Pages

Monday, July 6, 2015

24.TOUR de ASIA_Clasic Route Vangvieng ke Louang prabang



Selasa 02 desember,
Kota Vangvieng pagi ini diguyur hujan,mudah mudahan ini membawa berkah karena sudah hampir satu bulan sejak dari Malaysia kami belum dapat hujan.
Jam 07.00 jalanan sudah mulai  ramai dengan lalu lintas terutama para pelajar yang umumnya pergi sekolah berkendaraan sepeda.




Kami meluncur di jalan yang masih basah terguyur hujan kearah utara dengan target hari ini adalah kota Kasi sejauh 60km dari vangvieng,baru sampai dibatas kota kami disuguhi pemandangan pegunungan dan disebelah kiri sungai Nam song yang jernih mengalir dibebatuan,suara alirannya menjadi musik alam yang menyejukan hati,kendaraan antar kota mulai terasa ramai khususnya truck truck besar yang melintas  antar negara dan bahkan sampai ke China dan Vietnam,tetapi mereka sangat menghargai para pesepeda,mungkin mereka sudah terbiasa melihat para pesepeda asing dan jarak jauh seperti kami.
Hilang pemandangan sungai berganti dengan sawah dikiri kanan kita,terlihat para petani Laos yang sedang panen padi yang tidak beda jauh dengan cara petani kita yaitu menyabit dan ada juga yang sedang menyankul sawahnya dengan menggunakan mesin bajak yang kadang kadang terlihat dijalanan berfungsi juga sebagai alat angkut keluarga.


Petani yang melihat kami bersepeda sering melambaikan tangannya kearah kami dan meneriakan "Sabaydee",hal semacam ini menambah kecintaanku pada penduduk negri yang sederhana tapi amat ramah pada pendatang.
Udara yang agak menyengat sedikit terlupakan dengan keindahan alam pedesaan serta sapaan ramah penduduknya,hingga tak terasa Kami sampai di daerah Bantiang lalu berhenti untuk istirahat dan makan siang. Kembali disini adanya nasi ketan dan lauknya telor dadar lagi karena itu lah yang terbaik dan di jamin halal waktu itu. Selesai istirahat siang kami melanjutkan kayuhan,dihadapan sudah menunggu tanjakan panjang sejauh 60km,inilah awal masuk pegunungan Laos yang terasa berlapis lapis dan tidak habis habisnya kami daki dan turuni,pegunungan spectaculer tersebut adalah terusan dari pegununga Himalaya di asia tengah,aku mencoba mengatur irama kayuhan agar tidak terputus,dan disetiap belokan tajam biasanya akan ada jalan datar yang bisa interval kayuhan sebagaimana pengalaman jalan antara pekanbaru dan Bukittinggi tapi dugaan ini salah belokan itu akan disambut lagi dengan tanjakan yang panjang lebih kurang 30km dengan kemiringan 15 derjat.
Sampai di daerah Ban Song savat disini kita menemukan pasar dari binatang binatang buruan yang sudah mati seperti monyet,landak,ular,kelelawar,macan kumbang,beruang serta aneka burung,biawak dan lain lain,dari informasi yang didapat binatang binatang tersebut di konsumsi sebagai obat.



Pasar pinggir jalan yang terletak antara tebing dan lembah itu tidak begitu ramai hanya beberapa turis dan kendaraan pribadi yang berhenti untuk istirahat dan melihat lihat di pasar tersebut. aku turun dari sepeda dan menuntun sepeda sambil melihat lihat dagangan sepanjang jalan itu,sikap pedagang dan penduduk sepertinya sudah terbiasa atau tidak asing lagi melihat turis bersepeda seperti kami mereka ramah menyapa kami "Sabaydee,please come".
suara uwa uwa dan satwa liar dari lembah terdengar jelas ke pasar tersebut,keadaan yang alami ini membuatku semakain betah berlama lama.Udara terasa semakain dingin,tetesan air dari daun daun pohon yang tumbuh di tebing kadang kadang bembasahi tubuhku,jalan agak becek dengan genangan air dari hujan serta aliran liar air dari tebing membuat kakiku berkubang dan kelihatan dekil.


