatawan,saat ini ada didepan mata kami yaitu perkampungan suku Bajo di atas laut Tomini.
Saya pernah impikan untuk berkunjung ke Maldivest....tapi belum kesampaian,perlu kumpul dana yang aduhai mahalnya untuk kesana...hehe..tapi sekarang hasrat itu sudah kesampaian,karena perkampungan suku Bajo tidak kalah dengan Maldivest,berikut laporannya....
Hidup diatas lautan,tapi bukan kapal pesiar melainkan rumah panggung tradisional yang didalamnya dilengkapi fasilitas air tawar dan listrik dan juga ada jaringan internetnya,sambil saya surfing di ìnternet sesekali merasakan angin semilir di lautan yang dapat membuat saya terbuai akan sentuhan anginnya sehingga saya pun terlena di suatu tempat yang membuat saya berpikir seakan hidup itu selalu dengan kedamaian,kalau hati sedang gundah bisa memandang ke dasar laut yang dalamnya hanya dua meter disitu berkejar kejaran ikan ikan beraneka warna diantara karang laut dengan riangnya.
Ternyata di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Pohuwato , Kecamatan Popayato terdapat kampung diatas lautan yang bernama Torosiaje, kampungnya suku bajo yang berada di air laut Teluk Tomini yang berjarak sekitar 600 meter dari daratan. Torosiaje berasal dari kata "Toro" yang artinya Tanjung, kalau cara pengucapan suku bugis sebutannya koro dan "Si Aje" yang berarti panggilan untuk Pak Haji yang bernama Patta Sompa, nama warga pertama yang mendiami kampung suku bajo.
Mengapa Torosiaje disebut sebagai Kampung Suku Bajo? Menurut penuturan seorang ibu tempat kami nongkrong makan es campur,Suku Bajo sangat dominan dari suku lainnya. Padahal di Torosiaje tidak hanya suku Bajo saja yang hidup disini melainkan ada Suku Bugis, Makasar, Minahasa, Gorontalo, Mandar, Buton, Jawa dan Madura menjadi satu wilayah. Walaupun berbeda suku tapi mereka hidup rukun satu sama lain. Mayoritas warga di Torosiaje adalah beragama islam. Penghuni Torosiaje sekitar 1.400 jiwa penduduk,dan saat ini tidak ada izin untuk membuat rumah baru di komunitas itu lagi,kalau mereka ingin membuat rumah baru dianjurkan di daratan.

Rasanya kita tidak akan menyesal bila sudah sampai di Torosiaje karena keunikan, budaya dan juga cara hidup mereka selama di lautan akan membuat saya merasa puas dengan segala perbedaannya dari yang hidup di daratan,pengalaman ini sungguh mengesankan.
Pukul 08.30 WITA kami naik perahu  menyebrangi hutan mangrove yang berdampingan dengan lautan yang memakan waktu selama 15 menit saja. Jarak yang tak terlalu jauh dengan biaya kapal Rp. 5.000 pulang pergi sayangnya sewaktu kami bayar mereka tidak mau dengan harga tersebut jadi kami akhirnya membayar Rp60ribu untuk 4orang plus satu sepeda.
Melintasi perkampungan dengan kapal disertai aroma laut yang begitu khas dengan kesibukan penduduk yang hidup di kampung suku bajo terlihat normal seperti kita yang hidup di daratan.
Saya lihat kedasar laut terlihat warna warni koral dan aneka kehidupan laut,aku merasa mimpi jadi kenyataan sekarang,jadi aku ngga perlu ke Malvines lagi...wkwkk
Dari jauh terlihat komunitas rumah rumah diatas laut lengkap dengan dermaga kayunya,perahu kami masuk kebawah kolong kolong rumah penduduk,aku ingat film water world yang dibintangi Kavin Costner,penduduk melihat kami biasa biasa saja mungkin mereka sudah terbiasa dikunjungi turis seperti kami. Setelah mengelilingi komunal tersebut lalu perahu motor kami berhenti didermaga dan kami naik ke jalan kayu yang menghubungkan rumah rumah tersebut,dikomplek tersebut terdapat beberapa jalan atau jembatan kayu dan masing masing jalan mempunyai nama juga seperti nama nama jalan kita didarat.
Disana juga terdapat taman kanak-kanak, sekolah menengah dasar hingga sekolah menengah pertama bahkan ada juga lapangan untuk bermain bulu tangkis . Sungguh luar biasa kehidupan di lautan yang terlihat sama saja seperti kita di daratan. Sempat terpikir kalau mereka yang hidup di atas laut tidak akan pernah merasakan bangku sekolah atau mungkin bisa bermain atau oah raga selayaknya kita yang ada didaratan. Hanya saja sepeda kami tidak ada gunanya disini khawatir bersepeda disini bisa masuk laut atau nyeruduk orang...hehe.
Persepsi saya selama ini ternyata salah,kehidupan dilaut sama saja dan tidak ada perbedaan, Hanya tempat tinggalnya saja yang berbeda.
Penduduk di Torosiaje sangatlah ramah dengan segala keaneka ragaman budaya. Anak anaknya sedikit agak pemalu,mereka susah diajak berfoto bersama tapi Mereka bisa berbaur satu sama lain. Pekerjaan penduduk Torosiaje mayoritas adalah nelayan kalaupun ada yang petani itu hanya sekedar sampingan saja. Karena menurut mereka menjadi nelayan adalah pekerjaan utama yang selalu mendapatkan ikan setiap saat. Bahkan ditiap pekarangan rumah pasti ada keramba ikan. Mereka memelihara berbagai jenis ikan. Hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh sebagian untuk diperjual belikan dan sebagian untuk makanan mereka sehari-hari. Ikan hasil tangkapan tidak pernah mereka simpan karena berapapun hasil tangkapan ikannya akan dengan segera mungkin mereka habiskan saat itu juga.
Kami mampir dan duduk disebuah cafe Thorsee namanya,cafenya didekorasi gaya punk disitu ada karaoke,kami pesan kopi disitu dan pelayannya seorang pria muda bertato dan saya coba cari informasi dari dia kemudian saya jalan kepojok lain tidak jauh dari cafe ada masjid dan madrasah bangunan ini sepertinya berdiri di darat dan muncul kepermukaan,saya coba masuk kesebuah rumah warga.yang buka warung dan es campur,rumahnya bersih dan tentu tidak ada debu sama sekali,saya pesan es campur,harga Rp5000/mangkok dari ibu Ani yang ternyata seorang Gorontalo dan tinggal dikomplek tersebut.
Umnya rumah rumah disitu tertata dengan rapi dan sangat bersih, memang beberapa kali saya masuk ke rumah suku bajo tersebut keadaannya selalu rapi dan bersih. Lantai yang saya pijak pun tidak berdebu ataupun terasa kotor.
Dari penduduk saya dapat info disitu juga ada Penginapan dengan tarif Rp. 100.000/malam.
Penginapan itu disediakan oleh pemerintah jikalau ada pengunjung yang berdatangan. Kamar disana yang tersedia hanya ada 6 kamar tidur dan 2 kamar mandi yang terletak diluar kamar tidur. Kalau pengunjung tidak kebagian penginapan saya rasa tidak perlu khawatir karena pengunjung lainnya bisa menginap di rumah warga dengan harga yang dapat mereka tentukan sendiri,atau bisa menompang tidur di masjid seperti gaya kami....nyari gratis teruuus.. hehe
Jam 12 dengan berat hati kampung suku Bajo atau surganya diteluk Tomini ini harus kami tinggalkan. Di siang hari dengan matahari yang makin menyengat kulit kami kembali ke jalan trans Sulawesi dan sepeda kami dayung lagi untuk meneruskan perjalanan ke arah Marisa yang masih berjarak 70km lagi,sore jam 18 kamu sampai di kota Marisa dan menginap di masjid Jamik.(bersambung).

