Pages

Monday, July 15, 2013

PIAGAM PENGHARGAAN DARI MIEN UNO FOUNDATION

Alhamdulillah...Allah berkehendak kegiatan yang ku lakukan bisa didedikasikan pada orang lain,Sedikitpun tidak ada terbayang ataupun terniat untuk mendapatkan penghargaan setelah aku melakukan aktifitas sepeda turing Pekanbaru Bandung beberapa waktu yang lalu.
Niatku yang semata mata hanya ingin berolahraga sambil menikmati sisi lain dari kehidupan berkelana dengan sepeda,ternyata ini menjadi sesuatu yang berharga menurut sebagian orang orang pensiun HPC (Himpunan Pensiunan Caltex/Chevron).
Disaat aku sedang berkunjung melihat cucu di Brunai aku juga menyempatkan diri turing bersepeda 4 hari ke beberapa tempat di Brunai,diwaktu senggang aku sempatkan membaca email email dari teman HPC,tiba tiba dari sekian banyak email yang belum sempatku baca,aku melihat salah sat subjec dengan gagasan dari HPC Jakarta untuk memberikan penghargaan atas prestasi kami bisa menyelesaikan turing sepeda Pekanbaru Bandung sejauh 1450km.
Pak Razif Halik Uno memberi tahu ku langsung tentang penghargaan yang akan di berikan oleh Mien R Uno Foundation,aku pribadi merasa hal ini belum pantas aku terima,tapi beliau mengatakan prestasi in perlu di hargai karena katanya apa yang kami lakukan seusia kami bisa sebagai  inspirator untuk hidup sehat dengan berolah raga di hari tua bagi yang lain.
Dari Brunai aku menghubungi Joker di Pekanbaru memberitakan hal ini dan tangggapan joker pun sama namun untuk menghargai niat baik dari HPC khususnya Pak Henk Uno yang begitu antusias menominasikan kami,maka kami menerima niat baik tersebut dengan harapan mudah mudahan pengalaman turing bersepeda jarak jauh ini bisa menjadi inspirasi pensiunan lainnya untuk tetap hidup sehat dan menjalani masa tuanya dengan menimba pengalamam pengalaman baru agar hidup tetap bermakna.
Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan Aku dan Joker menerima penghargaan tersebut,kunjungan ku di Brunai diakhiri untuk lansung ke Jakarta.
Catatan dibawah adalah sebagian dari e Mail koresponden kawan kawan di HPC serta laporan singkat dari bapak Renville Almatsier yang semoga bisa menggambarkan suasana diwaktu penyerahan penghargaan tersebut.
Harapanku semoga sharing ini bermanfaat buat yang lain dan dihindarkanNya aku dari rasa sombong dan takabur..amiiin.


On Apr 22, 2013 7:23 PM, "Razif Halik Uno" <razifhalik@gmail.com> 
wrote:
Mungkin belum semua anggota HPC tahu bahwa selain anggota HPC Jakarta dan Sekitar, pak Humayun Bosha juga telah ditunjuk Chevron sebagai Ketua Dewan Komisaris P.T.CPI, jabatan yg pernah juga diemban oleh almarhum bpk J.Tahija.

From: Renville Almatsier <renvillealmatsier@yahoo.com>
Sender: hpc_jakarta@yahoogroups.com
Date: Mon, 22 Apr 2013 18:55:36 +0800 (SGT)
To: <hpc_jakarta@yahoogroups.com>
ReplyTo: hpc_jakarta@yahoogroups.com
Subject: [HPCJakarta] Laporan dari Gathering HPC - Dari Perusahaan yang Sehat....

DARI PERUSAHAAN YANG SEHAT LAHIR WARGA YANG SEHAT….

(silahkan nikmati juga foto-foto kiriman Bung Abidin dalam forum ini)

sebagian warga HPC ikut memberi penghormatan

Hari Minggu kemarin,  sebagian warga HPC ikut memberi penghormatan kepada dua rekan mereka, Bung Tri Joko Waskito dan Tasman Zen.  Dua orang pensiunan  Caltex ini berhasil menempuh ribuan kilometer dari Pekanbaru melintas di tengah Pulau Sumatera sampai ke Jakarta) dengan mengayuh sepeda.
Pantaslah kedua orang ini diberi salut. Untuk itu Yayasan Mien R. Uno Foundation  menyerahkan piagam penghargaan kepada mereka. Kita para HPCwan diundang hadir dalam acara sederhana namun penuh kekerabatan yang berlangsung di tengah suasana car free day di Golf Driving Range Senayan. Hadir pula pimpinan Chevron saat ini Bung A H Hamid Batubara dan pimpinan terdahulu Mas Humayunbosha.

