Pages

Thursday, March 8, 2018

6.Trans celebes cycling xdc_ulama minang penyebar islam


Ulama Munangkabau di Palu.

Dari desa sausi perjalanan kami lanjutkan menuju Parigi,jalan relatif datar hanya cuaca panas yang agak menyengat,nuansa Bali yerasa disepanjang jalan,kuil kuil bali sering kami temui dan kadang terdengar lantunan gamelan dan nyanyian bali,sudah berapa orang yang menyapa kami dengan "Good morning mister" pada hal sudah jelas jelas kulit hitam kami tapi masih tetap saja dipanggil Mister,pernah satu kali ibu ibu sedang ngumpul di bale bale berteriak "I lop yu misteeer" aku dan om Bambang kaget dan terbahak geli mendengarnya,..hal ini merupakan hiburan tersendiri diperjalanan yang panjang ini. Dua puluh kilo meter menjelang kota parigi kami bertemu pak Akbar yang menyongsong kami dengan bersepeda dari Parigi,kemudian beberapa orang pesepeda ari komonitas sepeda gunung di Parigi membawa kami istirahat dan makan siang di sebuah restoran dibatas kota. Pada kesempatan ini kami dijamu makan siang oleh ketua issi kabupaten Parigi Moutong  bapak Muhammad sakti dan siang itu juga kami diundang ke kantor wakil bupati Perigi Moutong bapak H Badrun Nggai SE,beliau mengucapkan selamat datang pada kami dan meminta kami untuk ikut partisipasi mempromosikan wisata Parigi moutong di setiap daerah atau di luar negri yang akan kami lewati nanti. Malam ini kami tesmi jadi tamu pemda Parigi Moitong dan diinapkan di cottage Kayu Bura berlokasi di pinggir pantai teluk Tomini yang pernah jadi pusat acara Tomini sail tahun 2015.

Pagi 1 februari puas menyaksikan sun rise dari teluk Tomini kami melanjutkan perjalanan ke Palu.

Jarak kayu bura ke Palu yang hanya 60km cukup menguras tenaga dan menegangkan,kami berpacu dengan waktu,karena jalan didaerah tanjakan kebon kopi yang sedang di renovasi dan ditutup pada jam 13 sampai 16,diwaktu tersebut tidak satu kendaraan pun diizinkan lewat. Jam 8 pagi kami dari Pertigaan Toboli langsung menanjak,hujan dipagi hari sedikit mendinginkan badan yang panas ditanjakan,hujan segera berganti cuaca panas,tenaga betul betul terkuras saat itu,tanjakan kebon kopi adalah salah satu tanjakan tinggi spectakuler menguras tenaga dalam cuaca panas terik ,om Bambang yang biasanya begitu perkasa ditanjakan kali ini terlihat kewalahan dengan cuaca panas ,tiap sebentar menyiramkan air kekepala dan badannya untuk pendinginan setiap tanjakan yang ada tempat berteduh apalagi ada warung es campur otomatis  sepeda berbelok arah seolah olah ada magnitnya...😀😀kami mendinginkan badan disitu.

Pernah ada air dari pancoran di pinggir tebing disitu kami mandi menyiram seluruh badan sampai basah kuyup dengan air dingin bagai air kulkas. Akhir nya kami sampai di puncak tanjakan kebon kopi yang disebut para pesepeda puncak penyiksaandan selanjutnya menurun beberapa km,jam 13.05 saya sampai pos penjagaan ternyata akses masuk sudah ditutup artinya saya dan kawan harus menunggu dibuka lagi kjam 16.00 uuuugh..kesal rasanya terlambat ngga bisa langsung masuk,aku coba memelas sama petugas tapi tidak di gubris. Beruntung om syaiful bisa lewat,Kami bertiga om wid dan om Bbt merasa "nelongso" harus menunggu di udara panas sampai 3jam. Sekitar 10 menit kami menunggu tiba tiba kami dengar sirene mobil patroli polisi dengan rombongan pejabat,pagar penutup jalan dibuka untuk lewat para pejabat tadi lalu kami gunakan kesempatan tersebut untuk ikut rombangan dan sempat terjadi ketegangan dengan petugas akhirnya kami diizinkn masuk dengan kesal petugas mengatakan silahkan masuk tapi resiko tanggung sendiri. Kami bertiga memacu sepeda mengikuti rombongan pejabat sekitar 5mobil dari belakang debu jalanan beterbangan tapi kami sudah tidak peduli berusaha tetap dibelakang rombongan,batu batu sebesar tinju jadi ranjau bisa jadi petaka saat itu. Belum 1km rombongan berhenti,didepan suara gemuruh dari tebing yang di runtuhkan,batu batu besar kecil menggelinding kebawah,terbayang saat itu kalau kami nekat lewat tentu sudah gepeng menyatu dengan tanah. Petugas polisi beri aba aba stop kearah tebing lalu tunggu sesaat sampai tidak ada batu yang menggelinding lagi baru polisi dan petugas jalan menyingkirkan batu batu besar agar jalan bisa dilewati. Rombongan bergerak lagi lalu kami ikuti terus ada 5 kali seperti itu akhirnya setelah sejauh 10km kami memasuki zona aman dan kami jumpa dengan om syaiful di desa sebelum kota palu. Memasuki kota palu kami di jemput oleh pakde baso yang dulu menemani kami di makasar dan om Martin lalu datang lagi ibu Rina sahabat smp om Widodo. Kami ditawarkan nginap di dua tempat tapi akhirnya memutuskan di rumah burina dan sepeda diritip di rumah om Martin. Kami berencana break mengayuh dua hari jntuk recovery dan service sepeda yang punya masaalah masing masing,sepedaku dan om Wid rujinya patah satu,sepeda om syaiful bottom breaketnya berbunyi dan haus sejak dari palopo lalu om Bbt sproketnya longgar sehingga gearnya susah diganti ganti ini lah resiko setelah 12 hari perjalanan non stop. Hari pertama di palu kamu selesaikan semua permasaalahan sepeda lalu pada hari kedua seharian kami diajak jalan jalan ke objek wisata sekitar Palu,kami pergi ke pantai Donggala kota tua yang jadi pelabuhan besar di Indonesia. Masyarakat di sulawesi tengah umumnya beragama islam dan ada satu yang jadi perhatianku yaitu agama Islam di sini dibawa oleh seorang sekh keturunan Minangkabau Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Karama.