6.Trans celebes cycling xdc_ulama minang penyebar islam


Ulama Munangkabau di Palu.

Dari desa sausi perjalanan kami lanjutkan menuju Parigi,jalan relatif datar hanya cuaca panas yang agak menyengat,nuansa Bali yerasa disepanjang jalan,kuil kuil bali sering kami temui dan kadang terdengar lantunan gamelan dan nyanyian bali,sudah berapa orang yang menyapa kami dengan "Good morning mister" pada hal sudah jelas jelas kulit hitam kami tapi masih tetap saja dipanggil Mister,pernah satu kali ibu ibu sedang ngumpul di bale bale berteriak "I lop yu misteeer" aku dan om Bambang kaget dan terbahak geli mendengarnya,..hal ini merupakan hiburan tersendiri diperjalanan yang panjang ini. Dua puluh kilo meter menjelang kota parigi kami bertemu pak Akbar yang menyongsong kami dengan bersepeda dari Parigi,kemudian beberapa orang pesepeda ari komonitas sepeda gunung di Parigi membawa kami istirahat dan makan siang di sebuah restoran dibatas kota. Pada kesempatan ini kami dijamu makan siang oleh ketua issi kabupaten Parigi Moutong  bapak Muhammad sakti dan siang itu juga kami diundang ke kantor wakil bupati Perigi Moutong bapak H Badrun Nggai SE,beliau mengucapkan selamat datang pada kami dan meminta kami untuk ikut partisipasi mempromosikan wisata Parigi moutong di setiap daerah atau di luar negri yang akan kami lewati nanti. Malam ini kami tesmi jadi tamu pemda Parigi Moitong dan diinapkan di cottage Kayu Bura berlokasi di pinggir pantai teluk Tomini yang pernah jadi pusat acara Tomini sail tahun 2015.

Pagi 1 februari puas menyaksikan sun rise dari teluk Tomini kami melanjutkan perjalanan ke Palu.

Jarak kayu bura ke Palu yang hanya 60km cukup menguras tenaga dan menegangkan,kami berpacu dengan waktu,karena jalan didaerah tanjakan kebon kopi yang sedang di renovasi dan ditutup pada jam 13 sampai 16,diwaktu tersebut tidak satu kendaraan pun diizinkan lewat. Jam 8 pagi kami dari Pertigaan Toboli langsung menanjak,hujan dipagi hari sedikit mendinginkan badan yang panas ditanjakan,hujan segera berganti cuaca panas,tenaga betul betul terkuras saat itu,tanjakan kebon kopi adalah salah satu tanjakan tinggi spectakuler menguras tenaga dalam cuaca panas terik ,om Bambang yang biasanya begitu perkasa ditanjakan kali ini terlihat kewalahan dengan cuaca panas ,tiap sebentar menyiramkan air kekepala dan badannya untuk pendinginan setiap tanjakan yang ada tempat berteduh apalagi ada warung es campur otomatis  sepeda berbelok arah seolah olah ada magnitnya...😀😀kami mendinginkan badan disitu.