Dari daerah ini kemudian kami meluncur turun sejauh 10km udara dingin membuat tangan jadi kesemutan juga menekan rem,aku agak khawatir menekan rem terlalu lama bisa mengakibatkan canvas rem habis,aku mencoba lepas rem beberapa saat lalu tekan rem lagi karena agak bosan pernah suatu kali aku biarkan sepeda meluncur tanpa direm dengan kecepatan 45km/jam tiba tiba didepan ada lobang tidak berapa besar,lalu aku rem dan mengelak,akibatnya ban belakangku slip dan hilang keseimbangan,darah ku berdesir adrenalinku jadi naik,Alhamdulillah,Allah masih menyelamatkanku dari kecelakaan,rem aku lepas dan sepeda kembali stabil,aku berhenti sejenak dipinggir jalan dan terduduk lemas membayangkan kejadian tadi.
Sampai di kota Kasi,aku lihat kotanya hanya kota kecil dan pasarnya masih tradisional seperti pekan pekan pinggir jalan di indonesia.


Sebetulnya target kayuhan kami hari itu hanya sampai di Kasi dengan pertimbangan apabila lebih jauh kita akan kemalaman dan akan terperangkap di tengah belantara pegunungan tanpa penduduk,atau kami harus melanjutkan ke Kiuwkacham dengan menambah kayuhan 80km lagi dan ini adalah tidak mungkin sanggup kami lakukan. Tetapi karena hari masih jam 15.00 waktu di kasi kami memutuskan untuk menambah kayuhan sampai jam 17.00. Keluar dari kota Kasi kembali tanjakan tanpa henti sejauh 20km stamina kami betul betul terkuras hingga sekitar jam 17.30. Tidak berapa lama sampai di desa Keokuang dengan ketinggian 880mdpl kami berhenti di halaman penduduk yang aku perkirakan cocok untuk menumpang bermalam dengan tenda di halaman rumahnya.


Melihat kami berhenti beberapa penduduk langsung mengerumuni kami,lalu aku bertanya dengan memberi bahasa isarat ke salah seorang dengan menunjukan foto tendaku yang lama dan menunjuk tempat kosong yang ada atapnya sambil menyebut "sleep"Alhamdulillah dia mengerti sambil menganggukan kepala tanda setuju.Tempat tersebut bersebelahan dengan pembibitan jamur dan bau pupuknya agak menyengat namun tempat tersebut rasanya leih nyaman karena ada atapnya yang sedikit melindungi kami dari hujan dan dinginnya malam.
pasang tenda ditengah desa

 Kami langsung kembangkan tenda penduduk sekitar terutama tua muda berduyun duyun menonton kami,rasanya kami seperti baru turun dilangit dan perlu di tonton. 
jadi tontonan penduduk

