Pages

Wednesday, February 24, 2016

6.Tour de km 0_Jelajah Nias

25 januari 16, menuju Nias
Dari kantor PM di Sobolga kami diantar ke dermaga ferry oleh pak Sunarto seorang polisi,harga tiket yang seharusnya rp40ribu ternyata di gratiskan untuk kami berlima,
Setelah semua kendaraan masuk,kami  yang bersepeda dipersilahkan masuk kapal dengan menuntun sepeda,rasanya semua mata yang ada disitu tertuju pada kami karena ada sepeda dengan bendera lengkap dengan pannier kiri kanan..
Pelayaran ferry km Menumbing Raya dari Sibolga dimulai jam 8 malam,sepeda kami tinggal di palka kapal dan kami naik ke atas dek tingkat tiga,aku mendengar suling tanda keberangkatan kapal,pelan kapal bergerak ke lautan lepas hingga kota sibolga  yang bercaha lampu makin lama makin hilang.
Saya merasa ini bukan di atas kapal, justru mirip barak pengungsian. Pengap, panas dan ribut oleh suara orang-orang dan tangisan bayi. Bahkan ada yang duduk dan tidur di selasar kapal. Dan ketika saya bosan dengan suasana kabin penumpang saya beranjak pergi ke naik ke lantai 3 tepatnya di buritan kapal. Disini justru lebih parah, penumpang banyak yang tidur di lantai beralaskan koran. Ditambah dengan hilir mudiknya para penjual asongan yang menjual rokok, nasi bungkus dan makanan ringan.
Penumpang umumnya sudah duduk di kursi masing masing atau tempat tidur yang disebut kamar dan ada juga yang masih berjalan mondar mandir termasuk kami yang tidak punya karcis duduk atau kamar. Ruang yang bisa jadi tempat tidur sudah penuh oleh penumpang,aku mencari ruang yang kira kira bisa untuk tidur tapi sepertinya sudah terisi semua,di deck aku ngobrol dengan seseorang disitu dapat informasi bahwa ruang mushala sering juga diisi penumpang,aku coba cek ke Mushala sambil membawa sle├Ęping bag,terasa nyaman sekali ruangan ini dengan ac nya dengan rasa khawatir ditegur aku mencoba merebahkan tubuh yang letih ini terasa nyaman sekali dan seterusnya aku tertidur hingga jam 4 pagi,laju kapal mulai pelan dan jam 5 pagi penumpang mulai turun dan terjadi insiden kecil sewaktu membuka ram door atau pintu keluar penumpang dihantam gelombang sehingga ada penumpang yang jatuh dan cidera.
landing di gunung Sitoli
26 januari 16.Mendarat di gunung Sitoli Nias
Dalam gelapnya pagi kami berlima berjalan kaki menuntun sepeda,toko toko masih belum buka,seorang laki laki yang tadi kami kenal di kapal ikut dengan kami berjalan kaki sambil menunjukan tempat sarapan pagi yang halal dan menunjukan Kantor polres tempat kami melaporkan diri. Pak Hidayat wakapolres memberi petunjuk untuk tetap waspada diperjalanan dan memberi tahu lokasi yang rawan kriminal. Setiap orang yang kami beritahu bahwa tujuan kami hari itu akan ke Teluk dalam sejauh 110km selalu menasehati untuk berhati hati dan kalau kemalaman agar menumpang bermalam di kantor polisi saja supaya lebih aman,karena sudah tiga orang menasehati hal sama sedikit banyaknya membuat kami bertanya tanya ada apa sebetulnya sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan. Bagaimanapun  kami tetap akan waspada dan hati hati sekali.
Ya'ahowe...!! Merdeka...!! Begitulah salam yang kami terima setiap melewati penduduk,terasa keramahan penduduk didaerah yang baru kami kenal ini.kami menelusuri Jalan datar menjelang persimpangan ke Air port Binaka lalu tanjakan yang cukup tinggi di daerah sebelum idanogawo,didesa ini kami istirahat makan siang.
Karena waktu sudah jam14 kami memutuskan untuk bermalam desa Bawolato km 55 saja,tapi setelah di check air untuk mck ternyata airnya sudah kosong,kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kira kira 35km lagi hingga desa Lahusa.
Melalui tanjakan dan penurunan yang mulus kami meluncur kencang hingga jam 17 sampai di desa Lahusa dan kami langsung ke polsek untuk mencari tempat bermalam. Kami dapat layanan sangat simpatik dari bapak bapak petugas di polsek,pak A hasibuan menyediakan aula untuk kami istirahat malam itu.
27 januari 16, menuju Teluk dalam dan melihat Lompat Batu, Desa Bawu Mataluo
Sekitar pukul 7 pagi kami mulai bergerak meninggalkan Desa Lahusa dengan terlebih dahulu berpamitan kepada Pak akp Dogo, Sepeda dipacu menuju arah teluk dalam. Tujuan kami adalah Pantai Sorake dan Pantai Lagundri. Jalanan aspal yang kadang kadang  jelek berlobang berupa bebatuan masih sering memergoki kami.
dijalan kami sempat diguyur hujan lebat,aku dan ucup numpang berteduh di teras rumah penduduk,didepan rumah ada pajangan pisang yang menerbitkan selera,kami beli pisang tersebut dan harganya diluar dugaanku yaitu seribu rupiah untuk satu sisir pisang yang besar besar itu.
Kami juga melewati pasar rakyat, ada pemandangan tak biasa di mata saya. Ada beberapa buah lapak pedagang menjual daging babi, tanpak jelas itu daging babi karena kepala babi turut dipajang. Pemandangan yang tak lazim di jumpai dikotaku.
Habis itu semua kami mulai melalui jalanan yang lumayan lebar namun masih berbatu. Setelah sekian lama kami baru menjumpai jalanan aspal mulus. Merdeka !!! Akhirnya sepeda kami terbebas dari jalanan hancur dan sekarang dapat memacu sepeda phingga kecepatan 30 km/jam.
Di sepanjang jalan menuju teluk dalam disisi kiri terhampar lautan biru luas membentang. Sungguh indah ini semua. Di suatu tempat kami berhenti di tepi jalan. Tempat itu bernama Genasi. Tempat dimana kita dapat memandang luasnya laut biru sejauh mata memandang dari ketinggian. Sehingga sayang melewatkan spot indah ini tanpa di abadikan dalam foto.
Genasi,tempat ini bisa dilewati dalam perjalanan dari gunung sitoli ke teluk dalam atau sebaliknya..kalo cuaca lagi bagus, warna lautnya juga makin bagus
Kemudian kami lajut lagi menuju kota Teluk Dalam. Sepajang jalan kami dihidangkan pemandangan laut nan indah disisi kiri. Wow…tak terasa lelah mengendarai sepeda bila ditemani pemandangan indah seperti ini.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di Kota Teluk Dalam, kami melaporkan diri ke polsek di kota ini.
Sampai jam 12 siang di kota teluk dalam kami hanya berkeliling sebentar lalu lanjut menuju lompat batu nias yang berjarak 30 km dengan medan yang masih menanjak dan menurun.
Desa Bawu Mataluo adalah lokasi dimana Lompat Batu Nias yang terkenal ke seantero jagad.
Sesampainya disana kami di tawari atraksi lompat batu dengan imbalan biaya 150 ribu untuk 3 kali lompatan. Namun karena kami adalah Bikepacker “pas pasan” maka kami tidak menerima tawaran tersebut.tapi opung meminjam kostum perang untul brfoto dengan sewa rp20ribu,kami hanya berjalan-jalan di temani oleh satu orang pemandu wisata yang menceritakan sejarah.