Pernah ada air dari pancoran di pinggir tebing disitu kami mandi menyiram seluruh badan sampai basah kuyup dengan air dingin bagai air kulkas. Akhir nya kami sampai di puncak tanjakan kebon kopi yang disebut para pesepeda puncak penyiksaandan selanjutnya menurun beberapa km,jam 13.05 saya sampai pos penjagaan ternyata akses masuk sudah ditutup artinya saya dan kawan harus menunggu dibuka lagi kjam 16.00 uuuugh..kesal rasanya terlambat ngga bisa langsung masuk,aku coba memelas sama petugas tapi tidak di gubris. Beruntung om syaiful bisa lewat,Kami bertiga om wid dan om Bbt merasa "nelongso" harus menunggu di udara panas sampai 3jam. Sekitar 10 menit kami menunggu tiba tiba kami dengar sirene mobil patroli polisi dengan rombongan pejabat,pagar penutup jalan dibuka untuk lewat para pejabat tadi lalu kami gunakan kesempatan tersebut untuk ikut rombangan dan sempat terjadi ketegangan dengan petugas akhirnya kami diizinkn masuk dengan kesal petugas mengatakan silahkan masuk tapi resiko tanggung sendiri. Kami bertiga memacu sepeda mengikuti rombongan pejabat sekitar 5mobil dari belakang debu jalanan beterbangan tapi kami sudah tidak peduli berusaha tetap dibelakang rombongan,batu batu sebesar tinju jadi ranjau bisa jadi petaka saat itu. Belum 1km rombongan berhenti,didepan suara gemuruh dari tebing yang di runtuhkan,batu batu besar kecil menggelinding kebawah,terbayang saat itu kalau kami nekat lewat tentu sudah gepeng menyatu dengan tanah. Petugas polisi beri aba aba stop kearah tebing lalu tunggu sesaat sampai tidak ada batu yang menggelinding lagi baru polisi dan petugas jalan menyingkirkan batu batu besar agar jalan bisa dilewati. Rombongan bergerak lagi lalu kami ikuti terus ada 5 kali seperti itu akhirnya setelah sejauh 10km kami memasuki zona aman dan kami jumpa dengan om syaiful di desa sebelum kota palu. Memasuki kota palu kami di jemput oleh pakde baso yang dulu menemani kami di makasar dan om Martin lalu datang lagi ibu Rina sahabat smp om Widodo. Kami ditawarkan nginap di dua tempat tapi akhirnya memutuskan di rumah burina dan sepeda diritip di rumah om Martin. Kami berencana break mengayuh dua hari jntuk recovery dan service sepeda yang punya masaalah masing masing,sepedaku dan om Wid rujinya patah satu,sepeda om syaiful bottom breaketnya berbunyi dan haus sejak dari palopo lalu om Bbt sproketnya longgar sehingga gearnya susah diganti ganti ini lah resiko setelah 12 hari perjalanan non stop. Hari pertama di palu kamu selesaikan semua permasaalahan sepeda lalu pada hari kedua seharian kami diajak jalan jalan ke objek wisata sekitar Palu,kami pergi ke pantai Donggala kota tua yang jadi pelabuhan besar di Indonesia. Masyarakat di sulawesi tengah umumnya beragama islam dan ada satu yang jadi perhatianku yaitu agama Islam di sini dibawa oleh seorang sekh keturunan Minangkabau Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Karama.

Kami sempat dibawa ziarah kemakamnya dan ke istana Raja Kabonena dan bertemu dengan cucu dan kerabatnya.

Dari beberapa sumber saya dapat info bahwa islam menyebarkan ke Kota Palu pada abad ke-17. Bermula di Kampung Lere yang saat ini telah menjadi Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat.

Awal Kedatangan Datuk Karama saat itu pada masa Kerajaan Kabonena, yang Rajanya saat itu Ipue Nyidi. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islamnya ke wilayah-wilayah lainnya di Palu yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Kaili. Wilayah-wilayah itu, meliputi Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una.

Pada masa itu, masyarakat asli Suku Kaili masih menganut kepercayaan animisme yang mereka sebut "tumpuna", di mana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat.

"Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut, akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh Raja Kabonena Ipue Nyidi dan masyarakat Kaili. Perjuangan Datuk Karama saat itu, akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam, dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Palu," sebutnya.

Saat itu pula,Datuk Karama, beserta keluarga dan pengikutnya tidak kembali lagi ke tanah kelahirannya di Minangkabau, dan lebih memilih bertahan di Palu untuk menyebarkan agama Islam.

"Sampai meninggal dunia, Datuk Karama serta keluarganya dan pengikutnya juga di Palu," ungkapnya.

Diketahui, setelah wafat, jasad Datuk Karama dimakamkan di Kelurahan Lere. Dan tidak hanya itu, di dalam areal makam juga terdapat makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.

Terus berjalannya waktu, akhirnya makam Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus obyek wisata religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.

Sedangkan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu.

Selain itu, masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau."Alat musik tradisonal itu merupakan peninggalan sang Datuk Karama.

