Pages

Monday, July 6, 2015

22.TOUR de ASIA_Sorga Peturing Dunia





Perjalanan impian melewati Sorganya peturing dunia,itulah judul yang sering aku baca dan dengar dari setiap pengelana sepeda di pelosok dunia,Perjalanan yang cukup berat penuh tantangan itulah yang harus kami hadapi untuk menuju sesuatu yang jadi impian,semua persiapan untuk suatu perjalanan clasic Vientiane Luang prabang rasanya sudah siap semua.
Asean global at Mekong River Vien Tiene.

Sepeda yang kemarin diservice sudah terpasang dengan 4 pannier muka dan belakang berisisikan kebutuhan kami selama diperjalanan nanti,pagi ini hari Sabtu tanggal 29 November jam 6 pagi kami sudah mengayuh sepeda keluar dari mess KBRI,bermacam perasaanku saat itu,senang,khawatir dan sedikit cemas mendengar medan yang harus kami lalui nanti.
Belum banyak mobil saat itu dan lagi hari ini hari sabtu libur.
Kemarin sore ada sedikit kekeliruan yang tidak kami sengaja yaitu membawa tamu sahabat kami Kharleez yang non WNI menginap di Wisma RI belakangan kami diberi tahu bahwa hal ini tidak dibenarkan,atas kekeliruan ini kami minta maaf pada ibu Monica atase budaya lalu Kharleez akhirnya pindah ke tempat penginapan komersial.

Kami bertiga mengayuh menuju homstay Funky monkey di pinggir sungai Mekong menjemput kharleez peturing Malaysia yang akan kayuh bersama dengan kami menuju vietnam.
Funky monkey
Jalanan yang mulai ramai di vientien membuat kami terpisah lagi dengan opung Sitor,aku dan kharles sempat kembali lagi kebelakang dan mencari hingga setengah jam,sayang tidak ketemu.
Kami melanjutkan perjalanan bertiga dengan Joker dan kharles,semakin keluar kota kendaraan mulai berkurang dan jalanpun mulai ada yang rusak dan berdebu.


Kualitas aspal di laos permukaannya terlalu kasar seperti tidak dipadatkan dan kerikilnya kasar kasar menonjol dipermukaan seperti kacang yang ditebar diatas permukaan kue martabak.
Sampai daerah Nam houm kami istirahat makan siang dengan menu soup ayam yang hambar dan tidak begitu sesuai dengan lidahku.




orang laos agak pemalu

Disuatu lapak penjual buah buahan 20km sebelum pertigaan Nam Ngum lake kami istirahat makan buah semangka dan buah yang tidak kukenal namanya dan rasanya seperti mangga.
Beberapa menit kemudian opung muncul dihadapan kami sambil ter engah engah memberikan keterangan alasannya bisa terpisah.
Perjalan siang sangat menguras tenaga karena panas yang menyengat namun dengan pemandangan sawah dikiri kanan rasa bosan itu bisa terobati,hingga akhirnya kami sampai di gas station yang besar dan baru launching di daerah Sam zoum.

Zam Zoum gas station 
Malam ini adalah kali pertama kami nginap dan camping di gas station Laos. Agak sulit juga mengkomunikasikan permintaan izin kami untuk camping di area tersebut,tapi setelah kami tunjukan gambar camping kami yang lama,mereka baru mengerti dan mempersilahkan kami mendirikan tenda dekat cafe yang belum dibuka,tanpa menunggu lama aku menurunkan tenda dan peralatan tidur untuk dipasang,dalam sepuluh menit tendaku sudah berdiri didalam ruangan yang masih kosong tadi,sebetulnya tanpa tenda tidur sudah aman tapi mengingat udara yang dingin waktu malam aku memilih untuk pasang tenda saja.
Kecenderungan orang laos agak pemalu tapi setelah kita sapa dengan "Sabayde"Mereka sepertinya mulai terbuka dan ramah,kembali kami malam itu di jamu satu kluarga Laos yang suaminya Mr.Ing bekerja di gas station itu menjamu makan malam.



makan malam
Cara makan laos agak unik yaitu makan nasi ketan (nasi biasa jarang ditemukan) di satu wadah bambu lalu masing masing kita mengambilnya segenggam dan biasanya dikepal kepal dengan tangan hingga bulat lalu di celupkan ke wadah gulai dan di santap,rasanya seperti makan ketan pakai sayur dan agak asin asin sedikit,rasanya lumayan enak untuk pengisi perut.
Hinheup menuju Vang veng
Hari ke dua Hinheup menuju Vang veng,treck yang sangat menarik dengan diawali tanjakan perbukitan laos utara sekitar 2km kemudian sampai di puncak lalu penurunan yang panjang mengantar kami kembali melayang bagai camar menyelusup kedalam kabut pagi diantara hutan dan lembah pegunungan hijau seakan mengatakan "datang lah padaku dengan damai" nyanyian alam ebiet g ade makin menyatukan perasaanku dengan alam.
Aku ber kejar kejaran di penurunan itu dengan joker dan khaleez udara pegunungan yang dingin menambah indah perasàan.
Dari kejauhan,jalan yang tadi beraspal mulus tiba tiba berobah menjadi berlobang lobang besar yang menganga siap menerkam sepedaku,aku meliuk kekanan diantara aspal yang masih tersisa,debu dari semburan roda truck memancar kemana mana.

