Pages

Friday, February 7, 2014

9.MIMPIKU BERSEPEDA JAKARTA BALI KESAMPAIAN (TRANS JAVA BALI)

Sepedaku si Marine sudah istirahat sehari tapi aku perlu berikan perawatan buat dia supaya bunyi bunyi gesekan rantai kering yang mengganggu kuping bisa hilang,sebentar lagidia akan menginjak pulau dewata.


Halo Bali.....
Banyuwangi kota terakhir kami sebelum masuk ke pulau Bali,dua hari keberadaan kami disitu yang rencananya istirahat pemulihan stamina tapi nyatanya kurang enak juga kalau hanya tidur tiduran dirumah.
Turun dari gunung Ijen dan sampai dirumah jam 10.00 pagi kami langsung berbaring di kamar sekitar satu jam lalu sehabis dzuhur cak Rofik mengajak kami melihat tambak udangnya yang tidak berapa jauh dari rumahnya.

TAMBAK UDANG CAK ROFIQ

Lahan tambaknya seluas 1ha baru saja panen udang seberat 22ton,kami mencicipi goreng udang setiap kali makan,pesan cak Rohim kalau disini makan nasinya sedikit saja tapi goreng udangnya dibanyakan...berleha leha di areal tambak yang menghadap ke laut sehingga terlihat gugusan pulau Bali,aku tercenung memandang jauh dan mulutku berbisik Alhamdulillah ya Allah...maha besar engkau yang telah memberikan kekuatan, perlindungan dan segala kenikmatan dalam perjalanan yang telah kami jalani.
Udara yang agak panas terasa sejuk kena tiupan angin laut,mataku ngga tahan menahan kantuk tapi rasanya sayang meninggalkan momen yang indah ini akhirnya dalam perjalanan pulang di mobil aku sempatkan untuk tidur.
Hari ini adalah hari ke sembilan belas sejak berangkat dari jakarta,subuh di Banyuwangi jam 04.30pagi,segala sesuatu untuk perjalanan sudah dipersiapkan sejak sore kemarin,pakaian yang selama ini dicuci seadanya sekarang sudah dicuci dengan mesin dan kelihatan kinclong dan wangi,rantai sepeda aku bersihkan dan semprot dengan pelumas mudah mudahan bunyi brisik dari rantai kering bisa hilang.
Dua rantang nasi  yang sudah dipersiapkan istri cak Rohim  untuk kami katanya untuk dimakan dijalan,kami berusaha menolak tapi cak Rohim dan istrinya ngotot supaya kami membawanya ,akhirnya kami tidak sampai hati untuk menolak walaupun isi panierku sudah maximum dan kelihatan membengkak.
Sungguh kami tidak menyangka kalau dibuatkan bekal seperti ini,rasanya kami diperlakukan terlalu istimewa dan merepotkan tuan rumah. Ini adalah pengalaman pertama aku membawa bekal nasi dalam turing.
Keberangkatan kami dilepas oleh cak Rofiq dan keluarga serta beberapa orang tetangga.

dilepas oleh cak Rofiq
Ada juga perasaan sedih setiap meninggalkan orang yang kami temui apalagi orang orang yang begitu banyak memberikan kebaikan dan berbagi kebahagiaan  selama berada dirumahnya ataupun di mesjid yang kami singgahi.
Kami menuju pelabuhan Ketapang,mas Rofiq mengkonvoi kami sampai pada satu pertigaan yang dikhawatirkannya bisa menyesatkan kami,sesampai di pertigaan tersebut dia pamitan dan kembali kerumahnya,aku sengaja berhenti sampai cak Rofik yang telah menemani kami selama dua hari ini hilang dibelokan jalan,sampai jumpa cak Rofik..semoga Allah berikan segala kebaikan buat cak Rofik dan mempertemukan kita kembali....
Jalanan mulai ramai tapi lancar,hingga setengah jam kami bersepeda  kami sampai di pabuhan ketapang. Dua ticket ferry dari ketapang ke Gilimanuk kami beli,terlihat ada beberapa ferry yang sandar di dermaga tidak ada antrian penumpang seperti yang kubayangkan,berarti pelabuhan normal dan kami masuk paling duluan ke atas salah satu ferry.
Parkir sepeda di haluan