Sorenya kami melanjutkan perjalanan ke Monumen Nosarara Nosabatutu atau Gong perdamaian Palu timur di daerah perbukitan yang cukup tinggi jang ber jarak sekitar 20km dari pusat kota,tempat yang indah mengingatkan ku di puncak san francisco.

5.Trans celebes cycling xpdc_masuk daerah konflik


Rantaipao-Poso 327km

Kami menginap di Rantaipao selama 2hari di masjid Agung
28/01/18 pagi sepeda kami kayuh lagi keluar kota Rantaipao jalan masih datar 10km diluar kota terlihat gugusan bukit dan jalan mulai menanjak,kirikanan pohon pinus sehingga udara yang panas sedikit teredam oleh semilir hembusan angin.
Lebar jalan yang kecil 4meter  hanya cukup untuk satu mobil sehingga kendaraan yang akan mendahului kami agak kesulitan dan lama mendunggu kesempaatan yang aman  apalagi kalau ada mobil dari arah berlawanan. Tanjakan sejauh 30km tanpa jeda cukup menguras tenaga hingga sampai dipuncaknya batas Kabupaten Toraja utara dengan Kabupaten Palopo kami istirahat memulihkan tenaga. Memasuki kecamatan Battang kabupaten Palopo terasa nyaman sekali karena penurunan sejauh 30km sampai desa Battang,tidak perlu dayung sepeda hanya mengontrol kecepatan dengan rem hingga tangan terasa pegal juga,kalau dibiarkan lepas hingga sampai 60km/jam tapi resikonya tinggi sekali sewaktu di tikungan,aku jalan lebih santai sambil mengamati banyaknya pohon durian di hutan pinggir jalan,sensasi yang sudah lama tidak kita temui sejak diubahnya hutan hutan di sumatra menjadi kebon kebon sawit,jam 12.30 kami sampai di desa Battang lalu berhenti di masjid al jihad untuk sholat jumat disitu.disiang yang terik selesai sholat jumat perjalanan dimulai lagi dengan tanjakan sejauh 3km,baju yang sudah sempat kering sekarang basah oleh keringat lagi hingga kemudian ketemu jalan datar sampai ke gerbang kota palopo,kami langsung mengarah ke jalan poros palopo-Poso.
Jam 17 sore kami berhenti di masjid Al muhajirin di desa Lalong Cepkar, hari ini total perjalanan 90km.
Pak imam masjid Almuhajirin Haji Kintasaraapang usia 84tahun berdarah Toraja sungguh ramah,malam selesai sholat isa kami diajak ke tempat tahlilan warga,aku coba menolak dengan alasan ingin istirahat saja di Masjid,tapi beliau pingin sekali kami ikut dan katanya doa Musyafir mustajab jadi dia tetap ingin membawa kami. Rasanya kami jadi tamu istimewa saat itu,dari penuturan pak imam kampung tersebut aslinya turunan suku Tanah Toraja dan pindah ke Palopo untuk ikut berjuang dengan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar melawan pemerintahan pusat, kemudian mereka masuk islam sekitar tahun 1950.
29/01/18 dari dusun Lalong kami melanjutkan perjalanan lagi ke utara perkiraan kami hari ini bisa mencapai  kota Masamba tapi Alhamdulillah ternyata kami bisa lebih jauh sampai desa bone,hari ini panas sangat menyengat rasanya kami rindu diguyur hujan saat itu,hampir setiap setengah jam kami berhenti berteduh dari sengatan terik matahari dan minum air,beberapa kali berhenti minum air kelapa muda dan es condol favoritku,sebelum masamba botom breaket om syaiful ada kerusakan kami berhenti untuk menukarnya dengan yang baru tapi ternyata batom breaket yang baru tidak bisa dipasang jadi batom breaket yang lama terpaksa dipasang lagi setelah dibersihkan dan di beri gemuk. Cuaca panas yang menyengat menjadikan kami tiap sebentar berhenti dan mengguyur kepala pakai air,suatu kenikmatan tersendiri apabila menemukan es cendol atau es kelapa muda dipinggir jalan kami bisa berlama lama menikmatinya.
Jam 17 sampai di desa Bone dan menginap di Masjid An Nuur,total perjalanan hari itu 82km.