Kami sempat dibawa ziarah kemakamnya dan ke istana Raja Kabonena dan bertemu dengan cucu dan kerabatnya.

Dari beberapa sumber saya dapat info bahwa islam menyebarkan ke Kota Palu pada abad ke-17. Bermula di Kampung Lere yang saat ini telah menjadi Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat.

Awal Kedatangan Datuk Karama saat itu pada masa Kerajaan Kabonena, yang Rajanya saat itu Ipue Nyidi. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islamnya ke wilayah-wilayah lainnya di Palu yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Kaili. Wilayah-wilayah itu, meliputi Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una.

Pada masa itu, masyarakat asli Suku Kaili masih menganut kepercayaan animisme yang mereka sebut "tumpuna", di mana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat.

"Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut, akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh Raja Kabonena Ipue Nyidi dan masyarakat Kaili. Perjuangan Datuk Karama saat itu, akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam, dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Palu," sebutnya.

Saat itu pula,Datuk Karama, beserta keluarga dan pengikutnya tidak kembali lagi ke tanah kelahirannya di Minangkabau, dan lebih memilih bertahan di Palu untuk menyebarkan agama Islam.

"Sampai meninggal dunia, Datuk Karama serta keluarganya dan pengikutnya juga di Palu," ungkapnya.

Diketahui, setelah wafat, jasad Datuk Karama dimakamkan di Kelurahan Lere. Dan tidak hanya itu, di dalam areal makam juga terdapat makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.

Terus berjalannya waktu, akhirnya makam Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus obyek wisata religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.

Sedangkan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu.

Selain itu, masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau."Alat musik tradisonal itu merupakan peninggalan sang Datuk Karama.

Sorenya kami melanjutkan perjalanan ke Monumen Nosarara Nosabatutu atau Gong perdamaian Palu timur di daerah perbukitan yang cukup tinggi jang ber jarak sekitar 20km dari pusat kota,tempat yang indah mengingatkan ku di puncak san francisco.