Dalam sambutannya Mbak Mien Uno mengatakan bahwa penghargaan diberikan kepada mereka atas kegigihan dan semangat tinggi yang ditunjukkan dalam usia lanjut. Mbak Mien juga mengatakan hendaknya kedua tokoh ini ikut memotivasi kita semua, khususnya para anggota HPC untuk terus menjaga kesehatan, rajin berolahraga dan memperhatikan asupan makanan yang sehat.
Acara  diselenggarakan di saat sebagian warga HPC masih lamak talalok di rumah masing-masing, apalagi hari Minggu dan udara sejuk pula….. Namun begitu  di acara sepagi itu terkumpul cukup banyak warga HPC dan keluarga mereka.  Selain  Bung  Ucok dan  Mas Bosha,  ada Bung Yan Wagiran dan Mbak Tuti,   beserta cucu mereka, Mas Ruskamto dan Mbak Mien dengan busana rapi serasi, Bung Soejanto yang baru pulang dari Madagaskar bersama Mbak Nana, tokoh kuliner Bung Abidin, Mbak Uci dkk dengan kostum merah manyala, zus Vicky yang fresh seperti baru keluar dari salon…. Tak diduga ada pula Pak Darmo dan  ex penguasa Dumai  “overste” Djajus yang kini rada langsing, serta Bung Turidho,  explorationist yang belum lama diwisuda jadi pensiunan bersama istrinya dan Bung Momo Pratomo, salah seorang penggiat bersepeda pada masa di Rumbai... Last but not least, tentu saja pemeriah suasana MC kondang Datuk Irfan Ali yang sama handalnya dalam hal menyanyi  maupun mengaji….
hadir pula  Sandi dan Indra Uno
Bersama kita kemudian hadir pula  Sandi dan Indra Uno bersama teman-teman yang pulang ber-marathon (di antaranya ada A’a Westhana, putra Kang Tatang Hermawan), serta rekan-rekan Bung Joker sesama alumnus seangkatan di  ITB.
Pagi itu kita disambut oleh sahibul bait, Bung Henk yang lincah tanpa tongkat mengajak kita bergembira sambil menikmati bubur ayam, nasgor special dan lain-lain kudapan beserta aneka  penyejuk tenggorokan, termasuk kelapa muda kompilt dengan batoknya…. Musik dimainkan oleh band khusus pun mendendangkan lagu-lagu nostalgia. Diselingi pula dengan senam pagi dipimpin Bung Yan Wagiran. Hebatnya lagi, seluruh acara ini diliput oleh kamera video….
Musik tanpa goyang sama juga bo’ong,  kata orang bijak. Nah Bung Yan dan Mbak Tuti yang baru saja pulang umarah dari Tanah Suci dan Turki, tanpa sungkan memulai acara goyang ini. Lalu tampil pula Mbak Uci bersama  “Uci’s Dance Group”nya pun menyentak dengan poco-poco diikuti hadirin…. Sementara Bung Datuk tak henti mengumandangkan aneka  lagu dari  Amrik, Minang, Batak, Manado, Ambon  sampai Papua…
Ketika tamu utama, kedua penggowes itu tiba,  hadirin  pun memberi salam berebutan berfoto bersama. Setelah menerima penghargaan keduanya menjawab wawancara singkat tentang sukaduka menempuh perjalanan panjang itu.  Bung Joko  yang di lingkungan rekan-rekan pecinta Hash Run semasa di Rumbai dulu dipanggil Joker, memang dikenal penggemar olahraga yang gigih dan sering masuk-keluar hutan. Rekannya Tasman yang lebih muda, samo pulo hobinya. Dua-duanya walau rambut dah putih, semangatnya tampak tetap tabudua (silahkan  tanya apa artinya ini pada Bung FD) 


….Bersama mereka hadir pula istri-istri serta anak-anak mereka antara lain Aster, Jupiter dan Helen yang berkumpul bersama teman-teman eks Cendana, Otis dan Eros. Betul-betul silaturahmi keluarga besar yang akrab....
Bung Ucok dan Mas Bosha yang ikut mendampingi wawancara pegowes itu tak kuasa berkata-kata selain memberi  salut kepada kedua tokoh tadi. Tak pelak lagi,  CPI punya andil besar dalam membangun kesejahteraan bagi warganya. Mengutip sebaris kalimat dari editorial Buku KDDM yang berbunyi  “Perusahaan yang beranggotakan orang-orang yang bahagia akan selalu melahirkan sukses” (KDDM, hal 4), dengan contoh kedua tokoh pegowes,  kata-kata itu bisa dibalik menjadi“ Perusahaan yang sukses akan melahirkan  warga yang sejahtera dan sehat….”
Selamat dan salut kepada Joko dan Tasman…terimakasih kita kepada Bung Henk beserta jajarannya atas prakarsa dan semuanya..Lalu, ajakan buat kita semua: ayolah kita giatkan olahraga di antara warga HPC….
ra