30/01/18 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Mangkutana yang berjarak 75km dengan kondisi jalan yang datar dan sudah mulai terasa sedikit tanjakan,beberapa tempat perkebunan sawit,di masjid Almuhajirin kami istirahat siang lalu kenal seorang penduduk lokal pak Anshori yang menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. Hari itu kami menginap di rumah pak Anshori yang seorang dai pendakwah,paginya kami setelah disuguhi sarapan oleh ibu Anshori lalu kami menuju Poso 182km melalui Pendolo,Tentena.
31/01/18 pagi berangkat dari Desa Mangkutana, tanjakan langsung menghadang kami masuk ke wilayah pegunungan dan kawasan hutan Kayu Langi Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Nah, disini jalannya sangat sepi, baik itu penduduk maupun kendaraan. Ada banyak sekali ditemui papan petunjuk pemberitahuan untuk menjaga hutan lindung dan cagar alam. Menemui desa berikutnya pun sangat jauh, dan trek jalannya adalah perbukitan yang tak habis-habisnya dengan jalan berliku-liku tajam serta naik-turun.
Pemandangan yang ditemui adalah adalah bukit yang ditutupi kabut, dan awan yang bergumpal-gumpal dalam jarak dekat. Aku merasakan treck ini memang ganas perlu fisik yang prima dan kesabaran karena jalan tanjakan dan turunan dengan tikungan tajam seakan tak pernah habis. Sepeda seakan jalan seperti kura kura. Kami melewati rimbun pepohonan hutan dikawasan cagar alam Kayu Langi dan juga cagar alam Faruhumpenai yang katanya ditakuti oleh banyak orang karena masih sepi, dan seram.
Kabupaten Luwu Timur sebagian besar daerahnya merupakan wilayah hutan.  sebelum perbatasan,kami melihat warung warung konon kami sudah diingatkan oleh kawan kawan dan penduduk lokal agar tidak berhenti didaerah tersebut karena rawan kriminal sebelum tugu perbasatan yang sudah tidak terawat lagi, tugu asli sudah tua dan berantakan. Yang ada sebuah tiang beton petunjuk jarak KM, terbaca jarak tempuh ke Kota Makassar sejauh 577 Km dari tugu perbatasan ini. Hm...ternyata perjalanan kami baru sepertiganya.
Masuk Desa Pendolo Kecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso yang ditandai dengan sebuah gereja dan patung disebuah pertigaan. Yang ada, melihat jalur lurus adalah jalan tanah menuju beberapa resort yang terletak di pingggir Danau Poso, sedangkan ke kekiri ke Bancea, dan kekanan arah Tentena dan Poso. Kami berbelok ke kanan ke arah Tentena,jalur disini hampir sama ganasnya dengan jalur sebelumnya,didaerah ini pernah terjadi kerusuhan poso yaitu antara umat christiani dan Islam. Kami sampai di kota poso sore hari selasa 30 January dan berhenti istirahat di Masjid Nurul hidayah Poso, total perjalanan dari Makasar sampai Poso 12 hari. Di posò kami dijemput oleh pak syamsul seorang jurnalist kenalan om Widodo dan beliau menawarkan kami menginap di masjid An nuur yang berdekatan dengaan rumahnya dipinggir sungai poso yang airnya dulu pernah memerah didarahi korban korban Poso.
Hanya satu malam kami di poso lalu lanjutan perjalanan lagi ke kota Palu.
Jalan yang datar tapi cuaca panas,perasaan perjalanan ini di daerah bali karena kiri kanan jalan rumah penduduk dengan ornamen Bali hingga menasuki batas kota parigi di jembatan. Kami melewati gunung biru,perasaan agak was was menyertai kami karena daerah ini adalah basis teroris santoso,kami berempat berjalan beriringan hingga sampai di desa Torana ditunggu dan dijamu camat Tambarana Adrian kenalan om Widodo.
Kami mulai gowes lagi sehabis sholat dzuhur hujan turun sampai sore jam 17 kami menemukan masjid di dusun sausi dan nginap di masjid Nurul huda,perjalanan hari ini 80km saja.