Sepeda kami parkir di deck depan kapal dan kami pergi ke bridge mencari tempat istirahat,crew kapal sangat respect dengan perjalanan kami lalu mempersilahkan kami untuk melihat lihat diruang kemudi,laut sekitar pelabuhan ketapang sangat tenang dan  dilaut lepas terlihat beberapa kapal yang sedang berlayar. Aku duduk di kursi deck paling atas,hanya ada dua penumpang lain disitu,disampingku joker tidur selonjoran diatas beberapa korsi.
Aku tidak  mau tidur sedetikpun agar tidak kehilangan momen yang menyenangkan ini,aku pandang lautan dan seketika khayalanku melayang ke 32tahun yang silam ketika aku seorang pelaut masih muda yang mengarungi tujuh samudra,saat itu rasanya dunia terbuka ini tanpa batas  ...,perasaanku sedikit terobati.

Nostalgia
Aku lihat Joker tertidur pulas, kelihatan masih tetap sehat dan spirit serta keyakinannya untuk menggapai sesuatu perlu aku tiru,aku sungguh beruntung bisa betualang bersamanya,walaupun kadang kadang aku khawatir dengan kesehatannya,pernah dibeberapa tanjakan cikalong dan citatah aku tawarkan ke joker untuk naik truck atau pickup sampai di puncak tapi dia menolak dengan alasan masih sanggup,aku perhatikan dia jalan menuntun sepeda diakhir usahanya mencapai puncak.
Alhamdulillah sungguh rasanya ini adalah suatu nikmat yang telah diberikan Allah pada kami,doa doa kami sudah diijabahNya,kami tetap sehat dan sebentar lagi insyallah sampai di pulau yang kami impikan.
Lebih kurang satu jam perjalanan kami sampai di pelabuhan Gilimanuk,kami turun paling belakangan.
Ku injakan kakiku di tanah Gilimanuk  Bali kudorong sepedaku,...aku berseru Allahuakbar...
aku bergumam pada joker Alhamdulillah mimpi mimpi kita sudah jadi kenyataan...Allah sudah kabulkan doa kita....
Gilimanuk Denpasar