Bawu Mataluo adalah sebuah Desa Adat berupa kompleks perumahan tradisional dengan rumah penduduk yang arsitekturnya sama. Ada satu rumah yang beda, terlihat besar itu adalah rumah raja. Dan yang menempati rumah tersebut adalah generasi kelima dari raja.Di depan rumah raja terdapat pelataran aku jadi ingat film the Vicking yang mirip susunan bangunannya. Dari beberapa sumber mengatakan sewaktu rumah ini selesai dibangun lalu tukangnya di bunuh supaya tidak ada lagi tukang yang bisa membangun rumah yang menyamai rumah raja ini.
Di desa ini kita akan di buat sedikit tak nyaman oleh anak- anak yang berjualan souvenir yang berebut menawarkan barang jualannya mengikuti kemanapun kita pergi. Desa Bawu Mataluo yang artinya Matahari Terbit terletak di atas sebuah bukit. Dari sini Pantai Sorake dan Lagundri terlihat jelas berupa teluk dengan garis pantai melengkung membentuk huruf U.
Hal pertama yang saya cari sesampainya di desa ini adalah Lompat Batu, yang ternyata terletak di depan rumah raja. Kesempatan untuk mengabdikan dalam bentuk foto tak boleh di lewatkan. Karena ini adalah bukti bahwa saya sudah sampai ke Pulau Nias dan melihat langsung tugu lompat batu.
Inilah Lompat batu yang terkenal ke penjuru dunia itu.
Pada masa lampau, pemuda Nias akan mencoba untuk melompati batu setinggi lebih dari 2 meter, dan jika mereka berhasil mereka akaan menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah. Sejak usia 10 tahun, anak lelaki di Pulau Nias akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo" mereka. Sebagai ritual, fahombo dianggap sangat serius dalam adat Nias. Anak lelaki akan melompati batu tersebut untuk mendapat status kedewasaan mereka, dengan mengenakan busana pejuang Nias, menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.
Batu yang harus dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm. Pelompat tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Pada masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing, yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.(sumber wikipedia)