4.Trans celebes cycling xpdc_monyet monyet penolong


4.Parepare-Pinrang-Enrekang-Toraja
memasuki kota Parepare ada gapura bertuliskan selamat datang di kota parepare dikota ini lahir seorang pemimpin bangsa president RI ke 3 Bj Habibi. Perjalana kearah enrekang mulai terasa tanjakan tanjakan hingga kami sampai di desa Bone yang sudah dekat dengan perbatasan Kabupaten Enrekang. Kami menginap di masjid haji Havid Ali yang baru selesai dibangun,tidak ada penduduk disekitar masjid,jadi tanya waktu itu apakah masjid ini ada jamaahnya karena jauh dari mukim penduduk,tapi sewaktu magrib datang para jamaah mulai berdatangan satu persatu. Masjid yang bagus ini ternyata adalah sumbangan pribadi dari seorang penduduk setempat yang berwasiat pada anaknya untuk dibikinkan masjid di lokasi tersebut.
Jam 07 selesai sarapan kami lanjutkan perjalanan menuju Enrekang,Abu bakar yang sudah menemani kami sejak dari parepare akan kembali pulang ke parepare.
Tanjakan tanjakan di Anrekang semakin gila sehingga kecepatan hanya bisa 10kmh,setiap 30menit kami istirahat.kejadian lucu terjadi sewaktu kami istirahat di sebuah balai balai pinggir jalan,tiba tiba terdengar suara gaduh monyet monyet dipohon,ada kira kira 15 buah mangga dari pohon mereka lemparkan kearah kami,beberapa saat kemudian mereka pergi lalu aku ambil satu mangga tersebut dan membukanya ternyata mangga masak dan manis,mangga mangga yang berserakan tadi kami kumpulkan untuk makanan dijalan.
Jam 17 kami sampai di dusun Kotu desa Bambapuang Enrekang dan berhenti di Masjid Ridho Allah,selesai magrib aku minta izin untuk menginap satu malam di masjid tapi pengurusnya pak Nohon atau biasa dipanggil juga pak Eva keras mengajak kami untuk tidur dirumahnya,akhirnya kami berempat nginap dirumah pak Nohon yang tak jauh dari masjid. Pak Nohon bertiga dengan istri dan satu anak yang sudah bekerja cukup sibuk melayani kami dengan berbagai makanan malam itu. Pagi bagda subuh kami disuguhi kopi dan kue,serta dibekali nasi kotak untuk kami dijalan.
Dilepas oleh keluarga pak Nohon,sepeda kami dayung lagi menuju utara sepanjang jalan di suguhi keindahan pegunungan,tanjakan dan turunan yang terjal serta udara yang panas mampu menaikan adrenalin dengan sensasi pegunungan diketinggian 500mdpl.
Setiap tanjakan ada saja mobil yang menguntit dibelakang,mereka selalu membunyikan klason,bunyi klason sering membuat aku kaget hal ini yang paling tidak enak diperjalanan.
Jam 14 kami sampai di gunung nona yang punya cerita khusus bagi masyarakat sulawesi selatan. Dari gunung nona tanjakan mulai berkurang hingga akhirnya kami berhenti dirumah makan daeng Revano,disini ternyata makanan yang ada hanya mie bakso dan tidak ada makanan nasi atau pilihan lainnya ,karena rasa lapar sejak dari siang akhirnya kami pesan mie Bakso. Kepada pemilik warung daeng Revona kami tanyakan apakah ada masjid terdekat kearah Tana Toraja karena saat itu sudah jam lima sore dan kami mencari tempat istirahat atau masjid untuk bermalam,beliau mengatakan masjid hanya ada di kota Makale yang masih 20km lagi kedepan,mungkin karena melihat kami yang agak kebingungan untuk mencari tempat bermalam lalu dia menawarkan kalau kami mau bisa bermalam di warungnya,tanpa pikir panjang kami menerima tawaran itu. Sore menjelang magrib suami daeng revano datang,lalu memperkenalkan kami pada suaminya dan akan menumpang dirumahnya.gepeng yang berbadan kurus dan mata merah dan sayu seperti habis minum miras menyambut salam kami tanpa banyak bicara pergi ke kandang ayam jagonya dan mengambil ayam terus pergi. Aku jadi sangsi apakah Gepeng kurang suka kami nginap disitu. Sehabis magrib Gepeng datang tergopoh gopoh membawa dua ekor ayam yang satu sepertinya masih hidup dan berdarah darah dan yang satu lagi sudah mati disembelih,dia memanggil istrinya minta tolong dibantu menjahit luka sobek diperut ayam jagonya akibat berlaga tadi,om widodo yang punya lampu penerang menyenter kearah luka yang akan dijahit tadi,usus ayam yang keluar dimasukan lagi setelah itu di jahit pakai jarum dan benang jahit tidak sampai lima belas menit operasi penyelamatan ayam jagonya Gepeng selesai,lalu ayam tersebut diberi makan ramuan khusus yang bisa mempercepat penyembuhan lukanya.
Kenapa Gepeng begitu bahagia dibanding sore tadi?..,ternyata ayam aduannya menang berlaga walau sempat terluka,lalu pada kesempatan yang berbahagia itu aku bertanya apakah kami diizinkan nginap diwarungnya...gepeng langsung menjawab...iya pak...iya pak tentu saja boleh bapak bapak tidur dikamar dan kami tidur diwarung saja..sambil tangannya mencabuti bulu ayam aduan yang kalah berlaga tadi...ini ayam akan kita makan bersama pak katanya lagi...aku jawab,terimakasih Gepeng aku sudah kenyang barusan makan bakso,kataku. Jam 21 malam sudah jarang kendaraan yang lewat begitu sepinya mata terasa mengantuk sekali, kami tidur dikamar pribadinya daeng Revano dan Gepeng ukuran 2x3meter yang berfungsi juga sebagai dapur dan tempat lemari pakaian serta piring semua menyatu. Dinding kayu ditutup dengan spanduk kampanye dan lantai cor semen yang pecah pecah terbentang kasur tipis.
Aku merebahkan diri diatas kasur palembang yang motifnya sudah mulai tertutup dan agak menghitam. Diluar kamar terdengar bunyi ayam dan jangkrik malam,aku terkagum kagum dengan dengan kesederhanaan dan keikhlasan keluarga ini menghadapi kehidupan dan tak segan segan untuk berbagi dengan apa adanya.
Makin malam.makin terasa dingin,sleeping bag aku keluarkan untuk menghangatkan tubuh hingga tertidur sampai subuh.
Sarapan pagi dengan nasi panas dan goreng ikan teri kacang serta sayur pucuk singkong dipersiapkan oleh ibu Roshid tetangga daeng Revano untuk kami. Kami berangkat pagi itu meninggalkan orang sederhana dengan hati yang ikhlas,jalan masih sepi ke arah Tana Toraja,beberapa ruas jalan kelihatan diperlebar hingga terlihat gapura selamat datang di Tana Toraja. Dipinggir jalan mulai terlihat Gereja gereja Toraja.
Jalan yang mulus dan menurun kiri kanan terlihat sawah dan ladang kemudian di kejauhan ada bukit bukit cadas berdiri kokoh yang mengingatkan aku sewaktu memasuki kota Luangprabang di Laos. Kami memasuki kota makale di bundaran kota berdiri patung Lakipadada,lalu sepeda kami tuntun kepelataran dan pesan es cendol yang kebetulan lewat alun alun,sambil makan es cendol kami dekat Lakipadada kami berencana hari ini akan menelisuri objek wisata Lemo dan Katekesu (Bersambung)

