Pages

Saturday, January 30, 2016

4.Tour de km 0_Padang Sidempuan

Sabtu 23 januari 16

Keluarga bang Robert melepas kepergian kami sampai didepan gapuranya,satu malam berkumpul dengan keluarga yang baik hati terasa melepas rindu kami dengan keluarga sendiri. Pagi ini sepeda kami pacu lagi dicuaca yang cerah,makin siang udara makin menyengat namun kondisi jalan yang datar dan tidak terlalu banyak tanjakan sangat membantu.
Telapak kaki kananku terasa agak pedih sewaktu mendayung pedal ternyata sepatu yang sudah menemani selama turing asia sudah bolong dan menyebabkan pedal menusuk ketelapak kaki waktu mendayung.

Didesa siabu aku melihat pemandangan sawah dan sungai yang membentang sepanjang perjalanan,kami berhenti di persawahan yang ada sungainya dan menuntun sepeda menurun kearah pondok yang suasananya nyaman sekali di cuaca yang menyengat,aku minta permisi untuk istirahat pada ibu tani yang sedang bekerja. Gozy dan ucup memasak makan siang dengan lauk ikan teri dan sambalado yang dibawa ucup dari rumah terasa lezat sekali,rasanya belum pernah aku makan selezat itu dengan ikan teri dan sambalado.Selesai sholat aku merebahkan diri sambil menikmati Semilir angin dan desiran air sungai sampai ketiduran dan dibangunkan oleh opung.

15 km sebelum masuk kota padang sidempuan kami bertemu dengan bang joe ned yang sudah lama memantau perjalanan kami,Joe ned dan kawan kawannya adalah pesepeda dari komonitas Padang sidempuan "konsep"mereka kami kenal melalui facebook,kami dikonvoi kemarkas mereka di kota salak ini.

Jam 05 sore setelah perjalanan sejauh 80km kami sampai di sebuah ruko markas mereka dan beberapa orang sudah menunggu kami,Andy saputra dan kawan kawannya sangat aktiv menanyakan kalau kami memerlukan sesuatu,mulai dari sepeda opung yang goyang fendernya dan fb opung yang ngadat di perbaiki oleh teman teman disini.aku melihat mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kami,malam ini kami disuguhi makan malam ikan selai besar dan gulai ubi tumbuk,kami diperlakukan istimewa sekali saat itu,aku tercenung mengingat persahabatan yang ikhlas tanpa embel embel status,ras,keyakinan sangat membahagiakan dan akan selalu kita kenang.

2 & 3.Tour de km 0_Diguyur hujan

Selasa 19 januari 16.
Kami dibangunkan oleh kicauan burung dipagi yang dingin ini,keluarga pak datuk terlihat didapur sedang memasak,kawan kawan lain masih tidur meringkuk,aku keluar rumah untuk mandi dan uduk disungai kecil dekat rumah,embun pagi masih menyelimuti lembah,butiran butiran air embun dari daun dijalan setapak itu membasahi kaki disetiap langkahku,sensasi pedesaan yang sungguh luar biasa.
Selesai berbenah kami pamitan pada keluarga pak Datuak Suar lalu semuanya meluncur ke polres Payakumbuh. Hujan lebat mengguyur kami sampai ke polres dalam keadaan basah,kami sudah ditunggu oleh pak Djarot serta kawan komunitas sepeda payakumbuh, Kapolres payakumbuh ibu akbp Yuliani SH.dan jajarannya. Pertemuan yang sungguh akrap dengan ibu kapolres serta bapak bapak polisi Payakumbuh yang juga pencinta sepeda kami lebur bercerita tentang sepeda tanpa dibatasi status sosial.
Dilepas Kapolres Payakumbuh

Jam 8.30 pagi menghadiahi team dengan sovenir serta melepas keberangkatan kami dengan pembacaan doa.
Hujan rintik masih masih membasahi kota Payakumbuh namun kami ditemani 5 orang lainnya dari komunitas lokal  tetap lanjut mendayung ke Bukittinggi lebih kurang 30km,jalan yang mulus dan dibasahi hujan ditambah kendaraan yang laju kita harus extra hati hati.
Kami sampai dikota wisata Bukittinggi sekitar jam 11.00 lalu pak Djarot dan kawan kawan mengarahkan kami mencari makan khas minang yaitu nasi Kapau di pasar Bukittinggi,aku pesan lauk favoritku yaitu pangek ikan emas bertelor,udara yang dingin dan tubuh yang capek membuat makan makin lahap.kami mengambil foto foto di depan jam gadang lalu duduk duduk berteduh ditangga mall yang menghadap jam gadang sambil menunggu hujan reda. Pak Djarot dan kawan yang menemani kami dari kemarin minta izin untuk kembali ke payakumbuh. Jam 14 hujan masih belum reda dan kami memutuskan untuk menginap di bukittinggi saja malam ini,rumah orang tua ucup di Gulai bancah adalah tempat kami nginap malam ini.
Jam Gadang Bukittinggi