--- Pada Sen, 22/4/13, alexbukitkk75@yahoo.com <alexbukitkk75@yahoo.com> menulis:
Dari: alexbukitkk75@yahoo.com <alexbukitkk75@yahoo.com>
Judul: Re: [HPCJakarta] Selamat Gathering HPC Jkt
Kepada: "HPC Jkt" <hpc_jakarta@yahoogroups.com>
Tanggal: Senin, 22 April, 2013, 6:55 AM

Happy sekali kelihatannya.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: abidinn noor <abidinn22@yahoo.com>
Sender: hpc_jakarta@yahoogroups.com
Date: Sat, 20 Apr 2013 22:51:42 -0700 (PDT)
To: hpc_jakarta@yahoogroups.com<hpc_jakarta@yahoogroups.com>; HPC_Bandung@yahoogroups.com<HPC_Bandung@yahoogroups.com>; HPC_Jogja@yahoogroups.com<HPC_Jogja@yahoogroups.com>
ReplyTo: hpc_jakarta@yahoogroups.com
Subject: Re: [HPCJakarta] Selamat Gathering HPC Jkt

Berikut ini beberapa pose yang sempat kerekam camera HP pada acara pul-ngumpul
di  Golf Driving Range Senayan Jakarta.
Acara pada hari ini dimeriahkan oleh vokalis sekaligus pembaca doa Pak Haji Datoek Irfan Ali.
Wassalam,
Abidin
Lari bersama Team Marathon Sandiaga Uno

Wednesday, July 10, 2013

Blusukan di Brunai Darusallam




Lebih kurang satu setengah jam penerbangan dari kualalumpur ke Brunai dari ketinggian aku melihat hutan diujung kalimantan itu seperti hutan riau di tahun 80an dulu masih rimbun tapi makin ke kota makin kelihatan "gundul"nya.
Di Brunai international airport aku mendapatkan kesan yang sangat bersahabat dari para petugas,para petugas imigrasi dan custom menyapa kami dengan ramah,kesan pertamaku negara ini sangat santun pada pendatang.
Sambil menyodorkan pasporku yang sudah di cap petugas imigrasi tersebut mengucapkan "silahkan dan selamat berlibur di Brunai",aku buru buru keluar untuk segera menemui anak cucu yang dari tadi melambai lambai kami dari balik dinding kaca.
Sesampai diluar istriku msngingatkan satu packetku tertinggal..ouup aku kaget spontan kembali kedalam  dan minta izin petugas custom untuk mengambil backpack yang tertingal.
Aku memasuki Bandar sri begawan pada saat hari sudah mulai gelap semaraknya lampu bandar dan kilauan kubah mesjid Hassanah Bolkiah menambah keindahan malam itu,kami menuju perumahan Armada Tungku eksekutif housing di daerah Kampong Tungku daerahnya lebih kurang 12km dari pusat Bandar,jalan free way yang dilalui tidak dipungut bayaran,lalu lintas tidak begitu banyak malah terasa agak sepi dibanding jalannya yang lebar 3jalur.
Sepeda yang dipersiapkan bayu sepertinya lebih bagus dari sepeda turingku yang di pekanbaru,sedikit tune up aku siap untuk blusukan di Brunai area,google map sudah dipersiapkan untuk penentuan tujuan supaya ngga mutar mutar tanpa arah di daerah yang masih asing bagiku....namun hal semacam itu menambah keinginanku untuk bertualang.

Pagi selesai sarapan aku pamitan pada anak yang masih khawatir dengan penguasaan orientasiku di Brunai ini. Jam 07.30 sepertinya jalanan di Brunai ini belum ramai aku masuk dijalan Rakyat Jati Rimba cuaca pagi masih segar tetapi matahari sudah mulai memanasi hutan dengan pohon pohon akasia dan dipinngir jalannya dilindungi dengan pohon mahoni yang rindang,hanya sekali sekali aku berpapasan dengan kendaraan yang ada juga beberapa pengemudi yang menyapa dengan lambaian tangannya. sewaktu memasuki jalan Tungku terasa sedikit berbeda dengan adanya sedikit tanjakan dan turunan kiri kanan jalan juga sudah ada rumah penduduknya,aku perhatikan nama nama tempat usaha disitu menarik perhatianku misalnya ada Kedai Jahit yang maksutnya penjahit/taylor,gedung beraneka jimat hebat yang satu ini membuat aku harus turun sepeda untuk memastikannya,ternyata disitu dijual bermacam alat alat rumah tangga sampai ke pecah belah, ada lagi kedai Dobi yang ternyata adalah Laundry.Berangkat dari nama nama yang mirip dengan bahasa minang itu,malamnya aku mencoba lihat di wikipedia tentang Brunai Darusalam,ternyata banyak sekali bahasa melayu Brunai yang mirip bahasa Minang seperti: Inda'=tidak,Inda' Usah=tidak perlu,Takanang=takana=
teringat,Basuh=cuci,Labuh=jalan,Pergi ke Gadong(brunai)=pai ka gaduang (minang)=pergi ke pasar. Tidak hanya di Negeri Sembilan perantau Minangkabau mendirikan kerajaan, pada akhir abad ke 14 seorang perantau Minang lainnya Raja Bagindo juga mendirikan Kesultanan Sulu di Filipina Selatan. Awang Alak Betatar pendiri Kesultanan Brunei disebutkan berasal dari Minangkabau juga, bahkan saat acara peresmian replika Istana Pagaruyung di tahun 80 an Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga ikut hadir dan sempat mengatakan bahwa leluhurnya berasal dari Pagaruyung Minangkabau....