5.Trans celebes cycling xpdc_masuk daerah konflik


Rantaipao-Poso 327km

Kami menginap di Rantaipao selama 2hari di masjid Agung
28/01/18 pagi sepeda kami kayuh lagi keluar kota Rantaipao jalan masih datar 10km diluar kota terlihat gugusan bukit dan jalan mulai menanjak,kirikanan pohon pinus sehingga udara yang panas sedikit teredam oleh semilir hembusan angin.
Lebar jalan yang kecil 4meter  hanya cukup untuk satu mobil sehingga kendaraan yang akan mendahului kami agak kesulitan dan lama mendunggu kesempaatan yang aman  apalagi kalau ada mobil dari arah berlawanan. Tanjakan sejauh 30km tanpa jeda cukup menguras tenaga hingga sampai dipuncaknya batas Kabupaten Toraja utara dengan Kabupaten Palopo kami istirahat memulihkan tenaga. Memasuki kecamatan Battang kabupaten Palopo terasa nyaman sekali karena penurunan sejauh 30km sampai desa Battang,tidak perlu dayung sepeda hanya mengontrol kecepatan dengan rem hingga tangan terasa pegal juga,kalau dibiarkan lepas hingga sampai 60km/jam tapi resikonya tinggi sekali sewaktu di tikungan,aku jalan lebih santai sambil mengamati banyaknya pohon durian di hutan pinggir jalan,sensasi yang sudah lama tidak kita temui sejak diubahnya hutan hutan di sumatra menjadi kebon kebon sawit,jam 12.30 kami sampai di desa Battang lalu berhenti di masjid al jihad untuk sholat jumat disitu.disiang yang terik selesai sholat jumat perjalanan dimulai lagi dengan tanjakan sejauh 3km,baju yang sudah sempat kering sekarang basah oleh keringat lagi hingga kemudian ketemu jalan datar sampai ke gerbang kota palopo,kami langsung mengarah ke jalan poros palopo-Poso.
Jam 17 sore kami berhenti di masjid Al muhajirin di desa Lalong Cepkar, hari ini total perjalanan 90km.
Pak imam masjid Almuhajirin Haji Kintasaraapang usia 84tahun berdarah Toraja sungguh ramah,malam selesai sholat isa kami diajak ke tempat tahlilan warga,aku coba menolak dengan alasan ingin istirahat saja di Masjid,tapi beliau pingin sekali kami ikut dan katanya doa Musyafir mustajab jadi dia tetap ingin membawa kami. Rasanya kami jadi tamu istimewa saat itu,dari penuturan pak imam kampung tersebut aslinya turunan suku Tanah Toraja dan pindah ke Palopo untuk ikut berjuang dengan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar melawan pemerintahan pusat, kemudian mereka masuk islam sekitar tahun 1950.
29/01/18 dari dusun Lalong kami melanjutkan perjalanan lagi ke utara perkiraan kami hari ini bisa mencapai  kota Masamba tapi Alhamdulillah ternyata kami bisa lebih jauh sampai desa bone,hari ini panas sangat menyengat rasanya kami rindu diguyur hujan saat itu,hampir setiap setengah jam kami berhenti berteduh dari sengatan terik matahari dan minum air,beberapa kali berhenti minum air kelapa muda dan es condol favoritku,sebelum masamba botom breaket om syaiful ada kerusakan kami berhenti untuk menukarnya dengan yang baru tapi ternyata batom breaket yang baru tidak bisa dipasang jadi batom breaket yang lama terpaksa dipasang lagi setelah dibersihkan dan di beri gemuk. Cuaca panas yang menyengat menjadikan kami tiap sebentar berhenti dan mengguyur kepala pakai air,suatu kenikmatan tersendiri apabila menemukan es cendol atau es kelapa muda dipinggir jalan kami bisa berlama lama menikmatinya.
Jam 17 sampai di desa Bone dan menginap di Masjid An Nuur,total perjalanan hari itu 82km.
30/01/18 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Mangkutana yang berjarak 75km dengan kondisi jalan yang datar dan sudah mulai terasa sedikit tanjakan,beberapa tempat perkebunan sawit,di masjid Almuhajirin kami istirahat siang lalu kenal seorang penduduk lokal pak Anshori yang menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. Hari itu kami menginap di rumah pak Anshori yang seorang dai pendakwah,paginya kami setelah disuguhi sarapan oleh ibu Anshori lalu kami menuju Poso 182km melalui Pendolo,Tentena.
31/01/18 pagi berangkat dari Desa Mangkutana, tanjakan langsung menghadang kami masuk ke wilayah pegunungan dan kawasan hutan Kayu Langi Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Nah, disini jalannya sangat sepi, baik itu penduduk maupun kendaraan. Ada banyak sekali ditemui papan petunjuk pemberitahuan untuk menjaga hutan lindung dan cagar alam. Menemui desa berikutnya pun sangat jauh, dan trek jalannya adalah perbukitan yang tak habis-habisnya dengan jalan berliku-liku tajam serta naik-turun.
Pemandangan yang ditemui adalah adalah bukit yang ditutupi kabut, dan awan yang bergumpal-gumpal dalam jarak dekat. Aku merasakan treck ini memang ganas perlu fisik yang prima dan kesabaran karena jalan tanjakan dan turunan dengan tikungan tajam seakan tak pernah habis. Sepeda seakan jalan seperti kura kura. Kami melewati rimbun pepohonan hutan dikawasan cagar alam Kayu Langi dan juga cagar alam Faruhumpenai yang katanya ditakuti oleh banyak orang karena masih sepi, dan seram.
Kabupaten Luwu Timur sebagian besar daerahnya merupakan wilayah hutan.  sebelum perbatasan,kami melihat warung warung konon kami sudah diingatkan oleh kawan kawan dan penduduk lokal agar tidak berhenti didaerah tersebut karena rawan kriminal sebelum tugu perbasatan yang sudah tidak terawat lagi, tugu asli sudah tua dan berantakan. Yang ada sebuah tiang beton petunjuk jarak KM, terbaca jarak tempuh ke Kota Makassar sejauh 577 Km dari tugu perbatasan ini. Hm...ternyata perjalanan kami baru sepertiganya.
Masuk Desa Pendolo Kecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso yang ditandai dengan sebuah gereja dan patung disebuah pertigaan. Yang ada, melihat jalur lurus adalah jalan tanah menuju beberapa resort yang terletak di pingggir Danau Poso, sedangkan ke kekiri ke Bancea, dan kekanan arah Tentena dan Poso. Kami berbelok ke kanan ke arah Tentena,jalur disini hampir sama ganasnya dengan jalur sebelumnya,didaerah ini pernah terjadi kerusuhan poso yaitu antara umat christiani dan Islam. Kami sampai di kota poso sore hari selasa 30 January dan berhenti istirahat di Masjid Nurul hidayah Poso, total perjalanan dari Makasar sampai Poso 12 hari. Di posò kami dijemput oleh pak syamsul seorang jurnalist kenalan om Widodo dan beliau menawarkan kami menginap di masjid An nuur yang berdekatan dengaan rumahnya dipinggir sungai poso yang airnya dulu pernah memerah didarahi korban korban Poso.
Hanya satu malam kami di poso lalu lanjutan perjalanan lagi ke kota Palu.
Jalan yang datar tapi cuaca panas,perasaan perjalanan ini di daerah bali karena kiri kanan jalan rumah penduduk dengan ornamen Bali hingga menasuki batas kota parigi di jembatan. Kami melewati gunung biru,perasaan agak was was menyertai kami karena daerah ini adalah basis teroris santoso,kami berempat berjalan beriringan hingga sampai di desa Torana ditunggu dan dijamu camat Tambarana Adrian kenalan om Widodo.
Kami mulai gowes lagi sehabis sholat dzuhur hujan turun sampai sore jam 17 kami menemukan masjid di dusun sausi dan nginap di masjid Nurul huda,perjalanan hari ini 80km saja.