debu

Didepan aku lihat Joker dan Kharleez berhenti,ternyata roda belakang sepeda joker kembali baling menyebabkan rem v brake belakang lengket terus dan mengerem rodanya. dari kondisi yang aku lihat kerusakan ini tidak bisa kami tangani langsung saat itu karena akan memakan waktu yang lama sedangkan saat itu kita ditengah hutan.kami masih berusaha melepaskan v brake tapi tidak berhasil karena ban sepeda sudah menyenggol ke frame,akhirnya kami putuskan untuk mencari tumpangan dan loading sepeda joker sampai ke vang vieng dengan harapan nanti diperbaiki ke bengkel yang ada di Vang vieng,aku lihat joker mulai hilang semangat dan ingin kembali ke Viantiene dan mengakhiri perjalanan yang makin berat didepan kami,suatu ujian mental yang cukup berat saat itu bagi kami,opung Sitor yang ingin kami mintai pendapatnya sudah menghilang didepan tidak tahu rimbanya lagi dan juga tidak bisa dihubungi dengan telpon.
Aku dan Kharleez memberi semangat pada joker agar duluan ke Vang vieng mencari bengkel kemudian kami akan menyusulnya,akhirnya joker setuju.
Kira kira setengah jam kami berhenti dipinggir jalan belum ada kelihatan mobil yang kira kira bisa membawa sepeda joker kalaupun ada orangnya tidak bersedia menolong mungkin karena keterbatasan bahasa,suatu kali tiba tiba lewat mobil Mitsubishi pick up double cabin,dengan harap harap cemas aku mencoba lagi menyetopnya,ternyata dia berhenti sewaktu aku sapa "good morning sir,we are in trouble,would you like to help us" dengan antusias sopir dan tiga penumpang berhenti,ternyata mereka adalah orang Bangkok Thailand yang juga sedang menuju ke Vang vieng dan mereka menanyakan kondisi kami,lalu setelah kami beritahu ingin menumpangkan joker dan sepedanya sampai ke bengkel terdekat atau kota Vang vieng merekapun menyetujui.
joker dan sepedanya


Joker dan sepedanya naik ke pick up lalu aku dan Kharleez melanjutkan kayuhan sepeda dengan harapan bertemu nanti dibengkel terdekat atau di kota Vang vieng.
Disebuah pondok kosong ditengah pesawangan aku berhenti untuk minum dan menyeka muka yang berkeringat bercampur debu....Kharleez sudah duluan didepan,aku merasakan beratnya medan waktu itu,dalam hati aku bisikan pada diri sendiri aku harus kuat dan tidak boleh menyerah,aku tak henti hentinya berdoa agar diberi kekuatan.
baca pesan singkat

Aku lihat ada beberapa miscall dari joker dan aku baca pesan singkat mengatakan bahwa dia berada disuatu desa Sangnoum dan mencari tumpangan untuk kembali ke Vientiane karena menurut informasi dari warga tidak ada bengkel sepeda walaupu sampai ke Vang vieng,aku jadi penasaran lalu memberi pesan singkat lagi supaya jangan berangkat dulu karena aku akan akan memastikan keberadaan bengkel di Vang vieng,aku ingat pada Mr Kamdai teman kami orang bengkel di viatiane,dan dengan harap harap cemas karena signal telpon yang lemah aku coba telpon,Alhamdulillah berhasil dan aku dapat info dari Mr Kamdai bahwa dia memastikan ada bengkel di Vang vieng,lalu pesan ini ku sampaikan pada joker,akhirnya joker menunggu kami datang menyusul ke desa Sangnoum.


Desa Sangnoum

Dua jam kemudian kami ketemu joker di depan sebuah warung,lalu joker mengatakan dia turun dari tumpangan pick up tadi karena terpengaruh sewaktu bertanya ke bengkel sepeda motor disitu mengatakan dengan yakin nya bahwa tidak ada bengkel sepeda di Vang vieng lalu turun dari tumpangan ke Vang vieng tadi dan memutuskan untuk cari tumpangan pulang ke Vientiane,aku memaklumi kondisi Joker yang agak tertekan lalu aku meyakinkan Joker lagi untuk tetap ke Vang Vieng mencari bengkel yang sudah disebutkan posisinya oleh pak Kamdai. Kembali joker naik angkutan umum dan sepedanya diikat di dinding mobil kali ini terpaksa bayar seharga 75ribu kip atau kira kira 150ribu rupiah.
naik angkutan umum
Vang veng masih 68 km lagi,jauh aku harus bangkit lagi kalau tidak ingin tidur di hutan....setiap memasuki beberapa desa suara suara kecil anak laos memberikan semangat padaku "Sabaydee...sabayde" aku begitu terharu dan bahagia kalau kedatangan kami bisa memberi kebahagiaan pada mereka.
68 km lagi

Aku melanjutkan kayuhan dengan Kharleez hingga disuatu warung dipinggir desa aku melihat sepeda opung parkir,kami berhenti dan ternyata opung sedang makan siang,aku ceritakan semua kejadian tentang joker akhirnya kami bertiga melanjutkan perjalanan untuk bisa secepatnya bertemu Joker.
warung dipinggir desa 
Beberapa kali kami berpapasan dengan pesepeda turing dengan beban yang penuh.dari arah Vang vieng,kecepatan yang laju membuat kami segan berhenti tapi cukup dengan sapa lambaian tangan.
Suatu kali di suatu daerah yang cukup sepi aku ketemu seorang pemuda asal changshu bernama Xindan shen yang berjalan pakai Backpack di punggungnya lalu aku dan khalez berhenti tertarik melihat penampilannya dan menyapanya,dia bisa berbahasa Inggris menerangkan bahwa dia sudah berjalan dari daerah asalnya di changshu ke Vang vieng sudah tiga bulan lebih atau kira kira sudah 2000km lebih tanpa kendaraan hanya jalan kaki saja. 

Dia mengatakan murni jalan kaki dimana kemalaman disitulah dia tidur dengan segala peralatan backpack yang bertengger di punggungnya. Kami saling bertukar alamat FB dan aku memberinya satu botol air mineralku yang masih tersisa,belakangan sewaktu aku sudah sampai di Kamboja dapat berita dari dia bahwa dia terserang diare berat di daerah udong thani Thailand dan berencana untuk pulang ke china lagi.

Sore menjelang magrib kami dihadang bentangan pegunungan yang harus kami lalui menuju Ke Luang prabang. 