Memasuki jalan Gadong


Memasuki jalan Gadong baru terasa suasana kota besar,beberapa pusat perbelanjaan dan Mall ditemui,jalan mulai ramai tapi aku tetap menggunakan jalan utama karena tidak ada pilihan jalan lain. Walaupun itu dijalan utama tapi pengendara mobil sangat santun dan selalu memberikan peluang untukku apabila berpapasan di bundaran atau akan pindah jalur,aku mengayuh sepeda dengan perasaan aman dan nyaman.Sewaktu stop di suatu lampu merah salah seorang pengemudi dari dalam mobil ferarynya menyapaku kelihatannya etnis Melayu

driver: "Hallo Sir,where are you from?"

saya:Halo juga saya dari Indonesia

driver:are you cycling from Indonesia?

saya: tidak,hanya bersepeda di Brunai saja

Driver: okay...take care haah..bye

lampu merah menutup pembicaraan dua bahasa...rupanya remaja di Brunei sudah tidak menggunakan bahasa ibu mereka lagi karena disekolah juga sudah memakai bahasa inggris,tapi dikantor kantor atau birokrat wajib berbahasa Melayu.

Aku mendayung terus dengan santai kearah sungai Kedayan dan melewati taman Jubli perak,jalannya datar datar saja, trafik lebih ramai dan laju laju di daerah ini,dari tadi aku amati tidak satu sepeda motorpun yang ada di jalan raya apalagi sepeda.

Aku istirahat sebentar di pinggir sungai Kianggeh disitu ada pasar tradisional dan dermaga untuk naik boat ke Kampung laut,segelas air kelapa yang ku pesan dengan harga 1bnd=RP7800 cukup menghilangkan dahaga waktu itu

sungai Kianggeh

Sekarang masuk kedaerah Bandar Seri begawan disini tempat perkantoran pemerintah dan kota tuanya dengan mesjid sultan omar ali saifuddien ini adalah mesjid pertama di bandar seri begawan.
mesjid pertama di bandar seri begawan

menjelang zuhur aku mengarahkan sepeda pulang,tapi aku kehilangan arah karena google map yang aku hidupkan tidak menunjukan direction line tadi lagi,map yang ku pakai sekarang adalah bertanya disetiap persimpangan,aku telusuri jalan utama Sultan Hasanal bolkiah supaya bertemu simpang menuju rumah kami di Jalan Rakyat jati Rimba,disatu bundaran aku melihat dikejauhan kubah mesjid Sultan Hasanal Bolkiah,sepeda aku arahkan ke mesjid dengan melewati jalan pintas menyebrang jalan jalan raya yang penuh kendaraan,alhamdulillah kendaraan semua memberi jalan untuk ku lewati.

Kesempatan untuk mengambil foto di mesjid yang spectakuler ini tidak kusia siakan,mimbar dan bagian dalam mesjid yang dilapis emas sempat juga aku foto walaupun belakangan ku ketahui bahwa hal tersebut dilarang,tapi aku sudah terlanjur berarti itu rejeki mungkin ya..??Beberapa turis asing dari Australia,jepang dan Korea ikut melihat ornamen mesjid yang bergaya persia tersebut kayaknya mesjid tersebut terbatas pada ruang ruang tertentu juga terbuka buat turis.
Kampong air


Puas berfoto foto dan beramah tamah dengan jemaah yang ada aku lanjutkan bersepeda mencari jalan pulang,panas jam 13 siang sungguh menyengat seperti lebih  panas dari Pekanbaru rasanya.disetiap bundaran apalagi di jalan bebas hambatan aku hati hati sekali menentukan arah karena pernah satu kali aku terlanjur belok seharusnya lurus saja,akibatnya harus mutar jauh untuk kembali ke jalur yang betul.

Jalan raya tungku mengingatkanku ke jalur pulang yang pernah di tempuh tadi,arah yang sudah jelas ini menguntungkanku untuk menggenjot sepeda lebih kencang karena aku tidak mau berlama lama di udara panas dan perut yang mulai lapar .Jam 14.30 aku sampai dirumah dengan terengah engah,2 botol pocari dingin yang dihadiahkan MR kutenggak sampai titik akhir,kuselonjorkan kaki sambil bermimpi lagi untuk rute besok yang lebih menarik....