4.Trans celebes cycling xpdc_monyet monyet pe nolong


4.Parepare-Pinrang-Enrekang-Toraja
memasuki kota Parepare ada gapura bertuliskan selamat datang di kota parepare dikota ini lahir seorang pemimpin bangsa president RI ke 3 Bj Habibi. Perjalana kearah enrekang mulai terasa tanjakan tanjakan hingga kami sampai di desa Bone yang sudah dekat dengan perbatasan Kabupaten Enrekang. Kami menginap di masjid haji Havid Ali yang baru selesai dibangun,tidak ada penduduk disekitar masjid,jadi tanya waktu itu apakah masjid ini ada jamaahnya kar🎿ena jauh dari mukim penduduk,tapi sewaktu magrib datang para jamaah mulai berdatangan satu persatu. Masjid yang bagus ini ternyata adalah sumbangan pribadi dari seorang penduduk setempat yang berwasiat pada anaknya untuk dibikinkan masjid di lokasi tersebut.
Jam 07 selesai sarapan kami lanjutkan perjalanan menuju Enrekang,Abu bakar yang sudah menemani kami sejak dari parepare akan kembali pulang ke parepare.
Tanjakan tanjakan di Anrekang semakin gila sehingga kecepatan hanya bisa 10kmh,setiap 30menit kami istirahat.kejadian lucu terjadi sewaktu kami istirahat di sebuah balai balai pinggir jalan,tiba tiba terdengar suara gaduh monyet monyet dipohon,ada kira kira 15 buah mangga dari pohon mereka lemparkan kearah kami,beberapa saat kemudian mereka pergi lalu aku ambil satu mangga tersebut dan membukanya ternyata mangga masak dan manis,mangga mangga yang berserakan tadi kami kumpulkan untuk makanan dijalan.
Jam 17 kami sampai di dusun Kotu desa Bambapuang Enrekang dan berhenti di Masjid Ridho Allah,selesai magrib aku minta izin untuk menginap satu malam di masjid tapi pengurusnya pak Nohon atau biasa dipanggil juga pak Eva keras mengajak kami untuk tidur dirumahnya,akhirnya kami berempat nginap dirumah pak Nohon yang tak jauh dari masjid. Pak Nohon bertiga dengan istri dan satu anak yang sudah bekerja cukup sibuk melayani kami dengan berbagai makanan malam itu. Pagi bagda subuh kami disuguhi kopi dan kue,serta dibekali nasi kotak untuk kami dijalan.
Dilepas oleh keluarga pak Nohon,sepeda kami dayung lagi menuju utara sepanjang jalan di suguhi keindahan pegunungan,tanjakan dan turunan yang terjal serta udara yang panas mampu menaikan adrenalin dengan sensasi pegunungan diketinggian 500mdpl.
Setiap tanjakan ada saja mobil yang menguntit dibelakang,mereka selalu membunyikan klason,bunyi klason sering membuat aku kaget hal ini yang paling tidak enak diperjalanan.
Jam 14 kami sampai di gunung nona yang punya cerita khusus bagi masyarakat sulawesi selatan. Dari gunung nona tanjakan mulai berkurang hingga akhirnya kami berhenti dirumah makan daeng Revano,disini ternyata makanan yang ada hanya mie bakso dan tidak ada makanan nasi atau pilihan lainnya ,karena rasa lapar sejak dari siang akhirnya kami pesan mie Bakso. Kepada pemilik warung daeng Revona kami tanyakan apakah ada masjid terdekat kearah Tana Toraja karena saat itu sudah jam lima sore dan kami mencari tempat istirahat atau masjid untuk bermalam,beliau mengatakan masjid hanya ada di kota Makale yang masih 20km lagi kedepan,mungkin karena melihat kami yang agak kebingungan untuk mencari tempat bermalam lalu dia menawarkan kalau kami mau bisa bermalam di warungnya,tanpa pikir panjang kami menerima tawaran itu. Sore menjelang magrib suami daeng revano datang, lalu memperkenalkan kami pada suaminya sebagai tamu yang akan menumpang dirumahnya. Gepeng yang berbadan kurus dan mata merah dan sayu seperti habis minum miras menyambut salam kami dengan muka dingin, tanpa banyak bicara pergi ke kandang ayam jagonya dan mengambil ayam terus pergi. Aku jadi sangsi, apakah Gepeng kurang suka kami nginap disitu?

Sehabis magrib Gepeng datang tergopoh gopoh membawa dua ekor ayam yang satu sepertinya masih hidup dan berdarah darah dan yang satu lagi sudah mati disembelih, dia tergopoh gopoh memanggil istrinya minta tolong "Ren cepat ambil jarum dan benang buat menjahit perut ayamku" aku hanya bengong melihat ayam jago yang sudah sekarat berdarah darah di perutnya mungkin kena pisau taji lawan tandingnya. Tidak lama istri gepeng datang membawa jarum dan benang jahit. 

Malam itu juga perasi penyelamatan dimulai, semua duduk diatas bangku kayu, Renova istri daeng memegang ayam yang akan diselamatkan, om widodo yang punya lampu penerang menyenter kearah luka yang akan dijahit tadi. Gepeng memasukan usus ayam yang keluar dari perutnya, setelah usus yang melingkar lingkar tadi masuk semua lalu perut ayam tadi dirapatkan dan dijahit pakai jarum dan benang jahit. Tidak sampai lima belas menit operasi penyelamatan ayam jagonya Gepeng selesai, ayam tersebut diberi makan ramuan khusus yang bisa mempercepat penyembuhan lukanya. Aku jadi terpana melihat keterampilan Gepeng ini tak ubahnya seperti dokter profesional, dari obrolan ternyata hal seperti ini sudah sering dilakukannya.
Kenapa Gepeng begitu bahagia dibanding sore tadi?..,ternyata ayam aduannya menang berlaga walau sempat terluka dan keluar usus seperti tadi, menurut bisik bisik yang aku dapat, gepeng sudah menang adu ayam dan dapat uang rp5juta...busyet pantas mukanya berseri seri sekarang. Pada kesempatan yang berbahagia itu aku bertanya apakah kami diizinkan nginap diwarungnya...gepeng langsung menjawab "iya pak...iya pak tentu saja boleh, bapak bapak tidur dikamar dan kami tidur diwarung saja"sambil tangannya mencabuti bulu ayam aduan yang kalah berlaga tadi "ini ayam akan kita makan bersama pak" katanya lagi...aku jawab "terimakasih Gepeng aku sudah kenyang barusan makan bakso" kataku berbasa basi.

Kawan kawan berbisik "sepertinya malam ini adalah malam istimewa karena kita akan makan ayam seharga 5juta"

Jam 21 malam sudah jarang kendaraan yang lewat begitu sepinya mata terasa mengantuk sekali, kami tidur dikamar pribadinya daeng Revano dan Gepeng ukuran 2x3meter yang berfungsi juga sebagai dapur dan tempat lemari pakaian serta piring semua menyatu. Dinding kayu ditutup dengan spanduk kampanye dan lantai cor semen yang pecah pecah.
Aku merebahkan diri diatas kasur palembang yang motifnya sudah mulai tertutup daki menghitam dan licin. 

Diluar kamar terdengar bunyi ayam dan jangkrik malam, lamunanku kembali pada keluarga yang unik ini, suami seorang berprofesi sebagai penjudi ayam dan tidak ada kegiatan lain sementara istrinya jualan makanan yang jauh dari penduduk dan pembelia, disisi lain aku terkagum kagum dengan dengan kesederhanaan dan keikhlasan mereka menghadapi kehidupan dan tak segan segan untuk berbagi dengan apa adanya.
Makin malam makin terasa dingin, sleeping bag aku keluarkan untuk menghangatkan tubuh hingga tertidur sampai subuh.
Sarapan pagi dengan nasi panas dan goreng ikan teri kacang serta sayur pucuk singkong dipersiapkan oleh ibu Roshid tetangga daeng Revano untuk kami. 