Welcome to Vang Vieng

Matahari mulai merah tembaga berarti magrib menyusul kami memasuki kota Vang Vieng lalu aku membaca pesan singkat Joker bahwa dia menunggu dipersimpangan Blue Lagon. 
Blue Lagon Vang Vieng

Kami memasuki kota Vang Vieng,udara terasa dingin,lampu cafe dan toko toko souvenir menerangi kota,suasana nya di penuhi oleh para turis kulit putih dan jepang persis seperti di Kuta Bali,kami berjalan menuntun sepeda di pedastrian kearah posisi yang diberi tahu Joker,lalu disuatu cafe aku melihat sepeda Joker yang dihiasi bendera asean ,kemudian muncul joker dengan wajah cerah mengatakan bahwa sepedanya sudah diperbaiki dan kembali normal.



joker dengan wajah cerah

Cukup sulit buat kami menentukan dan mencari tempat camping di hari yang sudah gelap saat itu,selagi berpikir dan berbincang itu tiba tiba ada seorang turis bule tertarik melihat kami bersepeda lalu menyapa dan menanyakan asal kami,dengan simpati dia memberitahu dan mengantar kami ke guest house yang cukup murah yaitu 50000kip atau sekitar rp70ribu semalam,maka kami putuskan ambil 2kamar untuk berempat dan kami nginap di guest house Seng Aloun di pusat turis Savang village.
Cari guest house



Savang village
Malam ini akan kami habiskan untuk istirahat di vang veng selama 2 malam dan esok kami akan explore Vang vieng yang exotic ini.
Note:foto foto ada di fb

21.TOUR de ASIA_Kehilangan opung Sitor dua hari

Tuktuk di Nong Kai
Perjalanan hari ini beda dari biasanya,bangun pagi biasa bertiga sekarang tanpa opung yang ngacir duluan tak tahu rimbanya,dalam perjalanan dari Udon Thani diselingi dengan urusan kehilangan opung,kehilangan kontek dengan opung kami beri tahu pada Pak Didit Janu petugas di kbri Bangkok/Thailand dan beliau minta bantuan kbri vientiene/Laos untuk lacak opung seandainya sudah masuk ke laos dan beliau juga menyarankan kami untuk melapor ke polisi disitu.
Aku berusaha mencari polisi tapi tidak kunjung ketemu,memang selama perjalanan di Thailand jarang sekali aku melihat polisi,mungkin inilah salah satu indikator bahwa negara ini aman dari kriminal dan pelanggaran hukum,tapi di beberapa persimpangan aku perhatikan ada CCTV pengawas. 
Disuatu kota kecil yang kami lewati aku ditunjukan oleh seseorang letak kantor polisi terdekat lalu kami mendatangi sebuah kantor polisi yang katanya berwarna coklat tapi kami kurang yakin karena papan nama kantornya yang beraksara Thai,untuk meyakinkan lalu aku dan joker masuk sambil mengucapkan good morning tapi semua didalam orang sipil kantoran sambil memandang kami terbengong bengong,
artis yang diajak berfoto foto

tapi melihat tampilan kami yang aneh dan berbahasa asing mereka jadi tertarik maka jadilah kami artis yang diajak berfoto foto saat itu,kembali kami bertanya kantor polisi terdekat dan tapi sayang mereka mengatakan jauh beberapa kilometer lagi didepan.






Akhirnya diperempatan aku melihat beberapa petugas polisi,tanpa buang waktu kami bertanya apakah melihat seseorang dengan ciri ciri bersepeda mirip kami dari Indonesia memakai bendera dibelakang,kembali kami terkendala dengan bahasa,mereka tidak mengerti apa yang kami tanyakan,polisi mencari seseorang warga yang bisa berbahasa inggris sayang tidak seorangpun yang ada saat itu,dalam situasi sulit itu aku sempat geli sendiri karena jengkel aku mencoba dengan bahasa isarat dan bahasa minang,aku tunjuk bajuku sambil katakan"lai nampak dek waang urang babaju sarupo iko lalu kasiko? (apakah kamu melihat orang berbaju seperti ini lewat kesini?" lalu si Thailand tersebut nyengir nyengir sambil acungkan jempol "good..good" dipikirnya saya menunjuk baju sendiri minta pujian dari dia.....
aduuuh...."capeee deh" aku bilang ke dia sambil senyum dan dia pun ketawa sambil acungkan HP minta foto bersama....kami pergi ke gelian dan tanpa hasil.
Sekitar jam 17 sore masih  belum temukan opung,beberapa pertanyaan datang dari posting FB diantaranya dari Cak Didit di KBRI Bangkok mengkonfirmasika kalau berita dari kami sampai malam nanti masih belum ada kabar positif keberadaan opung yosef maka dia akan melapor secara resmi ke Pak Dubes Thailand,hal inilah yang membuat aku khawatir terjadi heboh di media karena apabila berita kehilangan ini sudah sampai ke Dubes Indonesia tentu melibatkan komunikasi pemerintah Thailand dan Laos yang pasti akan diberitakan di media Indonesia juga.
Bermacam dugaan jelek yang aku perkirakan terhadap opung kemungkinan terjadi kecelakaan jalan raya atau dia nyasar ke jalan yang salah dan alat komunikasi dirampas atau hilang tapi aku terus berdoa dan berharap segera ketemu opung dengan selamat,semua pertanyaan dari komunikasi elektronik sengaja tidak ku jawab karena khawatir respon yang kurang baik seandainya belum ada hasil pencariannya. 
Hari mulai gelap kami mendayaung sambil mencari tempat nginap tidak ada pemukiman atau tanda tanda ada gas stasion di depan kami,kiri kanan jalan hanya hutan dan belukar. 
Disuatu pertigaan kami melihat tanda dalam tulisan latin bertuliskan masjid Darul Mutaqien yang terletak didaerah Nongkhai atau10km sebelum memasuki kota Nongkhai. 
masjid Darul Mutaqien