Aku bilang sama anak,
saya mau kelilingi negeri dong lagi,kemarin belum lengkap dong nya...
Anak: lha dimana tuh..?
Saya: ke Gadong,Tutong,Jurong,jerudong,Pelumpong dan Sengkurong dooong..dan kalau sempat mau cari kedondong..heheee
Nama nama daerah di Negeri Brunai memang banyak memakai akhiran Dong,umumnya nama nama tempat setingkat kabupaten di indonesia memakai akhiran dong.

Daerah Brunai seluas 5765km2 sangat kecil,hanya 1/7  jawa barat,tapi penduduknya sepertinya sangat seimbang dengan daerahnya,malah terasa sepi seperti daerah kecil Mobil alabama atau New orleans di tahun 76an serba teratur tidak ada macet,tidak ada bunyi klakson mobil yang pernah kudengar,tidak ada disrobot angkot jalannya nyaris tak berdebu apalagi lobang yang bisa ditanami pohon pisang,tanda penunjuk jalan sangat informatif dan tidak khawatir akan hilang arah,hanya saja aku harus hati hati bersepeda jangan salah jalur bisa jauh mutarnya.
Tanjakan yang tinggi jarang sekali ditemui jadi untuk bersepeda tantangannya hanya panas yang ruaar biasa 34deg C,kulit tanganku sempat melepuh karena kelupaan pakai sarung tangan,pantas kuperhatikan biker di Brunai ini banyak yang gowes di sore atau malam hari mereka berkelompok menelusuri jalan jalan kota.
Suatu kali aku bersepeda dari rumah di daerah Tungku ke daerah Muara melewati Lebuh raya Tutong-Muara dengan jarak 32km,udara  pagi jam 09.00 sudah terasa menyengat,aku mengayuh santai di jalur paling kiri sambil mengamati hutan yang masih asri,kendaraan melewatiku hanya satu satu sepertinya aku sendiri mahluk disitu saking sepinya,Dikejauhan aku lihat ada tanda Taman rekreasi Hutan Berakas,naluriku untuk masuk hutan muncul..hehe kayak orang hutan aja..Sepeda kuarahkan ke hutan tersebut pos jaga yang ada disitu terlihat kosong,dan ada satu shelter lagi namanya Tongkat Ali (kayak nama obat kuat..?),tapi masih juga ngga ada orang mikir beli tiketnya dimana..? aku masuk terus pengen tahu juga kayak apa hutan rekreasi tersebut dan beberapa meter didalam hutan ada pos lagi disitu ada petugas menunggu,lalu aku tanya "beli tiket dimana pak?" sambil senyum dijawab "Free laa,..masuk saja,kalo awak nak berbasikal disitu lebih bagus" dia menunjuk ke hutan berbukit.

Hutan Berakas


Aku terusuluri dulu jalan aspal ditaman tersebut yang akhirnya ternyata tiba di pinggir tebing yang tidak begitu curam dan dibawahnya terlihat pantai yang bersih dan lingkungannya sangat terawat,tidak ada orang disitu hanya ada aku dan beberapa ekor monyet...unik juga satwanya disitu paduan satwa laut dan hutan,didekat laut ada camar camar laut dan di pinggir hutan dekat aku duduk ada kicauan enggang dan teriakan monyet monyet kecil sedang bercanda seperti konser alam yang enak didengar....
Aku masuk Treck sepeda yang diberi tahu petugas tadi ternyata treck tersebut adalah treck untuk down hill,naik jauh ke bukit yang cukup rimbun hutannya lalu di beberapa diberi jumping ground,aku tidak siap untuk mencoba jumping tersebut..mendingan dituntun saja dari pada di evakuasi...treck yang ada betul betul alami dan diisetiap persimpangan di hutan tersebut ada tanda tanda  arah untuk keluar/exit.
Menjelang dzuhur aku keluar hutan Berakas dan masuk ke jalan raya Muara sesuai tujuan awalku,2 potong pisang raja Brunai ukuran besar yang sangat enak dan beda rasanya mengenyangkan perutku dan dua botol air mineral mengembalikan tenagaku untuk memacu ke arah Muara yang masih 20km lagi.
Distrik Muara adalah kota paling utara dari Brunai dan disitu terletak pelabuhan laut dan markas Mariner kerajaan Brunai yang ,sepeda aku arahkan ke pantai muara.Pantainya bersih dan dilengkapi fasilitas olah raga pantai serta jogging track dan sepeda.dari monumen yang ada disitu terbaca taman tersebut adalah tempat pendaratan tentara Australia dan sebagai tanda persahabatan Australia dan Brunai.
Tidak berapa lama duduk dipantai lalu aku mendatangi food court dan memesan makanan "nasi katok" yang sangat populer di Brunai,dimana ada kedai makan umumnya ada nasi katoknya.Nasinya sangat gurih dengan satu potong goreng Ayam yang kripsi serta sambal yang sedikit manis,harganya hanya $1 brunai (=rp 7800).
Sebelum Dzuhur aku menuju ke mesjid Setia Ali yang terletak di Pekan Muara,mesjid di Brunai ini pada umumnya besar bagus ber ac dan diberi nama dengan nama keluarga Raja (istri atau anak),dananya dari kerajaan. Sulitnya di Brunai mesjid mesjid jarang  di pemukiman penduduk,sehingga kalau waktu sholat datang kita agak jauh untuk mendatangi mesjid.
Puas bermalas malas di mesjid aku lanjut menuju pulang ke rumah melalui jalur Tutong highway lagi,jam 15.00 sore dengan tubuh yang basah berkeringat aku sampai di rumah lagi......mimpi ke Kampong air....?

