Pages

Wednesday, February 24, 2016

10.Tour de km0_Sidikalang

Kamis 4 Februari 16
Perjalanan dari desa Sihasapi lotong menuju kota Tomok sejauh lebih kurang 2km dengan kondisi jalan berbatuan pecah dan berlobang cukup melelahkan,kami kembali melalui tanjakan tele yang extrem dan sampai di pertigaan jalan raya Sidikalang jam 11.00 kami mencari restoran muslim untuk makan siang tapi sia sia,akhirnya opung makan sendiri di restoran non muslim yang ada di simpang tele dan kami melanjutkan perjalanan sambil mencari spot yang bagus untuk istirahat dan memasak.
jalan mulus dan menurun,sepeda melaju dengan kecepatan 45km/jam,tiupan angin terasa makin menusuk ke pori pori,aku berhenti memasang jacket.setelah dua jam perjalanan kami sampai di desa Parbuluan kabupaten Dairi kami berhenti di pinggir jalan yang agak lindung dari panas matahari untuk memasak dan makan siang,lalu kami lanjut perjalanan hingga menemukan masjid Al Jihad kira kira satu km dari tempat kami makan tadi.
Aku dan ucub berhenti untuk sholat dzuhur dan ashar di masjid pertama yang kami temukan mulai dari samosir tadi pagi,masjid ukuran 10x10m ini cukup bagus untuk ukuran desa sekecil itu,ustad Simarmata sebagai imamnya bercerita suka dukanya membangun masjid ditengah mayoritas warga non muslim di kabupaten Dairi tersebut,tapi berkat keistiqomahannya beliau berhasil melampaui kendala kendala baik materil atau non materil yang dihadapinya. Beliau sangat bersyukur dengan hasil perjuangannya itu maka masjid tersebut dinamakan masjid Al Jihad.
Terik panas siang sangat menyengat tapi hembusan angin dikelajuan sepeda kami dijalan yang mulus bisa sedikit mengurangi panas di kulit.
Pas waktu azan ashar berkumandang kami sampai di pertigaan jalan,kekanan adalah ke Medan dan kami berbelok ke kiri ke Banda Aceh via Subulusalam,di pertigaan opung yosef dan lainnya bergabung lagi hingga sampai batas kota Sidikalang kami mencari tempat menginap di sebuah masjid Amaliah di jalan Air bersih. Kami diizinkan menginap di masjid tersebut yang jamaahnya terdiri dari jamaah tablig yang amat ramah terhadap musyafir seperti kami.