Saya rasa tidak percaya karena selama perjalanan dari Bangkok belum pernah ketemu orang muslim apalagi masjid. Keterasingan Masjid ini membuat aku makin tertarik,aku dan joker mengayuh ikut petunjuk arah mesjid,jalannya masih tanah merah dan kering berkerikil,kiri kanan ditumbuhi hutan tanpa ada tanda tanda pemukiman penduduk disitu,bunyi binatang malam bercampur dengan bunyi ban sepeda kami dijalan tanah yang kering tersebut,aku sedikit khawatir kalau nyasar karena hari sudah mulai gelap,setelah kira kira 400meter bersepeda menembus kerimbunan hutan kami melihat kubah mesjid sedikit muncul dari sela sela pohon.
Sunyi sekali suasananya hanya bunyi  binatang malam tidak ada satu orangpun yang terlihat disitu,kami masuk pekarangan masjid sudah mendekati magrib,beberapa meter disebelah masjid ada kira kira empat rumah penduduk tapi juga kelihatan sunyi tidak ada orang disitu,kami berharap ada seseorang yang bisa bertanya dan mengetahui keberadaan kami disitu supaya nanti tidak terjadi salah sangka terhadap kami. Aku mencoba melongok kedalam masjid dan sekitarnya terasa pintu masih terkunci,sudah jadi standard kami sebelum memutuskan menginap di masjid terlebih dahulu kami cek keberadaan fasilitas mandi dan toiletnya,tanpa menunggu aku langsung mandi supaya segar untuk sholat magrib nanti.
Kami duduk duduk menunggu di teras masjid udara terasa makin dingin,aku mendengar ada bunyi mobil lewat didepan masjid sepetinya menuju sebuah desa dekat disitu kemudian sunyi lagi,terasa sunyi dan terasing sekali perasaanku saat itu.
Hari sudah agak gelap kira kira jam 19.15 datang pak Muhammad beri salam pada kami,kami bicara bahasa tubuh dan tangan minta izin tidur di masjid "sambil menarok telapak tangan di pipi mata dipejam" beliau bilang "oke..oke Alhamdulillah" ada enam orang yang jamaah termasuk kami yang sholat magrib saat itu,kami berkenalan dengan saudara saudara muslim yang tinggal disekitar masjid tersebut.
Imam Abd Kadir

Selesai sholat isa,jamaah sudah kembali pulang kerumah mereka,tinggal kami berdua sambil mikir mau nyari makan kemana karena daerah tersebut betul betul desa yang tidak ada warung apalagi pasar.
Selagi mikir mikir untuk keluarkan kurma emergency khusus malam itu,tiba tiba datang ibu separoh baya memanggil kami dengan mengatakan "kin..kin" sambil mengangkat tangan kemulut kemudian menunjuk ke depan rumahnya,aku melihat kearah yang ditunjukan,benar saja disitu terlihat beberapa orang sedang memasak ditungku kemudian beberapa orang lesehan di tikar yang dibentang diudara terbuka ..aku teriak pada joker sambil bercanda kesenangan...Joker ada yang manggil,kayaknya rejeki datang nih...wkwkk.
Kami bergegas ikuti ibu tersebut sampai di halaman rumah disamping masjid,disitu sudah berkumpul para tetangga beberapa bapak bapak dan  ibu ibu serta anak anak remajanya sedang membakar daging atau barbeque ,Masya Allah..Allah maha mengetahui apa yang aku butuhkan saat itu.....aku sedikit kikuk menghadapi mereka yang sudah ramai berkumpul,mereka memandang kami dengan ramah sambil bersahut sahutan sepertinya bercanda dalam bahasa mereka yang tidak aku mengerti artinya,tapi dari bahasa tubuh dan sorot matanya aku yakin mereka sangat senang dengan kunjungan kami,dengan bahasa seadanya mereka bertanya "Indonesia..?" "muslim..?"

Aku ucapkan assalamualaikum pada mereka lalu mendatangi dan menyalami mereka satu persatu.Kami berkenalan dengan pak Adit seorang muslim thai dan kawin dengan istri vietnam seorang Budhis,mereka punya dua putra dan dua putri Fatimah dan Aminah yang Muslimah yang mirip orang timur tengah. Dari cara orang melayaninya sepertinya Pak Adit orang yang terpandang dikomunitas tersebut.
Fatimah dan Aminah


pak Adit seorang muslim thai

Suasana malam itu unik sekali,diudara terbuka dan dingin kami duduk dekat perapian ditengah tengah orang orang yang sama sekali baru kami kenal dan susah sekali untuk berkomunikasi tapi perasaanku saat itu sangat akrap sekali dengan mereka dan akupun merasakan keakrapan itu dari mereka.
Aku tanya pak Adit yang bisa sedikit bhs Inggris,ini acara apa? Dia bilang "ini acara untuk kamu sebagai tamu kami" Alhamdulillah... rasanya sudah terasa berat perut ini dengan daging bakar sebanyak itu,api unggun tungku memasak menghangatkan tubuh dari udara dingin malam,suara mereka riuh rendah berciloteh dalam bahas Thai yang tidak kami pahami,kadang kadang mereka bertanya dengan bahasa inggris yang terbatas dan kami menjawab dengan kira kira saja,aku kalau bertanya menggunakan google translete yang kubuat pertanyaan dari bahasa indonesia lalu keluar bahasa thailandnya,tapi hal ini kadang kadang sulit juga mereka mengerti.Setiap kami mengucapkan bahasa Thailan yang diajarkan mereka,selalu jadi kelucuan dimata mereka,Joker rajin sekali menghafal setiap kata kata dan dari seorang ibu ibu dia mengajari nya dengan bunyi dan cara yang lucu berulang ulang sehingga kami terbahak bahak mendengarnya.

suasana akrab ini menghilangkan ke penatan kami dan menambah keakrapan diantara kami,aku merasa dekat sekali dengan mereka saat itu.
Dinginnya malam mulai sudah menusuk ke pori pori,aku lihat Jam 22 malam mataku sudah tidak tahan lagi ngantuknya,sebelum kami  kembali tidur kemesjid dia pesan besok habis sholat isa jangan lupa kesini lagi...dan dengan menyesal ku jawab"Sorry brother,I have to leave thailand tommorow"..terimakasih pak Adit..sampai jumpa lagi,semoga Allah membalas segala kebaikan ini... see you in paradise,semoga Allah mempertemukan kita di sorganya,begitulah kata kata terakhir yang kami ucapkan.
Sehabis magrib telpon masuk dari pak Alex yang katanya dari kbri Vientiene mengabarkan opung sudah selamat sampai di kbri vientiene..Alhamdulillah...hati ini jadi tenang dan hal ini segera ku beritakan pada kawan kawan melalui FB,terasa beban pikiran selama dua hari ini sudah terlepas,malamnya aku bisa tidur dengan pulas.
Paginya sehabis subuh pak imam Abdul Kadir membawakan sarapan pagi berupa roti canai dan kopi susu,kembali kami duduk bersama diteras sambil ngobrol diantara kami sebisanya. Kebiasaan jemaah ngopi bareng sehabis subuh ternyata sudah menjadi tradisi di masjid ini,dari informasi yang aku dapat mereka umumnya dari daerah Patani dan ada juga yang mengatakan moyang mereka dari tanah jawa,aku merasa beruntung sekali bisa bertemu mereka yang minoritas di perbatasan Thailand dan Laos yan umumnya beragama Budha ini.