Kami berangkat pagi itu meninggalkan orang sederhana dengan hati yang ikhlas, jalan masih sepi ke arah Tana Toraja, beberapa ruas jalan kelihatan diperlebar hingga terlihat gapura selamat datang di Tana Toraja. Dipinggir jalan mulai terlihat Gereja gereja Toraja.
Jalan yang mulus dan menurun kiri kanan terlihat sawah dan ladang kemudian di kejauhan ada bukit bukit cadas berdiri kokoh yang mengingatkan aku sewaktu memasuki kota Luangprabang di Laos. Kami memasuki kota makale di bundaran kota berdiri patung Lakipadada,lalu sepeda kami tuntun kepelataran dan pesan es cendol yang kebetulan lewat alun alun,sambil makan es cendol kami dekat Lakipadada kami berencana hari ini akan menelisuri objek wisata Lemo dan Katekesu (Bersambung)

3.Trans celebes cycling xpdc_ di dera hujan


Maros-Parepare
Balai balai yang berlantai bambu dan beratapkan daun nipah itu terasa bergoyang...om Bambang,Widodo dan syaiful bangun serentak dan setengah berteriak  "Hujaaan..." mukaku terasa basah kena tampias hujan,semua langsung  bangun dan menyelamatkan barang dari terpaan air hujan,bajuku yang dijemur beterbangan tapi masih bersyukur tidak jatuh kekolam,dalam suasana gelap kami pindah ketengah balai balai menghindari tampias hujan.
Om bambang buru buru memasang tenda,sejak saat itu kami tidak bisa lagi tidur hingga berkumandangnya azan subuh.
Kami meninggalkan kampung baru Ramang ramang setelah menelusuri Batu Kingkong dan gua disekitarnya.
Jam 11 kami naik perahu kembali ke dermaga untuk pulang ke dermaga 1 ramang ramang.
Di dekat dermaga satu ramang ramang kami sholat jumat dimasjid Nur huda,udara luar yang panas menyengat sempat mengeringkan cucianku yang basah sewaktu dijemur selama jumaatan. Perjalanan dilanjutkan menuju utara masuk jalan poros Makasar - Pangkep,mengayuh sepeda diteriknya matahari terasa menguras tenaga tapi jalan yang bagus serta pemandangan pemukiman penduduk dan warung warung disepanjang jalan bisa menghilangkan kejenuhan.
Pak Bambang dari komunitas sepeda Pangkep yang sedari kemarin menghubungi kami kembali menelpon menawarkan kami untuk singgah dan nginap dirumahnya di kota Pangkajene. Jam 4 sore kami memasuk kota Pangkajene lalu berhenti di patung bambu runcing menunggu pak Bambang yang sedang diperjalanan menjemput kami. Selagi menunggu kami makan es cendol pinggir jalan tiba tiba hujun deras turun,udara yang tadinya panas tiba tiba jadi dingin oleh hujan angin. Pak Bambang yang kami tunggu muncul lalu beliau mengajak kami kerumahnya di jalan sech yusuf. Malamnya beberapa kawan dari komunitas sepeda bertandang ke tempat kami nginap,erat sekali rasa persaudaraan pesepeda saat itu.
Salah seorang kawan yang punya laundry mencucikan semua pakaian yang sudah seminggu tidak dicuci,mereka menawarkan segala sesuatu bantuan yang kami perlukan,sungguh ini suatu pembelajaran dari suatu persahabatan yang ikhlas..subhanallah.
Pagi itu sepeda kembali aku bersihkan terutama rantai yang kotor oleh pasir,sementara sarapan pagi dengan nasi dan ikan bandeng goreng sudah dipersiapkan ibu Bambang,selesai santap pagi dengan di konvoi oleh pak bambang dan ibu sepeda kami meluncur lagi ke pasar pangkajene disitu menunggu beberapa pesepeda lokal yang ingin bertemu kami dan memberikan tanda mata sebuah golok,...hiii ngeri hehe..
Menjelang siang Udara panas terasa menyengat dikulit,terasa haus yang berkebihan tapi setelah sholat dan makan siang mendung terlihat dilangit dan beberapa lama hujan turun tapi kami tetap mendayung karena masih rasa aman dengan pakai jas hujan.
Spedo meterku menunjukan jarak tempuh 90km dan kami sampai diq masjid Nurul hidayah desa kupa kecamatan mallusetasi kabupaten Barru,15km sebelum Parepare,waktu menunjukan jam 17 lalu kami berhenti dimasjid tersebut untuk menumpang bermalam.
Imam masjid yang baik hati memberikan kami tumpangan dalam masjid yang dilengkapi ac itu,rasanya mewah sekali saat itu,kami bertemu jamaah tablig yang sudah dua hari berada disitu.
Pagi 20 january 2018 kami jemput ke masjid oleh Abu bakar kawan komunitas sepeda Parepare lalu bersama menuju Pinrang jalan umumnya datar mulus,di Pinrang om De Mille yang sudah menemani kami selama tiga hari akhirnya di parepare berpisah dengan kami karena beliau akan kembali ke Makasar. Sekarang Abu bakar yang gantian bersama kami sampai Enrekang.

2.Trans celebes cycling xpdc_Ramang2


RAMANG-RAMANG dan DESA BERAU

Kamis 18 january 2018 adalah hari ke empat safar kami,pagi ini kami menuju Desa Ramang ramang Maros,rencana yang mendadak yang tercetus tadi malam.