 


Perjalanan Sepeda Jakarta Bandung



 Rasa nya belum belum tenang kalau kami belum menyelesaikan turing sepeda ini sampai ke Bandung.
gangbang yang sudah siap dengan kendaraannya
Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat menuju citos yang berjarak 24km dari rumah joker di Bsd, jam 07.14 kami sudah sampai di di citos dan bertemu gangbang yang sudah siap dengan kendaraannya.

Sedikit unik dengan sepeda gangbang karena desainnya sudah jauh berobah dari biasanya.naik sepedanya i kseolah olah kita sedang tidur di malaorss dan kalau dilihat dari belakang seolah olah sepeda jalan sendiri tanpa didayung padahal tetap didayung hanya saja kakinya yang mendayung  didepan seperti sedang selonjoran di kursi malas jadi ngga dibawah seperti sepeda konvensional.


Sedikit unik dengan sepeda gangbang
Aku selalu tertinggal oleh gangbang,joker hari ini sering didepanku,memang terasa staminaku menurun selesai makan siang di desa mekarsari setelah menempuh 80km kami lanjutkan perjalanan kali ini medannya tanjakan panjang Cikalong kulon yang lebih kurang 3km,rasanya pedal sepedaku sulit untuk digerakan,kadang kadang diwaktu posisi kaki terlalu berat mendayung serta posisi telapak kaki yang salah jari kaki  terasa kram kemudian aku aku injakan terapak dan jari kaki tadi ke posisi pedal yang benar akhirnya kramnya hilang.

Aku berusaha mendayung di tanjakan se maximalnya tapi tanjakan cikalong yang terlalu panjang juga membuat paha ini terasa mau kram.
Tidak lebih dari 500meter tanjakan yang bisa kulewati dengan mengayuh akhirnya aku menyerah turun dari sepeda,joker dan Gangbang sudah duluan turun dan menuntun sepedanya ditanjakan tersebut.
Sepeda kudorong cuaca dingin dan mendung serta berangin tiba tiba hujan lebat mengguyur kami,aku tetap berjalan dalam siraman hujan supaya suhu tubuh tetap terjaga dan panas,paha kananku bagian dalam terasa kram lagi,masih dalam hujan yang lebat aku berhenti sambil berdiri memegang sepeda dan melemaskan paha tersebut kira kira 5 menit berhenti terasa tubuhku dingin sekali aku coba jalan pelan sambil sedikit terpincang pincang menuntun sepeda
Aku lihat kebelakang joker dan gangbang menyusul kelihatan kuyu kena siraman hujan.
Gangbang yang baru bergabung dengan kami sejak dari jakarta berkomentar"this is the real adventure",aku ngga bisa bayangkan 15hari yang kalian jalani dari Sumatra" nampaknya Gangbang juga menikmati ketidak nyamanan ini.Joker yang tetap jalan tertatih tatih berkomentar"kapan habisnya tanjakan ini"
Kami berjalan dalam lamunan masing masing dalam guyuran hujan dan tanjakan yang masih belum berakhir kadang kadang percikan air dari roda mobil yang kencang dihadapan membuyarkan lamunanku dalam film peperangan waterloo.aku sangat bersukur saat itu karena kami masih diberi kekuatan dan bisa menikmati saat saat yang tak mungkin terulang lagi.
Jalan mulai mendatar kami mulai menaiki sepeda pelan dan Alhamdulillah sekarang menurun tapi hujan yang masih mengguyur aku harus hati hati karena jalan agak licin ditambah lagi ban belakang sepedaku yang sudah botak tidak diganti sejak perjalanan pku bengkulu dulu.
Sebelum pertigaan Ciranjang hari sudah jam 18.00 dan joker minta dia untuk istirahat dan mabit di warung dekat situ,tapi Gangbang mengusulkan untuk memanggil mobil pickup yang disiapkan untuk sweeping kita membawa joker ke Bandung yang masih berjarak 60km lagi
Gangbang berusaha menghubungi handphone drivernya yang sesuai order sebelumnya supaya mobil stand by di pasar Ciranjang saja, namun beberapa kali dicontact tidak bisa terhubung.
Karena tidak bisa dihubungi kami memutuskan  aku danGangbang lanjut ke arah pasar ciranjang untuk memanggil driver sementara joker istirihat di warung sebelum ciranjang.
Bike Lighting sudah dihidupkan tapi rasanya kurang terang dalam gelap didesa tersebut,mobil lewat dan warung dipinggir jalan cukup menambah penerangan kami.
aku danGangbang lanjut ke arah pasar ciranjang