3.Trans celebes cycling xpdc_ di dera hujan


Maros-Parepare
Balai balai yang berlantai bambu dan beratapkan daun nipah itu terasa bergoyang...om Bambang,Widodo dan syaiful bangun serentak dan setengah berteriak  "Hujaaan..." mukaku terasa basah kena tampias hujan,semua langsung  bangun dan menyelamatkan barang dari terpaan air hujan,bajuku yang dijemur beterbangan tapi masih bersyukur tidak jatuh kekolam,dalam suasana gelap kami pindah ketengah balai balai menghindari tampias hujan.
Om bambang buru buru memasang tenda,sejak saat itu kami tidak bisa lagi tidur hingga berkumandangnya azan subuh.
Kami meninggalkan kampung baru Ramang ramang setelah menelusuri Batu Kingkong dan gua disekitarnya.
Jam 11 kami naik perahu kembali ke dermaga untuk pulang ke dermaga 1 ramang ramang.
Di dekat dermaga satu ramang ramang kami sholat jumat dimasjid Nur huda,udara luar yang panas menyengat sempat mengeringkan cucianku yang basah sewaktu dijemur selama jumaatan. Perjalanan dilanjutkan menuju utara masuk jalan poros Makasar - Pangkep,mengayuh sepeda diteriknya matahari terasa menguras tenaga tapi jalan yang bagus serta pemandangan pemukiman penduduk dan warung warung disepanjang jalan bisa menghilangkan kejenuhan.
Pak Bambang dari komunitas sepeda Pangkep yang sedari kemarin menghubungi kami kembali menelpon menawarkan kami untuk singgah dan nginap dirumahnya di kota Pangkajene. Jam 4 sore kami memasuk kota Pangkajene lalu berhenti di patung bambu runcing menunggu pak Bambang yang sedang diperjalanan menjemput kami. Selagi menunggu kami makan es cendol pinggir jalan tiba tiba hujun deras turun,udara yang tadinya panas tiba tiba jadi dingin oleh hujan angin. Pak Bambang yang kami tunggu muncul lalu beliau mengajak kami kerumahnya di jalan sech yusuf. Malamnya beberapa kawan dari komunitas sepeda bertandang ke tempat kami nginap,erat sekali rasa persaudaraan pesepeda saat itu.
Salah seorang kawan yang punya laundry mencucikan semua pakaian yang sudah seminggu tidak dicuci,mereka menawarkan segala sesuatu bantuan yang kami perlukan,sungguh ini suatu pembelajaran dari suatu persahabatan yang ikhlas..subhanallah.
Pagi itu sepeda kembali aku bersihkan terutama rantai yang kotor oleh pasir,sementara sarapan pagi dengan nasi dan ikan bandeng goreng sudah dipersiapkan ibu Bambang,selesai santap pagi dengan di konvoi oleh pak bambang dan ibu sepeda kami meluncur lagi ke pasar pangkajene disitu menunggu beberapa pesepeda lokal yang ingin bertemu kami dan memberikan tanda mata sebuah golok,...hiii ngeri hehe..
Menjelang siang Udara panas terasa menyengat dikulit,terasa haus yang berkebihan tapi setelah sholat dan makan siang mendung terlihat dilangit dan beberapa lama hujan turun tapi kami tetap mendayung karena masih rasa aman dengan pakai jas hujan.
Spedo meterku menunjukan jarak tempuh 90km dan kami sampai diq masjid Nurul hidayah desa kupa kecamatan mallusetasi kabupaten Barru,15km sebelum Parepare,waktu menunjukan jam 17 lalu kami berhenti dimasjid tersebut untuk menumpang bermalam.
Imam masjid yang baik hati memberikan kami tumpangan dalam masjid yang dilengkapi ac itu,rasanya mewah sekali saat itu,kami bertemu jamaah tablig yang sudah dua hari berada disitu.
Pagi 20 january 2018 kami jemput ke masjid oleh Abu bakar kawan komunitas sepeda Parepare lalu bersama menuju Pinrang jalan umumnya datar mulus,di Pinrang om De Mille yang sudah menemani kami selama tiga hari akhirnya di parepare berpisah dengan kami karena beliau akan kembali ke Makasar. Sekarang Abu bakar yang gantian bersama kami sampai Enrekang.

2.Trans celebes cycling xpdc_Ramang2


RAMANG-RAMANG dan DESA BERAU

Kamis 18 january 2018 adalah hari ke empat safar kami,pagi ini kami menuju Desa Ramang ramang Maros,rencana yang mendadak yang tercetus tadi malam.