Pemandu kecilku Daniel kemudian mengajak kami berkeliling kompleks desa adat, kemudian ke sebuah rumah yang pemiliknya adalah pengrajin souvenir. Dan lagi-lagi, karena keterbatasan budget alias bikepacker pas pasan kami hanya membeli satu souvenir mainan kunci. Padahal dalam hati ini sangat ingin membeli Patung berbentuk Lompat Batu Nias untuk di pajang di kamarku.
Souvenir, kerajinan tangan warga Desa Bawu Mataluo
Sekitar 1 jam kami berkeliling, akhirnya kami menyudahi tour singkat ini untuk melanjutkan kembali perjalanan. Pemandu yang membawa kami berkeliling  kami beri imbalan suka rela sebesar 20 ribu.
Sekitar jam 15 sore kami kembali ke taluk dalam untuk membeli makanan guna persiapan camping hari itu di pantai Lagundri.
pantai Lagundri

Beberapa kali berhenti bertanya arah ke Pantai Sorake kepada orang. Setelah petunjuk jalan kami rasa jelas sepeda langsung kami genjot menuju Pantai Sorake,kami melewati 3 tanjakan yang cukup tinggi  dan 1,5 jam pejalanan dari kota Teluk Dalam kami tiba di Sorake.
Berjalan menyusuri pantai Lagundri
Indahnya lekukan pantai lagundri yang berada di teluk
Pantai Sorake menjadi tempat yang pertama dikunjungi pada hari ini. Namun apa lacur? Bayangan awal pantai Sorake dalam benak kami adalah pantai putih dengan ombak besar dan banyak “bule-bule” berbikini di pantai. Namun kenyataan berkata lain. Pantai Sorake hanya pantai batu karang dengan ombak yang tinggi dan tidak banyak bule. Hanya beberapa orang bule yang tampak sedang bermain selancar dan duduk di pantai.
Dari info masyarakat setempat, memang bulan ini tidak banyak turis asing. Pada saat Summer Time saja banyak turis asing disini. Yaitu antara bulan mei sampai juli. Dimana kontes Surfing internasional digelar tiap tahun. Garis ombak ombak panjang setiggi 10 meter tentu saja menjadi daya pikat penggila selancar dari penjuru dunia.
peselancar dan peturing
Bergaya ala peselancar profesional
Mau main selancar di laut gak bisa berdiri, mending dipasir aja gak bakalan jatuh. haha
Karena kami ke pantai hendak camping. Pantai Sorake terasa tidak cocok karena pantai yang berbatu karang tanpa pasir. Akhirnya kami pindah menuju pantai Lagundri berjarak sekitar 1 Km dari Sorake.Tiba di lagundri langsung permisi pada pemilik warung untuk mendirikan tenda di pantai.
Dari pemilik warung  aku dapat cerota bahwa mereka adalah keluarga muslim dan lebih kurang.ada 17 keluarga yang sudah muslim dan sadaranya masih banyak yang nasrani walaupun begitu mereka tetap rulun
Camping kami
Yah..disinilah kami akan bermalam sampai esok siang. Sengaja kami camping disini agar puas main di pantai indah ini. Dari mulai menyewa papan salancar seharga 30 ribu. Jalan-jalan di pantai. Duduk melihat aksi selancar orang-orang yang sudah pro dan beraktivitas lainnya menikmati undahnya pantai. Opung dan ucup ikut short training surfing,tapi memang satu hari belum cukup untuk jadi peselancar. Di sore hari dikala matahari hendak terbenam, sunset indah kami abadikan dalam bentuk foto Sunset di Lagundri bay
Malam tiba kami duduk di depan tenda melingkari api unggun sambil menunggu nasi masak,nyanyian ombak dipantai bagaikan berzikir pada penciptanya,aku makin tertunduk dan makin terasa kecil mengingat kebesaran Allah yang menunjukan keindahan ciptaanNya padaku saat ini....tidak ada kata kata untuk mengungkapkan keindahan suasana kala itu dan mulutku hanya bisa menyebut Maha besar engkau ya Allah yang telah menjadikan semuanya ini.....
Nasi hangat dengan lauk ikan asin sambalado goreng siap untuk kami santap,cerita pengalaman selama perjalanan dan kekonyolan diri sendiri menjadi lucu saat itu,malam makin larut kami mulai masuk tenda untuk istirahat,sekitar jam 03 malam subhanallah hujan dan angin badai menggoyang seakan menerbangkanku bersama tenda ini,lalu aku merasakan air menggenang dilantai tenda,heran dari mana datang genangan air ini,aku lihat ke arah atas tendan hanya sedikit rembesan saja,hujan makin lebat dan matras ultraligh yang yang dibawa dari USA lalu terapung oleh air,aku baru menyadari ternyata aku membuat kekeliruan yaitu mengembangkan flysheet dibawah tenda dengan tujuan supaya tendaku tidak dikotori pasir namun akibatnya jadi fatal air hujan tidak langsung diserap tanah tapi tergenang di atas flysheet ini.
Aku mencoba keluar tenda untuk mengambil flysheet tersebut tapi aku urungkan karena hujan dan badai yang masih besar,aku hanya duduk jongkok ditenda sambil menulis catatan perjalanan ini hingga hujan reda sampai datangnya subuh.