Dipasar ciranjang jam 20 agak melegakan hati,sepanjang jalan kami selalu perhatikan keberadaan mobil pickup yang kami cari akhirnya setelah keliling disekitar parkiran yang ada kami belum menemukan pickup tersebut.
Perut sudah nggak bisa kompromi lagi minta diisi,bubur ayam yang ada dipinggir jalan adalah pilihan kami saat itu,kami duduk agak menjauh dari pengunjung lain agar aroma baju basah keringat dan campursari tidak mengganggu pungunjung lain.
Sambil menunggu bubur ayam kami tetap mencoba hubungi hp driver namun pesannya tidak bisa dihubungi.
Dengan pertimbangan tidak punya pakaian ganti,gangbang mengusulkan untuk melanjutkan ke Bandung yang masih 40km lagi malam itu dengan harapan dijalan ketemu mobil pickup tadi.
Perjalanan berlanjut dari ciranjang ke Cipatat,disuatu pinggiran bahu  jalan yang agak tinggi pinggirannya Gangbang terpeleset dan jatuh kearah kanan dari sepeda,aku diarah belakang kaget dan berhenti,aku tanya kondisinya Alhamdulillah tidak ada yang cidera hanya kaca spion kanan pecah.
Kami berhenti di sebuah warung di Cipatat dan mengajak Gangbang untuk mencari mesjid untuk istirahat saja malam itu karena terlalu beresiko untuk dilanjutkan.
Aku menelpon joker menginformasikan kalau kami akan mabit di mesjid alfatah Cipatat sedangkan mobil jemputan gagal ditemukan,ternyata joker juga sudah nyaman istirahat di warung tersebut setelah mandi dan makan dan kami janjian bertemu di cipatat besok pagi.
Setelah 150km gowes dari bsd akhirnya kami terdampar di mesjid Alfalah Cipatat,kami tidak perkirakan jalur lewat jonggol sampai 180km,pagi sampai istirahat siang bisa kami tempuh 98km 
Pak Sam kelahiran painan pengurus di mesjid Alfatah Cipatat