9.Tour de km0_negri indah kepingan sorga

Selasa 2 Februari 16
Seharian kemarin kami istirahat dirumah Keluarga anak  Opung yosef Di Dolok sanggul,aktivitas kami mencuci pakaian kotor dan check semua sepeda,aku sendiri pergi check mata yang terasa meradang bekas operasi lemak beberapa bulan yang lalu,obatku dari rumah yang dikirim istriku dari pekanbaru aku perlihatkan ke dokter mata dan inu dinyatakan bisa dilanjutkan lagi.
Satu hari bersama keluarga dr.Pantas yang baik hati ini sangat memberatkan hati kami meninggalkannya,keluarga ini melepas keberangkatan kami dengan bekal makanan yang cukup banyak.
Kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan kota Pangunguran di Pulau samosir,kami mendayung melewati pasar Dolok sambung dalam cuaca cerah dan dingin,belum banyak kendaraan,dekat pasar kami belok kanan kearah Sidikalang,jalan lumayan mulus dan datar sampai di desa Hutajulu,dipinggir jalan kita disuguhi sawah diselingi rumah penduduk,memasuki desa Hutagalung jalan agak menanjak kami istirahat disebuah pondok penduduk dipinggir ladang.
Menjelang simpang Tele aku,ucup dan Gozy laju kencang hngga lupa belok ke simpang Tele,kami mundur lagi kembali kebelokan masuk Tele disitu sudah menunggu Opung yosef dan Abasri.
Sepeda kami meluncur laju dari puncak tele diketinggian 2000mdpl dan di kemiringan jalan sekitar 30derjat,jari jari sempat terasa kaku menekan rem di cuaca yang terasa dingin menusuk itu,untuk mengurangi rasa dingin alu pakai jacket.
Kami berhenti istirahat di menara tele di kecamatan Harian,aku melihat dari atas puncak menara Tele kearah danau Toba,terlihat hamparan pulau Samosir yang dikelilingi danau kemudian dipagari oleh hamparan jurang terjal yang menghijau,dipinggirannya terlihat jalan melingkar lingkar sampai ke dasar bukit,pantaslah samosir yang dikelilingi danau toba disebut negri indah kepingan sorga.
Danau Toba terbentuk akibat letusan Gunung Toba pada 73 ribu tahun lalu. Letusan ini tercatat sebagai letusan gunung api terbesar yang mempengaruhi iklim di seluruh dunia. Sebagai danau hasil volcano tektonik terbesar di dunia, danau ini menjadi salah satu aset yang penting bagi Indonesia. Keindahan alam Danau Toba telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Perairan danau yang biru, penduduknya yang sangat ramah,sapaan ramah "Horas" sering kami dengar dari penduduk, budaya batak yang mempesona,hal ini lah yang menarik.
Sepeda kami terus blusukan melipir dipinggang tebing hingga kami sampai didesa Limbong dan tak ada lagi dataran yang lebih rendah dari itu,ada air tujuh rasa Sipitudai yang disakralkan penduduk,beberapa ruas jalan masih belum beraspal dan ditaburi batu batu sebesar tinju kami harus turun dan menuntun sepeda yang amat menguras tenaga.
Sampai di desa Sagala kita akan menyaksikan monumen raja Batak didepannya ada sebuah batu ceper seluar 9m2 dibagian atas seperti ada penutup dengan garis pemisah,batu ini dipercayai menyimpan harta emas,masarakat berusaha membuka tutup batu ini tapi tidak berhasil.
Kearah timur monumen terlihat pusuk buhit atau puncak tertinggi yang dipercayai sebagai tempat turunnya Raja Batak dari kayangan.
Kami terus melanjutkan perjalanan melingkar menelusuri danau hingga sampai di desa aek rangat,kabupaten samosir,kecamatan Pangunguran,karena sudah magrib kami memutuskan untuk menginap di penginapan Air hangat yang mempunyai fasilitas mandi air panas alam dengan rate Rp150ribu/malam,kami sewa dua untuk berlima,lumayan kamar yang cukup irit ukuran kantong musyafir.
Kami pergi mandi air hangat yang terletak persis dibelakang penginapan dan dipagar menyatu dengan penginapan disitu ada ruangan mandi untuk wanita dan laki yang terpisah
yang mempunyai 1kolam air panas dan 1 kolam air dingin seluas 9m2......kami masuk ke kolam bagian mandi laki laki,begitu masuk kami kaget menyaksikan beberapa orang mandi berbugil ria,sepertinya warga lokal,kayaknya sudah budaya disini. aku mandi pakai celana gowes,tapi tidak langsung nyebur karena aku merasa masih terlalu panas airnya sedangkan badan masih terlalu dingin.
Rabu 3 Februari 16
Pagi ini aku tidak merasakan lagi dinginnya Toba seperti kunjunganku belasan tahun yang lalu,selesai sarapan pagi kami langsung melaju ke arah Pangunguran ibukota kabupaten Samosir.kami menelusuri danau toba yang berada sebelah dan sebelah kanan tebing sekitar 30menit kami menemui sebuah jembatan,kelihatannya jembatan ini biasa biasa saja tapi setelah diberi tahu opung yosef bahwa jembatan tersebut adalah jembatan penghubung antara pulau Sumatra dengan Pulau Samosir,kami mengambil beberapa foto disitu.
Melewati jembatan kita mulai merasa memasuki kota Pangunguran,sewaktu belajar ilmu bumi di SD dulu aku sudah mengenal Kota Pangunguran dan sekarang tumbuh sebagai ibu kota kabupaten Samosir,kotanya tidak begitu ramai beberapa mobil melewati kami dan kendaraan bermotor lebih mendominasi dijalanan, terdapat sebuah gereja Hkbp yang cukup besar.
Horas...Merdeka.....begitulah sapaan setiap kali kami melintasi penduduk yang sedang berkumpul di warung warung atau lapo lapo dipinggir jalan dan saat ini aku bersukur bisa menyaksikan kota tersebut secara langsung.
Keluar kota pangunguran sering kita temui kuburan kuburan besar untuk satu keluarga yang berbentuk seperti monumen,ada yang besar dan ada juga yang kecil,pada kuburan yang besar terdapat ruangan untuk beberapa jenazah,makin besar kuburan tersebut menunjukan status sosial yang mapan dari keluarga yang memilikinya,banyak kuburan tersebut yang terletak di ketinggian tebing.
Keluar dari kota kami singgah di pantai Batu hoda Simanindo.
Udaranya dan pemandangan kearah danau yang sangat indah.kemudian lanjut menelusuri danau sampai di kampung Lumban Huta gaol kita mengunjungi meseum batak,kemudian mengunjungi desa Siallagan yang berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo.
Disini kita menyaksikan komonitas marga Siallagan disuatu area yang dipagari susunan batu batu kali yang berbentuk kubus.
Pembangunan huta Siallagan, konon dilakukan secara gotong royong atas prakarsa raja huta yang pertama yakni Raja Laga Siallagan . Pembangunan huta yang menggunakan batu-batu besar disusun bertingkat menjadi sebuah tembok besar yang kelak menjadi benteng penahan musuh dan binatang buas kemudian diatasnya ditanami bambu (bagi orang Batak, bambu memiliki multi guna sebagaimana suku bangsa Indonesia yang lain). Dahulu, untuk membangun rumah adat Batak, juga dilakukan dengan cara gotong royong mengangkut kayu dari hutan atau ladang keluarga, kemudian mendirikannya sesuai bentuk dan aturan pendirian rumah adat Batak. Di dalam area berjejer 8 rumah adat batak yang dihuni oleh keluarga Siallagan.
Di pekarangan luar aku menyaksikan
Kelompok Batu kursi pertama, dibawah pohon kayu Habonaran, ditempatkan di tengah huta Siallagan yang dipergunakan sebagai tempat rapat-pertemuan Raja dan pengetua adat untuk membicarakan berbagai peristiwa kehidupan warga di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan.
Menurut penuturan para orangtua, bahwa batu kursi pertama ini terdiri dari Kursi Raja dan permaisuri, Kursi Para Tetua Adat, Kursi Raja dari Huta/kampung Tetangga dan Para undangan, juga Datu/Pemilik Ilmu Kebathinan. Ditempat inilah diputuskan dan ditetapkan peraturan “pemerintahan, kemasyarakatan” dan hukum yang tegas bagi yang melanggarnya. Artinya Raja Huta Siallagan tidaklah melakukan sesuatu dengan dasar “kekuasaan” semata, tetapi dilakukan secara musyawarah, mendengarkan pendapat dan usul serta pertimbangan dari para tetua adat yang diundang hadir untuk kemudian menetapkan keputusan secara jujur, adil dan bijaksana.
Keluar dari huta Siallagan kami lanjut ke Tomok disini banyak kita temukan penginapan dan homestay,suasana kota wisata kental sekali disini dengan banyaknya turis asing. Kami makan siang direstoran padang dan agak kesulitan mencari tempat sholat akhirnya pemilik restoran muslim tersebut mengantar kami ketempat sholat dirumahnya yang tidak jauh dari restorannya.
Target kami adalah menelusuri  samosir dan berakhir di desa Sihasapi dipinggir danau toba dimana leluhurnya opung dilahirkan.
Rumah opung yang menghadap ke Danau toba diseberang sana terlihat kota parapat dengan kelap kelip lampunya,malam ini kami duduk dipinggir danau sambil memanggang ikan,api unggun pembakar ikan juga berfungsi sebagai penghangat tubuh dari dinginnya malam. Malam ini aku memandang jauh ketengah danau yang dihiasi kelap kelip lampu tambak,dibalik keindahan Danau Toba ternyata ada beberapa masalah serius yang terjadi saat ini. Danau Toba, kini dipenuhi dengan tambak-tambak yang setiap hari pakan yang dilempar ke danau menyumbang sedimentasi. Hari demi hari aku yakin pendangkalan dan pencemaran air terjadi. Tidak hanya ini, perkembangan tumbuhan enceng gondok juga menimbulkan masalah bagi kebersihan Danau Toba sendiri. Sebab gulma yang menyebar dengan cepat hingga tepi pantai berpotensi mencemari danau terluas di Asia Tenggara ini. Bisa dibayangkan beberapa tahun kedepan Danau Toba akan kehilangan daya tariknya akibat pencemaran tersebut,akankah anak cucu kita masih bisa menikmati keindahan danau Toba seperti kita saat ini...?