Tahun 2010 aku sudah pernah berkunjung kesitu tapi rasanya ingin kembali lagi dan mudah mudahan bisa camping dan berbaur dengan penduduknya di lembah Ramang ramang tersebut.
Kami berangkat jam 7.30 pagi,udara pagi masih cerah. Sepeda yang sarat beban kami kayuh dari daerah gowa kearah Maros,jalan raya Palopo Makasar pagi itu agak ramai sehingga sepeda kami kadang menyempil diantara mobil mobil.
Dusun Ramang-ramang berjarak 50km dari tempat kami di Gowa,bisa kami tempuh dengan sepeda dalam 2jam,Jika menggunakan transportasi umum dari Makassar, kita dapat naik Pete-pete (angkot) jurusan Terminal Regional Daya, lalu lanjut naik Pete-pete jurusan Pangkep. kami belok di Pertigaan Semen Bosowa, Dari Pertigaan Bosowa bisa naik ojek atau naik Pete-pete lagi, kalau ingin hemat dengan alasan sehat boleh aja jalan kaki, karena jaraknya kira-kira hanya 500 meter. Ada plang tulisan Dermaga Ramang-Ramang segede gaban.
Didermaga yang terbuat dari kayu terlihat beberapa orang yang sedang ngobrol dan ada juga yang sedang bermain catur sepertinya mereka pemilik perahu sewa yang sedang mengisi waktu sampai penumpang datang. Aku dekati seorang muda lalu menanyakan jasa perahu/jollorow untuk membawa kami 5 orang berikut  sepeda ke Ramang ramang,ternyata disitu sudah ada tarif resmi pemumpang yaitu untuk 5 sampai 7 orang ongkosnya Rp250ribu dan sepeda gratis,harganya cukup wajar menerutku dan tanpa menawar kami menyetujuinya.
Lima sepeda kami loading keperahu,perahu bergoyang kiri kanan lumayan gamang juga rasanya membayangkan kalau jatuh. Selesai loading kami langsung berangkat,tidak ada penumpang lain tapi hanya kami berempat ditambah om Daeng Milli yang setia menemani kami sejak dua hari ini.
Sungai yang begitu jernih,terik matahari dinetraliair oleh semilirnya angin ke muka kami,kawan kawan sibuk memanfaatkan momen tersebut dengan jepertan kameranya

“Karst merupakan gugusan tebing Cadas yang terbentuk oleh erosi bawah tanah batuan seperti Batu Kapur dan Marmer yang larut dalam air. Kawasan ini juga dikenal sebagai Hutan Batu terbesar dan terindah kedua di Dunia setelah Karst di Yunnan, Cina Selatan, Cina. Kawasan Karst Maros sendiri terbentuk oleh batuan gamping sejak ribuan tahun yang lalu.membentang di wilayah kabupaten Maros dan kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan luas sekitar kurang lebih 40 ribu hektar. Keunikan karst Maros-Pangkep terletak pada bentuknya yang seperti menara dan benteng batu yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan pegunungan batu gamping yang menjulang tinggi dengan berbagai macam bentuk yang unik, ada sebuah menara batu yang jika dilihat dari titik yang pas akan membentuk siluet wajah. Karst Maros-Pangkep yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah surga bagi pecinta alam.
Perahu kami memasuki satu terowongan batu,seolah olah masuk kealam lain aku ingat sebuah film fiksi the Ring of fire kalau ngga salah.
Lebih kurang empat puluh lima menit kami menelusuri sungai bakau dengan batu batu kars nya akhirnya kami sampai di Kampung Berru,kelihatan sepi di dermaga tradisionalnya ada seorang petugas perempuan tradisional yang ramah menyapa kami,sepertinya ini adalah bagian informasi wisata. Aku menanyakan posisi yang bagus untuk camping lalu dia menunjukan ke suatu lembah yang disitu ada sungainya,tapi saat ini tempat itu terlalu becek untuk camping jadi dia menyarankan kami untuk tinggal di balai balai diatas kolam dan berdekatan dengan rumah pak Dg Ajji seorang tetua di kampung tersebut.
Kami bermalam di balai tersebut,indah sekali bentuknya,aku ingat cottage di Maldivest yang menjorok ke pantai.
Sekeliling kami cadas kars dan dibawahnya membentang sawah dan kolam lebih kurang 10hektar. Kami tidur diudara terbuka di hiasi untaian hutan dan sawah serta nyanyian serangga malam.

Darwis anak pak Daeng Ajji datang bertandang membawa goreng ubi dan kopi panas,subhanallah...tanpa kami minta mereka mengerti apa yang kami impikan saat itu. Kami dapat informasi dari Darwis bahwa penduduk kampung tersebut adalah satu nenek  dari tiga generasi,jadi mereka semua hidup rukun dan persaudaraan yang kuat.
Suatu gejadian yang lucu,diwaktu malam aku hendak buang air kecil ke toilet nya daeng Ajji yang melewati kandang angsa yang berada dibawah rumahnya tiba tiba aku dikejar dan diseruduk beberapa angsa,bunyi angsa bersahut sahutan membuat heboh ditengah malam itu,aku lari terbirit birit dijalan yang merlumpur,perasaanku keluarga daeng ajji tentu terbangun tapi mereka mungkin pura pura tidak tahu agar aku ngga terlalu malu...hehe.
Selain menikmati indah tebing batu, kita juga dapat menjelajahi Gua-gua disekitar karst dengan bantuan pemandu pak daeng Ajji, tentunya dengan peralatan dan pakaian yang sesuai dengan wisata jelajah,tapi kami waktu itu hanya memakai sendal jepit jadi pada putus tertarik lumpur dan akhirnya nyeker....
Gua Kingkong adalah destinasi yang menarik disitu ada tanda tanda atau jejak jejak prasejarah,lukisan kuno didinding gua.
Pagi itu sebelum keluar kampung  barru kami keliling desa sampai ke puncak tertinggi yang disitu Kita bisa mencicipi kopi panas di warung milik ibu Ros.