jamaah masjid Nongkhai

Jam 7 pagi setelah pamitan dengan para jamaah kami langsung gowes kearah Nongkhai
Provinsi ini terletak di lembah Mae Nam Kong (Sungai Mekong), yang juga menjadi perbatasan dengan Laos. Terdapat dataran tinggi di selatan. Ibu kota Laos, Vientiane, hanya terpisah 25 kilometer dari ibu kota Provinsi Nong Khai.
Sebelum memasuki kota Nongkhai kita dihadapkan persimpangan dengan jalur kiri langsung ke friendship bridge ke Laos dan jalan lurus masuk kota NongKhai.

Gerbang kota Nongkai


ke keri Vientien Laos

Aku dan joker ambil jalur kekota dan kami lihat kotanya besar dan bersih,saya kagum dengan Thailan kota perbatasan sejauh itu semua sarananya lengkap dan jalannya pun mulus seperti di ibu kota Bangkok bagaimana dengan negriku yang di perbatasan...?sedih rasanya kalau membandingkan itu.
Beragam perasaan saat itu,berdebar Gembira melihat gerbang immigration Thailan,aku menyodorkan paspor dalam beberapa menit dicap tanda keluar Thailan,lalu kami lanjutkan bersepeda didaerah netral menuju gerbang immegration Laos melalui friendship bridge yang di tengahnya ada rel kereta api,jembatan ini dibangun oleh laos,Thailand dan Australi pada 1974 yang melintasi sungai mekong dan menghubungkan dua negara Thailan dan Laos,

Sungai mekong adalah garis batas kedua negara,dipertengahan jembatan ada titik pemisah kedua negara dibagian selatan wilayah Thailand jembatannya dihiasi dengan bendera thailand kemudian dibagian selatan wilayah Laos dihiasi denga bendera Laos dan diantara kedua bendera ada piagam persahabatan kedua negara tersebut.
friendship bridge 

Hatiku berbunga bunga karena sebentar lagi bisa mempunyai pengalaman baru di negri baru.
Sepeda aku parkir di luar lalu kami mengisi personal form dan menyodorkan pasport lagi ke petugas imigrasi,kami ikut antrian dengan beberpa orang turis dan orang lokal pelintas batas,aku ditatap ramah oleh petugas,dalam hati aku berkata rupanya petugas di negri komunis cukup ramah tidak seperti yang di gambarkan di film film barat yang menggambarkan wajah wajah dingin orang komunis yang sulit tersenyum. "Plog"...aku dengar stempel petugas imigrasi laos,aku lega berarti pintu negara komunis Laos sudah terbuka untukku,kemudian sepeda kami dorong masuk gerbang custom,tiba tiba aku dipanggil seorang petugas berseragam,aduh ada apa ini....? aku berhenti dan dengan sedikit berdebar debar aku mendatangi petugas tersebut,lalu dia mengatakan "ticket ticket..." aku bengong mendengarnya lalu dia menunjuk nunjuk ke loket diseberang jalan,lho...koq ada beli tiket segala dalam hati,akhirnya aku dan joker membeli dua tiket masuk,sampai sekarang bingung ticket apa sebetulnya itu harganya sih murah 10ribu Kip atau kira kira sama dengan US$1.


Sabadee...!! Aku dengar teriakan warga yang melihat kami dipinggir jalan,Kami melambai dan terus mengayuh...
Teriakan joker mengagetkanku "awas mobil..Pindah jalur kanan..!!" Aku baru sadar setting diotakku arus lalu lintas masih dikiri dan sekarang di laos harus dirobah ke jalur kanan.

Udara panas sudah biasa kami alami tapi berdebu baru kami alami lagi saat masuk Laos ini. Perasaanku rasanya seperti di daerah daerah Indonesia jalan berdebu dan panas kadang kadang kendaraan juga suka menyerobot,bedanya di Laos tidak macet dan lalu lintasnya lancar mungkin karena kendaraannya yang sedikit serta jalannya yang lebar.Tulisan di Laos memakai tulisan laos kemudian ditambah tulisan latin dengan bahasa Perancis,secara emosional rakyat laos dekat dengan Perancis mungkin dulu pernah jadi daerah koloni perancis.
Disuatu pertigaan selepas Imigration,kami celingak celinguk dengan joker mencari petunjuk arah ke pusat kota,apakah belok kiri atau ke kanan tidak ada kepastian,google map yang biasa kami gunakan tidak bisa berfungsi karena kami belum punya sim card Laos,kami bertanya arah pusat kota pada sopir kendaraan yang sedang berhenti,mereka menunjukan kearah kiri lalu kami ikuti,tapi setelah beberapa lama koq semakin sepi lalu aku coba menanyakan lagi akhirnya dari sumber yang lebih bisa dipercaya diberi tahu bahwa kearah kiri itu juga bisa ke pusat kota tapi lebih jauh dan sebaiknya kearah kanan saja lebih dekat,akhirnya kami berbelok keara berlawanan walaupun sudah agak jauh. Udara panas dan penuh debu membuat kami tergoda untuk berhenti disebuah warung pinggir jalan. aku pesan minuman dingin,lalu seseorang menanyakan asal kami dan orang lokal tersebut ternyata seorang penggemar sepeda juga dari dia kami diberi tahu arah menuju ke KBRI.
Dari kejauhan aku melihat Victory monument yang mirip Monumen Triump de Arc nya di Paris,kendaraan mulai ramai aku sedikit ragi setiap akan berbelok arah karena pemakaian jalur kanan ini kemudian lanjut beberapa meter lagi keutara sampai Indonesia Ambassy jl. Ave Kaysone phovihane.Petugas security langsung membukakan kami pintu dan menunjukan mess,rupanya disitu sudah parkir sepedanya opung yosef. Tiba tiba opung keluar dari pintu mess dan menyidori kami minuman dingin sambil teriak "sorry bro aku duluan masuk laos karena hp aku bermasaalah dan  ngga bisa hubungi kalian.
Alhamdulillah..ngga apa ,yang penting opung sehat,lalu kami ngobrol pengalaman masing masing setelah terpisah selama dua hari.