8.Tour de km0_Kota tua Barus

Ahad 31 Januari 16
Barus kota yang terlupakan.
Deburan ombak pagi pantai Binasi seolah memberi energy untuk kami pada hari yang cerah ini. Kami melanjutkan perjalanan kearah Dolok sanggul yang berjarak +/- 100km dari pantai Binasi,jalan yang datar dan mulus sangat enak untuk memacu sepeda lebih laju. Opung yosef yang duluan didepan sudah tidak kelihatan lagi,dibelakangku beriringan Abasri,ucup dan gozy,dipertigaan kalau kita belok kanan berarti ke dolok sanggul sedangkan ke kiri adalah kota Barus lama. Aku tidak menyia nyiakan untuk melihat langsung kota bersejarah itu,abasri,Ucup dan Gozy ikut membelokan sepeda ke arah kota tersebut. Setengah jam perjalanan kami sampai di pasar Barus disitu ada bekas puing puing benteng pertahanan Belanda yang bersebelahan dengan ladang penduduk.kami berjalan kearah barat lagi menuju pelabuhan kapal yang sudah dipugar tapi terlihat kosong dan sepi hanya ada anak anak yang sedang bermain. Sungguh kontras dengan kejayaan masa lalunya.
Dari literatur yang aku baca  sesungguhnya Barus merupakan sebuah kota yang banyak menyimpan rahasia. Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.
Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah (historical archaelogy) di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.
Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa.
Kami kembali melanjutkan perjalanan kearah Dolok Sanggul,di desa Aek Daka persis di suatu tanjakan yang tinggi aku berhenti istirahat disitu aku melihat banyak penziarah ke kuburan Mahligai,keingin tahuanku makin besar untuk pergi berkunjung ketempat ziarah tersebut,sepeda aku titip di warung pinggir jalan lalu aku berjalan kaki kesuatu bukit lebih kurang setinggi 300meter,disebuah dataran terdapat satu pendopo diaitu berkumpul be erapa penziarah yang sedang duduk istirahat dana ada yang sedang makan dan ngobrol,aku didatangi pak Djamaluddin sepertinya penduduk lokal yang bersemangat memberikan informasi seperti guide padaku.
Sepintas tidak ada yang terlalu istimewa disitu hanya ada batu batu nisan dan kalau di perhatikan tulisannya disitu memakai huruf arab.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia.  Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu,hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab. Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007).
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu (Kompas, 01/04-2005). Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Aku melanjutkan mendayung sepeda dengan perasaan kagum pada masa lalu dan beribu pertanyaan kenapa Barus saat ini seperti terlupakan,tapi begitulah cara Allah menata kehidupan ini,sesungguhnya kekuasaan itu akan dipergilirkan.
Jalan dari kota Barus hingga 30km menjelang kota Pakat tidak terlalu nanjak tapi sampai di pendakian si gorong gorong hingga km 7 sungguh menguras tenaga,kecepatan paling tinggi 6km/jam seperti kura kura mendaki sampai dipuncak aku berhenti disebuah warung mengatur nafas dan beli tambahan air aqua yang sudah tigggal sedikit.
Dari puncak sigura gura aku meluncur mulus,angin bertiup kencang mendinginkan tubuh hingga di pasar Pakat,aku berhenti diperempatan pasar menanyakan arah ke Dolok sanggul pada bapak bapak yang ada dekatku,beberapa orang mendekatiku ingin tahu dan bertanya asal dan mau kemana,mengetahui kami dari oekanbaru mau ke Aceh mereka kelihatan kaget,lalu minta foto foto,dari mereka aku ketahui ke dolok sanggul 48km lagi dan kondisi jalan datar datar saja  tidak separah tanjakan ke pakat,aku bersemangat mendengar ini karena perhitunganku dalam 3jam atau sekitar jam 18 sore kami sudah sampai di Dolok sanggul.
Aku sudah tidak melihat opung yosef didepan lagi dan juga Abasri,gozy dan Ucup masih belum muncul juga dibelakangku.
Di km 40 ke dolok sanggul mulai nanjak terus menerus,waktu sudah menunjukan jam 18 sudah mulai gelap sedangkan ke dolok sanggul masih 35km lagi,dalam kondisi capek aku agak ngomel dengan informasi yang salah dari orang di pasar pakat tadi,di satu tanjakan yang menanjak aku melihat opung yosef yang sedang terseok seok mendaki,sekarang kami berdua beriringan,tanjakan seakan akan tak habis habisnya hari semakin gelap lampu kami hidupkan,udara semakin dingin,rasa lapar,kantuk menjadi satu,aku coba menghubungi Abasri dengan dua orang lainnya dibelakang ternyata mereka masih 5km di belakang kami.
Aku beri tahu opung kalau ada warung kita makan dan istirahat diwarung itu saja malam ini,tapi opung mengasih tahu dari pengalamannya tidak ada warung atau rumah orang sampai km 10 nanti.
Kendaraan sudah jarang melewati kami Aku dan opung turun dari sepeda dan menuntun pelan di satu belokan nanjak terlihat diatas jalan ada cahaya seperti warung dan suara orang.
Makin dekat jelas terlihat warung disitu ada tertulis km31 dolok sanggul,aku dan opung masuk kewarung,beberapa orang menanya kami dengan bahasa batak,aku sudah tak tahan lapar lalu pesan ke opung untuk orderkan mie rebus yang halal alias tidak campur babi.
Aku perhatikan ada pengunjung disitu dengan pesanan makanan yang agak ganjil seperti goreng dada ayam yang dipotong melingkar,lalu aku tanya pada yang punya warung goreng apa itu,ternyata itu adalah goreng ular ..uuugh kemudian minumannya Tuak yang kelihatan seperti air beras.
Mie rebus pakai telor terasa agak sendat dikerongkonanku melihat goreng ular dan tuak didepan meja,aku paksakan menelan mie rebus itu agar perutku kenyang dan sekali sekali didorong dengan teh manis panas agar lancar.
Badanku sudah mulai hangat lagi dan opung yosef dapat kontek dan memberi tahu anaknya yang ada di dolok sanggul agar mengantar kami makanan ke km 31 tempat kami mangkal. Kawan yang tiga orang dibelakang masih belum muncul lalu kami kirim sms bahwa kami di km31 menunggunya,setengah jam kemudian abasri,ucup dan Gozy muncul dengan lesu,Aku lihat physic dan mental kawan sudah tidak siap untuk meneruskan  perjalanan malam ini,jarak tempuh yang 70km hari ini dengan tanjakan lintasan bukit barisan seakan akan tidak habis habisnya,hari ini betul betul menguras tenaga,aku mengambil putusan untuk loading Ke Dolok sanggul.
Pemilik warung tawarkan kami menginap diwarungnya saja atau dia akan carikan pick up untuk evakuasi kami ke rumah anak opung di dolok sambung,kawan kawan memilih untuk nail puckup saja dan disepakati ongkosnya rp80ribu per orang. Sepeda kami loading dipickup dan kami duduk berdua opung dicabin depan dan 3 orang di bak belakang pickup,dalam perjalanan dengan pickup itu kami berpapasan di jalan dengan mobil avanza anak opung dan akhirnya sama sama ke rumahnya di komplek RSUD,dalam perjalanan dengan mobil hujan turun aku perhatikan jalan yang makin lama nanjak terus hingga ke tinggian 2000mdpl,aku tidak bisa bayangkan tetap mendayung ditanjakan dimalam sedingin itu dihutan tanpa penduduk.
Jam 22.30 malam kami sampai dirumah dolok sanggul rasanya kami terbebas dan masuk peradaban lagi.