Jalan raya Gilimanuk Denpasar sangat mulus kiri kanan jalan ditumbuhi pohon pelindung sangat menyenangkan suasananya ada beberapa kendaraan yang berpapasan dengan kami,suasana bali mulai terasa setiap kami melewati gapura berornamen Bali.
Kami memasuki kabupaten Negara dimana terdapat komunitas muslim terbesar di Bali. Warung warung makan terlihat banyak yang dikasih label Halal.
Sekitar jam 10.30 wita kami istirahat disuatu pesawangan km27 dari Gilimanuk yang kiri kanannya di penuhi hutan lindung kami duduk disebuah kayu tumbang  dipinggir jalan,bekal nasi rantang dari cak Rofik kami buka dan makan hingga habis setengahnya dan setengah lagi kami simpan untuk makan siang.
Bekal nasi rantang dari cak Rofik
Perjalanan kami lanjutkan hingga terdengar adzan zuhur di daerah kecamatan Malaya,kami mencoba mengamati masjid yang ada didaerah tersebut dan akhirnya menemukan mesjid Almustaqin tidak berapa jauh dari jalan raya.
Selesai sholat zuhur kami makan diteras luar mesjid,nasi bekal yang masih ada separuhnya aku habiskan dengan lahap hingga licin tak bersisa sedikitpun,dari dalam mesjid terdengar para santri mengaji tadarus  Alquran,sejuk sekali perasaan mendengarnya hilang rasa capek hari ini.
Kami sempat bincang bincang dengan salah satu pengurus yayasan panti asuhan Almutaqin,pak Nasir yang juga alumni pesantren mengatakan Yayasan Panti Asuhan Al MustaqinJl. Udayana 333; Negara,mempunyai 70 santri putra/putri yg kemungkinan akan bertambah 10%dlm th 2014.
Panti Asuhan: Makan, sangat irit, Rp100rb + 25 kg beras per hari utk seluruh 70 santri.
Belum ada donatur tetap dan biaya keseharian mereka hanya ditutupi dari hasil pertanian yang sangat  tidak bisa mencukupi untuk makan 70 orang santri.
Mereka anak anak kita yang serba kekurangan,dulunya panti ini dikelola dan disantuni oleh seorang dermawan (maaf lupa namanya) tapi sejak meninggal 3tahun yang lalu tidak ada yang meneruskan pengelolaan.
panti asuhan Almutaqin Negara Bali
Barulah satu tahun yang lalu ada seorang alumni panti/pesantren tersebut yang bersedia mengelola,itulah dia pak Nasir.
Mendengar cerita tersebut aku dan joker menyempatkan diri melihat ke pondokan mereka.
Mereka tinggal di Pondokan dari kayu yang berdiri dipinggir kali,ada beberapa pondok yang sudah miring bedirinya,dihalaman ada satu kolam yang waktu itu hanya berisi beberapa ekor ikan hasil pancingan santri di sungai, kemudian sedikit kearah depan pondok ada kandang ayam yang sudah tidak ada ayamnya serta kebon  yang hanya ditanami ubi kayu.
jangan pernah menyerah....!
Kami menyalami anak anak yatim itu satu persatu dan kami pesankan ke mereka supaya tetap sungguh sungguh belajar dalam kondisi apapun dan jangan pernah menyerah....
Tidak banyak yang bisa kami perbuat saat itu,dengan dana perjalanan kami yang masih ada kami serahkan pada mereka karena ini adalah hari terakhir kami diperjalanan tentu tidak membutuhkan dana yang banyak lagi,disamping itu aku dan joker berjanji akan memberitahu kenyataan anak anak yatim ini kesiapapun dengan harapan ada yang tergerak hatinya untuk memberi bantuan materi ataupun pikiran pada mereka.
Apabila ada yang berniat untuk berikan sumbangan berikut adalah akun dari panti tersebut:
Yayasan Panti Asuhan Al MustaqinJl. Udayana 333; Negara, Bali Akun: E Batara Pos 105 4801 5700 2234
Hampir dua jam kami berada di panti yatim akhirnya jam 14 kami melanjutkan perjalanan,joker memberi tahu bahwa anak dan bu raden istri joker baru saja sampai di Kuta Bali,kami memacu sepeda lebih kencang,kiri kanan dihiasi persawahan sayang nya gerimis mulai turun dan langit terlihat mendung,tadinya kami bertekat bisa sampai di kuta pada hari itu juga,tapi melihat cuaca dan jarak tempuh kami yang masih 50km lagi tidak mungkin akan kami lakukan.
Kembali kami memacu sepeda sebisanya dan mudah mudahan bisa sampai di Kuta malam ini juga,udara yang mulai adem dan pemandangan pinggir jalan yang hijau sangat membantu kami,saking semangatnya pernah aku hampir tidak melihat pedati yang ditarik kerbau bule lewat didepanku,sepeda segera aku rem dan momen istimewa itu aku abadikan karena kalau di Toraja nilai kerbau putih bisa 10 kali nilai kerbau hitamdan biasanya di Toraja kerbau putih dimanjakan tapi di Bali kayaknya dianggap biasa biasa saja dan dibawa menarik pedati.
pedati ditarik kerbau bule lewat didepanku