KBRI vientiane

KBRI vientiane menyediakan kami penginapan gratis yang menurut ukuran kami sangat mewah,full AC dan 3 spring bad yang sangat nyaman.Pak Arief seorang staff di KBRI Vientiene melayani kami segala sesuatunya untuk kebutuhan kami,dia bercerita banyak bahwa setiap ada pesepeda dari Indonesia pasti dia yang melayani.
Malamnya kami di bawa pak Supardi dari atase militer ke rumahnya untuk berkaraoke,beliau berasal dari jawa kerinci dan sudah bertugas 30tahun di Laos sekarang memiliki istri orang Laos dengan 4 anak yang sudah remaja,kemudian ada lagi pak Dedi yang berasal dari Banyumas beristrikan perempuan Laos dan sudah menetap di Vientiene selam 28 tahun,banyak lagi pegawai di KBRI vientene ini yang beristrikan warga Laos.

Pak Supriadi walaupun sudah tidak pernah pulang ke Indonesia tapi logat jawanya tetap ada dan dari koleksi lagu lagu karaokenya semua nyanyi daerah dan indonesia yang kita minta dia punya dan beliaupun membawakan nyanyi nyanyi daerah tersebut dengan fasih,saya jadi terkagum kagum melihat caranya mencintai budaya Indonesia itu.
dijamu pak Supardi 

Kami memutuskan untuk istirahat 3hari di vientiane untuk pemulihan tenaga dan bersih bersih pakaian.

Kharleez teman Malaysia kami yang berjanji ketemu kami di Vientiene akhirnya bergabung lagi setelah berpisah di Bangkok dulu sewaktu dia mengadakan solo turing ke Chiang May sedangkan kami melalui Udon thani.
Kota vientiane adalah kota yang ramah orangnya,dan lalu lintas tidak macet tapi agak semrawut karena kurangnya tanda tanda lalu lintas,kami sempat menyusuri tepian sungai Mekong yang terkenal dan disitu banyak kita temui para turis eropah dan banyak homestay murah didaerah itu dengan harga berkisar 45.000kip sekamar atau kira kira 60.000rupiah. Malam sepanjang sungai Mekong yang membatasi Laos dengan Thailand ini dipenuhi cafe yang menghadap Thailand diseberang sungai mekong ,nyaman sekali suasana disini.

sungai mekong,

Kami juga mengunjungi victory monument yang terkenal itu dan thatlaung park serta objek wisata lainnya dengan bersepeda,dilokasi ini kita akan bertemu dengan turis turis manca negara,mungkin ini bisa jadi ukuran bahwa Laos yang komunis tersebut sudah sangat terbuka bagi kunjungan turis asing.

victory monument

Kami menemukan banyak expatriet yang mengayuh sepeda dikota ini dan ternyata disamping mereka memiliki sepeda sendiri dikota ini juga banyak rental sepeda dengan harga 49.000kip per hari.
Pagi hari kedua ini kami diundang jamuan sarapan pagi oleh dubes RI di vientien bpk/ibu Irmawan emir di kediamannya yang bersebelahan dengan kantor KBRI Vien tiene Laos.

bpk/ibu Irmawan emir

Pak Irmawan dan Ibu menyatakan kegembiraannya mendengar kedatangan kami yang sudah berumur lanjut datang bersepeda ke Laos,beliau menyatakan sebetulnya moment ini tepat sekali untuk publikasi Asean global 2015 dan kami juga menyampaikan salam atas nama walikota atau pemda Pekanbaru yang sudah melepaskan waktu keberangkatan dulu,selanjutnya ibu dubes juga meminta Riau atau pekanbaru untuk datang ke Laos memperkenalkan kesenian melayunya.
Hari ketiga kami di vientiane yaitu tanggal 28 november seharusnya kami sudah menuju Luang Prabang tapi karena permasaalahan kekurangan masing masing sepeda kami dan harus di service guna menghadapi medan yang berat nanti maka kami memutuskan untuk menservice sepeda hari itu dan mengundur keberangkatan sampai besok sabtu.

Sewaktu cek velg roda belakang yang baling or not true, jadi perlu perbaikan sebelum masuk medan berat.
Dari informasi yang didapat Kharleez kami bertiga menuju bengkel mr.Kamdai di sebuah bike shop di jalan Rue Thaduea membantu tune up sepeda kami.
Bike shop ini sudah jadi langganan setiap peturing manca negara,Kami banyak menerima informasi yang sangat berguna untuk menghadapi medan yang berat ke Luang prabang,Mr Kamdai yang juga seorang peturing ini memberi nasihat dan semangat pada kami. tak lupa dia memberikan nomor teleponnya untuk dihubungi apabila ada kesulitan di jalan,kelak ternyata sangat berguna waktu kami Joker mengalami kesulitan didaerah terpencil sebelum Vang vieng roda sepeda nya yang baling lagi (bersambung)



mr.Kamdai

bike shop di jalan Rue Thaduea

Note:Foto lihat di fb


20.TOUR de ASIA_Phon ke Khon kaen


Waktu sampai di gas station di kota phon kami survey tempat untuk pasang tenda dan jatuh pilihan di sudut belakang taman cafe Amazon. Sewaktu joker mau pasang tenda petugas area datang tergopoh gopoh dengan bahasa goyangan tangan bahwa di area tersebut tidak boleh Camping,lalu dia menunjukan kami kesuatu tempat disamping mini market dekat compressor Ac sambil mengacungkan jempolnya,aku bilang "okay,kun kap (terimakasih)" diarea ini dekat dengan jalan raya dan sedikit heboh suara kendaraan di jalan raya,tapi itu tidak terlalu masaalah bagi kami,dalam hitungan menit tenda kami sudah berdiri,malamnya mencari makanan halal,terlihat sosis dari perut babi bergelantungan di lapak lapak sepanjang jalan,ada juga daging kucing yang dipotong potong sebesar telapak tangan dan masih segar terlihat jelas bulu kucing yang malang tersebut. 
segala macam serangga bisa jadi makanan gurih