7.Tour de km0_Kota Barus

Sabtu 30 januari 16.
Dari kejauhan terlihat kelap kelip lampu kota sibolga,pagi subuh kapal ferry km. Belanak merapat di dermaga Sibolga kami turun dan kembali menginjakan kaki di Sibolga. Sepeda diarahkan ke pasar tradisional untuk membeli logistik.
Perjalanan menuju Barus yang berjarak 60km umumnya menyelusuri pinggiran pantai dengan jalan yang datar tapi kurang terawat aspal banyak yang berlubang,pannierku sempat bergeser sewaktu kepergok jalan yang keriting dan bergelombang.
Kami jalan lebih santai dan banyak berhenti untuk ber selfi ria.Daerah kolang sudah mulai banyak masyarakat christiani dengan gereja dibeberapa tempat.
Sebelum Barus kami belok ke Sorkam kanan kiri kanan jalan sawah dengan padi yang menguning dan petani yang sedang panen,udara yang menyengat sepanjang jalan membuat aku ingin sekali berhenti di sebuah pondok pinggir sawah untuk istirahat dan makan siang dengan menu khas goweser...asal kenyang,namun suasana yang nyaman menjadikan makanan jadi terasa istimewa.Beberapa penduduk yang melintas ingin tahu dan berhenti untuk menyapa,pak Pasaribu warga lokal yang bisa berbahasa minang mengatakan bahwa didaerah ini bahasa minang juga dipakai tapi dengan logat yang khas dan beliau bercerita sepanjang pantai daerah sorkam sampai kota Barus umumnya muslim,didaerah ini aku merasa bagai didaerah sumatra barat,wanita nya berjilbab dan laki lakinya berpeci muslim. Banyak ditemui Masjid dan surau didaerah ini,jam 2
TIDAK BANYAK ORANG orang mengetahui bahwa sesungguhnya Barus merupakan sebuah kota yang banyak menyimpan rahasia. Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.
Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah (historical archaelogy) di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.
Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia.  Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab. Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007).
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu (Kompas, 01/04-2005). Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

