Pages

Thursday, April 9, 2015

8.TOUR de ASIA_SUNGAI PELEK

Hari ini adalah hari ke 12 sejak kami tinggalkan pekanbaru. Sebelum meninggalkan Malaka kami sempat berkeliling kota tua yang sempat diduduki Portugis ini.
Kami makan siang di sungai udang,setelah mengayuh selama lebih kurang 3 jam sepanjang hutan rekreasi Sungai Udang,udara disini agak dingin mungkin karena dataran tinggi.
Sewaktu melanjutkan perjalanan kami bertiga sempat terpisah,Joker belok kiri kearah pantai jl.Padang kambing dan saya dengan Sitor laju ke arah mesjid tanah yang rencananya akan terus menuju pantai tapi ternyata kami dengan opung Sitor sudah mengambil jalur yang keliru.
Karena sudah berapa lama menunggu joker tidak muncul, aku menelpon nya dan kami janjian untuk bertemu di persimpangan dekat pasir panjang.
Aku dan yosef agak keteteran dapat jalur yang bergelombang dipanas yang seterik itu,perasaanku jadi tidak nyaman membayangkan kalau kemalaman masih belum ketemu,tiba tiba di suatu pertigaan kayu hitam aku disapa seorang bersepeda motor "bapak kehilangan kawan ya..?" Aku tetap mendayung dan melengong ke orang tersebut,ternyata pak yazid dari Melaka,perasaanku sedikit tenang dengan pak yazid yang membawa sepeda motor itu. Aku ceritakan kejadiannya,pak yazid lalu beliau berangkat mencari Joker sesuai pososi gps yang dikirim melalui watchup.

Aku dan yosef disuruh lanjut dan menunggu sampai joker dan pak yazid muncul di pertigaan di daerah Kuala sungai baru di pertigaan jalan Melaka Kualalumpur. Lebih kurang setengah jam joker dan pak yazid muncul lalu kami melanjutkan perjalanan dengan di escort oleh pak yazid sampai ke Batas  Melaka dan port dickson negeri sembilan yang dibatasi oleh aliran sungai Linggi. 

Jembatan Sungai Linggi

Selesai istirahat dan ngopi traktiran pak Yazid,lalu kami berpisah dengan beliau yang akan kembali ke Melaka dan kami akan terus ke Sungai pelek.
Kembali aku terpana dengan kebaikan pak yazid yang tidak pernah kami kenal sebelumnya,kebaikan yang ikhlas tanpa pamrih dan belakangan aku baca di FB nya masih memberikan pesan kebaikan pada komunitas sepeda di santero semenanjung "untuk memberikan bantuan apabila menemui kami "
Didaerah kampung Tanjong Pelanduk kami berhenti disebuah Masjid kami minta izin untuk menginap disitu karena hari sudah mulai gelap,pengurus masjid yang masih berdarah Jawa menerima kami dengan senang hati dan berpesan pada kami untuk berhati hati menjaga barang karena masjid tersebut adalah tempat persinggahan para musyafir.
Dari jamaah aku ketahui masjid ini sering juga pesepeda jarak jauh yang numpang untuk bermalam sebulan yang lalu ada sepasang suami istri pesepeda dari Perancis menumpang nginap di shelter halaman mesjid.
Masjid di Tanjung Pelanduk

Pagi selesai subuh kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai pelek,panas sore sedikit berkurang jalan yang kami tempuh di daerah port Dickson datar dan mulus,negeri sembilan banyak dihuni oleh etnis turunan Minang,dekat pantai sebelum belok ke Lukut aku melihat rumah adat Minang Kabau,aku yang berdarah minang saat itu merasa bahagia melihat sesuatu yang unik ini.
Rumah adat Minang di Port Dickson
Jam 12 kami sampai di pasar Sungai Pelek,aku,joker pergi sholat Jumat dan sitor pergi makan siang ke pasar.
Selesai sholat jumat kami jadi perhatian jemaah yang pulang sholat,keheranan mereka umumnya dengan usia kami yang tua untuk bersepeda sebegitu jauh.
Salah seorang jamaah,yang tadi bercerita pernah berkunjung ke Padang,tiba tiba memberi "salam tempel" padaku,aku berusaha menolak dengan sopan,tapi beliau mengatakan "ini wajib diambil untuk minum di jalan",aku menerima dengan perasaan sendu yang tak kumengerti.
Pak Ngah yang kami telpon kini muncul dihadapan kami,aku langsung mengenal beliau dengan brewoknya yang khas,kami salami dan peluk beliau perasaanku aku sudah kenal lama dengan beliau,pada hal selama ini kami hanya kenal dan bercanda di FB saja.




Pakngah menjemput kami



Sebelum dibawa kerumah pakngah kami berkenalan juga dengan pak Syahrir tetangga pak ngah yang berdarah aceh,dia sangat terkesan dengan xpdc kami dan beliau ingin sekali mengajak kami makan malam ini sambil bincang bincang dengan kami katanya.
Kami lanjut mendayung menuju rumah pak ngah berdarah Bengkulu ini kira kira 5 km di Tasik sepat satu,pantai sepang putra,Sungai Selangor.













Rumah pak ngah yang begitu asri didepan tasik


Aku terkagum kagum dengan rumah pak ngah yang begitu asri didepan tasik yang indah dan tenang,dibelakang rumah ada bike kitchen yang jadi impian Sitor untuk melihatnya,aku terkagum melihat kerapian ruang kerja atau bahasa gaulnya "Bike Kitchen" beberapa sepeda surly dan sepeda ternama lainnya nangkring disitu,ada yang milik pribadi beliau dan ada juga diantaranya titipan orang yang sedang "di olah" oleh Pakngah.
Bike Kitchen

kemudian kira kira 100meter ada tasik yang yang disitu ada beberapa ekor angsa yang sedang berenang,2 unit canno sangat menggoda kami untuk mencoba bertualang di danau yang tenang tersebut.
Kami diberi satu kamar tidur yang terlalu nyaman untuk seorang pengelana.
Malam jam 8 kami dijemput oleh pak Syahrir untuk makan malam sea food di pinggir bagan 
Lalang yang aku yakin tentu harga menunya cukup tinggi disitu.
dengan Pak Syahrir
Pak Syahrir 49tahun seorang developer di malaysia dan mempunya hoby dan bisnis ternak kucing import yang harga perekornya ada yang rp30juta,si jakarta beliau punya rumah di cibubur dan sekali 2minggu beliau ke jakarta untuk urusan bisnisnya.

Kucing pak Syahrir
Kami berkunjung kerumah pak syahrir untuk melihat kucing kucing manis import berbagai jenis  yang baru kali itu aku melihat kucing yang warnanya mirip macan tutul dan harimau dan semuanya jinak jinak.
Jam 11 malam kami baru kembali kerumah,sepertinya kami dua hari disini karena terasa nyaman seperti di villa hehehe....

















No comments:

Post a Comment