Pages

Wednesday, February 24, 2016

7.Tour de km0_Kota Barus

Sabtu 30 januari 16.
Dari kejauhan terlihat kelap kelip lampu kota sibolga,pagi subuh kapal ferry km. Belanak merapat di dermaga Sibolga kami turun dan kembali menginjakan kaki di Sibolga. Sepeda diarahkan ke pasar tradisional untuk membeli logistik.
Perjalanan menuju Barus yang berjarak 60km umumnya menyelusuri pinggiran pantai dengan jalan yang datar tapi kurang terawat aspal banyak yang berlubang,pannierku sempat bergeser sewaktu kepergok jalan yang keriting dan bergelombang.
Kami jalan lebih santai dan banyak berhenti untuk ber selfi ria.Daerah kolang sudah mulai banyak masyarakat christiani dengan gereja dibeberapa tempat.
Sebelum Barus kami belok ke Sorkam kanan kiri kanan jalan sawah dengan padi yang menguning dan petani yang sedang panen,udara yang menyengat sepanjang jalan membuat aku ingin sekali berhenti di sebuah pondok pinggir sawah untuk istirahat dan makan siang dengan menu khas goweser...asal kenyang,namun suasana yang nyaman menjadikan makanan jadi terasa istimewa.Beberapa penduduk yang melintas ingin tahu dan berhenti untuk menyapa,pak Pasaribu warga lokal yang bisa berbahasa minang mengatakan bahwa didaerah ini bahasa minang juga dipakai tapi dengan logat yang khas dan beliau bercerita sepanjang pantai daerah sorkam sampai kota Barus umumnya muslim,didaerah ini aku merasa bagai didaerah sumatra barat,wanita nya berjilbab dan laki lakinya berpeci muslim. Banyak ditemui Masjid dan surau didaerah ini,jam 2
TIDAK BANYAK ORANG orang mengetahui bahwa sesungguhnya Barus merupakan sebuah kota yang banyak menyimpan rahasia. Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.
Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah (historical archaelogy) di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.
Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia.  Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab. Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007).
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu (Kompas, 01/04-2005). Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

No comments:

Post a Comment