6.Tour de km 0_Jelajah Nias

25 januari 16, menuju Nias
Dari kantor PM di Sobolga kami diantar ke dermaga ferry oleh pak Sunarto seorang polisi,harga tiket yang seharusnya rp40ribu ternyata di gratiskan untuk kami berlima,
Setelah semua kendaraan masuk,kami  yang bersepeda dipersilahkan masuk kapal dengan menuntun sepeda,rasanya semua mata yang ada disitu tertuju pada kami karena ada sepeda dengan bendera lengkap dengan pannier kiri kanan..
Pelayaran ferry km Menumbing Raya dari Sibolga dimulai jam 8 malam,sepeda kami tinggal di palka kapal dan kami naik ke atas dek tingkat tiga,aku mendengar suling tanda keberangkatan kapal,pelan kapal bergerak ke lautan lepas hingga kota sibolga  yang bercaha lampu makin lama makin hilang.
Saya merasa ini bukan di atas kapal, justru mirip barak pengungsian. Pengap, panas dan ribut oleh suara orang-orang dan tangisan bayi. Bahkan ada yang duduk dan tidur di selasar kapal. Dan ketika saya bosan dengan suasana kabin penumpang saya beranjak pergi ke naik ke lantai 3 tepatnya di buritan kapal. Disini justru lebih parah, penumpang banyak yang tidur di lantai beralaskan koran. Ditambah dengan hilir mudiknya para penjual asongan yang menjual rokok, nasi bungkus dan makanan ringan.
Penumpang umumnya sudah duduk di kursi masing masing atau tempat tidur yang disebut kamar dan ada juga yang masih berjalan mondar mandir termasuk kami yang tidak punya karcis duduk atau kamar. Ruang yang bisa jadi tempat tidur sudah penuh oleh penumpang,aku mencari ruang yang kira kira bisa untuk tidur tapi sepertinya sudah terisi semua,di deck aku ngobrol dengan seseorang disitu dapat informasi bahwa ruang mushala sering juga diisi penumpang,aku coba cek ke Mushala sambil membawa sleèping bag,terasa nyaman sekali ruangan ini dengan ac nya dengan rasa khawatir ditegur aku mencoba merebahkan tubuh yang letih ini terasa nyaman sekali dan seterusnya aku tertidur hingga jam 4 pagi,laju kapal mulai pelan dan jam 5 pagi penumpang mulai turun dan terjadi insiden kecil sewaktu membuka ram door atau pintu keluar penumpang dihantam gelombang sehingga ada penumpang yang jatuh dan cidera.
landing di gunung Sitoli
26 januari 16.Mendarat di gunung Sitoli Nias
Dalam gelapnya pagi kami berlima berjalan kaki menuntun sepeda,toko toko masih belum buka,seorang laki laki yang tadi kami kenal di kapal ikut dengan kami berjalan kaki sambil menunjukan tempat sarapan pagi yang halal dan menunjukan Kantor polres tempat kami melaporkan diri. Pak Hidayat wakapolres memberi petunjuk untuk tetap waspada diperjalanan dan memberi tahu lokasi yang rawan kriminal. Setiap orang yang kami beritahu bahwa tujuan kami hari itu akan ke Teluk dalam sejauh 110km selalu menasehati untuk berhati hati dan kalau kemalaman agar menumpang bermalam di kantor polisi saja supaya lebih aman,karena sudah tiga orang menasehati hal sama sedikit banyaknya membuat kami bertanya tanya ada apa sebetulnya sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan. Bagaimanapun  kami tetap akan waspada dan hati hati sekali.
Ya'ahowe...!! Merdeka...!! Begitulah salam yang kami terima setiap melewati penduduk,terasa keramahan penduduk didaerah yang baru kami kenal ini.kami menelusuri Jalan datar menjelang persimpangan ke Air port Binaka lalu tanjakan yang cukup tinggi di daerah sebelum idanogawo,didesa ini kami istirahat makan siang.
Karena waktu sudah jam14 kami memutuskan untuk bermalam desa Bawolato km 55 saja,tapi setelah di check air untuk mck ternyata airnya sudah kosong,kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kira kira 35km lagi hingga desa Lahusa.
Melalui tanjakan dan penurunan yang mulus kami meluncur kencang hingga jam 17 sampai di desa Lahusa dan kami langsung ke polsek untuk mencari tempat bermalam. Kami dapat layanan sangat simpatik dari bapak bapak petugas di polsek,pak A hasibuan menyediakan aula untuk kami istirahat malam itu.
27 januari 16, menuju Teluk dalam dan melihat Lompat Batu, Desa Bawu Mataluo
Sekitar pukul 7 pagi kami mulai bergerak meninggalkan Desa Lahusa dengan terlebih dahulu berpamitan kepada Pak akp Dogo, Sepeda dipacu menuju arah teluk dalam. Tujuan kami adalah Pantai Sorake dan Pantai Lagundri. Jalanan aspal yang kadang kadang  jelek berlobang berupa bebatuan masih sering memergoki kami.
dijalan kami sempat diguyur hujan lebat,aku dan ucup numpang berteduh di teras rumah penduduk,didepan rumah ada pajangan pisang yang menerbitkan selera,kami beli pisang tersebut dan harganya diluar dugaanku yaitu seribu rupiah untuk satu sisir pisang yang besar besar itu.
Kami juga melewati pasar rakyat, ada pemandangan tak biasa di mata saya. Ada beberapa buah lapak pedagang menjual daging babi, tanpak jelas itu daging babi karena kepala babi turut dipajang. Pemandangan yang tak lazim di jumpai dikotaku.
Habis itu semua kami mulai melalui jalanan yang lumayan lebar namun masih berbatu. Setelah sekian lama kami baru menjumpai jalanan aspal mulus. Merdeka !!! Akhirnya sepeda kami terbebas dari jalanan hancur dan sekarang dapat memacu sepeda phingga kecepatan 30 km/jam.
Di sepanjang jalan menuju teluk dalam disisi kiri terhampar lautan biru luas membentang. Sungguh indah ini semua. Di suatu tempat kami berhenti di tepi jalan. Tempat itu bernama Genasi. Tempat dimana kita dapat memandang luasnya laut biru sejauh mata memandang dari ketinggian. Sehingga sayang melewatkan spot indah ini tanpa di abadikan dalam foto.
Genasi,tempat ini bisa dilewati dalam perjalanan dari gunung sitoli ke teluk dalam atau sebaliknya..kalo cuaca lagi bagus, warna lautnya juga makin bagus
Kemudian kami lajut lagi menuju kota Teluk Dalam. Sepajang jalan kami dihidangkan pemandangan laut nan indah disisi kiri. Wow…tak terasa lelah mengendarai sepeda bila ditemani pemandangan indah seperti ini.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di Kota Teluk Dalam, kami melaporkan diri ke polsek di kota ini.
Sampai jam 12 siang di kota teluk dalam kami hanya berkeliling sebentar lalu lanjut menuju lompat batu nias yang berjarak 30 km dengan medan yang masih menanjak dan menurun.
Desa Bawu Mataluo adalah lokasi dimana Lompat Batu Nias yang terkenal ke seantero jagad.
Sesampainya disana kami di tawari atraksi lompat batu dengan imbalan biaya 150 ribu untuk 3 kali lompatan. Namun karena kami adalah Bikepacker “pas pasan” maka kami tidak menerima tawaran tersebut.tapi opung meminjam kostum perang untul brfoto dengan sewa rp20ribu,kami hanya berjalan-jalan di temani oleh satu orang pemandu wisata yang menceritakan sejarah.