 Malam itu tidak ada mandi buat kami karena daerah ini adalah daerah sulit air,disitu ada satu kran yang airnya sangat kecil terletak di pinggir jalan jadi penduduk biasanya mandi antri dipinggir jalan itu dengan memakai sarung basah menutup tubuh,aku mencoba ikut antri mandi hitung hitung buat pengalaman pikirku...tapi aku lihat koq antrinya cuma ibu ibu saja,setelah kutanya sebisanya dalam bahasa inggrisnya yang terbatas mengatakan hanya ibu ibu yang mandi disitu dan bapak bapak jarang mandi...aku terbelalak mendengarnya dan langsung mundur diri untuk antri ikut mandi.
Kharleez berinisiatif memasak air
 Tidak ada warung disitu,Kharleez berinisiatif memasak air untuk membuat kopi dan mie instant untuk ganjal perut yang amat lapar di daerah dingin itu. Aku melihat smart phone ternyata tidak ada signal sedikitpun dan kami betul betul putus hubungan dengan dunia luar waktu itu dan perasaanku masuk ke era tahun 60dulu. Jarak tempuh 85km hari ini betul betul menguras tenaga,kami memutuskan untuk istirahat secepatnya.
Aku melihat sekelompok penduduk berkumpul mengelilingi meja dan kucoba melongok kesitu ternyata ada judi dengan permainan dadu yang main dari yang tua sampai yang muda, malam itu ada dua hiburan buat penduduk selain judi juga nonton kami. Dan ada juga kelompok orang tua lainnya yang sedang kumpul dengan minuman Laobeer nya,aku perhatikan dulu ada pesta perkawinan juga di hidangkan bir yang diminum oleh laki laki maupun ibu ibu.
Penduduk yang menonton kami mulai bubar dan tinggal kami dalam tenda di desa yang gelap gulita tanpa penerangan hanya ada pancaran lampu dari sela sela dinding pondok penduduk. Ada juga kekhawatiranku di jahati oleh penduduk yang tadi minum bir,maka sebelum tidur aku amankan semua barang barang berharga masuk tenda.
Sekali sekali aku mendengar deru mobil yang lewat dijalan setelah itu sunyi lagi. opung yang tidur di hamouck yang digantung antara dua tiang rumah penduduk sudah mulai tertidur begitu juga joker dan Kharlez kawan Malaysia kami seperjalanan.
Aku masuk ke sleeping bag untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya Udara luar hingga tertidur sampai subuh.
Subuh aku terbangun dan mencari toilet untuk buang air kecil tapi tidak tahu mau kemana saking gelapnya,akhirnya karena ngga tahan hajat itu kulepas dekat jalan...eeeh rupa nya tidak jauh dari situ juga ada beberapa penduduk yang buang hajat...pertanyaan tanyaan yang belum terjawab sampai kami berangkat dimana gerangan toiletnya ya...? Joker terpaksa batal ritualnya pagi itu hingga menemukan tempat yang tepat dan aman..hehehee.
Rabu 03desember.
Dari Kaokuang berangkat jam 07 langsung menghadapi tanjakan tajam tak henti hentinya hingga kecepatan rata rata hanya berkisar 6 atau 7km/jam namun pemandangan pegunungan yang begitu indah rasanya aku begitu beruntung bisa menikmatinya waktu itu ,lepas dari tanjakan kepegunungan yang satu lalu bonus menurun dan dihadapan menghadang lagi tanjakan berikutnya hingga dari satu gunung ke beberapa gunung lainnya. Di beberapa tempat kita akan melintasi beberapa desa dengan rumah rumah tradisionalnya yang terbuat dari kayu atau bambu sangat sederhana,anak anak yang bermain di halaman rumah selalu meneriakan "sabaydee"setiap kami lewat.
Kami sampai di suatu puncak pass di Phookoon dengan ketinggian 1350mdpl di situ ada sebuah cafe yang dilengkapi toilet yang sangat unik yaitu wc terbuka ke bagian arah jurang menghadap alam bebas hingga kita bisa buang air besar sambil nonton alam pegunungan yang indah.


Juga ada fasilitas lain seperti taman tempat melihat dari ketinggiannya ke sekeliling hamparan pegunungan Laos,kita akan melihat jalan yang berliku liku dari kejauhan dan juga kelihatan jalan yang sudah kita tempuh ataupun yang akan ditempuh. 


Dari puncak Phookoon ini kita akan menurun ke pasar di Samyek Phookoon,disini saya,joker dan kharlez makan siang,dan opung Sitor dari pagi sudah duluan sampai siang ini belum jumpa
Kami melihat mendung di ufuk lalu kita coba putuskan cari penginapan untuk istirahat malam itu di Phookoon,sayangnya kondisi Guesthouse yang ada kurang nyaman dan lagi harganya 60ribu Kip adalah diluar ukuran kantong kami
Akhirnya kami lanjutkan kayuhan kearah Kiukacham dengan menelusuri tanjakan panjang,di jalan beberapa kali bertemu dengan be erapa peturing dari amerika,spanyol dan afrika selatan dan Thailan,saat itu kami berhenti untuk saling tukar informasi dan berfoto.