Tahun 2010 aku sudah pernah berkunjung kesitu tapi rasanya ingin kembali lagi dan mudah mudahan bisa camping dan berbaur dengan penduduknya di lembah Ramang ramang tersebut.
Kami berangkat jam 7.30 pagi,udara pagi masih cerah. Sepeda yang sarat beban kami kayuh dari daerah gowa kearah Maros,jalan raya Palopo Makasar pagi itu agak ramai sehingga sepeda kami kadang menyempil diantara mobil mobil.
Dusun Ramang-ramang berjarak 50km dari tempat kami di Gowa,bisa kami tempuh dengan sepeda dalam 2jam,Jika menggunakan transportasi umum dari Makassar, kita dapat naik Pete-pete (angkot) jurusan Terminal Regional Daya, lalu lanjut naik Pete-pete jurusan Pangkep. kami belok di Pertigaan Semen Bosowa, Dari Pertigaan Bosowa bisa naik ojek atau naik Pete-pete lagi, kalau ingin hemat dengan alasan sehat boleh aja jalan kaki, karena jaraknya kira-kira hanya 500 meter. Ada plang tulisan Dermaga Ramang-Ramang segede gaban.
Didermaga yang terbuat dari kayu terlihat beberapa orang yang sedang ngobrol dan ada juga yang sedang bermain catur sepertinya mereka pemilik perahu sewa yang sedang mengisi waktu sampai penumpang datang. Aku dekati seorang muda lalu menanyakan jasa perahu/jollorow untuk membawa kami 5 orang berikut  sepeda ke Ramang ramang,ternyata disitu sudah ada tarif resmi pemumpang yaitu untuk 5 sampai 7 orang ongkosnya Rp250ribu dan sepeda gratis,harganya cukup wajar menerutku dan tanpa menawar kami menyetujuinya.
Lima sepeda kami loading keperahu,perahu bergoyang kiri kanan lumayan gamang juga rasanya membayangkan kalau jatuh. Selesai loading kami langsung berangkat,tidak ada penumpang lain tapi hanya kami berempat ditambah om Daeng Milli yang setia menemani kami sejak dua hari ini.
Sungai yang begitu jernih,terik matahari dinetraliair oleh semilirnya angin ke muka kami,kawan kawan sibuk memanfaatkan momen tersebut dengan jepertan kameranya

“Karst merupakan gugusan tebing Cadas yang terbentuk oleh erosi bawah tanah batuan seperti Batu Kapur dan Marmer yang larut dalam air. Kawasan ini juga dikenal sebagai Hutan Batu terbesar dan terindah kedua di Dunia setelah Karst di Yunnan, Cina Selatan, Cina. Kawasan Karst Maros sendiri terbentuk oleh batuan gamping sejak ribuan tahun yang lalu.membentang di wilayah kabupaten Maros dan kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan luas sekitar kurang lebih 40 ribu hektar. Keunikan karst Maros-Pangkep terletak pada bentuknya yang seperti menara dan benteng batu yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan pegunungan batu gamping yang menjulang tinggi dengan berbagai macam bentuk yang unik, ada sebuah menara batu yang jika dilihat dari titik yang pas akan membentuk siluet wajah. Karst Maros-Pangkep yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah surga bagi pecinta alam.
Perahu kami memasuki satu terowongan batu,seolah olah masuk kealam lain aku ingat sebuah film fiksi the Ring of fire kalau ngga salah.
Lebih kurang empat puluh lima menit kami menelusuri sungai bakau dengan batu batu kars nya akhirnya kami sampai di Kampung Berru,kelihatan sepi di dermaga tradisionalnya ada seorang petugas perempuan tradisional yang ramah menyapa kami,sepertinya ini adalah bagian informasi wisata. Aku menanyakan posisi yang bagus untuk camping lalu dia menunjukan ke suatu lembah yang disitu ada sungainya,tapi saat ini tempat itu terlalu becek untuk camping jadi dia menyarankan kami untuk tinggal di balai balai diatas kolam dan berdekatan dengan rumah pak Dg Ajji seorang tetua di kampung tersebut.
Kami bermalam di balai tersebut,indah sekali bentuknya,aku ingat cottage di Maldivest yang menjorok ke pantai.
Sekeliling kami cadas kars dan dibawahnya membentang sawah dan kolam lebih kurang 10hektar. Kami tidur diudara terbuka di hiasi untaian hutan dan sawah serta nyanyian serangga malam.

Darwis anak pak Daeng Ajji datang bertandang membawa goreng ubi dan kopi panas,subhanallah...tanpa kami minta mereka mengerti apa yang kami impikan saat itu. Kami dapat informasi dari Darwis bahwa penduduk kampung tersebut adalah satu nenek  dari tiga generasi,jadi mereka semua hidup rukun dan persaudaraan yang kuat.
Suatu gejadian yang lucu,diwaktu malam aku hendak buang air kecil ke toilet nya daeng Ajji yang melewati kandang angsa yang berada dibawah rumahnya tiba tiba aku dikejar dan diseruduk beberapa angsa,bunyi angsa bersahut sahutan membuat heboh ditengah malam itu,aku lari terbirit birit dijalan yang merlumpur,perasaanku keluarga daeng ajji tentu terbangun tapi mereka mungkin pura pura tidak tahu agar aku ngga terlalu malu...hehe.
Selain menikmati indah tebing batu, kita juga dapat menjelajahi Gua-gua disekitar karst dengan bantuan pemandu pak daeng Ajji, tentunya dengan peralatan dan pakaian yang sesuai dengan wisata jelajah,tapi kami waktu itu hanya memakai sendal jepit jadi pada putus tertarik lumpur dan akhirnya nyeker....
Gua Kingkong adalah destinasi yang menarik disitu ada tanda tanda atau jejak jejak prasejarah,lukisan kuno didinding gua.
Pagi itu sebelum keluar kampung  barru kami keliling desa sampai ke puncak tertinggi yang disitu Kita bisa mencicipi kopi panas di warung milik ibu Ros.