Bawu Mataluo adalah sebuah Desa Adat berupa kompleks perumahan tradisional dengan rumah penduduk yang arsitekturnya sama. Ada satu rumah yang beda, terlihat besar itu adalah rumah raja. Dan yang menempati rumah tersebut adalah generasi kelima dari raja.Di depan rumah raja terdapat pelataran aku jadi ingat film the Vicking yang mirip susunan bangunannya. Dari beberapa sumber mengatakan sewaktu rumah ini selesai dibangun lalu tukangnya di bunuh supaya tidak ada lagi tukang yang bisa membangun rumah yang menyamai rumah raja ini.
Di desa ini kita akan di buat sedikit tak nyaman oleh anak- anak yang berjualan souvenir yang berebut menawarkan barang jualannya mengikuti kemanapun kita pergi. Desa Bawu Mataluo yang artinya Matahari Terbit terletak di atas sebuah bukit. Dari sini Pantai Sorake dan Lagundri terlihat jelas berupa teluk dengan garis pantai melengkung membentuk huruf U.
Hal pertama yang saya cari sesampainya di desa ini adalah Lompat Batu, yang ternyata terletak di depan rumah raja. Kesempatan untuk mengabdikan dalam bentuk foto tak boleh di lewatkan. Karena ini adalah bukti bahwa saya sudah sampai ke Pulau Nias dan melihat langsung tugu lompat batu.
Inilah Lompat batu yang terkenal ke penjuru dunia itu.
Pada masa lampau, pemuda Nias akan mencoba untuk melompati batu setinggi lebih dari 2 meter, dan jika mereka berhasil mereka akaan menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah. Sejak usia 10 tahun, anak lelaki di Pulau Nias akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo" mereka. Sebagai ritual, fahombo dianggap sangat serius dalam adat Nias. Anak lelaki akan melompati batu tersebut untuk mendapat status kedewasaan mereka, dengan mengenakan busana pejuang Nias, menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.
Batu yang harus dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm. Pelompat tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Pada masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing, yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.(sumber wikipedia)

Pemandu kecilku Daniel kemudian mengajak kami berkeliling kompleks desa adat, kemudian ke sebuah rumah yang pemiliknya adalah pengrajin souvenir. Dan lagi-lagi, karena keterbatasan budget alias bikepacker pas pasan kami hanya membeli satu souvenir mainan kunci. Padahal dalam hati ini sangat ingin membeli Patung berbentuk Lompat Batu Nias untuk di pajang di kamarku.
Souvenir, kerajinan tangan warga Desa Bawu Mataluo
Sekitar 1 jam kami berkeliling, akhirnya kami menyudahi tour singkat ini untuk melanjutkan kembali perjalanan. Pemandu yang membawa kami berkeliling  kami beri imbalan suka rela sebesar 20 ribu.
Sekitar jam 15 sore kami kembali ke taluk dalam untuk membeli makanan guna persiapan camping hari itu di pantai Lagundri.
pantai Lagundri

Beberapa kali berhenti bertanya arah ke Pantai Sorake kepada orang. Setelah petunjuk jalan kami rasa jelas sepeda langsung kami genjot menuju Pantai Sorake,kami melewati 3 tanjakan yang cukup tinggi  dan 1,5 jam pejalanan dari kota Teluk Dalam kami tiba di Sorake.
Berjalan menyusuri pantai Lagundri
Indahnya lekukan pantai lagundri yang berada di teluk
Pantai Sorake menjadi tempat yang pertama dikunjungi pada hari ini. Namun apa lacur? Bayangan awal pantai Sorake dalam benak kami adalah pantai putih dengan ombak besar dan banyak “bule-bule” berbikini di pantai. Namun kenyataan berkata lain. Pantai Sorake hanya pantai batu karang dengan ombak yang tinggi dan tidak banyak bule. Hanya beberapa orang bule yang tampak sedang bermain selancar dan duduk di pantai.
Dari info masyarakat setempat, memang bulan ini tidak banyak turis asing. Pada saat Summer Time saja banyak turis asing disini. Yaitu antara bulan mei sampai juli. Dimana kontes Surfing internasional digelar tiap tahun. Garis ombak ombak panjang setiggi 10 meter tentu saja menjadi daya pikat penggila selancar dari penjuru dunia.
peselancar dan peturing
Bergaya ala peselancar profesional
Mau main selancar di laut gak bisa berdiri, mending dipasir aja gak bakalan jatuh. haha
Karena kami ke pantai hendak camping. Pantai Sorake terasa tidak cocok karena pantai yang berbatu karang tanpa pasir. Akhirnya kami pindah menuju pantai Lagundri berjarak sekitar 1 Km dari Sorake.Tiba di lagundri langsung permisi pada pemilik warung untuk mendirikan tenda di pantai.
Dari pemilik warung  aku dapat cerota bahwa mereka adalah keluarga muslim dan lebih kurang.ada 17 keluarga yang sudah muslim dan sadaranya masih banyak yang nasrani walaupun begitu mereka tetap rulun
Camping kami
Yah..disinilah kami akan bermalam sampai esok siang. Sengaja kami camping disini agar puas main di pantai indah ini. Dari mulai menyewa papan salancar seharga 30 ribu. Jalan-jalan di pantai. Duduk melihat aksi selancar orang-orang yang sudah pro dan beraktivitas lainnya menikmati undahnya pantai. Opung dan ucup ikut short training surfing,tapi memang satu hari belum cukup untuk jadi peselancar. Di sore hari dikala matahari hendak terbenam, sunset indah kami abadikan dalam bentuk foto Sunset di Lagundri bay
Malam tiba kami duduk di depan tenda melingkari api unggun sambil menunggu nasi masak,nyanyian ombak dipantai bagaikan berzikir pada penciptanya,aku makin tertunduk dan makin terasa kecil mengingat kebesaran Allah yang menunjukan keindahan ciptaanNya padaku saat ini....tidak ada kata kata untuk mengungkapkan keindahan suasana kala itu dan mulutku hanya bisa menyebut Maha besar engkau ya Allah yang telah menjadikan semuanya ini.....
Nasi hangat dengan lauk ikan asin sambalado goreng siap untuk kami santap,cerita pengalaman selama perjalanan dan kekonyolan diri sendiri menjadi lucu saat itu,malam makin larut kami mulai masuk tenda untuk istirahat,sekitar jam 03 malam subhanallah hujan dan angin badai menggoyang seakan menerbangkanku bersama tenda ini,lalu aku merasakan air menggenang dilantai tenda,heran dari mana datang genangan air ini,aku lihat ke arah atas tendan hanya sedikit rembesan saja,hujan makin lebat dan matras ultraligh yang yang dibawa dari USA lalu terapung oleh air,aku baru menyadari ternyata aku membuat kekeliruan yaitu mengembangkan flysheet dibawah tenda dengan tujuan supaya tendaku tidak dikotori pasir namun akibatnya jadi fatal air hujan tidak langsung diserap tanah tapi tergenang di atas flysheet ini.
Aku mencoba keluar tenda untuk mengambil flysheet tersebut tapi aku urungkan karena hujan dan badai yang masih besar,aku hanya duduk jongkok ditenda sambil menulis catatan perjalanan ini hingga hujan reda sampai datangnya subuh.