Saat 10km menjelang di Sen donmong kami meluncur turun sejauh lebih kurang 10km hingga tangan ku kesemutan karena mengerem.
Aku lihat saat itu sudah jam 16.30 sore,aku melihat opung parkir di sebuah warung lalu aku bergabung dan tak lama muncul Joker dan kami sudah bertiga lagi tapi Kharless sudah keburu duluan untuk berhenti di kiukacham.
Pada yang punya warung kami minta izin nginap dan mereka mengizinkan kami,kembali tenda kami gelar di dalam ruang kosong warung tersebut,kali ini kami bisa mandi sepuas puasnya disebuah sungai yang amat jernih di pinggir lembah hijau dan depannya persawahan di desa Xiengngeun pada ketinggian 930mdpl.
Total kayuhan kami hari ini hanya 53km namun ini sungguh medan yang berat selama turing kami.
Kamis 04 desember
Pagi subuh di warung Xiengngeun tempat kami nginap sudah didatangi bus yang datang dari luar kota pemilik warung dengan sigap menggelar beberapa dagangannya,dan kami juga sibuk melipat semua peralatan tidur dan camping.
Aku lihat pemilik warung mr. Ong Duongmaleut memakai seragam militer tentara Laos ,opung bertanya apakah dia Laos Army/tentara dia mengangguk,kami suprise melihatnya karena selama ini dia adalah penduduk sipil biasa dengan segala keramahannya,dulu aku membayangkan tentara
Komunis bermuka dingin dan sangar tapi sejak hari itu gambaran itu mulai hilang.
Sewaktu akan berangkat keluarga itu membekali kami dengan satu bungkus nasi ketan dan satu sisir pisang,pemberian sederhana tapi melambangkan kasih sayang yang ikhlas sesama manusia..
Dayungan pertama langsung tanjakan dengan kemiringan sekitar 10derjat,merayap tanjakan dengan lambat 7km/jam sejauh 7km sampai di desa
Kiewmailo mendaki dan di jalan kami papasan banyak peturing jarak jauh,sudah jadi kebiasaan peturing ketemu dijalan saling berhenti dan tukar informasi,umumnya kami bertemu peturing dari eropah seperti Jerman,switzerland,french,belanda,spanyol,peru,afrika selatan,umumnya mereka baru keluar dari china dan menuju selatan sampai Australia via Indonesia,mereka sangat senang bisa mendengar informasi tentang Indonesia dari kami.
Disuatu perkampungan Bang nammok aku melihat rumah adat yang agak beda dari rumah lainnya yang pernah kutemui,atapnya dari jerami yang tersusun rapi dan dijepit dengan kayu pada bubungannya dan ukurannya relatif rendah kelihatan unik,aku berhenti di situ dan mengambil foto,belakangan aku ketahui itu adalah suku Mong yang suka tinggal di pegunungan.

Rumah suku Mong

Tidak jauh dari situ aku melihat seorang laki muda memeriksa gigi seorang ibu yang duduk di kursi didepan rumah kayunya yang sangat sederhana.
Aku berhenti disitu ,menarik karena selama ini aku bertanya tanya dalam hati kemana penduduk yang terpencil jauh ini berobat koq tidak pernah ada rumah sakit atau puskesmas seperti di Indonesia,dan berhenti disitu sambil ucapkan salam "sabaydi" mereka membalas lagi dengan ramah,diantara penduduk disitu ada yang bisa menerangkan bahwa disitu ada pemeriksaan dokter gigi yang datang ke desa desa sesuai jadwal tertentu.
Setelah mengayuh 28km selama 3jam akhirnya kami sampai di kota Kiewkacham.
Dari kiewkacham jalan menurun tajam sejauh 16km sampai namming bridge,tanganku sampai kesemutan menekan rem saking lamanya,aku kurang berani melepas rem dalam kondisi penurunan yang tajam yang dihiasi jurang menganga di kanan siap menerkam kita. Pinggir jalan yang berpasir mengharuskan kita untuk jalan sedikit ketengah karena takut slip,tapi untunglah saat itu entah kenapa jarang ditemui mobil lewat.
Dari Namming mulai menanjak lagi sejauh 15km dan berakhir di desa kiewmaknow  siangun, setelah itu jalan datar sejauh15km kami bisa sedikit lega dengan kayuhan yang ringan kemudian mulai nanjak lagi.
Di pinggir jalan aku melihat pal batu 40km lagi ke Louang prabang,disuatu tanjakan  naik sedikit diatas desa kiewmaknow aku melihat ada sumber air atau sumur umum lalu kami berhenti disitu dan sepakat untuk camping saja malam itu diarea tersebut sampai besok pagi,karena kalau kami lanjutkan khawatir kemalaman dan tidak ada desa lagi setelah itu untuk bermalam sedangkan jarak yang harus ditempuh ke Louang prabang masih tinggal 40km lagi.
Sore itu kembali kami jadi tontonan penduduk yang akan mandi dan mengambil air dari sumur tersebut.
Turun sampai pakkhan bridge.
Jumat,05 Desember
Pagi subuh penduduk sudah berdatangan lagi ke sumur tersebut dan kamipun sudah siap siap untuk berangkat lagi
Dari kiewmaknow menurun sampai phonsa at,udara yang dingin membuat tanganku kesemutan menahan rem sejau lebih kurang 20km,sekali sekali aku berhenti untuk mengembalikan konsentrasi,akhir dari turunan kami bertemu desa ban kiewnak dan disini kami ngumpul berempat lagi untuk minum kopi pagi bareng penduduk. Stock majanan yang masih ada aku bagi bagikan pada anak anak yang sedang menonton kami.
Dari ban kiewnak kita mengayuh agak datar sejauh 10km menelusuri tepian sungai Mekong dan akhirnya memasuki gerbang kota dengan tulisan "Welcome to the world heritage town of Luang Prabang"
Kami menelusuri kota di pinggiran delta mekong sambil mencari guesthouse yang murah meriah,beberapa guesthouse di daerah Kitsalad road harganya agak tinggi yaitu berkisar 100ribu s/d 150ribu Kip semalam dan akhirnya kami sampai di daerah backpacker yaitu jalan Sisoupan road dekat sungai Nam khan sebuah guesthouse bernama Chitlatda fasilitas double bad,bathroom&hotshower dan free interner wifi dengan harga 50ribu kip semalam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan "clasic route" yang diidam idamkan setiap peturing sepeda di seluruh dunia yaitu route Vientien ke  Louangprabang dalam waktu 6 hari dengan jarak tempuh 430km dengan segala suka dan dukanya.
kami berempat Tasman jen,Tri joko waskito,yosef Situmorang plus partner baru kami dari Malaysia Khalez jaffar akan istirahat di Louangprabang 2hari untuk mengembalikan kondisi tubuh sebelum melanjutkan ke Hanoi Vietnam.
Note: foto foto menarik perjalanan bisa dilihat di FB kami.





