20 januari 16 pagi jam 7 cuaca pagi yang cerah di daerah Gulai bancah Bukittinggi kami dilepas oleh keluarga dan orang tua ucup. Kami berlima saya,opung yosef,abasri,syaiful dari Kalimantan,gozy abdullah dari Batam dan ucup mahasiswa uin Padang meluncur kearah gadut,matahari yang masih rendah dan tiupan angin sangat enak untuk mengayuh,sepeda meluncur  di jalan mulus hingga desa Kumpulan kemudian menanjak hingga pintu angin lalu menurun tajam hingga ke Bonjol sebelum masuk kota bonjol kami berhenti di sebuah cafe dipinggir Sungai Bonjol lalu dilanjutkan ke tugu equator disini kita bisa melihat garis batas equator mesium sejarah bonjol.
garis batas equator
 Dari literatur aku baca Tuanku Imam Bonjol lahir di Kota Bonjol , Provinsi Sumatra Barat tahun 1772. Nama asli Tuanku Imam Bonjol adalah Peto Syarif. Beliau adalah pejuang yang tangguh dan sulit ditundukan Belanda. Dalam bulan Oktober 1837, secara licik Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak,Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut. Terasa panas yang menyengat sewaktu kami melanjutkan perjalanan yang menanjak hingga labuah barangin,banyak lapak lapak jual durian di pinggir jalan,harga nya rp10ribu lima durian ukuran sedang,murah sekali dibandingkan harga di kota.
Aku agak lega melihat didepan sudah tidak ada puncak yang harus didaki lagi, dipuncak ini kami berhenti istirahat sambil merebus air untuk ngopi di pinggir jalan pesawangan.
Ngopi dulu

Durian

10 km menjelang kota Lubuk sikaping jalan menurun tajam hingga memasuki jalan protokol Lubuk sikaping.
Kami mendayung pelan memasuki ibu kota kabupaten Pasaman ini jam 16 target kami saat ini mencari tempat nginap,sambil melirik apakah itu masjid ataupun tempat camping,tiba tiba dari pinggir jalan sewaktu memasuki kota aku mendengar seseorang memanggil namaku,spontan aku dan kawan kawan berhenti.
Laki laki tadi memperkenalkan dirinya Yonda effendi yang sudah mengenal aku dan opung melalui FB dan satu hari sebelumnya informasi kami akan melewati Lubuak sikaping dari komunitas sepeda bukitinggi menyebabkan dia menunggu kami untuk memberikan fasilitas penginapan dirumahnya.
Suatu hal yang membahagiakan kami bisa menginap dan bersilaturahim dengan komunitas sepeda Lubuak sikaping,ngobrol dan ramah tamah sampai larut malam disuguhi durian dan ketan.






Pak Lukas Kapten PM

Kamis 21 januari 16. Hari ini Syaiful salah satu team kami akan pulang ke rumah karena waktu cutinya yang sudah habis,sekarang team menjadi 5 orang yaitu saya,yosef sitor,Abasri,gozy dan khalis.
Jalan datar menuju utara melalui hutan panti yang masih rimbun sangat menyenangkan,anak dan dewasa pinggir jalan menyapa kami ramah "good morning mister" sapaan yang sepertinya akrap untuk para turis pesepeda yang melewati daerah tersebut. Jalan yang menanjak sewaktu memasuki perbatasan sumbar dengan sumut yaitu di daerah Muara sipongi,jalan perbatasan yang tidak terawat terasa sekali didaerah ini,anak anak berlarian mengejar kami mereka sangat agresif,sampai di kota nopan kami nginap di masjid Panyangek Muara sipongi,masjid yang hanya ada satu jamaah saja selama kami disitu dan orang itupun tidak bisa berbahasa indonesia,anak anak desa yang mengetahui kedatangan kami berdatangan sampai belasan orang,mereka ingin tahu semua peralatan yang kita punya,aku suruh mereka menyanyi lalu divideokan setelah itu hasilnya dipertontonkan kemereka,semuanya merasa terhibur dan minta diulang ulang.