tenda di genangi air

Berkemas
Pagi ini Sun rise tidak jelas terlihat karena mendung,aku keluarkan dari tenda  pakaian yang basah kena hujan tadi malam dan dijemur lagi diatas sepeda,kami berencana menunggu tenda agak kering baru berangkat ke kota Teluk dalam,tapi tanpa terduga hujan turun lagi,kami terpaksa menunggu hujan reda baru berangkat.
Jam 12.30 kami pamitan pada bapak yang punya resort dan mendayung sepeda ke polres Teluk dalam,di polres kami bertemu wakapolres beliau memberi bantuan transport untuk membawa kami kembali ke Gunung Sotoli. Sehabis magrib kami dibawa dengan bus polisi dan sepeda dinaikan keatas truck polisi.sesampai di Gunung sitoli jam 22.00 malam kami ditawarkan pak supriadi polisi yang memberi tumpangan untuk tidur di polres dan kami disuruh menunggu di persimpangan jalan karena dia ada keperluan sebentar,tapi setelah ditunggu sampai setengah jam beliau tidak datang,lalu ditengah malam itu kami mencoba pergi sendiri ke polres,ditengah perjalanan aku di panggil pak Bob aldin dari rumahnya,kami berhenti lalu beliau menawarkan masjid Al islami  untuk tempat istirahat kami malam itu.
Kami menerima tawanan yang simpatik itu dengan perasaan suka cita karena terbebas dari menggelandang di malam yang dingin itu.
Masjid Al Islami terletak di daerah bisnis jl.Diponegoro,mayoritas penduduk disini perantau Minang yang sudah bermukim sampai tiga generasi umumnya sebagai pedagang. Pak Mucklis (60thn) seorang perantau minang asal Malayo yang sukses datang ke Nias Gunung sitoli sejak thn 1964 beliau dibawa kakeknya
Sekarang pak Mukhlis pedagang  yang juga menjadi aktivis di partai PAN dan muhamaddiayah itu mempunya tiga orang anak yang sudah serjana dan empat orang cucu. pak Aldrin Tanjung (50thn) asal Sungai jariang Agam lahir di Gunung sitoli seorang pedagang emas yang sukses. Kita tidak merasa di Nias kalau berada di daerah pasar ini karena sering terdengar orang berbahasa minang didaerah ini.
Paginya kami didatangi kawan kawan goweser nias gureta club (ngc) lalu menyerahkan baju NGC sebagai kenang kenangan untuk kami.
Pak Ari petugas
Selesai sholat jumat beberapa anggota ngc mengajak kami untuk makan siang bersama,pak Ari teman gowes ngc adalah seorang petugas ferry sudah bookingkan ticket ferry ke Sibolga untuk kami berlima,
Sehabis magrib kami diantar oleh teman teman komunitas sepeda ke dermaga ferry sejauh 1km dari masjid.
siap siap pulang

Kapal ferry Kmp.Belanak warna putih dan biru kayaknya lebih besar dari kapal ferry yang kami tumpangi sebelumnya. Pak Ari memberikan ticket lalu kami dipersilahkan masuk leboh duluan dari penumpang lain,terasa sekali kami diistimewakan..
Kami diantar naik ke lantai dua di sebuah ruangan yang ber AC,kursi sofa yang empuk serta sebuah kasur dipersiapkan dibawahnya seandainya kita ingin tidur,kontras sekali dengan suasana ruangan klass ekonomi yang bising dan semrawut,itulah kehidupan yang penuh warna warni.jam 20.30 kapal mulai bergerak tinggalkan bumi Nias.

5.Tour de Km 0_Dibawah pohon beringin

Ahad_23 januari16
Pagi ini Kawan kawan KONSEP (komunitas sepeda padang sidempuan) dberkumpul lagi di posko,kami makan pagi bersama lalu jam 09.00 berangkat dengan diantar oleh kawan kawan tadi,jalan kota Padang sidempuan yang mulai padat kami penuhi dengan beberapa pesepeda yang mengapit kami di muka dan dibelakang,beberapa diantara pesepeda mengambil foto dan video kami,sampai batas kota lalu mereka kembali pulang,aku merasakan suatu kehormatan dari sahabat sahabat yang baru sehari kami kenal tersebut tapi Subhanallah rasanya seperti sahabat lama yang ketemulagi,ini lah salaha satu segi positifnya dari persahabatan di komunitas sepeda di Indonesia ini.
Jalan langsung nanjak mulai dari batas kota hingga desa Parsalakan lumayan tinggi,udara panas sangat menguras tenaga. Kami melintasi susunan bukit barisan seperti tak habis habisnya diisuatu tikungan yang ada sungainya kami berhenti dekat sebuah restoran yang cukup besar,didepan restoran parkir beberapa beberapa kendaraan mobil besar dan kecil,sepertinya restoran itu cukup populer di daerah tersebut,dari papan nama dekat restoran aku membaca taman rekreasi sungai Hapesong baru kecamatan batang toru lalu kami turun kearah sungai tersebut dengan menuntun sepeda karena terlalu curam untuk di naiki,suatu lembah yang hijau dikelilingi tebing dengan kerimbunan pohonnya kemudian didasar lembah mengalir sungai yang jernih dengan batu batuan kali besar,banyak pengunjung mandi dan menghanyutkan diri mengikuti aliran sungai yang jernih tersebut kemudian mereka berhenti di batu batu kali yang besar dipinggir sungai sungguh merupakan taman rekreasi yang sangat alami tanpa rekayasa,dipinggir sungai ada beberapa pendopo untuk para pengunjung istirahat,kami parkir sepeda disamping pendopo lalu istirahat selonjoran kaki yang pegal.
istirahat disini