23.TOUR de ASIA_Jelajahi Vangvieng yang excotik.


sungai Nam song


 30 November dan 01 Desember kami istirahat di Vangvieng setelah 2 hari menempuh perjalan berjarak 170km dari vientiene ke vang vieng maka kami ingin istirahat mengayuh dan menikmati kota vangvieng yang sangat exotic ini,kota vangvieng terletak dikelilingi oleh bukit bukit cadas yang menjulang dan dipinggiran kota mengalir sungai Nam song yang terkenal dengan blue lagoon nya yang sangat jernih. 

blue lagoon


Kota ini mengingatkan kita dengan Lombok yang masih asri dan dipenuhi oleh turis eropah dan jepang.
Bar bar dan cafe dengan musik keras yang diminati oleh turis eropah selalu padat dan bertebaran sekitar kota.
Vang Vieng tertutup dengan bukit-bukit sekitarnya.

Depan Hotel

Setelah beberapa hari di lingkungan pedesaan, Vang Vieng bisa datang sebagai sedikit kejutan dengan banyak penginapan, restoran, bar, toko-toko suvenir dan packet wisata lainnya seperti arung jeram atau bike  adventure yang dikelola beberapa travel agent.
Ada beberapa rute sepeda yang bagus di sekitar kota,dan gua yang menarik untuk dieksplorasi dan banyak kenyamanan lagi.  

pedesaan, Vang Vieng




Kami menjelajahi daerah pedesaan disekitar vangvieng.
Harga makanan dan minuman bisa benar-benar keterlaluan jika kita telah bersepeda melalui daerah untouristy,
Untuk sampai ke gua,kita menyeberangi Jembatan Namsong  yang membayar kembali 6.000 kip. 

Jembatan Namsong

The Poukham Gua, sekitar 8 km dari pusat kota, biaya 10.000 kip per orang termasuk akses ke gua dan lubang kolam.  

Berenang di kolam depan goa sangat fantasti. Setidaknya ada enam gua lain dalam perjalanan ke Phoukham.



menuju cave

Dua hari kami dikota ini rasanya sudah cukup untuk menjelajahi pelosok pelosok desanya,dan kami sangat terkesan dengan kepolosan penduduknya,saya sangat rekomendasikan bagi yang suka wisata alam yang alami dan melihat budaya Laos yang natural untuk datang kesini.
Note:foto foto bisa di lihat di fb

Turis asing

22.TOUR de ASIA_Sorga Peturing Dunia





Perjalanan impian melewati Sorganya peturing dunia,itulah judul yang sering aku baca dan dengar dari setiap pengelana sepeda di pelosok dunia,Perjalanan yang cukup berat penuh tantangan itulah yang harus kami hadapi untuk menuju sesuatu yang jadi impian,semua persiapan untuk suatu perjalanan clasic Vientiane Luang prabang rasanya sudah siap semua.
Asean global at Mekong River Vien Tiene.