Jumat 22 januari 16
Jam 6 pagi kami lansung berangkat menuju Penyabungan,medan yang dilalui sudah datar didaerah
Purbabaru kami sholat jumaat di masjid Istiqomah.di purbabaru ini kami sempat berhenti untuk bincang bincang dengan para santri Pesantren Mustafawiyah diasuh oleh tuan sech Abd Mustafa Husein Nasution di Desa Purbabaru,pesantren ini kabarnya menghasil tokoh tokoh nasional seperti mantan pangab faisal Tanjung,pesantren yang sangat bersahaja dan tradisional tapi menghasilkan orang orang yang hebat. Sepanjang jalan mulai dari kota nopan sampai Penyabungan nuansanya sangat islami dijalan jalan penuh santri dan terdapat banyak masjid. Dari hp aku melihat ada beberapa kali misscall dari Bang Warnerry Robert sahabatku semasa aktif di pt.cpi dulu dan sekarang berada di Penyabungan,dia mengundang kami untuk mampir kerumahnya. Jam 16 sore kami di samperi oleh pak robert dan dibawa kerumahnya.
Malam ini kami dibawa makan durian dan nginap di rumah anaknya bang Robert do kota Penyabungan.

Friday, January 22, 2016

1.Tour de km nol_Menuju sumbar

Hari pertama 18januari 2016
Pagi tadi Secangkir kopi dan setangkup roti bakar sudah terhidang di atas meja rotan kecil ditengah rumahku.
Ini hari yang indah,aku rasa kopi nikmat sekali.
Pannier kuning yang sudah mulai lusuh dan kumal berisi penuh barang bawaan untuk perjalanan satu bulan bertengger di dua sisi sepeda tua yang setia menemaniku dalam setiap perjalanan,kali ini dia akan dicoba lagi untuk perjalanan jauh bukittinggi ke titik nol aceh. Cucuku duduk termanggu melihat kesibukanku yang tidak seperti biasa,sambil bertanya heran "inyiak mau pergi lama seperti dulu?" Aku jawab santai "ngga selama dulu,hanya beberapa hari"
bismillah

Setelah sedikit ceremonial dengan bacaan doa dari keluarga,dengan bismillah aku kayuh sepeda sambil melambaikan tangan kearah mereka hingga hilang dibelokan jalan yang mulai ramai oleh kendaraan.
Aku,abasri,opung yosef Auful dan be berapa  mendayung menuju daerah panam. Kami menemukan Mini bus persis metro mini yang akan membawa kami ke arau Payakumbuh.
sepeda kami angkat ke atas atap mobil,selanjutnya aku diduk di pojok belakang bus.
Musik keras mobil berdentam dentam menghantam pangkal telingaku,sementara penumpang lain didalam seakan sudah memaklumi kalau naik bus kondisinya seperti itu,mereka hanya duduk manis tanpa protes. Denyut kepalaku menyuruhku untuk meneriaki supir agar mengecilkan volume audio tersebut,bus melaju kencang mengguncang kami kekiri dan kanan hingga kami sampai di ulu air lalu sepeda kami turunkan.
Loading ke Payakumbuh
Diteriknya panas kami memulai dayungan sepeda kearah Payakumbuh,jalan yang sepi dan menurun melewati hutan di kelok sembilan semakin membakar semangat kami melaju kemudian masuk ke jembatan layang terlihat lapak liar dengan sampah dimana mana,sangat kontras dengan jembatan yang spectaculer itu.
Kami berhenti sholat zuhur di Lubuak Bangku,seseorang menyapaku "ini pak Tasman ya..?" Aku berusaha mengingat orang yang rasanya pernah aku lihat ,lalu aku jawab "betul pak,apakah ini pak djarot?" Beliau ketawa ternyata dugaanku betul orang itu adalah pak Djarot jr sahabatku di FB yang juga hobby sepeda.
Atas inisiatif pak Djarot jr cs Malam ini kami diberi tempat menginap di kaki lembah harau 
Payakumbuh,kami bersepeda di jalan desa yang diaspal sampai air terjun harau lalu disambung jalan tanah sejauh 4km dari jalan raya,sekali sekali kami bertemu rumah penduduk,terakhir diujung jalan buntu dibawah kaki bukit disitu berdiri rumah kayu sederhana,dihadapannya menbentang sawah yang luas menghijau,sungai kecil yang jernih dengan gemercik,udara yang dingin membuat kesejukan dihati.
Kami disambut oleh pak Datuk Suar (83) beserta keluarganya,keluarga yang sangat sederhana dan menyejukan hati dengan segala kepolosan dan keramahannya. Welcome drink dengan secankir Kopi atau teh panas kembali menghangatkan tubuh kami,opung berkeliaran tidak sabar mengabadikan keindahan alam disekitar rumah.
di kaki lembah harau

Malam ngumpul bersama sahabat pesepeda Payakumbuh sambil menikmati minuman kawa dan goreng ubi "tongkang".paduan gemercik air dan bunyi jangkrik serta kodok bagai simponi indah telah mengantarkan ku pada tidur yang amat indah.