Jam 22 aku dengan diantar seorang anak muda aku pergi menemui pengurus mesjid untuk minta izin mabit di mesjid Alfatah tersebut,pak Nana yang sudah mulai istirahat dibangunkan istrinya lalu menemui aku dengan pandangan heran melihat kondisiku yang lusuh menanyakan "ada apa"aku terangkan maksudku untuk numpang mabit di mesjid karena kami musafir yang kemalaman di desa tersebut,dengan ramah beliau persilahkan kami untuk istirahat di mesjid tersebut.
Gangbang yang perlengkapan tidurnya terbawa pickup aku pinjami pakaian dan sarung untuk ganti bajunya yang kotor mudah mudahan pengalamannya pertama mabit di mesjid bisa lebih nyaman.
Malam ini aku harus istirahat yang bagus agar besok bisa menjajal tanjakan panjang di Citatah.....
Dikit koreksion(versi Joker): ditanjakn Cikalong pake jurus "Kayuh n stop" bisa didepan GB n NIS tapi sampe hampir puncak ada halimun tebal disertai hujan ... Jadi terpaksa brenti nunggu hujan reda hingga pas mau jalan lg ... NIS n GB keliatan nuntun speda kepuncak .... Sedianya kalo hujan gak keterusan mgkn mmg bisa sampe Bdg malam itu jg.....tapi krn basah kuyup n dingin gak ketulungan ditambh batuk .... Joker putuskn Ful Stop..
Pak Sam kelahiran painan pengurus di mesjid Alfatah Cipatat tempat kami mabit melepas keberangkatan kami dengan sedikit sedih karena bertemu denganku katanya terasa lepas teragak dengan rang kampung,joker yang mabit di warung cikalong kulon sudah mulai mendekat dan aku dan gangbang menunggu disebuah warung pinggir jalan dekat pasar cipatat
Setengah jam kemudian joker datang dengan tampilan lebih segar kami mulai bergabung lagi kearah citatah,tanjakan citatah mirip dengan tanjakan cikalong kulon tetapi sedikit lebih pendek dan udara pagi membuat kami lebih enakan mengayuh sepeda,lalu lintas mulai padat tetapi lebar jalan membuat kami sedikit lega jalan dipinggir.
kami melewati tanjakan citatah dan disambut penurunan yang panjang hingga di padalarang.
Semangat kami bangkit lagi begitu melihat kota padalarang karena mulai dari situ sampai cimahi dan bandung sudah datar.
Di Cimahi kami istirahat dan melihat google map untuk penentuan arah yang harus kami lalui kerumah Gangbang di Cigadung.
Suasana kota besar mulai terasa,kami masuk dari arah Pasteur lalu Fly over Pasopati tujuan gedung sate,mulai dari atas jambatan pasopati macet menyergap kami,dengan jalan beringsut ingsut dipanas yang mulai terik sangat membosankan sementara kami melihat ke jalan suropati yang berada dibawah kami begitu kosongnya,aku beritahu gangbang dan joker supaya kita melompat saja kebawah dari bagian yang agak rendah.
Aku angkat sepeda dengan beban panier bag 26kg ke jalan dibawah begitu juga gangbang dan joker semua mata memandang kearah kami yang bertingkah sedikit nakal tapi halal karena udah kecapean..hehe..
Kami menuntun sepeda berlawanan arus di jalan suropati kemudian menyebrang dengan mengangkat sepeda lagi kearah jalan Gazeboo yang ke gedung sate,hebatnya orang bandung respec terhadap pesepeda umumnya mereka mendahulukan pesepeda kalau melihat dijalanan.
Masuk di Gazebo terasa dominan dengan suasana komunitas pesepeda ontel yang kebetulan hari itu ada pameran sepeda ontel.
Kami mendorong sepeda menyusuri pedagang yang menjual mulai dari kuliner hingga pernak pernik sepeda,pakaian dan jejeran sepeda sepeda antik yang enak juga buat diperhatikan satu persatu.pesepeda ontel memakai kostum zaman dulu aku ingat film tuan tanah kedawung yang berpakaian putih,topi bulat putih serta accesories jam digantung didada lengkap dengan kumis yan melintir sebesar pisang goreng keatas,ada juga yang memakai kostum pegawai atau mungkin tuan guru zaman dulu memakai seragam kepar warna kakhi distrika licin hingga pinggirnya tajam keluar dan dibelakang afa tas gantung serta payung hitamnya.
Beberapa orang mengamati kami yang baru datang dan mengambil foto kami juga,mungkin mereka tertarik dengan tampilan sepeda Gangbang yang aneh tersebut dan juga melihat sepeda kami yang penuh beban dari perjalanan jauh.
gedung sate

Kami sudah melakukan sesuatu kewajiban,Berfoto di gedung sate adalah wajib kalau memasuki kota Bandung,begitu pesan yang pernah kami dengar,sepeda kami kayuh lagi dikeramaian Bandung di hari libur tersebut ke arah jalan Ganesa menuju ke kampus ITB dimana Joker dan Gangbang pernah bertapa dulu.
Kami melewati jalan Dago yang sering kulewati dulu kalau ke Bandung bedanya sekarang aku bisa melewati dengan sepedaku yang dibawa dari Rumbai,aku sangat bangga dengan sepeda yang ngga kalah kemampuannya dengan mobil dan bebas polusi....ouuup aku ngga boleh sombong cuma aku ingin beri tahu lebih banyak yang bersepeda tentu temanku untuk diajak gowes akan bertambah..dan polusi makin berkurang..hehe..
Sepanjang jalan dago sampai Ganesa aku bayangkan semua orang bersepeda tentu akan lebih nyaman dan tanpa macet dan polusi.
Dipinggir jalan Ganesa aku melihat ada shelter dengan pajangan sepeda sepertinya sepeda lama,dari seseorang diketahui bahwa sepeda tersebut bisa dipinjam untuk sekitar kampus ITB dengan hanya meninggalksn tanda pengenal,...hebat sekali idenya...aku terkagum kagum melihat tanaman pohon besar yang membuat suadana jadi nyaman dan asri seperti tempo doeloe...
Didepan gerbang masuk ITB joker minta tolong seorang mahasiswa untuk memoto kami bertiga dan berkomentar "dik 45 tahun yang lalu bapak berguru disini" dan dijawabnya "wow keren bernostalgia lagi ya pak.."




"dik 45 tahun yang lalu bapak berguru disini"

Kami melanjutkan target terakhir ke rumah Gangbang di Cigadung setelah ditraktir makan di restoran Ampera di jalan ...dekat rumahnya gangbang.
Kami sampai dirumah Gangbang yang sering kosong hanya ada penjaga rumah di Cigadung dengan perasaan bahagia dan beribu kenangan suka dan duka kami menyantaikan diri dirumah yang indah ini...
ke rumah Gangbang di Cigadung

Anak ayam sahabat Gununger yang setia memonitor perjalanan kami  menelpon..."HALO mak Katik ntar lagi aku datang jemput,kita makan sore bersama nanti ya...."huahaha...memang saatnya proses pemekaran lagi nih...aku tungguuuu......"