Sepeda yang kemarin diservice sudah terpasang dengan 4 pannier muka dan belakang berisisikan kebutuhan kami selama diperjalanan nanti,pagi ini hari Sabtu tanggal 29 November jam 6 pagi kami sudah mengayuh sepeda keluar dari mess KBRI,bermacam perasaanku saat itu,senang,khawatir dan sedikit cemas mendengar medan yang harus kami lalui nanti.
Belum banyak mobil saat itu dan lagi hari ini hari sabtu libur.
Kemarin sore ada sedikit kekeliruan yang tidak kami sengaja yaitu membawa tamu sahabat kami Kharleez yang non WNI menginap di Wisma RI belakangan kami diberi tahu bahwa hal ini tidak dibenarkan,atas kekeliruan ini kami minta maaf pada ibu Monica atase budaya lalu Kharleez akhirnya pindah ke tempat penginapan komersial.

Kami bertiga mengayuh menuju homstay Funky monkey di pinggir sungai Mekong menjemput kharleez peturing Malaysia yang akan kayuh bersama dengan kami menuju vietnam.
Funky monkey
Jalanan yang mulai ramai di vientien membuat kami terpisah lagi dengan opung Sitor,aku dan kharles sempat kembali lagi kebelakang dan mencari hingga setengah jam,sayang tidak ketemu.
Kami melanjutkan perjalanan bertiga dengan Joker dan kharles,semakin keluar kota kendaraan mulai berkurang dan jalanpun mulai ada yang rusak dan berdebu.


Kualitas aspal di laos permukaannya terlalu kasar seperti tidak dipadatkan dan kerikilnya kasar kasar menonjol dipermukaan seperti kacang yang ditebar diatas permukaan kue martabak.
Sampai daerah Nam houm kami istirahat makan siang dengan menu soup ayam yang hambar dan tidak begitu sesuai dengan lidahku.




orang laos agak pemalu

Disuatu lapak penjual buah buahan 20km sebelum pertigaan Nam Ngum lake kami istirahat makan buah semangka dan buah yang tidak kukenal namanya dan rasanya seperti mangga.
Beberapa menit kemudian opung muncul dihadapan kami sambil ter engah engah memberikan keterangan alasannya bisa terpisah.
Perjalan siang sangat menguras tenaga karena panas yang menyengat namun dengan pemandangan sawah dikiri kanan rasa bosan itu bisa terobati,hingga akhirnya kami sampai di gas station yang besar dan baru launching di daerah Sam zoum.

Zam Zoum gas station 
Malam ini adalah kali pertama kami nginap dan camping di gas station Laos. Agak sulit juga mengkomunikasikan permintaan izin kami untuk camping di area tersebut,tapi setelah kami tunjukan gambar camping kami yang lama,mereka baru mengerti dan mempersilahkan kami mendirikan tenda dekat cafe yang belum dibuka,tanpa menunggu lama aku menurunkan tenda dan peralatan tidur untuk dipasang,dalam sepuluh menit tendaku sudah berdiri didalam ruangan yang masih kosong tadi,sebetulnya tanpa tenda tidur sudah aman tapi mengingat udara yang dingin waktu malam aku memilih untuk pasang tenda saja.
Kecenderungan orang laos agak pemalu tapi setelah kita sapa dengan "Sabayde"Mereka sepertinya mulai terbuka dan ramah,kembali kami malam itu di jamu satu kluarga Laos yang suaminya Mr.Ing bekerja di gas station itu menjamu makan malam.



makan malam
Cara makan laos agak unik yaitu makan nasi ketan (nasi biasa jarang ditemukan) di satu wadah bambu lalu masing masing kita mengambilnya segenggam dan biasanya dikepal kepal dengan tangan hingga bulat lalu di celupkan ke wadah gulai dan di santap,rasanya seperti makan ketan pakai sayur dan agak asin asin sedikit,rasanya lumayan enak untuk pengisi perut.
Hinheup menuju Vang veng
Hari ke dua Hinheup menuju Vang veng,treck yang sangat menarik dengan diawali tanjakan perbukitan laos utara sekitar 2km kemudian sampai di puncak lalu penurunan yang panjang mengantar kami kembali melayang bagai camar menyelusup kedalam kabut pagi diantara hutan dan lembah pegunungan hijau seakan mengatakan "datang lah padaku dengan damai" nyanyian alam ebiet g ade makin menyatukan perasaanku dengan alam.
Aku ber kejar kejaran di penurunan itu dengan joker dan khaleez udara pegunungan yang dingin menambah indah perasàan.
Dari kejauhan,jalan yang tadi beraspal mulus tiba tiba berobah menjadi berlobang lobang besar yang menganga siap menerkam sepedaku,aku meliuk kekanan diantara aspal yang masih tersisa,debu dari semburan roda truck memancar kemana mana.