Diperbatasan kabupaten Jemrana kami melihat sebuah mesjid Jami" Nuruttaqwa yang masih tahap pembangunan,kami berhenti disitu tapi belum terlihat jemaah saat itu,kami mampir kewarung didepan mesjid dan memesan kopi,saya tertarik mendengar logat bicara ibu yang punya warung ini  dalam bahasa melayu rasanya saya kembali ke pekanbaru mendengarnya,sewaktu saya tanyakan ternyata keluarganya adalah keturunan melayu dari Malaka atau Riau,dan tinggal di Bali sudah beberapa generasi sehingga mereka tidak tahu lagi dimana asal mereka tepatnya.
Tak terasa hampir magrib,saya bilang ke joker kita tidak mungkin meneruskan perjalanan malam ini  karena hujan dimalam hari sangat membahayakan keselamatan dan sebaiknya kita numpang nginap dimesjid ini saja,joker diam sejenak lalu mencoba menelpon Aster anaknya yang sudah berada di kuta,dan memberi tahu keberadaan kami di Jembrana.
Aster dan suami berbaik hati akan menjemput  kami  waktu itu juga ke Jemrana kemudian sepeda akan dititip di mesjid dan diambil esok paginya untuk di gowes lagi ke Hotel kami di kuta.
Jemaah magrib sudah berdatangan lalu aku menemui pengurus mesjid pak Haji Masrin,setelah memperkenalkan diri lalu mengutarakan niat kami untuk menumpangkan sepeda di mesjid itu,beliau dengan senang hati akan membantu kami.
Sampai selesai Isya aster yang kami tunggu untuk menjemput belum sampai juga,pak Haji Masrin yang asli Bali adalah seorang guru SMP serta beberapa jemaah mesjid berkumpul menemani kami di mesjid sambil ngobrol tentang perjalan kami dan perbincangan makin menarik ketika joker menerangkan tentang kejadian alam atau Big bang sesuai teori fisika yang sangat dikuasai joker. Kami menilai jemaah mesjid tersebut sangat ramah dan haus ilmu.
Masjid Nurut Taqwa Negara Bali

Mereka juga bercerita tentang suka dukanya membangun mesjid yang sudah hampir dua tahun belum siap siap sampai saat ini,warga desa ini bahu membahu ingin menyiapkan mesjid tersebut,sayang sekali kendalanya adalah kekurangan dana,dengan penuh harap pak Masrin dan jemaah minta tolong pada kami untuk mejalankan informasi ini pada orang yang kami kenal kalau ada yang akan berinfak ke mesjid mereka melalui Akon:BRI unit Yehembang Negara4700-01-006883-53-7
Hujan masih turun dan jam 21.00wita Aster sampai di tempat kami,lalu sepeda yang tadinya akan kami titip di mesjid akhirnya dititip di rumah ustad Junaidi yang berjarak 200meter dari mesjid.
Hujan makin lebat,kami pamitan dengan jemaah yang sudah terasa akrap dengan kami,mobil avanza meluncur membawa kami dalam siraman hujan dimalam yang cukup dingin itu menuju Kuta.
Bahagia sekali perasaan kami saat itu khususnya joker sekeluarga setelah sekian lama berpisah dan sekarang bertemu di Bali.


Mobil membawa kami melewati jalan Kuta dan kiri kanan dipenuhi para turis asing dan lokal yang lalu lalang di trotoar dengan modis dan juga ada yang berpakaian pantai,sementara dentuman musik terdengar dari setiap cafe yang dipenuhi pengunjung pencari hiburan,kontras sekali suasananya dengan suasana perjalanan kami selama ini.yang jauh dari dunia gemerlap.
Mataku sudah tak tahan menahan kantuk hingga akhirnya kami sampai di hotel Grand Whiz kuta bali...yang aku yakini bahwa ini bukanlah mimpi......Alhamdalulillah..... My dream has come true..Nina yang sudah begitu lama kutinggal esok akan kujemput ke Bandara dan akan kubawa keliling pulau dewata dan disaat itu "si Marine" akan kutinggal dulu.
aku dan Nina

Sampai jumpa di perjalananku berikutnya,Mudah mudahan ini bukanlah akhir perjalanan kami..amiin
Sebagai penutup episode ini saya kutip sebuah puisi sebagai berikut:

A dream that will need
climb every mountain,
search high and low,
follow every byway,
every path you know.
Climb every mountain,
follow every stream,
follow every rainbow,
till you find your dream.
A dream that will need,
All love you can give,
every day of your life,
For as long as your live.
Salam maaf
Katik n joker

3 comments:

  1. Subhanallah, terima kasih sudah berbagi cerita petualangan nya pak katik

    ReplyDelete