telor rebus yang ada anak ayamnya
makanan usus babi dan kucing



Tuan penolongku yang baik hati



Selera makanku langsung anjlok ke titik nol..tapi aku dan opung terus berusaha mencari makanan halal sambil bertanya sebisanya ke tukang warung memakai google translete dengan kata kata "aku tidak makan babi" atau memperlihatkan gambar babi yang tidak boleh kami makan,akhirnya satu warung menawarkanku membuatkan telor rebus dan lalap.
Tidurku ditenda malam tadi terasa seperti diatas kapal pompong,bunyi dan getaran kompresor ac dekat sekali ke kepalaku,tapi karena capek akhirnya ketiduran juga hingga terbangun 5.30pagi. 


Joker masih mengeluh karena diare lalu obat norit yang kupersiapkan dari rumah diberikan pada joker.
Udara cerah dan panas tidak menghalangi lajunya kayuhan kami hingga rata rata 22km/jam apa lagi di jalan yang mulus dan bebas hambatan dengan pemandangan sawah kiri kanan jalan.
Jam 13 kami berhenti di gas station Esso setelah menempuh 70km yaitu di daerah Mueang khonkaen. Kami putuskan untuk istirahat disini karena cuaca yang terlalu panas. 


Di Thailand setiap gas station selalu di dudukung dengan fasilitas mini market,food court,toilet yang bersih serta lapak dan cafe Amazon yang dikelola dengan baik seakan akan kalau sudah masuk ke area ini segala kebutuhan harian kita bisa didapat. Ini adalah hari ke sepuluh kami di thailan dan kami masih punya tenggang waktu 4 hari lagi untuk tinggal,dalam sepuluh hari ini kami merasakan keramahan orang orangnya dan segala kekhawatiranku sebelum memasuki negri gajah putih ini jadi hilang sama sekali walaupun kami tidak menguasai bahasa thai,tapi dengan bahasa tubuh yang universal semuanya bisa diatasi. Sesuai dengan motto perjalanan kami yang serba ekonomis aku tidak khawatir tempat nginap gratis selagi ada gas station. 
Di gas station kami selalu jadi perhatian orang mungkin karena sepeda kami yang sarat muatan dan juga mungkin karena penampilan kami yang sudah gosong dan kucel,mereka awalnya bertanya dengan sopan dalam bahasa thai mungkin karena bentuk kita yang sama seperti orang Thai,tapi sewaktu kami beritahu "sorry I am Indonesia" mereka yang bisa bahasa inggris meneruskan pertanyaan berikut yang sangat menarik perhatian mereka,interaksi semacam ini adalah bahagian yang sangat aku sukai untuk mengisi waktu dan menambah informasi.

Tadi pagi kayuhan 10km masih di perbatasan kota Khon kaen mau menuju Odan Tani ban belakangku bocor,Yosef Sitor dan Tri Joko Waskito sudah jauh mendahuluiku,agak grogi juga aku sendiri.
Aku dorong sepeda ke gas station Intanhi,sewaktu bongkar dan tambal ban ada 3 orang thai mr.Pang dan kawannya yang memperhatikan aku lalu dg komunikasi seadanya dia berusaha membantuku membuka dan menambal benen yang bocor,sewaktu memompa tiba tiba pompanya tidak berfungsi,Mr Pang mengeluarkan hp dan menelpon seseorang sepertinya minta diantar pompa dia berusaha menenangkanku bahwa ada temannya yang akan datang membantu. 

dibantu orang tak ku kenal

Aku mengirim wachup pada joker dan yosef,lalu joker menanggapi dan segera kembali ke lokasi aku berada. Aku berusaha perbaiki pompa lagi Alhamdulillah berhasil dan rupanya tadi Mr Pang tidak sabar meluncur dengan mobilnya kerumah mengambil pompa,tidak berapa lama joker juga muncul,kemudian pompa yg dibawa Pang berhasil memompa dengan normal. Pang dan kawannya melanjutkan perjalanan ke udong tani pakai mobil dan aku melanjutkan perjalanan dengan sepeda bersama joker....Kop khun mr pang. Aku dan Joker mampir sebentar di sebuah mall untuk membeli benen cadangan lalu melanjutkan perjalanan 
beriringan,tiap sebentar melirik ke warung kalau ada opung menunggu kami,tapi sampai sore masih belum kelihatan si opung,aku yakin opung pasti didepan kami,karena sesuai komitmen kami siapapun yang didepan kalau istirahat harus memarkir sepedanya dipinggir jalan supaya jelas kelihatan dan diketahui oleh teman yang dibelakang sewaktu menyusul.
Odan  Thani

Tapi sudah sampai jam 19.00 malam kami masih belum ketemu opung,berjalan dalam kegelapan malam sangat beresiko kecelakaan.
Kami terus mengayuh dalam gelap sambil berharap ketemu gas station untuk numpang tidur dan berharap juga ada opung yang sedang menunggu disitu.

Malam di gas station

Jam 19.40 malam kami baru bertemu gas station untuk numpang tidur malam dan akhirnya kami menyerah sudah tidak kuat melanjutkan dan kami numpang istirahat dan camping di gas LPG station setelah 85km kayuhan  didaerah  Thanon 50km sebelum Udong tani,mudah mudahan besok ketemu opung lagi dalam keadaan sehat.