debu

Didepan aku lihat Joker dan Kharleez berhenti,ternyata roda belakang sepeda joker kembali baling menyebabkan rem v brake belakang lengket terus dan mengerem rodanya. dari kondisi yang aku lihat kerusakan ini tidak bisa kami tangani langsung saat itu karena akan memakan waktu yang lama sedangkan saat itu kita ditengah hutan.kami masih berusaha melepaskan v brake tapi tidak berhasil karena ban sepeda sudah menyenggol ke frame,akhirnya kami putuskan untuk mencari tumpangan dan loading sepeda joker sampai ke vang vieng dengan harapan nanti diperbaiki ke bengkel yang ada di Vang vieng,aku lihat joker mulai hilang semangat dan ingin kembali ke Viantiene dan mengakhiri perjalanan yang makin berat didepan kami,suatu ujian mental yang cukup berat saat itu bagi kami,opung Sitor yang ingin kami mintai pendapatnya sudah menghilang didepan tidak tahu rimbanya lagi dan juga tidak bisa dihubungi dengan telpon.
Aku dan Kharleez memberi semangat pada joker agar duluan ke Vang vieng mencari bengkel kemudian kami akan menyusulnya,akhirnya joker setuju.
Kira kira setengah jam kami berhenti dipinggir jalan belum ada kelihatan mobil yang kira kira bisa membawa sepeda joker kalaupun ada orangnya tidak bersedia menolong mungkin karena keterbatasan bahasa,suatu kali tiba tiba lewat mobil Mitsubishi pick up double cabin,dengan harap harap cemas aku mencoba lagi menyetopnya,ternyata dia berhenti sewaktu aku sapa "good morning sir,we are in trouble,would you like to help us" dengan antusias sopir dan tiga penumpang berhenti,ternyata mereka adalah orang Bangkok Thailand yang juga sedang menuju ke Vang vieng dan mereka menanyakan kondisi kami,lalu setelah kami beritahu ingin menumpangkan joker dan sepedanya sampai ke bengkel terdekat atau kota Vang vieng merekapun menyetujui.
joker dan sepedanya


Joker dan sepedanya naik ke pick up lalu aku dan Kharleez melanjutkan kayuhan sepeda dengan harapan bertemu nanti dibengkel terdekat atau di kota Vang vieng.
Disebuah pondok kosong ditengah pesawangan aku berhenti untuk minum dan menyeka muka yang berkeringat bercampur debu....Kharleez sudah duluan didepan,aku merasakan beratnya medan waktu itu,dalam hati aku bisikan pada diri sendiri aku harus kuat dan tidak boleh menyerah,aku tak henti hentinya berdoa agar diberi kekuatan.
baca pesan singkat

Aku lihat ada beberapa miscall dari joker dan aku baca pesan singkat mengatakan bahwa dia berada disuatu desa Sangnoum dan mencari tumpangan untuk kembali ke Vientiane karena menurut informasi dari warga tidak ada bengkel sepeda walaupu sampai ke Vang vieng,aku jadi penasaran lalu memberi pesan singkat lagi supaya jangan berangkat dulu karena aku akan akan memastikan keberadaan bengkel di Vang vieng,aku ingat pada Mr Kamdai teman kami orang bengkel di viatiane,dan dengan harap harap cemas karena signal telpon yang lemah aku coba telpon,Alhamdulillah berhasil dan aku dapat info dari Mr Kamdai bahwa dia memastikan ada bengkel di Vang vieng,lalu pesan ini ku sampaikan pada joker,akhirnya joker menunggu kami datang menyusul ke desa Sangnoum.