Ucub dan Gozy mulai memasak untuk makan siang,nasi hangat dengan lauk ikan asin seadanya sambal lado,sungguh tak ada tandinang nikmatnya saat itu,suasana lembah yang nyaman serta suara aliran sungai  yang menyejukan membuat kami terkantuk kantuk dan ada yang tertidur sampai jam 14.00, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam disitu.
Aliran sungai yang jernih dengan batu batuan yang besar sangat nyaman untuk mandi mandi dan mencuci pakaian kami yang sudah kotor sejak seminggu terakhir,
Daerah ini betul betul terisolir dari dunia luar karena tidak ada signal untuk berkomunikasi.
Jam 17 sore terasa sudah gelap,pengunjung sudah pulang dan tidak ada yang tinggal hanya kami berlima tinggal di lembah itu.
Sungai Hapesong

Dari desa terdekat aku mendengar suara azan magrib,aku menaiki tebing untuk menuju ke mushala di desa pinggir jalan tersebut guna sholat magrib,mushala ukuran empat kali empat meter tersebut diisi oleh enam orang jama'ah magrib termasuk aku.selesai magrib aku ngobrol dengan Pak Nasution pemilik restoran satu satunya disitu,pak Nasution bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya merantau ke daerah jawa kemudian jadi pelaut terakhir setelah punya modal dia kembali ke Kampungnya sekarang membuka usaha kafe dan karaoke yang dekat dengan kemudaratan,jiwa nya terasa gelisah terus walaupun uangnya banyak,akhirnya dia tinggalkan binis karaoke tersebut lalu merobahnya jadi restoran,sejak itu bathinnya mulai tenang dan dia mulai mengenal Allah dan rajin sholat,pulangnya membeli lauk untuk makan malam kawan kawan.
Malam kami tidur di setiap gazebu yang ada di pinggir sungai,kebetulan opung yosef dan tidur di gazebu atau pondok dibawah pohon beringin sempat berteriak histeris ditengah malam dan sewaktu pagi opung ditanya apa yang terjadi tadi malam dengan agak malu malu opung menceritakan bahwa dia mengira mahluk halus yang mencolek pantatnya hingga dia menjerit keras"aaaaAAUU" tapi ternyata yang mencolek adalah kakinya Gozy. Ternyata opung perkasa di atas sepeda namun begitu rapuh soal mahluk halus...hehe.
Senin 24 Januari 16.
Tinggal 35km lagi kami memasuki kota Sibolga,di batas kota seseorang menyamperi kami,pak Sunarto seorang anggota polri juga sebagai penggiat sepeda di Sibolga menjemput dan mengantar kami ke daerah wisata pantai Pandan lalu sore kami nya berpisah dan bersilaturahim dengan PM sibolga yang akan mengurus keberangkatan kami dengan kapal ferry ke pulau Nias.







Saturday, January 30, 2016

4.Tour de km 0_Padang Sidempuan

Sabtu 23 januari 16

Keluarga bang Robert melepas kepergian kami sampai didepan gapuranya,satu malam berkumpul dengan keluarga yang baik hati terasa melepas rindu kami dengan keluarga sendiri. Pagi ini sepeda kami pacu lagi dicuaca yang cerah,makin siang udara makin menyengat namun kondisi jalan yang datar dan tidak terlalu banyak tanjakan sangat membantu.
Telapak kaki kananku terasa agak pedih sewaktu mendayung pedal ternyata sepatu yang sudah menemani selama turing asia sudah bolong dan menyebabkan pedal menusuk ketelapak kaki waktu mendayung.

Didesa siabu aku melihat pemandangan sawah dan sungai yang membentang sepanjang perjalanan,kami berhenti di persawahan yang ada sungainya dan menuntun sepeda menurun kearah pondok yang suasananya nyaman sekali di cuaca yang menyengat,aku minta permisi untuk istirahat pada ibu tani yang sedang bekerja. Gozy dan ucup memasak makan siang dengan lauk ikan teri dan sambalado yang dibawa ucup dari rumah terasa lezat sekali,rasanya belum pernah aku makan selezat itu dengan ikan teri dan sambalado.Selesai sholat aku merebahkan diri sambil menikmati Semilir angin dan desiran air sungai sampai ketiduran dan dibangunkan oleh opung.

15 km sebelum masuk kota padang sidempuan kami bertemu dengan bang joe ned yang sudah lama memantau perjalanan kami,Joe ned dan kawan kawannya adalah pesepeda dari komonitas Padang sidempuan "konsep"mereka kami kenal melalui facebook,kami dikonvoi kemarkas mereka di kota salak ini.

Jam 05 sore setelah perjalanan sejauh 80km kami sampai di sebuah ruko markas mereka dan beberapa orang sudah menunggu kami,Andy saputra dan kawan kawannya sangat aktiv menanyakan kalau kami memerlukan sesuatu,mulai dari sepeda opung yang goyang fendernya dan fb opung yang ngadat di perbaiki oleh teman teman disini.aku melihat mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kami,malam ini kami disuguhi makan malam ikan selai besar dan gulai ubi tumbuk,kami diperlakukan istimewa sekali saat itu,aku tercenung mengingat persahabatan yang ikhlas tanpa embel embel status,ras,keyakinan sangat membahagiakan dan akan selalu kita kenang.