19.TOUR de ASIA_Danau Lam Takhon ke Nonsung

Tidur camping di pinggir danau sudah kami rencanakan sejak perencanaan perjalan dulu,akhirnya kesampaian juga,sebetulnya danaunya tidak jauh beda dengan danau danau di Indonesia tapi lantaran danau di lam takong ini berada di tengah benua Asia jadi bagiku ini agak beda sensasinya.
Tiupan udara dingin dari luar mengguncang tendaku dan desiran cemara serta jangkrik malam berbaur membuat pikiranku melayang makin jauh,aku pakai 3 lapis pakaian ditambah kaus kaki,kupluk  membuat badanku hangat lagi,akhirnya aku ketiduran sampai kicauan burung pagi membangunkanku lagi .
Kami begitu bersemangat pagi ini,udara dingin dan panorama pinggir danau membuat kami sudah tidak tahan untuk menyusurinya.
Opung sitor melejit duluan setelah makan seporsi ayam goreng,aku menyusul dibelakang,jalan mulus dan menurun tajam lalu meliuk kekiri searah pinggir danau,sepedaku melayang bagaikan burung camar mendahului opung didepan dengan kecepatan 47km/jam,aku berteriak "kutunggu opung di Laos" opung juga berteriak "yoooup"
Aku perhatikan melalui kaca spion tapi joker sudah tidak kelihatan di belakang.


Menjelang Klong kai jalan mulai mendatar aku didahului opung yosef dan Joker masih belum kelihatan sampai akhirnya kita berkumpul lagi diperbatasan kota Nakhon Ratchasima dan jalan beriringan kembali sambil melirik warung yang nyaman untuk makan dikota yang belum kami kenal ini,akhirnya ketemu warung yang tidak begitu besar di pertigaan masuk kota tapi cukup nyaman untuk istirahat makan dan numpang mencharge smart phone kami yang sudah lowbat.

Setiap kami memesan makanan di Thailand ini perlu keterampilan khusus menerangkan pesanan karena jangan sampai salah order karena kami berkomunikasi dalam bahasa tarzan,aku selalu tunjukan gambar babi dengan HP sambil mengatakan "chan mai kin mu" yang artinya saya tidak makan babi,dengan cara ini aku sedikit terbantu untuk mencari makan halal seperti goreng ayam atau telur dan ikan,biasanya mereka mengerti dan sambil berkotek kotek seperti bunyi ayam menunjuk satu makanan dan aku yakin kan lagi dengan bertanya "is it chicken?" kemudian mereka menganguk angguk menunjukan jempol"yes Chicken" kemudian opung yosef  mencari cari kalau ada goreng telur tapi tidak ketemu lalu dia bertanya ke pelayan restoran dengan cara berkokok lalu menunggingkan pantat kebelakang meniru ayam dan pura pura menangkap sesuatu dipantat lalu menunjukan ke pelayan,pelayannya ketawa lalu berlari ke dapur mengambil telor ayam dan menunjukan pada kami,caranya lebih lucu ini membuat kami semua terpingkal pingkal termasuk pengunjung yang ada disitu. Maka siang itu jadilah menu makanan kami dengan goreng ayam dan telor dadar ditambah lalap seperti gado gadonya kita.
Selesai makan siang kali ini pun pemilik warungnya ngga mau dibayar,mereka menolak uang yang kami berikan Alhamdulillah gratis lagi..semoga Allah membalas segala kebaikan mereka yang baru kami kenal itu.
orang baik di warung Nakhon Ratchasima

Kami lanjut menuju arah khon kaen jalan yang lurus terasa agak membosankan kiri kanan persawahan padi dan kadang kadang ada pabrik dan gudang
Setelah total kayuhan 97km,hari sudah hampir magrib kami berhenti disebuah station pengisian gas di daerah Nonsung.
Satu ruang kosong sepertinya bekas lapak yang ditinggal dan berdebu cukup tebal tapi dibeberpa sudut ada outlet untuk kami men charge Phone cell,setelah dapat izin dari petugas yang ada disitu lalu 
kami lantai yang tebal dengan debu tersebut kami sapu dengan sapu yang dipinjamkan oleh petugas gas station,tidak berapa lama tenda kami sudah berdiri disitu,aku perhatikan tenda opung yosef sekarang berobah mirip kelambu..!!! setelah aku tanya ternyata semua frame nya hilang jatuh di jalan katanya ,"aakh biar sajalah begini,enak juganya tidurku" kata opung.... 




ruang mewah tempat camping

mirip kelambu..!!!
habis mandi nyantai dulu


              Pagi bangun tidur Joker mengeluh kena diare,lemas katanya mungkin karena makan ayam panggang kemarin.
Pagi sewaktu Perjalanan akan dilanjutkan ternyata tertunda lagi karena sepeda opung sitor bocor dan kempes.
Segera kami gotong royong mengganti dengan ban dalam baru tapi sayang ban dalam yang dibawa opung ukurannya berbeda,sehingga ban lama ditambal dan di pakai lagi,kejadian lucu terjadi waktu itu opung didatangi orang thailan yang minta tolong untuk ganti ban juga,sayangnya tidak bisa membantu karena tidak ada alatnya,opung langsung komentar "dipikirnya aku sudah buka cabang pula di thailan ya.."wkwkwkkk.

tolong untuk ganti ban



Kami berencana mencoba kayuhan sampai 100km hari ini,jalan yang lurus mulus nyaris tidak ada bengkolan speed kami bisa sampai 22km/jam.
Udara panas dan cerah,angin tidak begitu besar seperti hari sebelumnya
Dibandingkan turing di Indonesia,singapore dan Malaysia yang sudah pernah kami jalani,Aku merasa turing di thailand sangat aman dari segi lalu lintasnya karena jalan satu arah dengan lebar 16meter hampir sepanjang jalan ada jalur roda duanya.
Sepanjang jalan dari Nonsung ditemui sawah rakyat dan sekali kali pabrik dan gudang.
Sekali waktu kami bertemu dua orang biksu yang berjalan kaki dj depan kami,lalu kami berhenti dan opung memberikan satu botol air mineral dan daro belakang aku berhenti me gambil fotonya.

air mineral untuk biksu

Tidak lama setelah itu kami distop oleh seorang bapak bapak disatu pertigaan jalan masuk desa dia menyodorkan 4 botol air mineral buat kami.
4 botol air mineral buat kami

Subhanallah...tuhan memang maha mengetahui kalau saat itu kami sedang kehabisan air. Jam 17 wib kami sampai di daerah Phon setelah kayuhan sejauh 98km dan menumpang 
berkemah di gas station samping mini market 7elevent.