1.Trans celebes cycling xpdc_Makasar


Hujan dan angin menyambut kami di Bandara Sultan Hasanuddin makasar,waktu menunjukan jam 15.30 wita.
Ini adalah kali ke dua saya menginjakan kaki di Kota yang terkenal dengan hidangan khasnya yaitu Coto Makasar dan juga sebuah pantai yang sudah masyur ke seantero negeri, Pantai Losari,tapi sekarang ditambah lagi dengan pantai Makasar dan Bugis. Kali pertama saya ke sulawesi selatan ini tahun 2010 adalah untuk mendaki gunung Latimojong tapi kali kedua ini saya dengan 3 teman pesepepeda yaitu pak Syaiful 56 tahun,om Bambang trave 53tahun dan om Widodo 53tahun akan mengajak pembaca yang budiman untuk blusukan di pulau Sulawesi ini dengan bersepeda sejauh +/-1800km.
Perjalanan ini kita namakan trans Celebes  bicycle touring dimana nanti kami akan mengunjungi objek objek wisata dan tak kalah pentingnya kami akan bersilaturahim dan berinteraksi langsung dengan penduduk Lokal sehingga kita bisa belajar kearifan lokal serta lebih mengenal wisata wisata yang menarik di Indonesia sebagai modal promosi kami sewaktu turing keluar negri nanti.
Aku dan om syaiful menunggu kedatangan om Bambang dan om Widodo dari Jakarta dan surabaya  sampai magrib,lalu kami berempat menuju daerah Gowa dimana kami menumpang dirumah teman.
Pagi pagi di hari pertama ini selesai merakit sepeda lalu dengan diantar oleh pak Syahrul kawan komunitas sepeda Makasar di kami coba menelusuri sungai je'nek Berang, Dipinggir kiri kami padang rumput ber air beberapa kerbau merumput disitu.
sebelah kanan kami Sungai dengan kapal kapal layar jenis penisi,jalan tanah yang kadang kala dipenuhi lumpur agak menyulitkan perjalanan,sepeda penuh beban terpaksa berjalan meliuk kiri kanan memilih jalan yang bagus.
Cuaca cerah rasanya jadi penyejuk kesulitan tapi kira kira satu jam perjalanan aku melihat dilangit menggantung awan hitam dan tiba tiba hujan deras mengguyur bagai ditumpahkan dari langit,aku bertiga dengan om syaiful dan Widodo berteduh dipondok reyot dekat sungai Jenek berang yang terlihat berkabut. Setengah jam menunggu tapi hujan tak kunjung reda,akhirnya perjalanan dilanjutkan dalam hujan ke daerah Benteng Somba Opu.
Benteng Somba Opu adalah benteng peninggalan kesultanan gowa yang dibangun oleh Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna pada abad ke-16. Benteng ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan barombongan, Kabupaten Gowa.
Pada masanya tempat ini pernah menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan dimana rempah-rempah yang diperjualbelikan untuk beberapa pedagang baik dari Asia, sekitar Indonesia dan wilayah Eropa. Tempat yang sering dikunjungi oleh beberapa masyarakat lokal dan internasional ini telah dikuasai oleh VOC pada tahun 1669, kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an pun benteng ini ditemukan kembali oleh beberapa ilmuwan yang datang ke tempat itu. Pada tahun 1990 benteng ini telah direkonstruksi sehingga terlihat lebih baik lagi. Pada saat ini pun Benteng Somba Opu telah menjadi sebuah objek wisata bersejarah karena di dalamnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan. Tidak hanya itu saja, tempat ini juga memiliki sebuah meriam dengan panjang 9 meter dan berat sekitar 9.500 kilogram, serta ada sebuah museum yang berisi benda- benda bersejarah peninggalan Kesultan. Hari kedua hujan masih tetap mengguyur Makasar namun kami tidak membuang kesempatan untuk berkunjung dan berziarah ke makam kesultanan gowa Sultan Hasanuddin dan Pangeran diponegoro yang berlokasi di keramaian kota.

Kesempatan di kota Makasar ini juga kami pergunakan untuk berkunjung ke  kantor Tribun Timur kemudian pulangnya kami  menginap dikantor issi Makasar serta bersilaturahim dengan pak Abdul dan kawan kawan pesepeda Makasar,malam ini adalah malam terakhir kami di kota makasyar insyaAllah besok perjalanan sepeda ini akan dilanjutkan ke Maros dan desa Ramang ramang yang dikenal dengan keindahan Kars dan alam yang masih asri.

Sunday, December 11, 2016

Bertualang sepeda ke Talago Gunuang

Tawaran teman untuk ikut acara Bike camping yang diadakan oleh komunitas MTB Combat di desa Talago Gunuang langsung aku iyakan walaupun aku baru istirahat 2minggu setelah perjalanan sepeda yang melelahkan di Kalimantan.
Kami berangkat sembilan orang yaitu afif,eviar,sugeng,adi,herwansyah,alinur,syamri,yansril.
Tiga mobil menuju Batusangkar,sepeda gunung yang sebelumnya sudah aku service masuk kedalam mobil.
Kawan kawan yang masih muda muda dariku kelihatan begitu bersemangat,semangat ini seakan akan tertular padaku walaupun ada kekhawatiran dengan phisik ku yang sudah mulai uzur di usia 60tahun ini.