tenda di genangi air

Berkemas
Pagi ini Sun rise tidak jelas terlihat karena mendung,aku keluarkan dari tenda  pakaian yang basah kena hujan tadi malam dan dijemur lagi diatas sepeda,kami berencana menunggu tenda agak kering baru berangkat ke kota Teluk dalam,tapi tanpa terduga hujan turun lagi,kami terpaksa menunggu hujan reda baru berangkat.
Jam 12.30 kami pamitan pada bapak yang punya resort dan mendayung sepeda ke polres Teluk dalam,di polres kami bertemu wakapolres beliau memberi bantuan transport untuk membawa kami kembali ke Gunung Sotoli. Sehabis magrib kami dibawa dengan bus polisi dan sepeda dinaikan keatas truck polisi.sesampai di Gunung sitoli jam 22.00 malam kami ditawarkan pak supriadi polisi yang memberi tumpangan untuk tidur di polres dan kami disuruh menunggu di persimpangan jalan karena dia ada keperluan sebentar,tapi setelah ditunggu sampai setengah jam beliau tidak datang,lalu ditengah malam itu kami mencoba pergi sendiri ke polres,ditengah perjalanan aku di panggil pak Bob aldin dari rumahnya,kami berhenti lalu beliau menawarkan masjid Al islami  untuk tempat istirahat kami malam itu.
Kami menerima tawanan yang simpatik itu dengan perasaan suka cita karena terbebas dari menggelandang di malam yang dingin itu.
Masjid Al Islami terletak di daerah bisnis jl.Diponegoro,mayoritas penduduk disini perantau Minang yang sudah bermukim sampai tiga generasi umumnya sebagai pedagang. Pak Mucklis (60thn) seorang perantau minang asal Malayo yang sukses datang ke Nias Gunung sitoli sejak thn 1964 beliau dibawa kakeknya
Sekarang pak Mukhlis pedagang  yang juga menjadi aktivis di partai PAN dan muhamaddiayah itu mempunya tiga orang anak yang sudah serjana dan empat orang cucu. pak Aldrin Tanjung (50thn) asal Sungai jariang Agam lahir di Gunung sitoli seorang pedagang emas yang sukses. Kita tidak merasa di Nias kalau berada di daerah pasar ini karena sering terdengar orang berbahasa minang didaerah ini.
Paginya kami didatangi kawan kawan goweser nias gureta club (ngc) lalu menyerahkan baju NGC sebagai kenang kenangan untuk kami.
Pak Ari petugas
Selesai sholat jumat beberapa anggota ngc mengajak kami untuk makan siang bersama,pak Ari teman gowes ngc adalah seorang petugas ferry sudah bookingkan ticket ferry ke Sibolga untuk kami berlima,
Sehabis magrib kami diantar oleh teman teman komunitas sepeda ke dermaga ferry sejauh 1km dari masjid.
siap siap pulang

Kapal ferry Kmp.Belanak warna putih dan biru kayaknya lebih besar dari kapal ferry yang kami tumpangi sebelumnya. Pak Ari memberikan ticket lalu kami dipersilahkan masuk leboh duluan dari penumpang lain,terasa sekali kami diistimewakan..
Kami diantar naik ke lantai dua di sebuah ruangan yang ber AC,kursi sofa yang empuk serta sebuah kasur dipersiapkan dibawahnya seandainya kita ingin tidur,kontras sekali dengan suasana ruangan klass ekonomi yang bising dan semrawut,itulah kehidupan yang penuh warna warni.jam 20.30 kapal mulai bergerak tinggalkan bumi Nias.

No comments:

Post a Comment