Desa Sangnoum

Dua jam kemudian kami ketemu joker di depan sebuah warung,lalu joker mengatakan dia turun dari tumpangan pick up tadi karena terpengaruh sewaktu bertanya ke bengkel sepeda motor disitu mengatakan dengan yakin nya bahwa tidak ada bengkel sepeda di Vang vieng lalu turun dari tumpangan ke Vang vieng tadi dan memutuskan untuk cari tumpangan pulang ke Vientiane,aku memaklumi kondisi Joker yang agak tertekan lalu aku meyakinkan Joker lagi untuk tetap ke Vang Vieng mencari bengkel yang sudah disebutkan posisinya oleh pak Kamdai. Kembali joker naik angkutan umum dan sepedanya diikat di dinding mobil kali ini terpaksa bayar seharga 75ribu kip atau kira kira 150ribu rupiah.
naik angkutan umum
Vang veng masih 68 km lagi,jauh aku harus bangkit lagi kalau tidak ingin tidur di hutan....setiap memasuki beberapa desa suara suara kecil anak laos memberikan semangat padaku "Sabaydee...sabayde" aku begitu terharu dan bahagia kalau kedatangan kami bisa memberi kebahagiaan pada mereka.
68 km lagi

Aku melanjutkan kayuhan dengan Kharleez hingga disuatu warung dipinggir desa aku melihat sepeda opung parkir,kami berhenti dan ternyata opung sedang makan siang,aku ceritakan semua kejadian tentang joker akhirnya kami bertiga melanjutkan perjalanan untuk bisa secepatnya bertemu Joker.
warung dipinggir desa 
Beberapa kali kami berpapasan dengan pesepeda turing dengan beban yang penuh.dari arah Vang vieng,kecepatan yang laju membuat kami segan berhenti tapi cukup dengan sapa lambaian tangan.
Suatu kali di suatu daerah yang cukup sepi aku ketemu seorang pemuda asal changshu bernama Xindan shen yang berjalan pakai Backpack di punggungnya lalu aku dan khalez berhenti tertarik melihat penampilannya dan menyapanya,dia bisa berbahasa Inggris menerangkan bahwa dia sudah berjalan dari daerah asalnya di changshu ke Vang vieng sudah tiga bulan lebih atau kira kira sudah 2000km lebih tanpa kendaraan hanya jalan kaki saja. 

Dia mengatakan murni jalan kaki dimana kemalaman disitulah dia tidur dengan segala peralatan backpack yang bertengger di punggungnya. Kami saling bertukar alamat FB dan aku memberinya satu botol air mineralku yang masih tersisa,belakangan sewaktu aku sudah sampai di Kamboja dapat berita dari dia bahwa dia terserang diare berat di daerah udong thani Thailand dan berencana untuk pulang ke china lagi.

Sore menjelang magrib kami dihadang bentangan pegunungan yang harus kami lalui menuju Ke Luang prabang. 

Welcome to Vang Vieng

Matahari mulai merah tembaga berarti magrib menyusul kami memasuki kota Vang Vieng lalu aku membaca pesan singkat Joker bahwa dia menunggu dipersimpangan Blue Lagon. 
Blue Lagon Vang Vieng

Kami memasuki kota Vang Vieng,udara terasa dingin,lampu cafe dan toko toko souvenir menerangi kota,suasana nya di penuhi oleh para turis kulit putih dan jepang persis seperti di Kuta Bali,kami berjalan menuntun sepeda di pedastrian kearah posisi yang diberi tahu Joker,lalu disuatu cafe aku melihat sepeda Joker yang dihiasi bendera asean ,kemudian muncul joker dengan wajah cerah mengatakan bahwa sepedanya sudah diperbaiki dan kembali normal.



joker dengan wajah cerah

Cukup sulit buat kami menentukan dan mencari tempat camping di hari yang sudah gelap saat itu,selagi berpikir dan berbincang itu tiba tiba ada seorang turis bule tertarik melihat kami bersepeda lalu menyapa dan menanyakan asal kami,dengan simpati dia memberitahu dan mengantar kami ke guest house yang cukup murah yaitu 50000kip atau sekitar rp70ribu semalam,maka kami putuskan ambil 2kamar untuk berempat dan kami nginap di guest house Seng Aloun di pusat turis Savang village.
Cari guest house



Savang village
Malam ini akan kami habiskan untuk istirahat di vang veng selama 2 malam dan esok kami akan explore Vang vieng yang exotic ini.
Note:foto foto ada di fb