Acara bike camping ini diadakan di daearh Talago Gunuang yang terletak di Nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 
Jam 14 diudara yang agak panas lebih kurang 50 peserta berkumpul di lapangan Cindurmato Batusangkar. Panitia membawa kami menuju Nagari Saruaso.
Kami melewati daerah Saruaso jalan relatif sempit dan beraspal rusak dibeberapa tempat.
Pemandangan kanan kiri berupa hutan pinus yang lebat, hutan pinus tersebut merupakan hasil reboisasi yang dilakukan pada tahun 1970an,jalan yang agak berbukit bukit dan menanjak,udara mulai terasa dingin,akhirnya kami sampai di daearah Situs Talago Gunuang yang merupakan makam pada masa megalitikum ditandai dengan nisan – nisannya yang terbuat dari batu, bentuknya unik karena melengkung dan panjang.
Tidak berapa jauh dari situs ini kami berhenti dekat satu warung lalu para peserta merakit sepeda masing masing hujan rintik menambah dinginnya udara,aku agak malas dan kurang semangat karena cuaca ditambah mata mulai ngantuk sejak sehabis makan siang tadi.
Semua peserta siap dengan sepedanya,tidak banyak seremonial lalu setelah berdoa kami dilepas menuju arah timur melalui jalan desa yang berbatu batu kemudian masuk ke hutan pinus daerah Marina,hujan yang masih turun rintik rintik membuat jalan setapak dihutan pinus itu sangat licin untuk dilalui sepeda. Kabut menyelimuti beberapa tempat dilembah pinus yang kami lalui dan tiupan angin menurunkan suhu tubuh yang sudah keletihan mengayuh .
Disatu tanjakan aku berhenti untuk istirahat tapi hanya sanggup lima menit karena tidak tahan kedinginan.
Hembusan angin kearah pohon pinus menimbulkan bunyi yang sangat  sensasional dan unik di alam terbuka ini,aku terus mengayuh sendiri sementara beberapa pesepeda sudah jauh didepanku,disatu puncak aku melihat tempat terbuka dan disitu membentang lembah dan sungai Ombilin kemudian ditengah savana terlihat pondok kayu dan beberapa tenda warna warni yang sangat kontras dengan kehijauan lembah,seorang peserta yang dari tadi membayangiku dari belakang sekarang ikut berhenti di sampingku dari dia aku dapat info bahwa tenda tenda yang ada dilembah itu adalah tempat finish kita nanti iru lab dia Talago gunung.
Aku diingatkan oleh peserta lokal diturunan terakhir ini agar lebih berhati hati karena lebih terjal dan sulit dituruni.
Aku sudah tidak sabar untuk turun kelembah itu,sepeda kembali kutunggangi di turunan yang cukup terjal itu,aku berhati hati menuruni jalan yang licin terasa ban belakangku slip beberapa kali lalu rem kulepas pelan kemudian sepeda stabil lagi menurun kemudian beberapa meter didepan ban depanku masuk jalur bekas roda yang amat lucin dan ban belakang slip melintir kekanan depan aku jatuh ikut meluncur sekitar dua meter dengan sepeda kemudian berhenti di rumpun pohon pinus,Aku duduk terperangah dipinggir jalan,tubuh berlepotan lumpur,tidak berapa lama datang beberapa peserta melewatiku dengan konsentrasi penuh diturunan yang cukup gila itu. Hanya paha kiriku yang lembam mungkin terbentur stang sepeda waktu meluncur jatuh tadi,tapi Alhamdulillah tidak mengganggu dan masih bisa berdiri,Aku lebih banyak menuntun  sepeda karena jalan yang dilalui sudah mirip tebing dan mustahil untuk dijalani sepeda,beberapa panitia membantu peserta menurunkan sepeda di titik rawan ini dan peserta merayap dan merangkak dijalan yang licin dan miring,beberapa saat kemudian terlihat dibawah sungai ombilin dengan airnya yang jernih. Beberapa pesepeda menceburkan diri kesungai sambil mencuci sepeda,tawa dan teriakan bahagia bercampur dengan bunyi aliran sungai,aku istirahat dipinggir anak sungai kecil sambil membersihkan lumpur yang lengket bagaikan kue donat roda,warna sepeda sudah tertutup oleh lumpur. Hujan mulai reda dan matahari bersinar lagi aku dengan beberapa orang terus melanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda ke arah lokasi camping,sepeda tidak bisa dinaiki karena jalan menelusuri pematang sawah seukuran 80cm,kemudian naik menanjak ke lapangan terbuka yang ditumbuhi rumput tidak satupun pohon terlihat,hanya ada satu satunya pondok yang dipakai untuk berteduh oleh pengembala pengembala kerbau di daerah tersebut,disekitar pondok dipasangi 10 tenda sedang dan satu tenda jumbo.
Aku sampai di lokasi camping dan disalami panitia dan beberapa peserta  yang lebih dahulu sampai. Dari puncak savana aku pandang kearah Sungai Ombilin dan bukit pohon pinus yang kami lewati tadi sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan tidak kalah dengan daerah swiss ataupun new zealand,ini lah Talago Gunung bagaikan kepingan Firdaus yang terdampar ke Bumi...Subhanallah.
Di alam terbuka ini aku berjumpa dengan kawan kawan pesepeda seluruh Indonesia,Afbot ketua panitia event ini menyalamiku,kami sering komunikasi melalui FB tapi baru kali ini bertemu muka.
Malam yang terlihat cerah dan indah dibawah sinar bulan kami berkumpul untuk ramah tamah dengan para peserta,makan malam selesai sarapan malam di bawah tenda kami mengobrol dengan teman teman dari beberapa daerah termasuk satu peserta Thomas dari German  yang sewaktu melewati Pekanbaru menyempatkan diri nginap di rumbai warmshower. Disini kami pecinta Alam merasakan kebersamaan sebagai mahluk Allah semua status dunia kami tanggalkan,kami datang dan diam disini sebagai mahluk Allah yang mencintai,menikmati dan mensyukuri ciptaanNya yang Maha agung.
Kopi panas dan bermacam cemilan seperti ikan bakar dan ayam bakar dengan sausnya sangat memanjakan selera kami.sungguh luar biasa panitianya yang membajiri kami dengan santapan santapan.
Jam 24 kami bubar dan menuju tenda masing masing untuk istirahat.
Subuh aku terbangun oleh suara kawan kawan yang duluan bangun.
Pagi ini sebelum meninggalkan tempat camping Talago Gunung,kami melakukan sweeping atau pembersihan terhadap sampah organic yang menumpuk di daerah camping dan sekitar,Alhamdulillah dalam 15menit semuanya bersih dari sampah. Aku berpesan pada diriku sendiri dan teman lain agar tetap menjaga kelestarian dan kebersihan daerah Talago Gunuang sehingga keindahan alam ini bisa kita wariskan pada anak cucu kita..amiin.
Hari ini kami kembali bersepeda dari Marina menelusuri bukit bukit pinus hingga 3 jam tembus di empang atau waduk yang aku lupa namanya. Dari daerah ini kami rombongan dari Pekanbaru pamitan untuk pulang dan rombongan lain akan melakukan sepeda menembus bukit pinus sampai ke pinggir danau Singkarak. Sampai jumpa lagi sahabatku semua yang baik hatinya,semoga tetap sehat dan di ridhoi Allah..amiiin.